Dunia Sederhana Gw

Malem-malem pas mau pura-pura tidur (secara gw lagi sakit, so nggak boleh begadang, padahal dikamar masih aja nguplek ama laptop) “nit nit”. Ada sms. Isinya singkat, “check my blog”. Sembari rescheduling jadwal kerjaan, meeting, sekaligus baca tulisan Puthut EA yang bercerita tentang Ultimus plus si Bilven (kecengan gw waktu jaman kuliah)..gw klik ke blog yang ngirim sms (selanjutnya disebut Maman).

Chemical Romance. Pertama kali nongol, judulnya begitu.
Gw senyam-senyum. “Alhamdulillah.. Akhirnya dia menemukan kebahagiaan lagi..” pikir gw saat itu. Karena sebelum-sebelumnya. Maman merasa dunia udah nggak adil buat dia. Dengan kejam semua gita cintanya dirampas dalam itungan detik.

Gw baca sekali. Gw ulang lagi. Gw baca sekali. Gw ulang lagi. Ampe 5 kali bolak balik begitu, baru gw ngerti. Abis itu gw kasih comment, dan gw kirim sms balik ke dia.Tapi malah abis itu jadi perang SMS. Untungnya tiba-tiba pulsa gw abis. Hohohohoho. Dengan tenang dan sangat mitayani, gw cuma tersenyum. Betapa gw ingin memberikan bahu gw untuk dia. Supaya dia bisa merasa tenang dan nggak perlu gusar atau repot dengan perbedaan pemakaian kosakata.

Betapa gw ingin membuat dia mengerti, gw nggak perlu tau perbedaan bahwa dichotomy utopis-realistis dipakai untuk domain sosial problem solving atau domain art appreciation. Betapa gw ingin menjelaskan bahwa gw nggak butuh ngebahas gimana cara ngatur pattern construct karakter sejati gw.

Gw cuma pengen ngajak kamu minum kopi, mungkin aku cuma akan pesan machiato. Lalu kita cuma bisa diam, memandangi rintik gerimis di senja ungu. Dengan The Very Though of You-nya Janet Saidel yang mengisi udara biru yang sama-sama kita hirup. Spending hours without doing nothing yet loving it.

Ah.. andai kamu mengerti duniaku yang primitif ini.[]

______________________________________________________
Kita telah lelah berbantah, menebar tengkar.
Di sebuah sunyi paling kering, Kau kirim nyanyi langit,

Aku menari, menyerentaki gerak bumi.
“Apa yang kau simpan. Apa yang kau rahasiakan.”

Kau menjawab agak jauh disana, di ruang sunyi,
Pada lafadz terakhir namun lamat tak pernah tamat,

Kau bilang, kita datang untuk saling menemukan,
Meski tak satu pun dari kita tampak kehilangan..

This entry was posted in Cerita Gw. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>