Laki-laki dibawah Hujan

Suatu sore, sambil sesekali memetik dan memeluk Kalyani, gitar tua gw, gw menerawang. Hari ini sekitar jam 12:16 pagi, gw menerima imel dari seorang kawan lama, Mas Tirta. Subjek imel masih sama, ngebahas ulang tahun gw, tapi isinya luar biasa merisaukan hati. Masih tergambar jelas bait terakhir di imel yang ditulis mas Tirta itu.

Ultimus bukanlah soal heroisme atau kontroversi, jangan tanya apa yang terjadi di sana. Ada buku-buku di sana yang menunggu untuk dibaca dan kita perbincangkan bersama. Ada tanggung jawab bagaimana buku-buku itu bisa lebih berharga dari secangkir kopi dan sebatang roti di kafe.

Intinya ya, bercerita seputar Toko buku Ultimus dan pembubaran sebuah diskusi tentang Marxisme ditempat yang sama. Yang turut disertai aksi anarkis dan diakhiri dengan penyegelan toko buku tersebut. Tapi bukan itu yang bikin hati gw kebat-kebit. Sudah terlalu sering nama itu disebut.
Disebut lagi.. lagi.. dan selalu lagi-lagi disebut, dalam setiap artikel yang gw baca dan disetiap perbincangan yang gw denger tentang insiden Ultimus. Bilven. Betapa nama itu begitu familiar di kepala gw. Di imel itu pula, terdapat potongan wawancara Mulyani Hasan (kontributor sindikasi Pantau di Bandung) dengan Bilven,

Pada 16 Desember 2006, saya menemui Bilven Rivaldo Gultom di sebuah kafe. Lelaki berkulit kuning langsat ini belum genap 30 tahun. Ia berusaha gembira, meski hatinya gelisah.

“Saya belum merasa bebas. Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekat saya, ada banyak orang tak dikenal mencari-cari saya,” katanya. Sebentar-sebentar ia melihat layar telepon selulernya. Bunyi pesan yang masuk menyaingi suara hujan.

“Saya tidak mengerti tuduhan mereka. Mungkin saya dituduh komunis karena saya miskin,” katanya, lagi.
Secangkir kopi panas pesanannya tiba.

“Saya dan kawan- kawan hanya ingin mengembalikan filsafat Marx pada posisi terhormat sebagai ilmu filsafat yang layak dipelajari. Karena ilmu-ilmu sosial yang ada tidak bisa menjawab beberapa persoalan yang pokok yang berhubungan dengan kehidupan,” ujar Bilven.

“Selama ini, ajaran Marx banyak digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk merebut kekuasaan. Itu yang tidak saya sepakat. Karena itu akhirnya ajaran Marx juga ikut diberangus.” Ia terus bicara.

“Revolusi itu akan terjadi pada tingkat pemikiran. Indikatornya, tidak ada lagi pemberangusan, tidak ada korupsi dan orang-orang akan menggunakan akal pikirannya berdasarkan logika bukan lagi menggunakan hal-hal yang abstrak,” lanjutnya.

Bilven lolos saat Permak (Persatuan Masyarakat Antikomunis ) melancarkan penangkapan. Sejak saat itu ia tinggal berpindah-pindah. Namun, ia ternyata belum tenang. Selama tak ada jaminan dari polisi, anarki model Permak bisa terulang sewaktu-waktu.

Ah, Bilven. Freedom is like money, some other people might have it more than other. Bilven, dulu, selalu menyapa gw dalam kalimat sama: Apa kabar, Nona? Sambil akhirnya berlalu. Masih dengan topi panser hijau (gw menyebutnya begitu) dan jaket hitam kesayangannya yang lusuh dimakan waktu.

Gw nggak ingat pasti kapan mulai kenal dia. Yang pasti, wajahnya selalu ada disetiap diskusi yang gw datengin. Waktu warung rawon bude di kampus kami belum pindah ke sisi timur kantin, gw, mas Bintang, mas Wahyu, dan Bilven sering berbagi lembaran koran bersama disitu, berusaha memanfaatkan waktu luang, sambil menunggu jam kuliah. Terkadang bertukar joke seputar berita koran yang bikin kami ngikik setengah mati sendiri.

Bahkan dulu, saat Bilven masih ditengah usaha meraih gelar masternya dari ITB, dia masih suka nongol di kantin gw, melakukan hal sama, memesan secangkir kopi, masih ditemani topi panser dan jaket hitamnya, pernah sekali itu, saat senja bergerimis, gw ngeliat Bilven dari jauh.Menggenggam sebuah koran, dan sedang berpikir untuk menerobos hujan.

Hal yang dia lakukan benar-benar diluar dugaan gw, bukannya menjadikan koran itu sebagai “payung” agar air hujan sedikitnya tidak membasahi kepala, eh, malah koran itu diselipkan dibalik jaketnya, dan dibiarkan air hujan yang dingin itu memeluknya dalam diam.

Damn, dia lebih mencintai koran dibanding dirinya sendiri, Sinting!

Terakhir ketemu, awal tahun 2006. Waktu itu gw, Icha, Firza, Mas Lilik, dan Mas Tirta mampir ke Ultimus. Entahlah.. saat itu gw merasa itu kali terakhir gw bakal ngeliat Bilven. Gw sempat ngambil foto mas Lilik dan Bilven yang berangkulan dengan akrab. Sayang, waktu itu gw nggak punya nyali lebih banyak untuk ngajak Bilven foto bersama.

Gw masih ingat, sebelum itu, kami juga pernah ketemu, waktu itu ada acara diskusi tentang puisi dan kesenian. Kalo nggak salah, di pusat kebudayaan Perancis, Bandung. Usai acara, gw ngeliat, eh ada Bilven, dia juga ngeliat gw. Dan dengan gaya yang persis sama seperti yang lalu-lalu, dia tersenyum, “Apa kabar, Nona?” Katanya singkat.

What a deadly smile on earth, ever!

Gw selalu mengagumi semua ciptaan Tuhan. Tapi gw sangat bersyukur jika gw bisa, setidaknya sempat, bertemu dengan orang-orang kayak Bilven. Muda dan Idealis, berkarakter, cerdas, pekerja keras, cinta pembaharuan, jujur, penuh semangat, ramah, dan dapat memandang hidup dari sisi yang berbeda.

Gw selalu memuja para aktivis yang nggak pernah mau disebut sebagai aktivis itu. Bagi gw, mereka
adalah manusia yang berguna buat pembaharuan. Karena ide mereka nggak pernah berhenti ataupun mati. Kalaupun gw diberi kesempatan untuk memberikan cindera mata, Gw mau kasih potongan puisi Widji Tukul (Tujuan Kita Satu Ibu) buat Bilven:

Kita tidak sendirian
Kita satu jalan
Tujuan kita satu ibu: pembebasan!

“Ding!!!”.

Ada SMS masuk di ponsel gw. Lamunan gw buyar, meretas seperti air hujan yang membasahi Bilven hari itu. Gw bangkit meraih ponsel. Ternyata dari seorang mantan aktivis lain,

“Lagi dimana? Sedang apa? Sama siapa? Kepalaku pusing, baru pulang. Dari tadi pagi ikut training partai. Aku mau berangkat ke Norway.”

Gw letakkan ponsel gw tanpa membalas SMS-nya.[]

This entry was posted in Cerita Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>