Sakit Sendiri


“Please don’t go, I’d take care of you for the rest of my life..”.

The air is as silence as it might be frozen. The impuls of the moment, nearly kills your nerves. Barely kills you, when the truth is even harder to absorb then a light.

Kalimat terakhir dari James benar-benar membuat gw mikir setengah mati. Namun apa daya, gw dengan teganya pergi gitu aja, bahkan tanpa sepatahpun kata a dieu ke dia. Well, kalaupun gw ingin, I’m in a half way back to Indonesia, dan rasanya gw bukan superman yang dengan oncomnya bisa terbang balik ke negara antah berantah itu.

Gw bahkan nggak kenal James sebelumnya. Gw baru kenal James setelah minggu pertama gw dinyatakan bebas menjelajahi that urban-living city by Boss gw.

Gw ketemu James saat gw sedang melepas ragu dan menikmati keramahan senja Star Avenue pada weekend itu. Akhirnya setelah beberapa test, gw memutuskan kalo James adalah jenis alien yang harmless dan bisa dinobatkan sebagai my new alien friend. Anyway, as he has lived for years there, so bisa dong, doi gw manfaatin jadi tour guide gw selama gw ada di this urban-living city.

Walaupun emang sih, dari pertama ngeliat gw, James nggak pernah lagi memalingkan matanya yang kadang biru kadang hijau dari gw. I know from the first time, he likes me.. a lot.

James always bilang, muka gw unik, mata gw begitu bening dan besar. James juga bilang, gw bahkan nggak perlu pake eye shadow atau Sharma (eye-liner) untuk mempertegas keindahan mata gw. James bilang, aura gw beneran kuat untuk membuat dia nggak bisa tidur setiap malamnya gara-gara gw. Pujian yang menurut gw aneh dan nggak wajar, coz I never being flattered like that before.

Cowok-cowok lokal (made in indonesia) yang bersama gw jarang ada yang bisa sejujur James. And I admit it, lama-lama, gw jadi penikmat kalimat-kalimat manis yang terlontar dari James.

Well anyway, I’d never take everything as a serious matter. Coz gw pikir, semua cowok alien itu memang suka terlalu ekspresif, jujur dan lebay, and fortunately, gw juga tipikal cewek yang perkasa dan kebal terhadap kata-kata perpisahan ataupun rayuan busuk seorang pria, sehingga gw lebih menikmati acara jalan-jalan gw dibanding kebersamaan gw bersama James.

Gw juga percaya pepatah kuno: “Janganlah tergesa-gesa, supaya tidak ada yang terluka” dalam membina sebuah relationship.

Well, anyway, gw merasa kalaupun gw jatuh cinta sama James, this kind of relationship will never work for us. We are just too different. Mata James terlalu biru untuk bisa melangutkan kehangatan cinta yang pastinya nggak berhenti dia kasih ke gw. James terlalu mirip tiang bendera untuk bisa gw pegang pipinya, saat gw pengen mengekspresikan betapa gemesnya gw sama segala jokes yang dia kasih. Rengkuhan James terlalu dalam untuk gw jadikan sandaran saat kami berdua terdiam menikmati malam.

Bayangan-bayangan itu terlalu nggak irrasional, absurd dan impossible buat gw.

Gw selalu beharap dicintai laki-laki seperti halnya James mencintai gw. Gw selalu beharap dipandang just the way I am seperti halnya James menerima gw apa adanya. But once it happened to me, it just not right, everything went so wrong.

And finally, I hurt James so bad. Apalagi ketika dalam kalimat penolakan gw, James berujar: “Sungguh, kupikir semua akan menyakitkan buatku untuk sekedar mengingat dan menikmati senyumanmu dari jauh”

Hingga kini tiap malamnya, gw selalu melayang-layang, bermonolog, berdialog intensif dengan Tuhan. Ibarat Anritsu Wiltron, gw menerka-nerka apa yang salah dalam diri gw, nggak lupa memohon ampun sedalam-dalamnya kepada Tuhan atas segala luka dan kekecewaan yang gw goreskan didada kiri James.

Mencintai pada akhirnya bukan menjadi pilihan, melainkan sebuah keputusan. Itu merupakan suatu rumusan kesedihan yang tak terelakkan.

Gw harus bisa menata kembali perasaan gw yang juga hancur karena memikirkan kepedihan James. Gw harus bisa belajar menyederhanakan arti cinta, dan menerima segala kekacauan yang gw buat ini sebagai bentuk pertanggungjawaban gw.

Walaupun dalam hati kecil gw, gw sempat bersumpah, jika suatu saat, gw ketemu another “James”, gw akan mulai belajar mensikapi perbedaan itu searif mungkin. Sehingga nggak akan ada lagi yang merasa sakit atau disakiti. Karena, sumpah lo, menyakiti orang lain itu terasa lebih menghimpit dan menyesakkan dada lo sendiri.[]
Posted in Cerita Cinta | Leave a comment

Pelajaran tentang Pendidikan

Bongkahan Lion Rock disisi barat, dengan angkuh merajai dan mengisi setengah langit merah yang sedikit-sedikit mulai merembang, kadang biru kadang hitam.

Gw merasa, seolah batu itu bernyawa dan bisa merasa. Sejatinya, gw memang pengen seseorang mengerti kalo saat itu perasaan gw sedang dihimpit ragu, dan dalam kungkungan rasa tak menentu.

Disebelah gw, Si Boss masih aja karaokean pake lagu Cina sambil tancap gas over 120 Kmph. Harusnya dia ikut Cantonese Idol, well, I admit it, kualitas suaranya lebih banget dari sederet hurup: l-u-m-a-y-a-n.

“Arum, if you were could, do you want to be a teacher?”

Speed FTO sporty merah ini mulai melambat. 100 Kmph. 90 Kmph. 80 Kmph.

“Hey Arum, I’m talking to you!” suara si Boss yang mulai meninggi tapi terdengar tetap lembut, menarik gw untuk segera go back to earth.

“Come again?” dengan sok tenang, gw membetulkan posisi duduk gw.

Si Boss cuman geleng-geleng kepala. “I was asking, if somehow you could, do you want to be a teacher?”

Seinget gw, gw cuma taking a long sigh, lalu dengan berat hati berucap, “If I could, I wish I could, Boss”.

Well, saat itu gw nggak perduli, Ricky, Boss gw, ngerti apa nggak maksut kalimat gw.

Ujung-ujungnya, Ricky dan gw malah ngebahas masalah pendidikan. Seru juga sih.

Awalnya gw dengan cengceremet bilang kalo gaji guru/pengajar di Indonesia itu kecil banget, kualitas pengajarnya juga nggak begitu baik karena sistem rekruitmen dan pengembangan pola ajar nggak ditata dan diatur dengan layak.

Padahal, biaya pendidikan di Indonesia mahal. Kalau mau dapat yang berkualitas, nggak gratis (Ricky bilang di HK, sekolah sampai kelas 12 gratis, dan orang tua bisa di penjara kalo nggak ngasih pendidikan yang layak buat anak-anakanya).

Dan oncomnya, Indonesia juga mengalami kesulitan untuk mengimplementasikan pendidikan gratis. Karena peserta didiknya nggak punya ethos belajar yang baik. Dan di negara yang rata-rata peserta didiknya berethos buruk, pendidikan gratis adalah salah satu gerbang menuju kebangkrutan negara.

Why?

Karena orang tua merasa lebih ketat mengawasi pendidikan anak jika biaya pendidikan betul-betul mereka tanggung sendiri. Kalau gratis? Ya sekolah sekenanya saja, tanpa esensi, tanpa pemaknaan, tanpa output, nothing at all. Hasilnya? Negara seperti buang-buang duit aja.

Ricky cuman mengangguk-angguk. Dia pun menyambung cerita panjang tentang Guru dan Dokter yang dibayar sangat kecil di Cina.

“Arum, do you know the reason behind? As we all know, government could pay them as high as possible if they want to..” Ricky masih memandang lurus ke cakrawala merah. “Do you know why?” Kali ini dia tersenyum ke arah gw (lebih tepatnya smirking not smiling).

“do you know?” Gw dengan bego (sambil garuk-garuk) bertanya balik.

Ricky tertawa lebar, I never see him Laugh that hard.

Dengan rendahnya level penghasilan guru, otomatis orang-orang yang bisa dibilang berbobot dan pintar pastinya nggak memilih menjadi guru sebagai jenjang karier. Otomatis bangsa yang kekurangan guru berkualitas, ya jadi terbelakang, ujung-ujungnya rakyat yang terbelakang itu gampang di stir pemerintah.

Itu di Cina lho. Di Cina. Nggak tau deh kalau di Indonesia.

Seperti yang kita tau, berpikir yang benar merupakan pengantar menuju pengetahuan yang benar. Kebenaran tersebut akan membukakan pintu kesadaran kita. Coz tanpa kesadaran, kita hanyalah homo sapien berwawasan sempit dan bisa jadi terjerumus kepada kepengikutan buta terhadap berbagai macam khufarat, dan pada gilirannya akan menjelma menjadi batu keras yang menghalangi kemajuan umat.

Kata mba mel, temen gw, “…kita tidak akan pernah cukup punya waktu, untuk mengalami semua kejadian dan menarik pelajaran…”. Akhirnya kalo mikirin pendidikan Indonesia yang kacrut-kacrutan, gw cuman bisa mlongo, haduuuuuw..

Oh dewi pendidikan, kenalan dong![]
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Kekerasan Hati dan Kelumpuhan Nurani


Gw selalu punya kebiasaan aneh, yang adegannya mungkin cuma bisa ditemui di film-film dokumenter ataupun film-film independen kelas festival, karena scene-nya biasa dipake untuk memberi tekanan dramatisasi di adegan-adegan monolog.

Dari kecil, gw selalu melakukan hal-hal yang nyaris sama setiap hari. Kehidupan gw ibarat konstelasi bintang yang posisinya selalu konstan dan nggak malang melintang. Well, semisal gw menemukan hal baru yang membuat gw merasa sangat amazed, maka percayalah, gw akan tetep disitu selamanya.

Contoh, gw suka Caramel Macchiato Starbucks, dari pertama gw ngerasain sampe akhirnya jatuh cinta (sama rasanya, bukan sama gengsinya), gw nggak pernah beli produk yang lain. Atau lagi misalnya: tempat duduk. Kalo gw datang ke suatu tempat, mau itu warteg atau cafe elit sekelas iL Mare, pasti gw akan duduk ditempat yang sama, plus memesan hal yang sama pula. Begitu juga tempat duduk di kereta, pesawat atau bis (pasti gw bakal milih baris paling depan/paling belakang dan dekat jendela).

Entahlah, Gw suka keteraturan. Dan gw selalu nyaman untuk ada dititik yang selalu sama itu.

Diluar itu, orang lain selalu berpikir kalo gw adalah salah satu contoh dynamic person, ever. I just don’t know why, but most people always thought that I run so damn fast beyond my own limitation.

Ah itu kan kata mereka. I still pretty much like glancing to the dark moon while taking a cup of macchiato in hands. Or even trying to be quiet for hours only to define the drop of the rains.

A bit poetic actually, but that’s what really happen.

Karena kebiasaan itu, tampaknya gw mulai betah tinggal di tempat sekarang gw berdiri, tempat dimana keteraturan dan orang-orang yang hidup didalamnya membuat gw iri setengah mati.

Sangking irinya, gw curhat ke Reza, salah satu member senior milis para oncom. Dan kita berdua sama-sama menyesali, seharusnya Indonesia tercinta bisa dibangun seperti ini.

“Gw sering miris rum liat Indonesia, sebagian besar isinya orang Islam, tapi nilai-nilai yg ada dilingkungan sekitar gak menunjukkan sebagaimana orang islam. Coba lo liat deh, baik disitu ataupun di negara-negara lain, kebanyakan, mereka dominan bukan muslim, tapi mereka bisa beneran menghargai kejujuran, penghargaan tinggi terhadap hak orang, dan nilai-nilai lain yang sebenarnya ada di Islam.”

Statement si Reza itu bener-bener bikin gw deg-degan. Bukan masalah SARAnya, tapi lebih ke perbedaan perilaku masing-masing kelompok masyarakat tersebut.

Kalo bicara soal agama, disini orang-orangnya sangat-sangat plural, jadi agama bukan suatu penyebab suatu bangsa bisa civilized atau nggak. Yang gw amati, sepertinya, the way they hold the basic principal of filosofi hiduplah yang sangat berpengaruh terhadap civilized atau nggaknya mereka.

(Sigh) sangat-sangat gw sesali, kelompok masyarakat yang satu, terlihat sangat civilized, sementara yang lain terlihat begitu primitif. Well, amplitudonya begitu jauh untuk negara yang hanya memiliki beda teresterial sejauh 3000 mil saja.

Indonesia adalah bangsa yang mengaku negara hukum, namun hanya sesekali menjalankan hukum. Yang mengambang tanpa kesadaran akan hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya berkebudayaan hukum.

Indonesia adalah bangsa yang secara harfiah menjalankan ajaran agama, namun tanpa dialektika berpikir agama, nggak ada hukum resiprokal ataupun bait kausalitas yang seimbang antara input dan output dari nilai-nilai bijak yang diajarkan agama. Bahkan (sering gw temui) terdapat diskoneksi ekstrim antara praktis kehidupan beragama dengan hakikat keberadaan Tuhan yang sebenarnya.

Indonesia adalah bangsa yang sudah kehilangan ukuran. Ukuran apakah mereka sedang maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, apakah mereka pandai atau bodoh, apakah mereka menang atau kalah.

Indonesia adalah bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai manusia, sebagai rakyat, atau bangsa.

Makarim al-akhlaq, budi pekerti yang mulia. Itu yang minim sekali dipunyai kebanyakan manusia Indonesia (bukan diniatkan untuk SARA, ini cuma masalah penggunaan bahasa aja).

Di Indonesia, nilai-nilai toleransipun harus dibatasi dengan memandang “kamu siapa” atau “datang dari golongan mana”. Rasa penghargaan terhadap orang lainpun ikut dikorupsi, siapa saja yang harus dihargai, haruspun turut dipilih. Apakah harus semua orang? Apakah tidak semua orang? Masyarakat Indonesia nggak tau.

Kita nggak hanya harus bebas dari buta huruf dan buta teknologi. Kita juga harus terbebas dari buta akan kesadaran hak-hak orang lain. Kita harus paham betul, bahwa aturan dibuat bukan hanya untuk ditaati, bukan hanya untuk menghindari penalti, tapi juga untuk menunjukkan tingginya martabat kita sebagai manusia karena kita menghargai hak-hak orang lain yang juga diatur lewat aturan-aturan atau norma-norma tersebut.

Misalnya aja gini. Peraturan tentang merokok. Well oke, nggak usah ngomong tentang aturan dari pemerintah dulu. Gampangnya gini. Dalam satu mobil/bis/busway/publik place dimana ada kehadiran orang lain, lo harus SADAR, lantas nggak akan berbuat bodoh dengan merokok didepan mereka. Kenapa BODOH? Coz smoking is not killing you, it’s killing others. Dan jika memang lo punya kesadaran kemanusiaan, maka lo nggak akan merokok DENGAN ataupun TANPA rules yang ditempel Pemerintah disitu.

Seperti apa kata Evangeline Booth, seorang pelaku reformasi sosial, Bukannya apa yang kita terima yang bermakna, tetapi apa yang kita berikan untuk orang lain.

Don’t be so indisgenious and relentless (keras hati), coz actually (with all due respect) CHANGE simply starts when we decide. And this is where all the journey is begin.

Jangan lumpuhkan nuranimu, kawan![]

Whatever comes our way, whatever battle we have raging inside us, we always have a choices, and it’s the choices that make us who we are. And we can always choose to do what’s right.
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Materi dan Kehinaan Manusia

Hantaran cahaya lemah milik gedung sebelah menyapa sendu seolah-olah rindu. Rambut yang ikal memanjang ini gw ikat kencang-kencang. Walaupun nggak semirip poni tail, tapi angin dingin musim gugur yang lumayan sinis mengiris, bisa numpang lewat ke tengkuk belakang tanpa harus berucap sayang.

Cangkir kopi dari giok ini masih gw pegang tanpa niat. Gw mulai lupa bagaimana rasa kopi ini, karena setengah jam yang lalu gw sengaja biarkan aromanya berlomba moksha ke angkasa.
Balkon tempat gw berdiri nggak kalah manis sama balkon The Mayflower Marriott Executive Apartments, di Jakarta. Bedanya mungkin, ketinggian gedung di Jakarta nggak ada apa-apanya dibanding disini.

Kadang gw berpikir, apa jadinya gw tanpa hari ini? Apa jadinya gw tanpa bulatan cinta penuh disetiap seduhan kopi yang sedari tadi enggan gw cicipi? Ah it doesn’t matter. Gw tetap orang yang sama. Nggak ada yang beda. Seberapapun cepatnya waktu berlari, gw masih jejak ada disini.
Beberapa waktu lalu ada seorang kawan lama (sebut saja Fay) ber-say hi lewat media chat. Dia tanya “Lo dah punya apa sekarang, yum?”.

Well, entahlah, tapi pertanyaan sederhana itu mengusik sekali. Hm.. seperti apa ya? Sampai-sampai gw harus memikirkan beribu kali tentang perihal bagaimana dia bisa bertanya hal nista kayak gitu.
Kata mas Emha: ada kesombongan orang berkuasa, ada kesombongan orang kaya, ada kesombongan orang pandai juga ada kesombongan orang saleh. Nah mungkin masalah tadi bisa jadi salah satunya.

Seperti ada justifikasi inklusif bahwasanya jika semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin menumbuhkan perasaan lebih unggul dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia.
Dari situ kita semua dapat menilai bahwa pendidikan menjadi sama sekali nggak punya concern mendasar atau memiliki efek signifikan terhadap nilai kedewasaan sosial, kerendahan hati kemanusiaan, kematangan jiwa atau demokrasi kebudayaan.

Sebenarnya jika ditelaah lebih dalam, semakin hina dan rendah jiwa seseorang, makan akan semakin tinggilah kebutuhan mereka untuk memperhinakan sesamanya. (Katanya sih, secara psikologis memang demikian formula survival kejiwaannya). Amit-amit (lantas ketok-ketok meja).
Waahhhh sepertinya pemerintah beserta departemen pendikan serta dinas pengaturan SDM (kalo ada dan berfungsi) perlu rekonsiliasi ulang, kalo perlu rapat besar-besaran (asal jangan korupsi besar-besaran) untuk mensikapi bahwa kita membutuhkan SDM yang nggak hanya pintar mengolah kekayaan alam tapi mengelolanya dengan satu tujuan yakni demi kemajuan bersama dan kesejahteraan bangsa indonesia.

Outputnya jangan hanya SDM yang cuma bisa tanya ke temannya:
“Woy mobil lo apa sekarang?”
“rumah lu di estate mana?”
“Lo keluar negeri dah kemana aja?:
“Gaji, tunjangan, dan facility yang lo dapet apa dan berapa?”

Kata “berbakti¡” (atau bahasa jawanya BEKTI) pada saat sekarang memang sudah punah. Dipunahkan oleh kata dignity, harga diri, serta harta, tahta, dan neraka. Ampunilah dosa kami, ya Tuhanku.[]

Posted in Cerita Gw | Leave a comment

The Conversation – 4

gw: pa.. gimana kalo mobil yang ini aja?
kanjeng pops: yang ini? nggak ah, bodynya mengkok, liat aja nih judulnya aja penyot, nggak mau aku ah (penyot = peugeot)
gw: (dalem hati) heleh, papa yang garing…
——————————
gw: y’know? it’s the most greatest chat within this month. It’s the clever one.. thanks mas
mas klent: thanks to you too, you are clever women, hope you find someone that can understand you and also can match with you
gw: weh
mas klent: And i bet thats will damn hard
——————————
duta agung: dasar! Listen Rum, inner beauty akan selalu lebih dipertimbangkan
gw: It’s only a statement, boys gitu loh
duta agung: halah, susah emang yeh ngomong ama oncom?!
Gw: weh
duta agung: Well, boys will always be boys, and girls never be boys
——————————
lekopr: baca berita bisnis indonesia ngga hari ini? ongkos produksi satu sms itu cuma 74 perak, bayangkan, harganya naik 400%, berapa untungnya operator kalo satu hari 100juta sms?
gw: Yah namanya juga kapitalis, begitulah om..
lekopr: Yeh! tanggung jawab intelektual kayak elu-gw ya mempertahankan kepentingan publik yang lebih luas, untung ya untung, tapi jangan keterlaluan gitu dong
gw: Yah namanya juga kapitalis, om..
lekopr: pegimana sih lu??
——————————
gw: Mas Bin, kapan reuni? dirimu lagi ngapain?
mas bintang: aku lagi baca majalah rolling stone edisi 40 tahun sambil minum kopi aceh. Ada wawancara Mr. Dylan, Wolfe, Mailer, Jagger. Old soldier just fade away
gw: ada tendensi apa baca itu? jadi pengen minum kopi juga ah…
mas bintang: cerita generasi 60an, soal kritik sosial, revolusi, jurnalisme baru, perang, narkotik, dan lagu-lagu tentunya. era jaman itu katanya, asal muasal era para rebels yang sekarang
gw: whoa, sintesa menarik, mungkin aku harus cari juga yang mirip-mirip itu. Rasanya ada yang kurang saat secangkir kopi sudah ditangan
——————————
gw: hoy kepiting uelek, arum yang ndut tapi cantik ini ganti nomer, biasalah artis..
dbimo: ah ganti-ganti nomer terus sih.. dikejar-kejar tukang kredit yak? kamu mau dikenalin ke temenku nggak? lucu loh, biasanya jadi badut ancol.. hahaha..
gw: haiyah!
——————————
Tasik: yuem, lagi ngapaint??
gw: yuem????
——————————
gw: you should see Painted Veil, good movie!
Mas pug: Painted Veil?
gw: iya, yang maen si naomi watts, setting taun 1925, pembelajaran bagus buat para wanita oncom
Mas pug: Gw kan bukan wanita
gw: but you can learn from them, old smug! (_ _);
——————————
Draco Malfoy: Kangen cayang, apa kabar?
gw: Well, aku agak pendiam n kesepian saat ini
——————————
Bambang Satrio: Pada bulan kutitipkan salam untuk sang dara diperaduan, tinggalkan resahmu dipangkuan bintang. pulaskan tidurmu malam ini dan jemputlah esok yang pasti datang
gw: I stunned when a man prayed and whispered for those rainy star in everyway will cheers the dark night that is cold as an ice.. so heaven will fall by the time I close my eyes..
——————————
gw: Faz, Al-Quran terjemahanmu masih aku simpen…
Faza: haha.. ya udah, dijaga baik-baik ya?
——————————
Sholehuddin Iqbal: JTSH005 mati karena ada ES (error second) di transmisi sisi JTSH006-nya. Sminggu ini anginnya kenceng buanget bulek, mungkin bakalan intermittent
gw: weh.. yo wes, sisuk di re-check maneh, suwun infone pakde..
——————————
Drix: Haruskah aku lari dari kenyataan ini? pernah kumencoba tuk sembunyi. Namun senyummu, tetap mengikuti
gw: (garuk-garuk jidat)
——————————
Liz: mbak, ahlul a’raaf artinya apa sih? kalimatnya gini: seolah cuma ahlul a’raaf saja, bukan ahli syurga, bahkan al jahiimpun tak mengakuinya. Matur sembah nuwun.
gw: artinya…. paan yak?
——————————
Bimo: woy yem, besok ada rencana mau ndukung indonesia nggak?
gw: aduh bim, nanti kalo kamu nonton langsung dan ketimpuk botol aqua plastik gimana? kan atit..
Bimo: iya serius?! bener?! yo wislah, nonton ditipi aja biar bisa liat replynya..
gw: weh, dasar gemblung..
——————————
Lia: arum, gw sedih.. hiks.. ga ada yang kenal. Kangen komputer gw! disini sepi banget bo! gw dianggurin ney. Tapi disini pantrynya keren rum, ada coffee makernya, ada microwavenya, ada meja yang isinya makanan semua, hehehe, tapi tetep gw nggak ada kerjaan, lagi baca dokumen doang
gw: yah kerjaan lu disono n dimarih berarti kagak ada bedanya ya?
——————————
Icha: Rum, gw kayaknya keracunan. Mual n sakit perut, gimana dong?
gw: Lah!! Dari tadi kan gw dah nyuruh lo minum baygon, cha
Icha: Monyet…
——————————
Imow: aku kedinginan, abis pulang rafting dari Citarik
Gw: ati-ati masuk angin mow
Imow: Ujan niy disini, disana gimana?
Gw: cerah, jangan lupa tolak anginnya diminum
——————————
KHBWS: hooi nona oncom..
gw: oy napa mas? lagi dimans?
KHBWS: lagi di driving range cari keringet
gw: halah, hari ini udah dua orang yang ngomongin GOLEP ama guah..
KHBWS: weh, you skali kenal golf bisa addict, gw dulu juga nganggep remeh, borjuis sport. But now? trust me, ini sport yang paling banyak filosofinya..
gw: ah masa ah iya, gengsi dong??? *bgaya jaman SD*
——————————
Mas Oncom: Bahasa-bahasa rendah dirimu juga tidak bagus untuk karakter buildingmu..
gw: contohnya?
Mas Oncom: sms terakhirmu semalam dan 2 sms pertamamu pagi ini
gw: Ooo gitu ya? So? Aku harus melulu bicara serumit and secomplicated kamu untuk membuat orang mengerti aku? Kiblatku lebih ke Hestia mas, aku lebih suka menghabiskan malam-malamku dengan ditemani bintang dan segelas machiato ditangan..
——————————
Satria: utk seorang Bilven fisik bukanlah pertimbangan penting
gw: buset, ada mak comblang
Satria: =)) hahaha
gw: mungkin bilven bukan mencari yang biasa orang cari
Satria: dah gini aja, kalo gw ke jkt kita maen ke bdg yuk, gw sekalian nengokin adik gw yg di itb
gw: hahaha ga mau.. jangan ngeledek dong mas
Satria: pokoknya soal Bilven, kita atur aja ntar
gw: weh!
——————————
gw: thank’s.. very touching mail..
Eric: oh.. gw udah takut aja dianggep mojokin cewe
gw: mulanya sedikit gw ngerasa gitu, tapi gw ambil oncomnya (baca: bright sidenya).. boys really do.. I mean.. they are like that.. and I realize.. it’s a matter of “understanding”
Eric: iya ya, kadang gw suka kejebak di rasa sukanya doang, tp benernya ga cocok2 amat, lebih banyak yg ga nyambungnya gitu
gw: iya makanya bener banget kata artikel itu “To conclude, begin to think of what you need in a relationship – and what kind of a man has needs you are able and willing to fill. Ask yourself”. that’s fair enough! At least sebagai wanita gw merasa, gw masih bisa memilih
eric: iya, kalo kaya gini gw masih setuju deh bisa mikir ke arah sana
——————————
heru: yum, kamu mau nggak aku kenalin sama temanku, dia pengusaha disini, anaknya oke! kamu banget lah pokoknya!!
gw: kamu gila ya?
heru: loh aku serius, yum..
gw: loh aku juga serius ru
heru: loh daripada kamu kerja capek-capek di jakarta, mending kamu disini, jadi ratu Timika, kemana-mana diantar innova.
gw: walah.. masih jaman ngomong soal materi?
——————————
gw: intinya… semuanya itu proses ri, kalo kita bisa ngelewatin proses itu bersama-sama, pasti nggak fail, fail itu karena ada pertentangan. Perbedaan bukan pertentangan loh. Begitulah..
Hari: hehehehe.
gw: jadi ceramah.. maap..
Hari: nggak sih.. malah menjadi masukan buat diriku nih.. tapi kan biasanya cewek yang selalu ngambek kan.. klo ditinggal2 ..
gw: yah itu sih cewekmu. Kamu jelasin aja kedia, semua, apapun itu, bagaimanapun itu, perlu resiko, kalo kamu mau ngarunginnya sama-sama, why not taking that risk
Hari: tapi saya orangnya workaholic banget nih
gw: itu kan karkter orang, aku rasa itu bukan satu masalah
Hari: saya hampir 18 jam sehari didepan komputer.. jadi lupa semuanya.. nah
mungkin permasalahannya itu..
gw: kata temenku, pernikahan itu kan sebuah dialog ri , semua bisa dibicarakan. Well kamu emang orangnya gitu, harusnya sebagai calon istri, cewekmu itu sudah paham betul karaktermu, suruh nonton film painted veil gih, itu cowoknya yang Dokter persis kamu. But y’know what? aku sih mending kayak kamu gitu, jadi kan berarti kamu selingkuhnya sama notebook, bukan sama cewek beneran
Hari: hahaha..
——————————
Hendro: Rum, sorry banget ya tadi gw balik, mainnya cuma sebentar
gw: nggak papa kali ndro, kayak rumah lu ama rumah gw beda berapa jauh ajeh
——————————
085277840696: Arum, dah bangun sayang?
gw: buset! siapa neh, sayang sayang..
085277840696: forget it, just some passing by
gw: jeh ngambek, yang ngambek harusnya gw, ada alien pagi-pagi bilang sayang
085277840696: eh arum, belum aku kasih tau ya?
gw: ???
——————————
Gw: salah anginkah kalau daun jatuh? ataukah salah pohon yang membiarkan si daun itu jatuh…?? menurut lu salah siapa, om?
Mas Boiy: gak salah
gw: weh? kok?
Mas Boiy: karena ada gravitasi. Trus emang daunnya udah waktunya jatuh
——————————
Mey: Eh gendut, Jason tuh siapa? Cowok baru lu ya?
Gw: Jason yang mana?
Mey: halah pura-pura, Ekspat mana lagi bo..??
Gw: Oh yang itu..
Mey: Ganteng nggak? anak mana?
Gw: semua orang kenal dia lagi mey..
Mey: weh, emang dia siapa?
Gw: Jason Bourne
——————————
Ratih: Ha? ganti nomer? again?! kabur dari siapa kali ini? apakah itu selalu jadi jalan keluar yang paling baik?
gw: kadang cuma kabur satu-satunya peta yang kupunya, Rat
——————————
onta: wah seleranya dari dulu tetep om-om, sekali-kali ganti dunk, tante-tante
gw: weh… oncom!
——————————
Ibs: Rum gw mau pergi lagi nih, kali ini jauuh, ke Makasar.
Gw: Weh, jangan tinggalkan dirikuuuh *sambil meluk-meluk*
Ibs: Awas keterusan, gw kagak tanggung jawab nehhh..
Gw: Jijay bajay lele dumbay serojay-rojay! Ngapain sih lu ke Makassar? Pergi molo? Ntar temen gw ngupi sapeeeh??
Ibs: Ya abis gimana? (pasang tampang sedih)
Gw: Ya udahlah, gpp. Ntar juga kapan waktu pasti pulang kan?
Ibs: Hm.. (diem) ya nggak tau juga sih..
Gw: Sial, knapa gw jadi sedih gini yak?
Ibs: Rum, jangan gitu, masa gw dipunggungin, sini liat gw..
Gw: Jangan dah, ntar gw nangis.. ogah!
Ibs: gw serius niy…
Gw: (akhirnya nyerah) Iya iya, napa?
Ibs: Lo tuh gw boongin dari tadi tau! Ampun deh, gampang banget yeh ngibulin loe?!
Gw: Ha?[]

Posted in Conversation | Leave a comment

Selingkuhan

The angel voices milik George Michael masih mendayu-dayu memanggil-manggil ‘Roxanne’ yang seharusnya milik Sting. Cafe ini tutup lebih lama dari cafe-cafe malam lain di Jakarta. Tempatnyapun nggak terlalu jauh dari kantor gw.

Maya masih menggenggam cairan bening berbau lembut yang sumpah, rasanya pasti menyengat ke otak lamat-lamat. Single malt scotch. Sudah tiga sloki, ini yang ke empat. Mata bulatnya bergerak-gerak, setengah sembab dan hampa tertutup gumpalan asap.

Belum lagi hembusan Mild Seven yang baunya asli, bikin gw ngiler setengah mati. Tapi mau gimana lagi, gw pasrah aja pas mulut ini seenaknya mengatakan “Nggak, makasih, gw nggak ngerokok.”
Unfortunatelly (or could be fortunatelly) semenjak November 2001, I decided to quit and done with all those stuff. Walhasil gw cuma bisa mingkem ngaduk-ngaduk lite-macchiato tanpa gula yang wanginya diperkirakan dapat menghapus segala lara di gua (kalo ada).

“Hey, ndut.. If a friend envies you, then she is not your true friend anymore”. Kalo udah mulai setengah-setengah gini, Maya emang suka manggil gw seenaknya. “And Y’know what? I’m so damn envy you”. Lanjut Maya patah-patah.

Gw cuma bisa lekat-lekat memandangi wajah putih Maya. Warna matanya merah, semerah mata jagoan gw waktu SD, Megaloman. Rambutnya yang terurai ringan, berwarna nggak jelas yang kadang hitam kadang pirang, membuat gw makin yakin, kalo Maya itu fans beratnya Megaloman.
“The sound of our feeling is no longer heard”. Tatapan Maya terpaku beku dalam beningnya sloki kristal yang sedari tadi bermain lincah didalam genggamannya. Seperti biasa gw cuma bisa diam.
Butiran air matanya satu satu mulai jatuh.

Ponsel gw bergetar. “May, gw harus pulang”. Ungkap gw pelan.

“Om Tatoo?”. (Bokap gw). Gw ngangguk pelan. “It’s okay, just give me a big hug like usual”.

Gw memeluk Maya.

Emang nggak gampang buat seorang Maya untuk ada diposisi: WIL, Wanita Idaman Lain, atau gampangnya wanita simpanan seorang laki-laki beristri. Maya nggak deserve aja untuk dapetin itu semua. Dia pintar, cantik pula. Dan dunia ada didalam genggamannya. Tapi gw juga nggak ngerti, kenapa dia musti milih jalan yang kayak gini.

Sebelumnya, dari dulu, dulu-dulu banget, sebelum semuanya jadi kayak gini, gw udah berkali-kali bilang ke Maya “Better don’t start that fire..”. Tapi jawaban simple dan percaya diri Maya ngeluluhin gw, “Yoem, jangan terlalu serius gitu ah, gw ama dia cuman seneng hang out bareng aja kok. It’s just about having fun, I’m not taking it as my personal things.”

Maya mengkodekan tanda kutip dengan jari-jarinya yang lentik. Lalu tertawa berbangga.
But look who’s laughing last.

Gw rasa emang nggak segampang yang gw kira. It’s so damn near impossible to find a good man who will gonna leave his wife, after you, which is a dessert, hidangan pencuci mulut.
Dan setelah semua api itu terbakar, Maya cuma malu-malu memutar ragu, “I dont want you to forgive me, but I want you to understand, I simply can’t live without him”. Saat itu gw pengen banget teriak “But HE’S NOT YOURS”.

Prinsip gw: Don’t ever get whatever things that is not yours!! It’s called STEALING! Since we’e a good people, we’re not STEALING!

Tapi mau gimana lagi, cinta itu buta. Kadang kalo udah badung dan kadung (alias telat, bahasa bokap gw), yang dimajukan bukan hati ataupun rasionalitas, melainkan nafsu setan alas (bahasa bokap gw lagi). Tau deh bener apa kagaknya.

Gw jadi inget juga tentang suatu percakapan antara gw sama my beloved Abby:

Gw: Bi, kata bokap gw, dalam budaya Djawa, pria itu memimpin, dan wanita mengikuti.

Abby: Lalu kalau gitu, pria bisa memimpin seenaknya dong? Asiiik, yang penting kan pokoknya wanita harus mengikuti. Tuh Lu harusnya nyadar…

Gw: Weh nggak gitu bi. Maksutnya tuh gini, pria menawarkan langkah, dan wanita akan setuju dengan mengikuti.. dasar bolot..

Abby: Hmm…

Gw: Kok Ragu gitu? Jangan Salah bi, bagaimanapun, mengikuti juga butuh kekuatan yang sama dengan memimpin..

Abby: Berarti keputusannya tetap di wanita ya?

Gw: Iya dong!

Dada gw sesak, teringat Maya. Why did she choose to be so? Tapi gw tetap berusaha objektif (sesuatu disebut objektif jika ia bebas dari pengaruh perasaan, emosi atau pandangan sebelumnya).

Dan seperti apa yang dikatakan Rowena (Perfect stranger): Secret is great, until you get caught. Dan bisa ditebak, yang rugi tetap yang mengikuti, Maya. Untuk si pria sendiri (sebut saja Pak direktur Bejo), setelah semua terjadi, masih ada kemungkinan sang istri mau memaafkan segala kekhilafan Pak direktur Bejo.

Tapi coba lihat disisi lain, misalnya Maya memaksa Pak direktur Bejo untuk tetap menceraikan istrinya dan menikahi Maya, trus ternyata Pak direktur Bejo nggak mau. Semakin Maya maksa, semakin benci ajeh Pak direktur Bejo sama Maya. Dan konsekuensi lebih lanjutnya bisa ditebak lah. Maya nggak akan dapat apa-apa.

There are two ways of live: with regret or without it.[]

Posted in Catatan Perempuan | Leave a comment

Sebayang Pilihan

Kopi lampung dalam genggaman pria berbahu seksi ini masih penuh mengepul. Nggak heran lah, karena baru lima menit yang lalu, bubuk hitam (yang gw campur dengan sedikit gula saja) gw tuangin air super mendidih. Teringat wejangan emak gw: “Kopi lo nggak akan berasa sempurna, tanpa tempaan air mendidih yang sangar dan bergolak dengan keras..”

I’m not a good Barista though, karenanya setiap baris berselang, gw selalu menanyakan hal yang sama kepada pria ini: “kopinya NGGAK enak ya?”. Pria tampan ini cuma mengurai sedikit senyum jahil dan memberi anggukan tanda setuju, walaupun gw tau, Re selalu menikmati kopi jadi-jadian buatan gw itu.

Biasanya kalo kangen, Re memang suka tiba-tiba datang ke rumah, tanpa berita dan pemberitahuan apa-apa. Yang bikin gw takjub adalah bahwa ternyata Re masih juga hobby memasang tampang polos sambil berseloroh nggak jelas: “Tau ga? Gw sebenernya males ketemu lo, tapi anehnya, dari kemaren gw ngerasa kalo lo ngerasanin gw, ya daripada lo nanti kenapa-kenapa, gw terpaksa deh bela-belain kemarih, takut lu kangen gituh sama guah…”

Biasanya gw cuma ngacak-ngacak rambut keritingnya sambil bilang: “Onyon…”.
Malam itu Re masih memakai kemeja kerjanya. Celana stright black pipe dipadu dengan setelan kemeja lengan panjang junkies dominasi hitam, yang dibalut garis-garis tipis vertikal warna bronze, silver, dan orange. Terlihat manis dan so much sophisticated. I always like him when he being like this. He simply like a chocolate candy bar: delicious, melty sweet but strong and can be the best healer you can get, ever!. Hmm.. he is so much like a tree, he shelters me, and I lie in his shade.

Tapi cerita ini bukan romansa cinta recehan. Beneran, bukan!

Gw jadi kangen gaya bicara and tampang jeleknya Mas Lilik (senior LPM kampus) jaman masih suka memprovokasi gw untuk jadi ‘pemberontak’ di kampus (kebetulan waktu itu gw masih mahasiswa nan junior lagi polos yang gampang banget dikibulin).
Hmm.. (sedikit menyunggingkan bibir) segala diskusi kami, biasanya, memang jadi inspirasi menarik buat gw untuk berimajinasi dibawah rintik hujan malam yang menjadi satu-satunya pengantar gw pulang (ke kostan..).

Tapi malam itu kami nggak ngebahas soal kampus, kami malah ngebahas suatu kalimat pendek (atau tepatnya retorika) seputar: menjadi yang sempurna dalam suatu kesederhanaan dan menjadi yang sederhana dalam satu kesempurnaan.

Sampe sekarang gw masih berpikir dan membandingkan, manakah yang sesungguhnya lebih baik?
menjadi yang sempurna dalam suatu kesederhanaan atau menjadi yang sederhana dalam satu kesempurnaan?

Menurut pendapat orang-orang (terutama wanita), Re adalah sosok pria yang luar biasa (mendekati) sempurna. Tampan, pintar, lucu, dan sangat menggemaskan. Jujur aja, boong banget kalo gw nggak sampe suka sama Re. But I felt so wrong, so much in psychotic and weird feeling: I might like him (very much), but I just don’t fall for him. No love. At all.

Re yang tampan ini nggak bisa bikin gw singit bak layangan kobat kabit dilangit saat gw diam-diam menikmati senyumannya dari jauh. Re yang pintar dan cerdas ini juga nggak bisa bikin gw ngerasa mlompong saat hari-hari gw kosong. Re yang lucu dan kocak ini boro-boro bisa bikin gw memutar otak kiri untuk keep nyuri atensi.

Well intinya, Re yang (nyaris) sempurna, nggak bisa bikin gw.. ingin memiliki dia selamanya, sampe-sampe yang kalo kata chairil anwar: “dengan cerminpun ku enggan berbagi”.

Berjuta perasaan kosong dan aneh ini betul-betul menyekap dan menyengat imaji. Namun, saat batas terjauh nurani gw mengembara, menjadi sejingga, sewarna, bak Bunglon, then I found a reason: ketertarikan adalah bukan bentukan dari cinta.

Bukan semata-mata kesempurnaan rupa ataupun raga (pada dirinya) yang membuat gw jatuh cinta. Gw rasa ada misteri lain. Misteri lain ini sangat sederhana, bahkan kita sendiri nggak tau apa dan bagaimana itu. Namun se-absurd apapun rasanya, tetap dapat membuat kita merasa sempuna (because, he needs me). Hingga, gw yang sederhana, menjadi penyempurna buat Re. Yang sempurna dalam suatu kesederhanaan.

Tetapi pada masa antah berantah, gw juga pernah jatuh cinta sama pria biasa. Pria bertampang sederhana, lempeng, dan nggak begitu tampan. Garing, mengibur, kadang-kadang nggak gitu lucu. Orangnya walaupun pintar, tapi dia konservatif, kaku, stright, kacrud sumicrud, dsb dsb. Yet again, yang sederhana dalam satu kesempurnaan.

See? Keduanya sama-sama punya kata sederhana dan sempurna. So, is it still called a choice? Of course you still can choose, but not among choices.

Choices is a matter of good and bad. Sama halnya dengan sebuah impresionis instan, yang bahkan, kita bisa saja mengalami ketersesatan intelektual, kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk hal-hal yang sangat sederhana.

Well, we simply can choose our destination, and the destination itself is not a choice, it¡¦s our way through life. Jadi? Bagaimana? menjadi yang sempurna dalam suatu kesederhanaan atau menjadi yang sederhana dalam satu kesempurnaan? []

Posted in Cerita Cinta | Leave a comment

Another Broken Story

Bola mata gw nggak bergerak, terpancang jarak. Udah dua menit ini gw nggak mecahin rekor this skimming stone (lempar batu di air). The best rekor masih dipegang Abby, enam kali pantulan diatas air. Amazing!

Sebenarnya dari tadi gw dan Abby sama-sama lama terdiam, hanya menabung dan menimbun arogansi kami yang dibatasi oleh himpitan ruang rindu yang tersembunyi.

“Look Yoem, cinta itu universal. Hanya saja.. kita mungkin mencarinya dengan cara yang berbeda”.

Abby membuka kesunyian tak berujung itu.

“I am who I am, and I’ll suffer for that”. Bola mata gw tetap nggak bergerak, memandangi gumpalan awan senja yang pulang berarak-arak. “I love you so much ’till it hurts, Bi. You always know it”. Lanjut gw pelan dan ragu-ragu.

“Then why you wanna leave me?!”. Abby mulai nggak sabar menanggapi gw dan segala tembok kekakuan yang sengaja banget gw bangun.

“I really don’t know I can hold it.. or not.. I’m loosing you”. Gw mulai nggak bisa benahan buncahan rasa itu. Sayang kalimat terakhir tadi cuma ada didalem hati gw aja. Di depan Abby gw cuma bisa sedingin es.

Pipi gw basah, sebasah mata Abby saat dia cuma bisa mengumpat sekuat-kuatnya dan menendangi alang-alang rendah yang nggak bersalah. He’s so demolish.

But.. so am I.

Dan bisa ditebak, kami cuma diam disepanjang dua setengah jam perjalanan pulang kembali ke Ibu kota. The silence is deafening. Believe me, it felt like forever.

Caramel Macchiato, perpaduan halus antara pahit ekspreso dan kelembutan wangi susu yang ringan namun kuat, sekuat keyakinan membuat mimpi menjadi sebuah manifesto yang selalu nyata dan ada, sekuat keyakinan gw untuk mengenyahkan Abby dan cintanya dihati gw.

Tiga hari berselang sejak the skimming stone day. Hari dimana keputusan gw menjadi sesuatu hal yang sangat elusive (sukar dipahami) dan extravagant buat Abby. Tapi itu gw dan dunia gw. Gw cuma bersikap sedikit lebih protektif ke diri gw, ke hati gw.

But you know what? Actually, you cannot get your real love if you won’t surrender into it. Pasrah itu sebenarnya jalan keluar yang paling pas. Tapi buat gw, sulit banget untuk kehilangan orang yang bener-bener berharga buat lo. Memang, kenyataannya nggak semua perempuan sepengecut gw. Mungkin ini salah satu fakta kenapa icha selalu bilang “lu kan bukan cewe rum?!”.

Emansipasi, tidak berarti melakukan segala kegiatan yang “mirip” dengan yang dilakukan pria. Emansipasi bisa juga berarti: bisa menjaga diri sendiri. Mungkin, bisa jadi gw terlalu over dalam hal menjaga diri gw sendiri, sampai nggak sadar, sudah sedemikian dalamnya menyakiti orang lain. Tapi gw bukan batu, gw juga masih punya some tears to shed.

Happy Salma: Menurut Anda, perempuan itu yang penting cantik atau pintar?
Pramudya: Bagaimana dia membentuk dirinya saja. Belajar hidup.

Angan gw terus melayang, membayangkan jawaban sederhana Pramudya yang membelit paru-paru sekaligus memaksa gw untuk mengendapkan pikiran.[]

Posted in Cerita Cinta | Leave a comment

The Conversation – 3

gw: din mana imel lucu2annya lagih. sombong luh HIH! (lempar pake bakiak)
Dina: *ngelessssssssssssssssss ke kiri*
gw: haiyah!
——————————————————-
gw: napa nyet?
chaca: yey, bekantan teriak monyet
——————————————————-
Erick: siang, bu oncom
gw: hehehe
Erick: aku mo ngirim artikel tulisan syafii maarif nih
gw: mauuuuuuuuu
Erick: ok, sedang di send
——————————————————-
Darwin: sayangnya, gw selalu merelakan untuk ditinggalkan karena gw gak pernah sanggup untuk meninggalkan, jujur itu…jaman pacaran dulu tentunya…
gw: oncom luh
——————————————————-
Icha: lg jenuh ma hidup enak ngapain yah?
gw: beli baygon gih
Icha: ga mau…. kata cha2 mending pake molto, biar matinya wangi
——————————————————-
enrico: rum..punya gmbar lucu ga??
gw: eh punya, mau aku kirimin? kirim ke mana?
enrico: mau dunk
gw: imel
——————————————————-
gw: mana cha? ini reportnya pak andi udah dateng
caca: LAGI DIKERJAAIINNN SABAR NAPA? GWA LEMPAR PISAU NEHhhhHHHHH!!!!!!
gw: maapppphhhhhhhhh….
caca: DIEM LUUUUUU!!!!
gw: ONCOM KACRUT PMS lu yak, mara2 molo
——————————————————-
Muhamad Rovianto: Toleransi Sangat Perlu.. Karena Perbedaan adalah Fitrah Kehidupan yang harus di sikapi dengan Bijak. Selama tidak bertentangan dengan Aqidah dan Syariat yang Qoth’i
gw: susah emang ya? kata ardi kamu memang garis keras. ya sudahlah
Muhamad Rovianto: Itulah fitnah keji pada siapa yang ingin menerapkan Islam yang Kaffah..disebut garis geras. Islam yang lembut, yang kerjanya Ibadah,Ngaji dan membiarkan agamanya diinjak2, ya itu Islam yang mencampuradukkan antar agama. Itulah Islam yang moderat sekarang
gw: membiarkan..?? ah itu fitnah keji juga. Well, Mereka yang percaya tidak butuh penjelasan, mereka yang tak percaya tak pernah cukup penjelasan. Wah kalo untuk debat online gak bakal efektif. Mo menang atopun kalah ngomong, ngaruhnya dikit. Mending langsung buktiin di praktek.
——————————————————-
mas lilik: gue kasih komen tuh di blog elu
gw: lah baru aja gw posting, cepet amat?
mas lilik: beda waktu 1 jam jek
gw: btw, ada relevansi apa pake nyebut nama “kramat” itu? jealous ya? hahaha!
mas lilik: kan biar cupu wakakakkakakakaka
——————————————————-
PaK aNdi: rum
gw: pak
PaK aNdi: sipendekarwaria…eh sipendekar wanita. Gambar imuticonsnya pas.. laksana pendekar, pendek dan kekar..
——————————————————-
gw: aku biang kerok jadinya?
ikhwan: karena mendukung sekulerisme email
gw: why not? it’s not quiet appropriate anyway
ikhwan: sorry, sy tdk bisa Bhs Inggris
gw: Sorry emang bahasa arab ya?
——————————————————-
Lia: psikiater yg bagus n murah dimana? gw mau periksa kejiwaan gw
gw: banyakin tahajud!!!
——————————————————-
yudi: gw di sini kebanyakan dah pada tua, gak bisa have fun
gw: yah nggak papa, bisa buat pelajaran elo juga, jalannya kan udah diatur ama yang diatas yud
yudi: sip, many thanks 2 your support 4 me
gw: iya sama-sama ya?
——————————————————-
Ozzy: btw,sapa calon iyoem sekarang? ahmadnya dah dilupakan kan?
gw: nggak ada calon, pacar dll.. Ahmad? lupa? masih suka inget dikit
Ozzy: ya ampun yoem. Itukan dah lama banget?
gw: gw belum pernah tersentuh sama kebaikan orang sampe kayak gitu..
——————————————————-
gw: ya.. emang making decision itu nggak segampang bikin oncom din, banyak yang harus reconsidered
Dee: mending makin decision daripada bikin oncom, mana gw tau cara bikin oncom? bikin anak n bikin enak baru gw ngarti.
gw: jijay luh
Dee: emang
——————————————————-
KuChRut: darto love you, muah muah
gw: jempol gw yang budug loves yu too
——————————————————-
Mas Duta: nice setatus deh pokoknya
gw: ngeledek ya??
Mas Duta: lha siapa yg ngeledek? tapi, sptnya, udh desperate banget
gw: semua bilang gitu, kenapa sih? emang desprate itu kenapa? dosa ya?
Mas Duta: gak sih, kdg g ngerasa gitu juga kok
gw: oncom
Mas Duta: mang lagi knp sih? mendambakan seseorang, tp gk tau siapa orangnya?
gw: bukan…
Mas Duta: tapi?
gw: ya begitulah, kadang undescribed
——————————————————-
Wahyu Djatmiko: yom
gw: ya mas?
Wahyu Djatmiko: kerja dimana ? apa kabar?
gw: aku di managed service NTS mas, kabarku baik, hehehe, mas gimana?
Wahyu Djatmiko: masih seperti biasa. aku di tanjung pinang. leyeh-leyeh
gw: itu dimana yah?
Wahyu Djatmiko: (_-_)\ pingsan
——————————————————-
mas bay: wahahaha.. sial.. dr tadi mikir siapa john mc clane.. baru inget klo die hard
gw: haiyah baru inget???
——————————————————-
rico: non…da ntn transfor??
gw: napa? mau ngajak?
rico: I’m optimus prime here
gw: hehehehe…
——————————————————-
mas agung: rum lagi sibuk gak?
gw: napa mas? mau traktir?
mas agung: dasar
——————————————————-
om erik: koneksi memburuk?
gw: begitulah om..
om erik: OM? gila luh gw gak stua itu kali, muka mah iya
gw: eike makan dulu yah, tante (gag mau dipanggil om, kan?)
om erik: hrgh.. salah ngomong gw…
gw: elu sih
——————————————————-
gw: cha tadi situmorang minta id ym lu, tapi gag gw kasih, sekian dan terima kasih
Icha Hutapea: =))
——————————————————-
Mas ndut: sibuk ya?
gw: napa om?
mas ndut: gpp, just wanna chat aja
——————————————————-
gw: oncom, pa kabar lu
yudi adi: baik arum yg cantik, alhamdulilah
gw: gimana disana?
yudi adi: banyak kerjaan banget
——————————————————-
Dodi: pa kabr rum? udah sehat?
gw: oy udah
——————————————————-
PurnoMo: Assalamu’alaikum….
gw: salaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaam
PurnoMo: gmn kabar Yooooem?
gw: baik
PurnoMo: lg sibuk opo ki?
gw: KPI
PurnoMo: gimana performance networkmu sekarang?
gw: rahasia
——————————————————-
Gun: Hai cantik
gw: hai cantik
Gun: I miss u rum
gw: iya aku juga
Gun: Tp kalo cinta gak ya hwekekek
gw: aku juga gak ya hwekekek
GUn: Ya sudah roem berhubung km gak cinta aku, aku pamit dulu..
gw: ya…
——————————————————-
heru: Yo wes gpp..Seng penting dirimu bahagia dgn kamu skarang ini, orang mau jdian, opo jkt meh banjir, ato sutiyoso jd gendheng, gak ngaruh seng penting awakmu hepi2 hura2
gw: iyo.. aku heppi kok, thanks
heru: Iyo happy2..Tp matanya jgn berkaca kaca gt ah..Hehe
gw: lho tenan, wes ilang rasane, aku ketemu buanyak cowok2 yang lebih fantastik dan menggairahkan dari dia..
——————————————————-
Gw: ikut status ya bro
andi: maksud loeeeeeeee, reseeeeeee
gw: bodo…
andi: emang knapa loe
gw: itu apa sih? judul lagu ya?
andi: ikut2 status gw
gw: ayo gih ganti status.. ntar gw ikut lagi
andi: cah gemblung!
——————————————————-
gw: pak ngerjain D3 yang tgl 7 ama 8 besok ya, ada site mati neh. Yang tgl 1 aku check complete pak, jadi aku tinggal ngurus yang tgl 7&8 (D3)
PaK aNdi: ok rum, nggak masalah…
gw: janji deh.. janji seorang wanitaaaa..
PaK aNdi: janji seorang wanita, jarang komitnya, hanya penuh tipu daya…
gw: tergantung wanitanya pak : saya kebetulan setengah2..
——————————————————-
andika: hai apa kabar
gw: baik
andika: apa dah lupa ya dengan mas andika
gw: iya lupa
andika: kan dah pernah chat dengan mas
gw: iya tapi lupa tuh
andika: ya mungkin sudah lama ya mas ga’ pernah chat
gw: beneran lupa
——————————————————-
Mas Boiy: kabar gimana neh jomblo
gw: kabar gw baik, masih nggak percayaan ama cowok masih suka diskusi teologi langit ama orang-orang milis, ya gitu.. du?
Mas Boiy: alhamdulillah, masih idup
——————————————————-
gw: pak andi orangnya cooperative, aku nggak pernah nemo cowok gitu bu, walah.. suram hidupku, madesu
Bu Dian: hahaha …. ada ajaaaaa …. gak lah, biasa aja … namanya rumah tangga pasti pernah ketabrak masalah juga. but after 13 years, mulai bisa lebih logis
gw: lebih logis? hahaha aku suka bahasanya!
Bu Dian: lha iya, kalo abg berantem nangis dan ngabur
gw: we… kalo yang logis?
Bu Dian: kalo udah 13 tahun nikah, berantem means … mari ke kafe ato resto di saat anak2 sudah bobok semua, and discuss
——————————————————-
Ik: kalo lo jago nulis gitu bu, knp gak lo coba isi dimajalahnya mala..
gw: weh, kacrut nanti
Ik: mang gak pernah coba.?
gw: nggak
——————————————————-
Caca: iye ada si kacang polong garuda asemmm, jadi ga bisa isi2 bulbo lagi euy
gw: yah takut ama kacang bolong, cuek aja lagih
Caca: apaan kmrn gwa cuma ngeliat freind listnya si cokor aja dimarahin
gw: kenapa?
Caca: tau…
gw: beliin baygon sono, biar gak PMS
Caca: goblok
——————————————————-
mas Klent: ya kuharap u bisa cpt jadian sm bilven
gw: Hahaha, I like he’s chinese face…
mas Klent: u kok ikut2an aku sih, sukanya chinese
gw: oncom lu mas
——————————————————-
lekopr: udah dihubungi ama surman lg?
gw: nggak pernah, kata terakhir ya itu “kita begini aja”
lekopr: hahahhahahaah
gw: sialan lu
——————————————————-
gw: faza faza… kamu ngga capek jalan2 terus?
faza: mumpung msh bisa jalan2
gw: iya iya…
faza: pacarmu sapa rum?
gw: jomblo
faza: koq jomblo?
gw: mungkin emang belum ketemu aja
faza: berarti aku salah denger donk, katanya km dah married
gw: HAH!! mbek sopo???? mbek kowe??!! [misuh misuh]
——————————————————-
Mbak Dian: apa kabar malih.. stiap kali gw buka friendster gw cm baca bulletin lo doang, knp jd tambah gila ya nih org..
gw: buset..[]

Posted in Conversation | Leave a comment

Tikus dan Kemanusiaan

Kemaren gw baru aja bete setengah mati. Gara-gara ngeliat ada orang yang nangkep tikus, trus tu tikus dibakar hidup-hidup, bakarnya pake kertas lagi. Anjrit! Kebayang dong nyiksanya kayak apa?? Andai aja gw saat itu bisa berhenti dan ngeplak kepala si blegug itu.

Alhasil, gw cuma bisa nggrundel (misuh-misuh).

Gw kebetulan pergi sama bokap n temen gw, sebut aja Jacky. Ditengah rentetan protes guah, Jacky dengan oncomnya bilang: “Please deh rum, it¡’s JUST a RAT!” Cannot excuse, setiap tanggapan orang atas perikemanusiaan merupakan suatu ciri sampai dimana manusia itu dengan segala perikemanusiaannya.

Dan entah gw lagi PMS atau emang kesurupan, gw spontan noyor palanya Jacky. Sampe akhirnya kita saling berkeplak-keplakan kepala, dan nggak lama cakar-cakaran beneran.

“Damn you, it’s just a raaaaaaaaaat!!!” Jacky terus berusaha ngelepasin tangan gw yang narik paksa rambut ikal panjangnya yang barusan aja di creambath. Kayaknya itu peak of limitation gw deh. Coz gw jadi ikut nggak beradab n brutal juga ngehadapinnya.

Untung bokap gw turun tangan.

Well, sebenernya udah beberapa waktu ini gw capek banget ngeliat penyakit apatis dan “perikemanusiaan limited” yang gilanya terus terjadi disekitar gw and bener-bener spreading bak silent epidemic.

Semua tindakan heartless itu asli bikin gerah gw. Imajinasi gw yang berenang liar seakan-akan berontak, “Woy ncom, it’s gotta be more than this.”

Gw dulu pernah menjawab pertanyaan di salah satu bulbo FS (yang gw isi kadang serius kadang kagak) tentang bentuk-bentuk tindakan yg dapat merusak moral manusia. Kalo nggak salah dulu gw jawabnya kurang lebih gini:

Tindakan yg dapat merusak moral manusia adalah tindakan-tindakan tak bermartabat, yang dilakukan tanpa berpedoman pada kehalusan budi pekerti serta tanpa dilandasi kesadaran individual yang tinggi.”

Ada tiga kata kunci disitu: tindakan bermartabat, kehalusan budi pekerti, dan kesadaran individual yang tinggi. Semuanya memberi perspektif keteladanan, nilai kritis, harmonis, produktif dan demokratis.

Sekarang ini, lo liat deh, di Indonesia banyak orang yang berpendidikan tinggi tapi cenderung reaktif, defensif, bahkan dogmatis. Typical orang tertutup yang sama sekali nggak adaptif (boro-boro mau sensitif). Pertama, mereka ini amat resisten sama hal-hal baru, kedua, jelas cenderung ingin menyerang, menyangkal dan gak welcome. Padahal katanya bangsa kita ini bangsa beradab yang demokratis, yang tingkatan toleransinya tinggi.

(Numpang mengumpat) Beradab? Demokratis? toleransi tinggi? Pret dut cuih!!

Asal lo tau, gw masih lho, punya temen yang bangga setengah mati sama ke-apatisan yang dia punya. Bukannya dibenerin, malah bangga. Seolah-olah itu ciri moderisme yang harus dipunyai orang-orang dikota besar kayak Jakarta. Bullshit!

Kartini dulu pernah berkata pada teman bersuratnya di Belanda, “Saya begitu ingin berkenalan dengan gadis modern”. Hmm.. Bila suara Kartini menyatakan kekaguman pada fajarnya abad modern, Pramudya justru menyuarakan kekecewaan yang mendalam tentang arti modernisme. Gw bilang, untuk masa sekarang, Pram bisa jadi benar.

Meskipun era modern membawa kebaikan untuk manusia, namun secara paradoks, umat manusia itu sendiri berada dalam “highly ultimate danger” selama ada orang yang masih hidup tidak sebagai manusia, tetapi sebagai binatang.

Gw percaya, bangsa kita memang kena kutuk. Kena kutuk akibat terlalu banyak perilaku kebinatangan yang dilakukan oleh sang manusia yang notabenenya makhluk tuhan yang digembar-gemborkan paling mulia.

Contoh globalnya gini deh, liat aja reaksi dan bentukan sikap egois nan brutal suatu golongan atau masyarakat manusia yang sedang berhadapan dengan golongan atau masyarakat manusia yang lain, yang asing, yang belum dikenalnya, atau yang mana ia tak mau (atau malas) mengenalnya. Mirip halnya dengan seekor ANJING yang mengambil sikap terhadap ANJING lain yang tidak pernah dikenalnya.

Sikap demikian, sama sekali nggak patut dijadikan contoh oleh suatu bangsa atau individu (bahkan OKNUM) manapun juga.

Sepele aja, nggak usah jauh bicara tentang perikemanusiaan. Bicara tentang toleransi aja lama-lama bisa dicap “pendosa”.

(Mungkin paragraf ini agak sarkasme) Saat ini, banyak orang yang merasa membela Tuhan, mengimani sedalam-dalamnya, tetapi dalam prakteknya, NGGAK! Sama sekali nggak mencerminkan sebagai orang yang beriman. Perilakunya rusak, kriminal! Hawa nafsu dituruti, keadilah hidup dikhianati.

Suatu kesia-siaan yang mungkin menggelikan, bahkan mungkin menyedihkan. Anyway, balik lagi ke topik perikemanusiaan llimited tadi.

Kalo gw nonton tipi-tipi (yang Alhamdulillahnya produk kapitalis juga), buset, orang-orang barat kalo nolong orang lain yang susah, nggak nanggung-nanggung. Boro-boro manusia, nolong hewan a.k.a binatang aja sampe sebegitu dibela-belainnya. Rasa penghargaan terhadap kemanusiaan yang luar biasa!

Kalo di Indonesia? Wah Madesu, Suram!

Kegelapan yang ada di Indonesia dipastikan berasal dari dan hanya disebabkan oleh sistem dan struktur sosial yang memberi peluang bagi beragamnya tindakan kekerasan terhadap kemanusiaan.
Kata bokap gw, perikemanusiaan, atau kasih (compassion), atau apalah namanya, memang sepintas tampak lemah, tapi kalau kita bisa memanfaatkan energi yang tersimpan dibaliknya, kelemahan itu bisa berevolusi dan njadiin kita individu yang sangat kuat.

Ingat, sempurnanya tubuh nggak pernah menjadikan jaminan atas sempurnanya jiwa. Namun, bagaimana kita mau menyempurnakan jiwa kalo nggak tertinggal sedikitpun rasa perikemanusiaan didalamnya??? Well, ada yang mampu menjawab tantangan ini?[]

Posted in Nasihat Bokap | Leave a comment

Kedewasaan dalam Beragama

Siang hari, setelah makan siang. Gw, Icha, Cokor naik ke atas, deket Helipad. kami ngeliat-liat koneksi microwave yang selalu bermasalah setiap kali mati lampu. abis itu duduk-duduk di tangga. ketawa-ketawa, cerita-cerita garing.

Gw: Gyahahaha iyh enak ya kayak gini bertiga ketawa-ketawa, sama sekali nggak kerasa kalo kita beda.

Icha: Iya beda, Tuhan gw ganteng, sementara Tuhan lu nggak keliatan.

Cokor: And Tuhan gw banyak..

Kami bertiga: [ngakak bersama]

Memang benar kata mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Syafii Maarif: “Kedewasaan dalam beragama itu terwujud dalam sikap toleransi dan menghargai”.[]

Posted in Cerita Cinta, Conversation | Leave a comment

Menulis: Mengasah Ketinggian Jiwa

There’s something undescribed excitement about writing the first words of a story. you can never quiet tell where they’ll take you. Gw teringat, Imam Ali menegaskan agar kita mengikat ilmu dengan menuliskannya. Karena itu, menulis merupakan kegiatan hidup yang amat bernilai tinggi dan mulia. Sebab dengan menulis, hidup kita akan terasa lebih berarti.

Bagaimana nggak berarti??? untuk menulis dengan baik, kita memerlukan kemampuan untuk bisa menambahkan a more value into the life itself lalu nggak lupa menganalisa: bagaimana awal terjadinya, bagaimana pola frekuensi kejadiannya, garis merah/hikmah apa yang bisa kita ambil dari sana dsb dsb.

Tanpa kita sadari, menulis (selain berbuah bacaan yang sukur-sukur menginspirasi orang lain) akan menimbulkan sebuah kesadaran diri, juga keberanian berfikir yang dapat menajamkan intuisi serta memberi ruang (seizing the gap) untuk mengasah ketinggian jiwa kita. Maka menuliskan kebermaknaan hidup, bagi gw, menjadi hal utama sebelum kita nantinya nggak mampu lagi menjalani hari sama sekali (baca: mati!). Yeah walaupun sedikit, hidup setidaknya harus memiliki nilai dan arti, at least buat diri lo sendiri.

Lagian nyenengin juga kalee, kalo ada stranger yang baca tulisan lo, dan pada akhirnya bisa menginspirasi mereka untuk berbuat baik.

Well pokoknya, when you see something unusual, just not content to look at it. You must capture it. Inget kata Om Liang Gie, “Semua akan sirna, hilang, kecuali yang ditulis”. Bagi gw, menulis adalah sesuatu hal yang indah (beauty) and beauty is really worth preserving.[]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

The Conversation – 2

(tengah malem)
Icha: Gw kagak terima!!! Masa lu yang ngucapin duluan?!
gw: yah cha, mana ada yang inget ultah elu kecuali gw? itu juga gw terpaksa sebenernya
======================================================================
MasCabeDeh: Kenapa ayum nggak pernah menanyakan kabar mas?
gw: …………..(buset)
======================================================================
Mas Pram: Dingin tak tercatat pada termometer, kota hanya basah. Angin sepanjang sungai mengusir, tapi kita tetap saja disana. seakan-akan gerimis raib dan cahaya berenang mempermainkan warna. Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?
gw: ………….. (bingung dah mau jawab apa)
======================================================================
Isham: Beb, skripsiku lagi running nih, mau ngejar september
gw: iya, yang semangat ya?.. (masih jaman kuliah??? Wikikikik)
======================================================================
gw: ngapain OL ric? ada sesuatu yang mo dikerjain? atau nyari apaaaa?
Erick: nyari artikel komik lokal, buat hari selasa, siaran
gw: great!
Erick: begitulah
gw: teruslah mencari.. SEMANGAT!!!!
Erick: IYA! (jadi ngeklik mouse pake sikut saking semangatnya)
gw: Gyaaaahahaha…
======================================================================
Ijang: Yoem… Sibuk?
Gw: Mayan..
======================================================================
gw: so? apa yang bisa kubantu mas?
Mas Toriq: ……………. memahamiku
gw: *glek* (nelen ludah)
=====================================================================
Mae: Sabar yawh.. aku cuma kangen kamu.. muah.. muah.. !
gw: hiks.. ichaaaa.. (at my peak of limitation)
======================================================================
Heru: Kamu kok kurus seh sekarang? kasian…. stress ya? serius tanya, bukan nyindir!
gw: cultur stelsel (kerja rodi) versi cino, ru! hehehe
======================================================================
Mas Hafidz: Maskaramu tebal dan menjijikkan
gw: (ngakak)
======================================================================
Husni Kanifan Efendi: bilven aja kok dipuja-puja, baca blogmu terus terang saya ngakak. oh ya masih pgn ngasih puisi buat bilven…??
gw: Yaa harap dimaklumi.. namanya juga ngefans Mas. Saya cuma wanita biasa saja yang luluh melihat senyumannya yang alamak.. bikin saya nggak berenti2 nyengir2 bego sendirian selama 3 hari 3 malem..
======================================================================
(On YM)
gw: pageeee paaaaaaaaaak booossssss
pak andi: pagi….
gw: fddbhg
gw: io9o9lk0jk0-=
gw: itu\
gw: p;]0ica8ol,
pak andi: loh, mabok ya? kok gak jelas gini tulisannya?
gw: tadi icha ngacak2 pak, maap
pak andi: ealah… ada wild monkey disitu?
pak andi: kasih kacang coba..
gw: =))
======================================================================
Dee: kalo mo tlp kantor gw, bilang aja mo ngomong ma dina cantik anak finance
gw: Finance? katanya dulu dagang ganja?
Dee: masih..
Dee: ya itu tadi, ekspansi, diperluas.. diversifikasi
Dee: jadi dagang orok dan yang pastinyaaaa dagang kenikmatan. Abis yang lagi laku itu.. :p
gw: gedubrak! (_-_)\ (jungkir balik…)
======================================================================
Ratih: mbak, seteleh aq baca posting dikau, jujur aq ampe nangis.. dan aq pgn cepet nikaaaah!!!!
Gw: loh kok pengen cepat nikah? Heeee?
=====================================================================
gw: kita ini pencari signifikasi dibalik hal-hal remeh.. bedanya cuma lo cowo, gw cewe
Sulayman: iya nih, untung kita ga masuk jurusan filsafat… bisa gila ntar he he he
gw: iya yah.. padahal gw sebenernya pengen..
Sulayman: emm, baca aja dunia sofie, itu lengkap banget
gw: masa? iya dey nanti
Sulayman: Ok, btw gw mo makan siang dulu neh
gw: okeh man, take care
Sulayman: okeh, nyeker… (maksutnya: take care)
=====================================================================
gw: dasar oncom
mas boi: loe ada paan sih sebenernya sama oncom
gw: lah dari pada “dodol!!” kan udah pasaran. Trus kalo babi.. nggak boleh.. kasar kan?
mas boi: uhmm penyakit
gw: trus kalo monyet.. itu untuk kalangan internal…
mas boi: kalo nyumpah yg keren gitu, biar orangnya seneng
gw: apa contohnyaaaahhh
mas boi: dasar ganteng
gw: ………………………………
mas boi: gak lucu yak
gw: Gyaaaahahahahahahaha…
=====================================================================
Ntie: kapan roumm aku dikasi undangan
gw: hehehe
Ntie: ehh..
gw: I still chasing whatever people called it.. dream.. yups, just some dream..
Ntie: umm..
gw: I’ll let you go first lah!
Ntie: hihihihihi kok km gitu.. you know what dey say kan?
gw: well..
Ntie: theres a funny thing about answered prayers.. they seem to come to you in unexpected ways
gw: Correct!!! I felt that too
Ntie: so, dont stop dreaming… semoga they come to us soon yah!
gw: amieeeeeeeeen
=====================================================================
Dhito: Yum, cewe yang pintar dan berkarakter itu makin langka, teruskan perjuanganmu!
gw: Buset, napa lu tiba-tiba sms gitu?
Dhito: Gw bisa ngertiin apa yang orang-orang rasain ke elo
gw: ???????? apaan sih lu?
=====================================================================
gw: Wisanggeni…. hm..waaaah…..
Desta: tapi sayang rum, walaupun setengah dewa, dia itu gak bisa halus kalo bicara, orangnya keras!
gw: Wisanggeni….
Desta: Halahh.. kamu itu.. cuma tertarik namanya aja, dari tadi gak dengerin aku ngomong ya?!
=====================================================================
mbak wiwik: aku ngembat lipstikmu satu ya rum…
gw: ………… (yahhhhh…. kenapa dia ngembat yang paling mahal dah)
=====================================================================
SiLondho: can we had some dinner tonite?
gw: Well….ummm….let me think…..
SiLondho: forget it, you can’t go, right?
gw: haha you already know me well then..
SiLondho: Y’know what? I’m counting on it.. it’s already 5 times you said “no”
gw: Sorry..
=====================================================================
Japir: kayaknya gw patah hati lagi ama yang kemaren tuh rum..
Gw: yah, yang sabar aja, belon jodoh kali………….
=====================================================================
gw: aku seneng banget hari ini, at least aku bisa jadi diriku sendiri
Mas Tirta:
lho biasanya kenapa nggak?
gw: jadi engineer kadang membuat kita jadi nggak humanis.. cenderung apatis, dan kalopun nggak apatis, aku sih ngerasanya kayak.. bukan diriku utuh apa adanya..
Mas Tirta: Hm.. jadikan peran engineer-mu hanya sebatas cara untuk nyari penghasilan, bukan sebagai gaya hidup. Mungkin bebannya akan sedikit berkurang..
gw: Mmmm… gitu ya mas?
=====================================================================
gw: mas don, tau nggak? biasanya aku yang foto-in orang, kalopun orang foto-in aku, aku pasti gak puas sama hasil akhirnya.
mas don: ya udah, sini aku potoin..
gw: (langsung pose) >> jijay
=====================================================================
Qp: dirimu makin lucu tampaknyaaa
gw: apanya?
Qp: hehehehhehehe
gw: Bulbo?
Qp: lucu2
Qp: nagih bacanya roeemmm
Qp: buat nakutin tikus..lumayaaann
gw: (^_______^) hihihi..
=====================================================================
Mas Anwar: Kamu kemaren ngapain?
gw: ngapain gimana mas?
Mas Anwar: Kata Lilik ngobrol seru sama penyiar O Channel?
gw: Ooo Dri Soetomo si Solaria? iyaaaaaaaahhhh..
=====================================================================
gw: Oyy, lantas yang seksi menurut temen lu itu kayak gimanaaaa bro?
Genta: …… (nebas2 abu rokok)… Hmmm… yang kayak elu.
Gw: Heee? guah??
Genta: iye, elu! rasa percaya diri lu yang seksi itu bikin cowok-cowok keep naro atensi ke elu!
Gw: Buset…………….
=====================================================================
gw: aku jadi takut ga bisa bedain, kapan kamu benar-benar memakai topengmu, dan kapan kamu bener-bener jadi dirimu..
Zach: aku nggak sengaja pake topeng itu, itu diluar kontrolku.
gw: ………… (bingung)
=====================================================================
TB: halo arum. Gw baru baca blog mu di fs. Bagus banget. Ntar klo dah banyak bikin buku aja. Gw dukung blognya.
gw: he? []
Posted in Conversation | Leave a comment

Mati Muda

Hhmm.. Masa muda.. penuh dengan kecemerlangan berpikir dan mekarnya kesadaran intelektual.

Gw masih ingat ceritanya Ali syari’ati bahwa yang namanya jati diri dan kesadaran berpikir di hari-hari yang kebodohannya begitu menggejala (baca: masa muda) adalah suatu “kejahatan”.

Orang yang dianugrahi ketinggian berpikir pada masa mudanya jelas akan mendapat pemberitaan tentang segala sesuatu, tanpa dia sendiri akan merasa takut, tentang apapun yang melintas didalam kalbunya. dan dalam situasi seperti itu, seorang pemikir muda hanya akan menjadi alat kedzaliman dan penindasan yang harus dihadapi oleh kesadaran intelektualnya sendiri.

Maka, diapun akan mengalami nasib yang sama yang bakal dijalani oleh siapa saja yang menempuh jalan itu: MATI DALAM USIA MUDA.

Well, None of us knows which path will lead us to God.

Mungkin Tuhan terlalu mencintai kaum muda yang openness to experiences, yang bisa melihat something beyond what others can’t see. (bukan berarti harus mistik, agamis, atau klenik, namun bisa juga hal-hal yang sifatnya kebih kepada kesadaran pribadi.)

Y’know? sometimes I wonder, will god ever forgive us, the youngster, for what we’ve done?
God will. Karena Dia yang Maha Mulia, dan Maha mengetahui segala rahasia.[]

Posted in Waktu Kuliah | Leave a comment

a Work Attitude

Semoga menjadi inspirasi untuk para engineer indonesia.

Belakangan ini Boss gw kasian sama gw, katanya makin hari, makin banyak kerjaan yang dibebankan ke gw, dan semuanya itu menuntut gw untuk bisa lebih pintar memotong-motong konsentrasi gw seperti puzzle, lalu merangkainya kembali secara tepat di detik-detik terakhir.

Tapi anehnya, gw kok malah berasa makin enteng, nggak ada kerjaan. Gw nggak ngerasa ribet ataupun pusing kayak dulu-dulu lagi. Gw pun ngerjain semua kerjaan itu (mengutip kata Will: Those Hell Jobs) lebih santai, tapi tepat waktu dan semua pihak senang. Gak ada tekanan sama sekali, kayaknya fun-fun aja gitu.

Hahaha (sembari berdiri dengan dua kaki terbuka lebar, tangan di pinggang lalu tertawa puas, mirip adegan di film-film kartun), Gw berkata dalam hati: “Makin keren aja gw ini!”. Abis ini dilempar bola bowling sama icha kayaknya. Hehehehe.

Dalam kondisi yang luar biasa ruwet gini, entahlah, gw malah menemukan suatu kelegaan tersendiri. Gw makin merasa berjalan ke arah titik terang dalam mencari some way out to chase a freedom to liberate my own self.

Ya tapi kan nggak dalam waktu sedetik, ting, lantas gw bisa secara otomatis beradaptasi dengan demikian cepat. Freedom isn’t free it self! you have to work hard to free your freedom, dude.
Dalam perjalanan hidup, gw selalu mencoba meraba peta implisit yang dibisikkan Tuhan melalui barisan tentara langit-Nya. Sehingga apapun kondisinya, gw sepertinya harus menemukan “the thin red line” alias pemaknaan yang bergolak didalamnya terlebih dulu, sehingga apapun yang terjadi, mau itu baik ataupun buruk, gw bisa lebih mensyukurinya aja.

Begitu juga gw dalam hal memaknai arti “pekerjaan”.

Kita harus bisa bekerja berdasarkan PASSION. Maksutnya ya.. being happy dengan apa yang kita kerjakan plus (kalo bisa) punya lingkungan yang juga mendukung. Pokoknya kata mbah gw, just don’t waste your time, pokoke make your works meaningful deh! (Haiiyah, mbah yang mana neh???.)

Mengutip dari blog gw sebelumnya bahwa: perbedaan mendasar antara pola pikir pekerja Indonesia dan pekerja yang bukan made in Indonesia, jelas terlihat pada cara dan apresiasi mereka mempertanggungjawabkan pekerjaan secara moral, terutama untuk dirinya sendiri. Yang gw amati, kebanyakan orang Indonesia lemah pada sisi Management, terutama Self Management (walah MADESU). Selain itu kita juga lemah dalam hal mengkombinasikan analisa dan intuisi.

Lalu nggak ketinggalan masalah keterampilan multibahasa, coz secara nggak langsung bahasa terkait dengan how to maintain your own personal communication (to make a good relationship). Kan kita jadi bisa iseng-iseng ngajak mereka berdialog cuma buat nyuri work attitude mereka yang menurut gw top markotop bin jos markojos buanget. (Ini untungnya kerja di perusahaan asing internasional).

Pada suatu sore, Si Ricky bilang ke gw, “Arum, you should deeply understand one basic thing before you do any kind of hell works: Technical skill can be gone, but one thing would never gone.. it’s attitude (work attitude maksutnya), coz it’s the only way to tackle the world and help you to make a better life”.

Well, emang sih not in-a-hell-of-a-life you can reach any greatest achievement in your life before you can form and keep developing your work attitude. Dan dua hal yang punya “very significant role” terhadap pembentukan dan pengembangan work attitude, yaitu: Self Esteem (Rasa Percaya Diri) dan Good Habit (Kebiasaan Baik).

Self Esteem. Rasa percaya diri disini bukan berarti sama dan semakna dengan kePEDEan para Ababil (ABG Labil), melainkan lebih kepada: rasa percaya diri pada keunggulan pemikiran kita dan pada kemampuan kita untuk berpikir. Sehingga kita juga memiliki rasa percaya diri tentang mampu atau tidaknya kita menanggulangi tantangan dasar kehidupan, yang berdampak juga pada timbulnya kemampuan dari dalam diri kita untuk merasa bahagia dan menghargai diri sendiri (adanya peningkatan emotional quotion-kecerdasan emosi).

Atau secara mudahnya gw gambarkan sebagai: kepercayaan diri bahwa kita MAMPU untuk belajar, membuat pilihan dan keputusan, dan mengelola suatu perubahan.

Pekerja lokal jarang mau berpikir filosof kayak gitu. (Well jujur aja, gw kalo nggak ketemu Ricky juga pasti NGGAK akan tau bagaimana mengembangkan self esteem ini dari core terdalam diri gw). Pekerja kita cenderung nggak perduli terhadap segala perkembangan self esteem mereka karena dibutakan oleh materi. Money Rules, money rules, dan money rules melulu.

Tapi bagi gw, gimanapun, idealisme kerja akan TETEP sebanding sama materi. Pekerja yang memiliki kebebasan untuk bersikap kreatif, sisi baiknya akan muncul. Dan dalam naungan company yang terbuka dan adil, pekerja tersebut akan mempunyai nilai tersendiri. Secara otomatis, pencapaian itu AKAN diberi imbalan dalam hal keuangan. Dan nggak lupa sekaligus bonus bagi jiwa si pekerja tadi, karena apresiasi yang diberikan perusahaan atas nilainya itu. (Nilai bersifat abstrak dan nggak bisa dicairkan dengan uang.)

Habit (Kebiasaan). Berikut adalah beberapa kebiasaan yang gw liat emang fundamental banget dalam usaha pembentukan work attitude:

Pertama: Kebiasaan hidup dengan sadar. Mengambil kutipan Jack Welch of GE Company: “Rasa percaya diri, berterus terang, dan kemauan sungguh-sungguh untuk menghadapi kenyataan, meskipun hal tersebut sangat menyakitkan adalah inti dari hidup dengan sadar.”

Kedua: Kebiasaan menerima apa adanya. Dengan menerima diri kita apa adanya, kita akan lebih cooperative dan down to earth (semua perasaan defensif dan keinginan untuk tidak mau menerima kritik ataupun ide-ide yang berbeda akan jauh lebih berkurang). Sehingga kita bisa menerima banyak hal baru (yang ternyata tanpa kita sadari positif) tanpa menimbulkan konflik.

Ketiga: Kebiasaan bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Kita adalah penentu pilihan dan tindakan kita sendiri. Untuk itu kita juga bertanggung jawab atas kehidupan, ketentraman dan pencapaian tujuan kita; dan jikapun kita membutuhkan bantuan orang lain untuk mencapai tujuan itu, kita harus memberikan sebuah “Nilai” sebagai imbalannya. Itu bentuk tanggung jawab kita. (Secara gamblang gini: gw mau hidup cukup, dan untuk mencapai tujuan gw itu, gw butuh kerja, otomatis ada imbalan yang harus gw kasih ke perusahaan yaitu: a value atau sebuah nilai dari diri gw.)

Keempat: Kebiasaan mempertahankan hak. Gw rasa ini lebih merupakan sikap kita untuk membela keyakinan dan pendirian kita menurut cara-cara yang memadai dan, jangan lupa, dilakukan pada situasi yang tepat.

Kelima: Kebiasaan hidup dengan tujuan. Hidup dengan tujuan itu sangat penting dan nggak mudah. Kita harus mampu mengidentifikasi sasaran (baik jangka pendek dan jangka panjang), lalu memprediksi tindakan yang diperlukan untuk mencapainya, belum lagi usaha buat ngatur perilaku kita untuk memperoleh sasaran ini (disiplin oy!), ditambah lagi perlunya memantau tindakan-tindakan yang udah kita lakukan untuk meyakinkan bahwa apakah kita udah berada pada “track’ yang benar apa nggak, dan terakhir, jangan lupa untuk memperhatikan hasilnya apakah udah sesuai sama goal kita atau belum (semoga aja udah, karena kalo belum, lo harus feedback lagi keatas.. Capeee deyyh).

Keenam: Kebiasaan memiliki integritas pribadi. Jadi gini, integritas pribadi adalah hidup sesuai dengan apa yang kita ketahui, apa yang kita nyatakan, dan apa yang kita lakukan; berkata benar, menepati janji, memberi teladan tentang apa yang kita yakini, dan memperlakukan orang lain dengan adil dan murah hati adalah beberapa langkah kongkritnya.

Anjrit, banyak amat sih gw nulis? Hahaha kesurupan lagi kayaknya.

Ya terlepas dari kesurupan atau nggak, pokoknya, gw cuma ngingetin, Lo melakukan sesuatu hal, bukan karena hal tersebut menyenangkan buat Lo (meskipun memang demikian). Dan Lo melakukan sesuatu hal, bukan karena secara politis memang benar. Tapi Lo melakukan sesuatu hal tersebut karena Lo harus sangat percaya dan meyakini bahwa antara ekspresi kreatif seorang pegawai dengan suksesnya suatu perusahaan (diucapkan dengan penuh intensitas) sangat-amat-terkait-erat.

Dan untuk mencapai kebesaran diri lo sendiri, mulailah dari tempat dimana lo berada sekarang, gunakan apa yang lo punya, dan lakukan apa yang lo bisa. Just remember, when you’re high on a mountain you cannot be anything but what you are.[]

Posted in Telco Industry | Leave a comment

Idealisme dan Sebuah Kontroversi Realitas

Weekend days. Tadinya gw niat mau makan-makan di Solaria Plaza Semanggi karena BJ, Senior Manager Finance gw, ultah. Tapi rencana itu gagal. Gw “diculik” Ricky (Boss gw), buat ngobrol seputar kerjaan. Katanya sih cuman 5 menit, tapi buset.. (jangan tanya deh..).

Ricky tuh best friend gw di kantor, walaupun beda negara, bahasa dan budaya, dia concern banget sama gw, secara emang dia dulu yang interview gw waktu recruitment gitcuu. Intinya gw sama Ricky diskusi masalah “work idealism and reality controversion”.

Why? Karena untuk mencari pekerjaan yang fit pada kondisi apapun, kita selalu dijejelin sama dua pilihan yang paling common: Money (Reality) atau Work Passion (Idealism).

Money. Nggak mungkiri, kita sebagai manusia cenderung ingin pemuasan materi, yang kalo kata Lia: “Realistis aja nyet, semuanya tuch dibeli pake uang, Money rules! Belom lagi kalo ntar lo udah jadi nyokap-nyokap, kebutuhan banyak, ini itu, iya kalo suami lo ntar pejabat negara yang suka korupsi, lo tinggal sante. Makanya rum, mumpung masih muda, kita harus bisa terus naikin rate sallary kita.”

So??

Kita pasti nggak akan berenti nyari kerjaan yang ngasih gaji pualing gede, kalo bisa: sekian (3 digit) juta perak tanpa dipotong pajak. Haiyyah.

Work Passion. Kadang, ada orang yang nggak ngerasa fit atau cocok sama kerjaan dia sekarang, ConSo (Contoh Soal) kayak temen gw si Riza. Riza kerja di salah satu Bank milik negara yang ngasih gaji & tunjangan gila-gilaan. Tapi apa? Dia nggak puas!! Lha wong dia anak teknik bergelar engineer, tapi kok kerjaannya dealing sama finance (kalo kata gw sih why not?). Yaa ada semacam sesuatu yang ketahan dan undescribed didalam diri dia yang nggak terima kalo dia harus kerja di Bank.

Terakhir ketemu, Riza bilang ke guah, “Yoem, gw mau resign aja deh dari sini, gw nggak betah kerja di Bank. Gw tuh Engineer IT, kalo gw tetep kayak gini terus-terusan gw ngerasa ada puzzle pencarian diri gw yang missing.”

NAH! Bingung kan lo?

Ya walaupun kadang, gw juga menemukan ada beberapa orang naif yang dengan sangat tololnya bilang (yang ini gw nggak mau nyebut nama): “Ya elah Rum, plis deh, kenapa nggak cari kerjaan yang cocok trus ngasih gaji gede? Kayak susah aja nyari kerjaan, Jangan dibikin ribet deh..” (Gw sih waktu dia ngomong gitu cuman cengar-cengir aja, sambil dalem hati mbatin: “Ampuni aku Tuhanku, wahai yang maha pengasih, maha penyayang lagi maha pengampun, jika sampai terucap ataupun terdesir sumpah serapah dan harapan dalam dadaku tentang seburuk-buruk keburukan akan datang kepada orang ini..”

Woy!! Balik lagi dungs ke gw & Ricky tentang masalah idealisme dan sebuah Kontroversi realitas.
Di perbincangan itu, gw bilang ke Ricky kalo selama pengamatan gw setahun ini, ternyata ada dua type pekerja. Ada beberapa orang yang bekerja untuk kepuasan diri, tetapi ada juga orang yang bekerja demi uang.

Yang gw liat, sepertinya ini bukan masalah pilihan untuk menjadi type yang mana, tapi lebih ke: Mampu nggak sih orang itu memproyeksikan rasio ability yang dia punya terhadap jumlah uang yang dia anggap worthed atas level performansi yang dia capai?

People just don’t care. Pokoknya dengan performansi rendah, nggak bekerja sungguh-sungguh, tapi gaji harus setinggi langit.

Well, bagi gw pribadi (ini cuma opini lho), apapun yang kita perbuat, semua ada tanggung jawab horizontal dan vertikalnya. Horizontal salah satunya yah sama sesama rekan kerja (at least kalopun suatu saat lo sukses, orang nggak akan mencibir sinis tentang pencapaian lo itu). Dan kalo yang vertikal, bisa ditebaklah, itu tanggung jawab lo sama Tuhan. Walaupun ada beberapa orang yang bilang, “Nggak ada lah relevansinya, Rum”. Tapi gw insist, bekerja itu bagian dari ibadah, so pasti ada yang dipertanggung jawabkan secara vertikal.

Gw inget, si Dodi, temen gw pernah bilang: “Makan tuh idealisme lu, ngapain lo kerja ampe mampus-mampus, tapi yang lain pada santai gajinya juga sama aja, tuh liat sekarang lagi pada ketawa-ketawa maen tenis meja.”

NAH! Gw bilang sih itu pemaknaan yang keliru. Keliru pertama: Dengan melakukan pencapaian idealisme kerja, gw nggak berarti harus kerja keras banting tulang sampe mampus (jaman sekarang, otak mendominasi otot, bung!). Keliru kedua: Kita nggak perlu ikut-ikut orang yang punya work attitude santai dan nggak bertanggungjawab seperti contoh tadi (kalo santai, tapi bertanggung jawab penuh¡ atas pekerjaannya, ya nggak masalah).

Hmm.. gw jadi teringat kata-katanya Jerry Hung, temen gw yang lain: “The chance only given to the one who well-prepared!”. Gw lantas berpikir, mungkin itu bedanya engineer Indonesia sama engineer yang bukan indonesia. Perbedaan mendasarnya jelas terlihat pada cara dan apresiasi mereka mempertanggungjawabkan pekerjaannya secara moral, terutama untuk dirinya sendiri, sehingga aura tersebut berimpact keluar dari dirinya dan menghasilkan performansi kerja yang luar biasa baik (lalu otomatis lah, yang namanya duit juga bakal ngalir sendiri karena prestasi kerja yang kayak gitu).

Jadi, intinya (balik lagi), gw dan Ricky menyimpulkan bahwa Idealisme dan realitas (tuntutan hidup = money) bukanlah bagian yang terpisah. Idealisme kerja harus kongkrit sama realitas yang ada. Well, tapi nggak semudah itu, untuk mewujudkannya kita butuh pondasi yang kuat, yaitu Work Attitude.

Hahaha.. nggak pake Bahasa Indonesia atau bahasa apa, bisa ditebak: Gw selalu mendominasi pembicaraan. Tapi memang, saat ini yang bisa gw lakukan hanya berdialog, toh hanya melalui dialog seperti inilah kita nggak akan merasa asing, ataupun diasingkan.

Ricky pun malam itu pulang dengan membawa kebanggaan. Coz dia menutup malam itu dengan kalimat:”It’s really an honour to meet you, you are really smart, independent and mature woman. Your character is very strong, and I can see what you will be in the next few years.”

Dan pada malam yang sama, gw pun pulang dengan sejuta tanda tanya, tadi gw kesurupan apa yak… sampe bisa ngomong gitu? Hadeuh.[]

Posted in Telco Industry | Leave a comment

Perempuan dalam Bingkai Modern dan Masa Lalu

Beberapa waktu lalu, menjelang perayaan hari kartini, gw memutuskan untuk menulis. Isinya menurut gw biasa-biasa aja, ulasan tentang bagaimana membuat kehidupan wanita menjadi lebih baik, dan tentunya nggak lupa gw jabarin dua faktor utama yang saling mendukung dan terkait dalam ulasan itu. Pertama: faktor internal berupa kecerdasan si perempuan itu sendiri dan yang kedua: faktor external berupa keterlibatan pasangan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung peran masing-masing agar nggak terjadi ketimpangan ataupun ketidakadilan buat si perempuan.

Well, niat gw sih sebenarnya nggak sampe sejauh itu. Gw cuma mau ngebuka dikiiiit aja, tentang realita perselingkuhan, yang sebenernya terjadi karena kesalahan dua belah pihak (baik laki-laki dan perempuan). Tapi karena konteksnya: ditulis pada perayaan hari kartini, gw yang badung ini agak-agak nyolot buat menambahkan sedikit hiperbolisme kedalam bahasa-bahasa gw (biar lebih nampol dan hot maksutnya).

Tapi entahlah, tulisan itu sepertinya menimbulkan suatu super-chemical-reaction pada masing-masing orang yang mbaca, sehingga diluar prediksi gw, buanyak banget yang kasih komentar, baik langsung di blog ataupun di imel.

Yah, yang komen bagus dan seiring sejalan sih nggak papa, membuat gw tambah cengar-cengir ke-GR-an, nah yang ngasih komen sadis-sadis dan menghujat ini yang bikin gw puyeng (masa tulisan gw dibilang hipokratik, sarkasme, dsb dsb??).

Emosi neh!

Zachrie, yang juga pengamat sosial gw, menyadari hal itu. Dan dia cuma ketawa ringan sambil berpesan: “Sabar.. sabar.. kamu harusnya bangga, Rum! kamu punya ekspresi dan sense buat ngebebasin dirimu. At least kamu bisa nulis apa yang orang selama ini hanya bisa membayangkannya aja. Itu kelebihanmu! Ya.. kalo kamu nggak bisa berlari sambil teriak, kan kamu masih bisa merayap sambil berbisik, pelan pelan aja.. itu baru namanya merendahkan diri meninggikan mutu”

Walaupun wejangan itu terdengar sangat bijak, reaksi gw tetep aja-aja manyun manyun nggak jelas. Mengetahui hal itu, Zach melanjutkan: “Ini jaman dimana semua orang sudah mengalami tingkat edukasi dan literate yang sangat tinggi, sehingga sudah selayaknya buku dihadapi dengan buku, gagasan ditarungkan dengan gagasan, dan tulisan dihadapi dengan tulisan, sudahlah.. mending kamu bikin tulisan lagi untuk menjelaskan inti persoalan yang kamu sampaikan di tulisanmu kemarin melalui perspektif yang lebih objektif lagi..”

(Tapi sayangnya, gw udah cukup males buat ngebahas-bahas yang kemaren)

Namun, dari situ, kami malah jadi punya bahan baru dan seru buat diskusi, seputar: bagaimana menjadi perempuan yang mandiri dan modern tetapi tetap menjunjung hal-hal yang berbau norma-norma tradisi konservatif, seperti: menyadari posisi dan perannya sebagai perempuan, memiliki kesabaran tingkat tinggi, menghargai orang lain, mau mendengar, bekerja keras dan membiasakan tepat waktu.

Garis merah yang dapat kami tarik adalah: bahwa citra feminism yang selama ini diteriakkan oleh kaum perempuan, kayaknya sudah mulai melenceng, baik dari kaidah logis maupun agamis. Dari situ, gw menemukan satu teori baru, bahwa sebagai perempuan yang cerdas, kita juga harus dapat mendefinisikan variabel kesetimbangan tertentu sebagai tolak ukur (atau bahasa tekniknya: threshold) untuk menentukan apakah kita sedang berada di low level atau bahkan malah over threshold.

Gunanya ya sudah pasti, kita jadi lebih pintar untuk memutuskan kapan mempercepat dan melambatkan langkah agar segala sesuatunya berjalan secara seimbang. Nah dengan begitu, otomatis, kita bisa jadi kekasih sekaligus partner yang klop buat pasangan (ini pake kondisi ideal sih, tau realitanya ada apa nggak)

Disitulah letak arti kesabaran buat seorang wanita. Kesabaran dalam menahan ego.
Waaaah… gw jadi ngerasa berhutang banyak sama buku-buku, blog-blog, infotainmen, dan (yang utama) berhutang banyak kepada orang-orang yang ngajak gw berpikir.

Kalau kita masuk ke dalam paradigma kebebasan wanita yang salah kaprah, bisa-bisa nanti terbawa arus. Wadooh kacau nih!! Tapi gw yakin, kita masih bisa mengubah. Masa kita kalah sama ikan laut? Ikan laut hidup di laut yang airnya asin, tapi toh dalam kondisi environtment yang seperti itu (asin), nggak merubah si ikan menjadi asin. Makanya jangan ndeso! Introspeksi dong. Gw idem deh ama katanya om Socrates kalo “hidup yg tidak diperiksa ulang tidak pantas untuk dihidupi”

NAH! sekarang untuk menjadi modern, sophisticated, intelligent but humble and lovable women, pertanyaannya bukan: bisa atau nggak? tetapi: mau atau nggak?
Well, life isn’t fair but that doesn’t mean we have to be unfair.[]

Posted in Catatan Perempuan | Leave a comment

Perempuan Terjebak Pasungan

Andaikata aku jatuh ditengah-tengah perjalananku,
aku akan mati bahagia, Sebab bagaimanapun jalan telah terbuka.
[Habis gelap terbitlah terang, Door duisternis tot licht - April 1911]

Selamat Hari Kartini, Wahai para wanita..
berbahagialah kita atas 96 tahun pelepasan rantai dan “pasung” perbedaan Gender yang sempat menghimpit arah, ruang gerak dan visionari kita sebagai Perempuan..

_________________________________________________

“Hoaaahhh………..” Udah 6 kali lebih sedikit gw menguap. Dan udah 2 jam lebih 5 menit gw cuma ketap-ketip. Ada perputaran misterius dikepala gw yang berebut minta dihapus. Seribu pertanyaan gw tentang “Perempuan” yang telah banyak terjawab, tiba-tiba menimbulkan sebuntel masalah baru yang membuat gw KEMBALI terjebak.

Gila!! Ini Labirin tak berujung! Seperti ada yang aneh dan PALSU disitu.

Hmm, secara TEORI (yaitu menurut KONSEP “Kartini”), harusnya gw sebagai perempuan, telah MERDEKA sekarang, tapi menilik kejadian yang sudah-sudah, justru realisasi ‘konsep Kartini’, kini menjadi semakin blur and absurd buat gw. Gw tetap merasa kalo para perempuan masih “terpasung” dalam teori kebebasan ini! Masih terjajah oleh laki-laki.

Terpasung dari sisi luar berupa ‘siksaan’ mantap egosentris lelaki, ataupun terjajah dari dalam berupa pembatasan dan creativity congest akibat kata-kata sakti: KODRAT PEREMPUAN yang membuat kami stuck sehingga takut untuk bergerak mengikuti visi dan nurani kami sendiri. Akibatnya? mau mundur salah, mau maju juga akan tetap jadi masalah. Dengan kata lain, apa yang diharapkan, dengan bagaimana kenyataannya, SUNGGUH jauh bergeser dari titik awal tujuan konsep Kartini bermula.

Wacana ini timbul hanya dari hal sepele. Bermula dari diskusi singkat dengan Zachrie, seorang kawan, tentang “Mengapa Perselingkuhan di Indonesia kian marak terjadi.”

Sebagai statement pembuka, Zach berasumsi bahwa sebenarnya. Istri juga turut mengambil peran penting dalam menentukan tinggi rendahnya probabilitas perselingkuhan yang dilakukan suami.
Then my question is: “WHY?”

Apakah karena Istri mengalami perubahan secara fisik seiring waktu?
Apakah karena karena Suaminya bosan?
Apakah karena kebutuhan seks semata?
Apakah karena kenaikan pangkat suami?
Apakah karena gelimang harta dan tahta?
Apakah karena karena prestige?
Zach menjawab sendiri pertanyaan itu: “YA! TENTU SAJA! Itu manusiawi”
Gw cuma cengar-cengir blo’on, namun secara serius gw merasa ada ketimpangan disitu. But my next question is: “HOW? Bagaimana itu bisa terjadi?”

Secara diplomatis Zach menjawab: “Wajar lah sweetheart, dalam dunia pekerjaan beserta tantangannya, Suami mampu terus mengupayakan dirinya untuk lebih maju, lebih kompleks, lebih majemuk, lebih survived dsb dsb sehingga secara automatic, seiring bertambahnya waktu, pencapaian sang suami terhadap kualitas hidupnya dapat terus meningkat secara significant!”
Gw cuma bertopang dagu.

Zach melanjutkan: “Well, as you may know, Istri itu lebih banyak dirumah, dan perubahan kualitas hidupnya nggak berjalan begitu cepat, dunia istri berjalan jauh dan jauh dan jauh lebih lambat dari sang suami.. dan akibatnya bisa kamu prediksi kan? sang suami akan merasa nggak puas, lantas mencari sosok wanita ‘baru’ yang dapat berimbang dengan dirinya, yang selevel dengan pencapaian kualitas dia..”

Gw menarik nafas, mencoba berargumen, “Why that husband just don’t give his wife a chance? Maksutku, biarkan Istrinya bekerja.. atau yeah at least, let her does some activities untuk menjadikan dirinya juga bisa maju, bisa menjadi lebih kompleks, lebih majemuk, juga lebih survived seperti sang suami.. Kalo memang suaminya mengerti, lantas kenapa tidak memberikan hak dan kesempatan yang sama? the solution is so simple..”

Zach bersikap moderat, optimis, mendukung serta mengamini jawaban gw. Pria ini benar-benar pintar dan tau cara mengambil hati gw. ‘Old school’ trick. Hehehehe.

Namun dari situ, tatanan konspirasi murni di otak gw bergejolak, jangan-jangan, pembodohan ‘konsep Kartini’ yang kayak gini masih berlanjut pada banyak perempuan yang nggak punya “Zach” kayak gw.

ANJRIT!!

Gila banget kalo diluaran sana ada lelaki bodoh dan apatis ingin berlari kencang guna mencapai segala kesempurnaan hidup seorang diri (padahal menikah itu berarti ada dua orang, bukan?) lalu setelah semua pencapaian dan kesempurnaan itu dalam genggaman, si lelaki bodoh ini merasa Istrinya nggak “selevel” dia dan tidak patut mendampinginya lagi, sehingga dia tinggalkan si Istri dan mencari wanita lain yang dirasa mampu mengimbangi kesempurnaan hidup si lelaki hebat ini.
Sementara itu, bisa jadi, si Istri menjadi “congest” (melambat) bukan karena emang secara lahiriyah bodoh, melainkan karena rayuan busuk sang suami: “Sayang, Biar saya yang melakukan semuanya untuk kamu, Kodrat istri (maaf) dirumah saja ya?”

SINTING!

Ini namanya Azas manfaat, pertamnya memanfaatkan keluguan dan kepatuhan perempuan,dan beberapa waktu setelah kepatuhan itu, laki-laki berkata: “Buset, perempuanku ini terlalu lambat, nggak sesuai jaman, buang saja!”

Ini Gila namanya!

Pria ber-euforia dengan kondisi yang ada, sehingga dalam diri mereka nggak ada sense of crisis yang mampu membangkitkan kesadaran moral mereka akan adanya kompleksitas dan kekuatan terdalam seorang perempuan. Kebayang deh pada masa dimana kondisi pencapaian kualitas hidup antara laki-laki dan perempuan masih berimbang, lelaki itu akan berkata:

“Neng, Lelaki adalah kepala keluarga dan harus bertanggung jawab terhadap keluarga yang dimilikinya, Well, sebenernya Abang sangat setuju kalo kamu harus menjadi wanita yang memahami dunia kehidupan dan memiliki pengalaman yang segudang..
Abang dukung kamu untuk memiliki berbagai kesibukan, tapi neng, sampai kapan? apakah ketika sudah menikah.. dirimu akan tetep jd wanita super? Kamu harus bisa mengurangi kesuperanmu karena kamu harus melayani keluarga, itu kodrat perempuan”
NAH! ini yang namanya terjebak dalam pasungan! IT’S NOT FAIR!

Apanya yang harus dikurangi? Tingkat keSUPERan seorang wanita? Bullshit!
Dengan berkeluarga harusnya lelaki berharap para wanitanya menjadi semakin cerdas! Ngurus rumah tangga, ngurus anak, ngurus suami, ngurus kerjaan, membutuhkan kesabaran dan kecerdasan tingkat tinggi, Bung!

Gw ribed banget mikirin pola pikir cowok bodo kayak gini (tolong dimaafkan, ini cuma sekedar luapan emosi tak terduga aja..).

kita perhatikan disini,
1. Lelaki cenderung nggak sadar telah memulai proses pelambatan pada perempuan,
2. Perempuan cenderung ‘manut’, nurut, dan luluh cuma gara-gara kata: “Kodrat”. (tuh! Kurang apa pengorbanan perempuan???)

Bener kan? jika posisinya seperti itu, perempuan pasti berada dalam kondisi terhimpit seperti sandwich, mau mundur salah, mau maju, tetap akan bermasalah. Mau mundur, laki lo cari ‘mistress’ baru, mau maju dibilang melawan kodrat.

EMANSIPASI MBAHMU!

Gw jadi inget, gw pernah terlibat dalam sebuah diskusi seru tentang “perempuan”..
Awalnya kita lebih membahas tentang bagaimana orang-orang selalu memandang perempuan sebagi objek, titik. Well, anggap saja itu benar. Tapi sebagai objek, perempuan nggak statis gitu aja perempuan juga merupakan substansi yang bisa berfikir dan ada kemungkinan.. LEBIH cerdas dari laki-laki.

Fakta itu merupakan saah satu produk emansipasi. Karena emansipasi untuk masa sekarang, juga berarti: “pemberi inspirasi”. Kebayang kan pribahasa: “Behind great man lies a great woman”? Lalu Kebayang juga nggak, gimana majunya bangsa kita kalo kualitas dari segi mental dan psikis seorang perempuan meningkat lebih baik?

Hahaha.. lewat tulisan-tulisan gw seputar feminism, gw pernah dicap wanita nggak tau diri yang merasa paling superior, yang nggak butuh lelaki dan nggak mengindahkan “kodrat” gw sebagai seorang perempuan. Halah mental manusia jajahan! kebiasaan nggak mau mengkaji lebih dahulu, tetapi langsung memvonis!

Ini bukan masalah butuh atau nggaknya gw sama lelaki, ini cuma memberikan pandangan bahwa nggak boleh ada penciptaan “pasung” jenis baru yang menghambat kemajuan seorang wanita dalam menata kehidupannya. Lelaki juga harus bersikap lebih cerdas untuk mesikapinya, jangan hanya berkata sepakat, tapi dibelakang mengumpat.

Bagaimanapun peran lelaki suangat penting untuk mengupayakan penghilangan pasung-pasung penjerat kebebasan wanita ini. Kita butuh lelaki yang semakin cerdas dan mampu melihat what’s beyond. Lelaki yang dapat mengesampingkan ego dan mampu memberikan dukungan penuh agar konsep ‘Kartini’ nggak sekedar berada dalam garis teori.

Kita butuh lelaki yang “bermoral”. Dimana kearifan moral itu nggak murni dari otak (pemikiran) mereka, tetapi lebih bersumber dari hati. Kita nggak hanya perlu meningkatkan kecerdasan berpikir seorang perempuan, tapi kita butuh penciptaan kondisi sinergis dan kondusif disekitarnya, dimana keterlibatan seorang pria yang bijak, cerdas, dan memiliki nurani menjadi main ingridient dalam resep “pembebasan pasungan” ini.

Sempat sih, gw berfikir mau mengadakan mass revolution, untuk ngebongkar skandal “pasungan” perempuan ini. Tapi teori “mass revolution” itu runtuh gitu aja. Mau gimana lagi?? gw cuma perempuan biasa-biasa aja, sendirian pula. Revolusi kan ibarat memformat ulang hardisk secara keseluruhan, jadi memang HARUS sadis dan tanpa ampun. Well, masalahnya, elemen masyarakat kita terlalu majemuk, dan sangat sulit menyamakan persepsi.

Lagipula, tak ada yang tega berevolusi sampai mati (se-gila ataupun se-idealis apapun orang itu..). Karena wacana revolusi sampe mati ini terlalu imajinatif untuk direalisasikan.

So, ada ide untuk keluar dari labirin setan ini?

Yah seperti apa kata Barack Obama, kita harus percaya adanya “audacity of hope” (kekuatan dari harapan) (Pasti gw diketawain mbak Mel gara-gara cinta banget sama bapak satu ini). Sekali lagi Selamat Hari Kartini, Wahai para wanita. Semoga belenggu, rantai dan “pasung” itu benar-benar lepas sekarang.

Jadilah lebih cerdas, wanita Indonesia! Demi masa depan anak-anakmu![]

Posted in Catatan Perempuan | Leave a comment

The Conversation

Imi : woi, Fian siapa sih? lucu juga tuh tante…
Gw : Fian itu, Orlando Bloom Guah, Nape?
Imi : Imi Add yaws? koleksi cowok-cowok ganteng..
Gw : Kagak boleh!
Imi : Bodo!
==============================================================
Ricky: Are you okay? your face a bit tired.
Gw: No, I’m fine. you’re the one who should see a doctor.. you got cold aren’t u?
(setelah itu disambut dengan cicit cuit si Ardi dari kejauhan.)
==============================================================
Mbak Indri : Ardun siapa kamu, yum? itu, aku baca testimonialnya..
Gw : Oh, Temen SMP mbak..
Mbak Indri : Temen apa Temen?
Gw : Ya terserah mbak aja deh maunya gimana (Lah?)
==============================================================
Yoser : Mbakku, kapan pulang? aku kangen dita nih..
Gw : Eee Cape Deeeh..
==============================================================
Lana: Woy Nona Maumere.. Kagak kangen ama guah?
Gw: Kangen kangen..
Lana: Nggak niat gitu bilangnya… T_T;
Gw: Ya udah diralat.. Lana, aku kangen kamyuuuu..
Lana: (-_-) Dodol!
==============================================================
Gw : oh jadi.. cuma dimanfaatin?
Masur: hahaha..betapa mudahnya km diobok-obok perasaanmu dg kata2…dibilang A jd A dibilang B jd B..
Gw: kamukan bisa mempolitisi keadaan… (-_-);
Masur: Sudahlah… km tdk cukup “berdosa” kpdku utk aku cabik2 mentalitas dan harga dirimu seperti itu..
Gw: iya tau.. aku cuma lagi pengen dirayu rayu aja kok…
==============================================================
Heru: Aku kangen kamu yum..
Gw: Iya iya..
Heru: Tapi bukan kangen yang begitu..
Gw: Iya tau…
Heru: Jangan salah paham lho..
Gw: Iya iya.. ngerti, kangennya biasa tha? Nggak kayak Kangenmu ke Iris kan?
==============================================================
Hendrik: Lagi ngapain say?
Gw: Lagi nyuci kutang… (TKW in action)
==============================================================
Noe: Gimana kabarmu Yum? Dah ketemu sama Pangeran Impianmu?
Gw: Hehehe… (Garuk-Garuk kepala)
==============================================================
Mas Eko: iyeee… emang alumni mana dulu?
Gw: STT Telkom, dirimu?
Mas Eko: UII Yogya
Gw: Ooooooo angkatan?
Mas Eko: 1990, u?
Gw: Gyaaaahahahaha
Mas Eko: knpa?
Gw: aku kuliah masuk tahun 2000 kamu 1990 itu yang bikin aku ketawa.. harusnya aku manggil kamu pakde
Mas Eko: ASEM! :D
==============================================================
Juul: dah ah off, musti ngantor besok, ciao
Gw: cuz… sleep well
Juul: salam dangdut..
Gw : jijay..
==============================================================
Mbak Indri: Temenmu itu manis juga ya, yum?
Gw: Waduh.. aku bilangin ah ke orangnyaaaa… Jieee
Mbak Indri: Yah.. Jangaaaaaaaannn…
==============================================================
Gw: Sabar dong Darling..
Mas Oncom: Nggak pake darling-darlingan!!
==============================================================
Gw: hehehe kok pagi2 bahas ginian sih.. =D
Pak Andi: ya nggak papa khan?
Gw: aku suka kesurupan kalo udah ngebahas yang gini-gini maap ya pak..
Pak Andi: kok maap?
Gw: iya.. kupikir kadang2 aku terlalu sok tau..
Pak Andi: bukan, bukan sok tahu… kamu ada isinya.. terus terang berkat ceritamu itu, aku pengen hidup lebih baik lagi… kamu itu beda ya?
Gw: Masa sih pak?
Pak Andi: Kamu itu punya karakter, dan aku yakin, suatu saat nanti, kamu bisa meraih apa yang kamu inginkan sekarang..
Gw: Ah bisa aja si bapak..
Pak Andi: Ealah.. bukannya mengamini..
Gw: Amin pak, amin!
==============================================================
Kiki PA: Wah, ikut Haqqani Lu? Dah di Bay’at?
Gw: kagak, cuma ikut diskusinya aja, buat pencerahan.. :D
==============================================================
Adi:aku bingung sekaligus salut sama kamu rum, rupanya kamu masih hobby pegang bola panas yang bergulir kencang, Hahaha.. eh Rum, bertahun tahun aku memiliki pertanyaan yang belum kudapat jawabannya, Pacar mu siapa sie, atau kamu ga punya pacar? hehehe.. salam deh buat lelaki misterius mu itu.
Gw: hehehe.. iya nanti disalamin.. (Halah)
==============================================================
Afian: Jadi.. kapan mau minum caramel macchiato sama aku, Yoem?
Gw: Buat Fian.. kapan ajaaaaahhhh..
==============================================================
Liz: Mbak Aku Lebaran ini mau merried! Maaf ngelangkahi, tapi mbak harus datang lo
Gw: HAH?! MARRIED?? Kamu kan masih kecil?
(Derita gua… Dilangkahin ama sepupu gw, Lis, 22 tahun.)
==============================================================
Lek Sar: Kapan kamu mau walimahan? Tuh dilangkahi sama Liz..
Gw: kapan-kapan lah, lek..
Lek Sar: Ih kasyaaan deh kamu, nggak laku…
Gw: (Jleb)
==============================================================
Ik-ik: Lo jago nulis juga ya rum? Gw baca Blog Lo
Gw: Ah, cuma buat sharing aja kok, ik..
==============================================================
Fabian: Liburan tiga hari kemana, beb?
Gw: Tidur lah..
==============================================================
Ijang: Selamat ultah ya yum.. wish all the best buatmu
Gw: Alhamdulillah, akhirnya ada yang inget juga..
==============================================================
ratma Wahyudi: eh kapan kamu merit??? ntar keburu tuir lo…..
Gw: punya niat sih, tapi, nggak ada rencana, nggak ada calon, nggak ada semuanya deh ma..
ratma Wahyudi: ya nyari to….. gitu aja kok repot…..
Gw: speechless..
==============================================================
Pak Boss: Kamu jujur banget sih, Rum?
Gw: Justru karena forum ini all open, makanya saya mengungkapkan hal ini, karena saya rasa, sedikit banyaknya, di team kita juga pasti ada yang begitu, tapi ya mereka kayaknya nggak perduli, nah kita harus bisa atasi hal itu, sense berpolitik team kita harus segera dibangkitkan pak boss, atau, kita akan menuju kehancuran kita sendiri..
Pak Boss: Hmm.. oke oke.. Lalu, kamu ada ide?
Gw: Ya enggak pak bos…
==============================================================
Rama: Gimana kabarnya, Yoem?
Gw: Baik, Tumben?
Rama: Masa nggak boleh kangen sama Junior Fave-ku?
Gw: Heu?
==============================================================
Baba: Katanya mau kirim testimonial..
Gw: iya ntar, dibikin yang romantis ya, biar pacarmu jeles..
Baba: Iya deh, seikhlasnya..
==============================================================
Mas Lilik: Lagi ngapain neng?
Gw: Mas Liliiiiikkkkk.. Kangeeeennnnn…
Mas Lilik: Apaan sih Lu?
==============================================================
Kampret: Buset dah.. Buletin FS isinya lo semua
Gw: Iya nih, lagi stress, halah paling-paling kagak ada yang baca..
Kampret: Lah, gw baca dul.. tuh anak-anak juga baca, ini lagi ngebahas elo..
Gw: Weeeeyyyy… kok jadi gitu dah…
==============================================================
Superman: Gimana? dah sehat rum?
Gw: Alhadulillah.. tambah parah nih mas..
==============================================================
Mas Anwar: Menurut lu jujur ya, Tulisan gw itu gimana?
Gw: Ya, lu kadang menikmati menulis tanpa memperdulikan orang lain mas, Lo kalo mau nulis, harus realistis dikit dong, eh maksud guah, lo harus bisa mengesampingkan ego dan idealisme lo, nggak semua orang ngerti bahasa njlimet tau, makin hari gw pikir lo makin mirip sama temen gw yang itu tuuuh, apa semua anak HMI emang begitu pola pikirnya, samaaaaa, seragaaaaamm..
Mas anwar: Ngenyek ya??
==============================================================
Rico: Katanya mau ngopi lagu batak guah..
Gw: Oiyey… jangan lupa ngartiin ya?
==============================================================
Mas Thoriq: mungkin…kita perlu meraba sangat dalam apa yang benar-benar kita rasakan dan apa yang benar-benar kita inginkan, sudahkah bertaut keduanya?
Gw: Heeee?? aku.. nggak ngerti mas
==============================================================
emak gw: Hoy udah jam berapa niy.. matiin gak tu komputer!!
Gw: Iya iya…
emak gw: Sekarang!!
Gw: Iyaaaaaaah…
==============================================================
Mas Mansur: Kamu gila ya?! Ngajakin orang taruhan jam 3 pagi?
Gw: Mas tega ya?! nelponin orang sakit jam 3 pagi ?
Mas Mansur: Oiya.. Hahaha Kamu Lagi Sakit ya? Ya udah, bobo lagi gih..
Gw: (50 x 2 mas…)
==============================================================
Tri Joko Mahendro: lagi sakit ?
Gw: ho’oh.. kacau nih flunya..
Tri Joko Mahendro: maem sup panas, minum obat trus bobok aja daripada nanti lebih parah
Gw: halah, nggak kerja nanti mas…
Tri Joko Mahendro: iya juga sih Gw: (Lho Piye tho??).[]

Posted in Conversation | Leave a comment

Laki-laki dibawah Hujan

Suatu sore, sambil sesekali memetik dan memeluk Kalyani, gitar tua gw, gw menerawang. Hari ini sekitar jam 12:16 pagi, gw menerima imel dari seorang kawan lama, Mas Tirta. Subjek imel masih sama, ngebahas ulang tahun gw, tapi isinya luar biasa merisaukan hati. Masih tergambar jelas bait terakhir di imel yang ditulis mas Tirta itu.

Ultimus bukanlah soal heroisme atau kontroversi, jangan tanya apa yang terjadi di sana. Ada buku-buku di sana yang menunggu untuk dibaca dan kita perbincangkan bersama. Ada tanggung jawab bagaimana buku-buku itu bisa lebih berharga dari secangkir kopi dan sebatang roti di kafe.

Intinya ya, bercerita seputar Toko buku Ultimus dan pembubaran sebuah diskusi tentang Marxisme ditempat yang sama. Yang turut disertai aksi anarkis dan diakhiri dengan penyegelan toko buku tersebut. Tapi bukan itu yang bikin hati gw kebat-kebit. Sudah terlalu sering nama itu disebut.
Disebut lagi.. lagi.. dan selalu lagi-lagi disebut, dalam setiap artikel yang gw baca dan disetiap perbincangan yang gw denger tentang insiden Ultimus. Bilven. Betapa nama itu begitu familiar di kepala gw. Di imel itu pula, terdapat potongan wawancara Mulyani Hasan (kontributor sindikasi Pantau di Bandung) dengan Bilven,

Pada 16 Desember 2006, saya menemui Bilven Rivaldo Gultom di sebuah kafe. Lelaki berkulit kuning langsat ini belum genap 30 tahun. Ia berusaha gembira, meski hatinya gelisah.

“Saya belum merasa bebas. Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekat saya, ada banyak orang tak dikenal mencari-cari saya,” katanya. Sebentar-sebentar ia melihat layar telepon selulernya. Bunyi pesan yang masuk menyaingi suara hujan.

“Saya tidak mengerti tuduhan mereka. Mungkin saya dituduh komunis karena saya miskin,” katanya, lagi.
Secangkir kopi panas pesanannya tiba.

“Saya dan kawan- kawan hanya ingin mengembalikan filsafat Marx pada posisi terhormat sebagai ilmu filsafat yang layak dipelajari. Karena ilmu-ilmu sosial yang ada tidak bisa menjawab beberapa persoalan yang pokok yang berhubungan dengan kehidupan,” ujar Bilven.

“Selama ini, ajaran Marx banyak digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk merebut kekuasaan. Itu yang tidak saya sepakat. Karena itu akhirnya ajaran Marx juga ikut diberangus.” Ia terus bicara.

“Revolusi itu akan terjadi pada tingkat pemikiran. Indikatornya, tidak ada lagi pemberangusan, tidak ada korupsi dan orang-orang akan menggunakan akal pikirannya berdasarkan logika bukan lagi menggunakan hal-hal yang abstrak,” lanjutnya.

Bilven lolos saat Permak (Persatuan Masyarakat Antikomunis ) melancarkan penangkapan. Sejak saat itu ia tinggal berpindah-pindah. Namun, ia ternyata belum tenang. Selama tak ada jaminan dari polisi, anarki model Permak bisa terulang sewaktu-waktu.

Ah, Bilven. Freedom is like money, some other people might have it more than other. Bilven, dulu, selalu menyapa gw dalam kalimat sama: Apa kabar, Nona? Sambil akhirnya berlalu. Masih dengan topi panser hijau (gw menyebutnya begitu) dan jaket hitam kesayangannya yang lusuh dimakan waktu.

Gw nggak ingat pasti kapan mulai kenal dia. Yang pasti, wajahnya selalu ada disetiap diskusi yang gw datengin. Waktu warung rawon bude di kampus kami belum pindah ke sisi timur kantin, gw, mas Bintang, mas Wahyu, dan Bilven sering berbagi lembaran koran bersama disitu, berusaha memanfaatkan waktu luang, sambil menunggu jam kuliah. Terkadang bertukar joke seputar berita koran yang bikin kami ngikik setengah mati sendiri.

Bahkan dulu, saat Bilven masih ditengah usaha meraih gelar masternya dari ITB, dia masih suka nongol di kantin gw, melakukan hal sama, memesan secangkir kopi, masih ditemani topi panser dan jaket hitamnya, pernah sekali itu, saat senja bergerimis, gw ngeliat Bilven dari jauh.Menggenggam sebuah koran, dan sedang berpikir untuk menerobos hujan.

Hal yang dia lakukan benar-benar diluar dugaan gw, bukannya menjadikan koran itu sebagai “payung” agar air hujan sedikitnya tidak membasahi kepala, eh, malah koran itu diselipkan dibalik jaketnya, dan dibiarkan air hujan yang dingin itu memeluknya dalam diam.

Damn, dia lebih mencintai koran dibanding dirinya sendiri, Sinting!

Terakhir ketemu, awal tahun 2006. Waktu itu gw, Icha, Firza, Mas Lilik, dan Mas Tirta mampir ke Ultimus. Entahlah.. saat itu gw merasa itu kali terakhir gw bakal ngeliat Bilven. Gw sempat ngambil foto mas Lilik dan Bilven yang berangkulan dengan akrab. Sayang, waktu itu gw nggak punya nyali lebih banyak untuk ngajak Bilven foto bersama.

Gw masih ingat, sebelum itu, kami juga pernah ketemu, waktu itu ada acara diskusi tentang puisi dan kesenian. Kalo nggak salah, di pusat kebudayaan Perancis, Bandung. Usai acara, gw ngeliat, eh ada Bilven, dia juga ngeliat gw. Dan dengan gaya yang persis sama seperti yang lalu-lalu, dia tersenyum, “Apa kabar, Nona?” Katanya singkat.

What a deadly smile on earth, ever!

Gw selalu mengagumi semua ciptaan Tuhan. Tapi gw sangat bersyukur jika gw bisa, setidaknya sempat, bertemu dengan orang-orang kayak Bilven. Muda dan Idealis, berkarakter, cerdas, pekerja keras, cinta pembaharuan, jujur, penuh semangat, ramah, dan dapat memandang hidup dari sisi yang berbeda.

Gw selalu memuja para aktivis yang nggak pernah mau disebut sebagai aktivis itu. Bagi gw, mereka
adalah manusia yang berguna buat pembaharuan. Karena ide mereka nggak pernah berhenti ataupun mati. Kalaupun gw diberi kesempatan untuk memberikan cindera mata, Gw mau kasih potongan puisi Widji Tukul (Tujuan Kita Satu Ibu) buat Bilven:

Kita tidak sendirian
Kita satu jalan
Tujuan kita satu ibu: pembebasan!

“Ding!!!”.

Ada SMS masuk di ponsel gw. Lamunan gw buyar, meretas seperti air hujan yang membasahi Bilven hari itu. Gw bangkit meraih ponsel. Ternyata dari seorang mantan aktivis lain,

“Lagi dimana? Sedang apa? Sama siapa? Kepalaku pusing, baru pulang. Dari tadi pagi ikut training partai. Aku mau berangkat ke Norway.”

Gw letakkan ponsel gw tanpa membalas SMS-nya.[]

Posted in Cerita Cinta | Leave a comment