Perempuan di Sudut Waktu

Sore-sore, dikantor. Gw lagi riweuh banget ngedit tabel performance management di server unix ‘favourite’ gw. Baru ngetik beberapa baris, mata gw tiba-tiba ngeblur. Senja datang. Angin mendesau parau. Pasir-pasir beterbangan, berputar-putar.

Serasa kayak butterfly effect, gw balik ke masa lalu. Hari dimana gw nerima mail dari sobat gw, Gilang:

Yum,
setelah membaca blog lo,
gue makin yakin kalo gue harus ketemu sama lo..

secara gue sekarang lagi berada dalam hubungan yang bikin gue nggak tenang.
nggak gue banget deh yoem, hehe..

udah gitu kata-katanya sama banget sama (blog) lo lagi,
dia bilang ‘kamu kok maksa? aku nggak suka dipaksa’
ah bajingan..

gue berasa restless selain berasa sendirian..
tapi gue ngerasa baik baik aja,

karna kata lo kan”lebih baik galau daripada menyerah dalam kemunafikan”
ah gila lo, gue kangen berat sama lo..

gue harus cerita banyak nih sama lo,
secara banyak hal yang patut gue pertanyakan di hidup gue..
ah panjang lebar deh ceritanya..

banyak banget nih yang gue rasain,
lo tengokin gue ke surabaya dong yoem, weekend gitu,
ntar nginep di kos aja..

sebenernya lately gue agak agak desperate sih,
kangen banget nih sama lo..
ayo ayo lo kesini ya..

-Glg-

Nggak kerasa mata gw berkaca-kaca. Anjrit, Gw juga kangen banget ama ni orang.

Dalam dunia kami yang bergerak begitu cepat dan tanpa maaf. Gw dan Gilang sangat merindukan kebekuan abadi. Dimana kita bergulat dalam sepi sendiri dan berangkulan dengan malam yg tenang, ditemani segelas kopi, duduk berpelukan dan sama-sama menjelajah bintang.

Kami berdua, typical manusia modern yang terikat dunia konservatif masa lalu. Kami memang dua wanita sophisticated yang dihadapkan pada pilihan ruwet. Saat ini, hampir semua realitas yang ada, bisa dengan mudah kami raih, tetapi realitas itu melahirkan anomali tatkala tekanan lain mematikan rasionalitas.

Terdengar sedikit utopis but that’s why we’re so simple but keep sophisticated.

Semua laki-laki yang pernah “mengarungi” hidup bersama kami. Terlalu menganggap kami superior, pemberontak, dan tak mau diatur. Padahal kenyataannya, dalam setiap hubungan yang pernah kami jalin. Semua orang menganggap gw dan Gilang adalah dua wanita gila yang mau melakukan apapun demi cinta.

Kami berdua berdarah Jawa (tanpa bermaksut untuk rasialis). Sehingga aliran “dewi sembada” dalam diri kami sudah begitu kental. Mungkin memang sudah digariskan begitu. Tapi kenapa semua laki-laki itu (yang pernah melalui waktu bersama kami), dengan mudahnya selalu berkata tentang segala busuknya superioritas kami?

Ada apa dengan dunia? Dunia tiba-tiba saja menjadi tempat paling sunyi dan asing buat kami.
Masih terngiang beberapa laki-laki melayangkan statement: “Perempuan modern adalah sesuatu yang outwords. Kami sebagai laki-laki tidak mau diinjak-injak begitu saja.”
Miris bergerimis dengernya.

Dalam emosi kami yang begitu rungkut dan padat. Kami cuma mau berkata jika celah perspektif feminisme bukan dilihat dari tempat. Lalu apa salahnya menjadi sesuatu yang berbeda? Apa salahnya menjadi seorang perempuan seperti gw dan Gilang? Toh modernisme itu nggak akan begitu saja mematikan kodrat kami sebagai seorang perempuan.

Itu semua hanya sebuah pencapaian kami. Pencapaian energi maskulin kami para perempuan untuk keluar dari typicalitas. Dalam batas emosi itu, gw ditarik kembali lagi ke masa sekarang, menemani beberapa baris command unix yang tadi gw ketik. Namun, bersama garis cursor yang berkedap kedip menunggu. Gw masih termangu dan menggugu.

Semoga Allah memberi rahmat kepada penyair Sungai Nil, Hafizh Ibrahim, ketika ia berkata:

Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan,
dan Jika Anda mempersiapkannya dengan baik,
Maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik.

Ah, gw nggak sabar ingin menjadi seorang ibu. So I can tell a bed time story to my future son. Anakku Lelakiku tersayang, Cintailah wanita karena Allah, jemput dia di tempat yang Allah sukai, nikahilah dia yang tegar yang berbakti. Berusahalah sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangannya. Berusahalah pula untuk membahagiakannya. Cintai dia karena Allah, hanya karena Allah. Tak ada yang lain.[]

This entry was posted in Catatan Perempuan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>