Merajut Hati yang Patah


Menangis karena patah hati di musim panas yang terik lagi cerah bukanlah hal mudah. Debu panas yang bolak-balik terhirup membuat pengar. Tajam debunya menusuk sampai sanubari. Menekan relung dada ke tempat tergelap yang paling asing. Memaksa semua fungsi akal, jiwa, dan raga berhenti total.

Sulit sekali rasanya berusaha menggapai-gapai nafas. Terasa tenggelam namun berada diatas permukaan. Seisi dunia berputar, seperti komidi putar yang putarannya semakin cepat dan membahayakan. Jika saja Tuhan tidak memaksa jantung ini tetap berdetak. Mungkin gw sudah terdefinisi tewas sejak 3 menit yang lalu.

Gw masih berusaha merekatkan diri untuk tetap utuh. Mengepalkan tangan sebisanya, menguatkan diri, menahan teriakan, menghalau tangis, sembari mendaraskan segala doa dan Asma’ul Husna yang bisa gw ingat saat itu, berharap dapat kembali mengumpulkan serpihan hati dari entitas diri yang baru saja meledak dan masih meledak lagi.

God never wrong for His timing. This day of pain has been written in my book of destiny. And I should choose to accept that. Mau terasa sakit bukan main, harus tetap kita terima. Kita nggak punya pilihan untuk melawan. Jika melawan, sakitnya tak terperi dan akan lebih terpatri.

=====

Begini ternyata rasanya menjalani kisah cinta yang disembunyikan, selama tahunan. Dengan dalih menjaga privacy (yang kata dia, Si demented bastard man ini: hubungan yang sehat adalah hubungan yang cuma kita berdua yang bisa menikmati, orang nggak perlu tau), alih-alih bikin surprise untuk kawan serta kerabat saat sebar undangan kelak.

Saat ada masa dimana sudah tak ada lagi yang bisa dikuras dari gw, si demented bastard ini lebih memilih pergi tanpa penjelasan, lalu surprisingly menikah dengan temen gw sendiri.

Begitu juga dengan keluarga besarnya yang dengan sangat hebat dan lihainya menutupi dan membohongi gw dengan sedemikian rupa.

Pun gw yakin, kalau si demented bastard ini pasti berbohong ke temen gw yang sekarang jadi Istrinya itu. Pasti dia memutarbalikkan semua fakta yang pernah terjadi antara gw dan dia.

Bakat pecundang dan pembohongnya memang sudah ada dari dulu. Namun saat itu, baik buruknya dia ya gw terima, toh gw pikir dia akan nikah sama gw. Walaupun pada akhirnya, plan itu meleset.

Dan setelah semua kejadian tragis ini, even gw membiarkan dan merelakan mereka pergi tanpa menuntut apapun. APAPUN. Walau m
ereka berdua ini dengan kejinya menyebarkan berita bohong ke orang-orang, kalo gw perawan tua psycho, yang obsessed banget sama si demented bastard men suaminya dia itu, so gw harus banget dihindari.

Well, Allah Maha Tahu. Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.

=====

Hujan awal tahun turun dengan enggan. Bulan yang perlahan muncul, membuat situasi terasa biru dan sendu. Setelah Isya, disudut ruang tamu, bokap menghirup rokoknya dalam-dalam.

“Kamu yang tegar. Harus Kuat”, pesan bokap datar sambil kemudian menatap kosong ke arah jendela. Sementara nyokap cuma diam, tangannya yang telah keriput dan rapuh mengelus kepala dan punggung gw. Pelan. Pelan yang teramat pelan. Nyokap berharap lewat tangannya itu dia mampu mengobati luka gw.

Sementara gw dengan tatapan kosong, bersimpuh di kaki nyokap dengan lelehan air mata. Gw hanya bisa terisak perlahan. Karena disaat itu, walaupun sakitnya tak tertahan, gw sekuat tenaga berusaha tegar dan berusaha menelan. Gw nggak bisa frontal juga untuk menunjukan histeria yang nantinya malah akan menambah luka dihati orang tua gw.

“Ampuni aku, ya Mah.. ampuni semua kesalahanku ke Mamah..” Gw menarik air mata yang tertahan didalam hidung gw, “Sakit ini bukan main rasanya.. minta tolong aku diampuni, ya Mah..”

Malam turun temaram, sinar bulan tertutup awan. Sambil menimang pedih, gw berharap agar gw bisa pulih kembali dan menjalani hidup.

=====
Gw pasrah, cenderung menyerah. Gw hilang arah, dan terus merasa kurang dan salah. For months, I cannot sleep well, cannot eat properly, cannot breath freely and I keep crying everywhere even in the middle of work/meeting for no specific reason. It just felt hurt, and pressing this chest deeper. The pain feels so horrible.

Seorang kawan baik yang bersimpati dari jauh menyarankan, sirami panas gemuruh didada dengan Sejuknya Shalawat, Kurangi tekanannya dengan perbanyak Istighfar, lalu obati lukanya dengan membaca Surat Yassin.

“Inshaallah, Allah akan berikan Jalan keluar untukmu yang sedang bersedih..” Katanya penuh kelembutan diwaktu itu. “Jangan Lupa, bacakan La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zolimin. Bacalah ayat ini sebab ia dapat hilangkan segala kesedihan dan kesusahan kita..” tambahnya.

=====

Gw menjalaninya dengan pasrah sekaligus bersyukur. Gw percaya Allah maha pembuat rencana terbaik. Semoga semua cobaan ini dapat membuat gw menjadi perempuan yang lebih baik.
[]

Selamat buat kalian, Semoga berbahagia. Semoga tidak ada kebahagiaan yang terenggut dari keluarga kalian sebagaimana kalian pernah merenggut sinar kebahagian dari gw dan keluarga gw.
This entry was posted in Cerita Cinta, Cerita Gw and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*