Tentang Ketenangan Hati


Baru aja, gw ngga sengaja donlot pilm bagus. Judulnya Five Minarets in New York (2010). Film besutan sutradara asal Turki, Mahsun Kirmizigül, yang juga penulis naskah beserta ikut juga jadi pemain inti (waw, sok eksis banget yaaaa ikut semua-mua..). Film ini berhasil bikin gw termehek-mehek berurai air mata. (Gw semakin yakin bahwa Tuhan betul-betul punya cara mengajar dan selera humor yang luar biasa tinggi.)

Di film ini, ada salah satu pemeran imigran asal Turki bernama Hadji Gumus yang dituduh teroris. laki-laki ini digambarkan sebagai seorang muslim yang taat. Takut akan aturan Allah, pasrah dan ikhlas akan segala keadaan yang menimpa dirinya. Dia juga bijak, sekaligus mampu memenuhi misi dari Rasulullah untuk nggak hanya sekedar menghafal-hafal Islam dan mengagung-agungkannya dalam balutan simbol religiusitas semata, melainkan menggunakannya dan mengaplikasikannya dalam seluruh kehidupan dia, dalam upayanya menyempurnakan akhlak sebagai manusia.

Selain digambarkan sebagai seorang muslim yang taat, Hadji Gumus yang dituduh teroris ini, memiliki Istri yang bukan muslim. Dileher istrinya tergantung kalung berliontin simbol salib. Sang Istripun selalu membawa rosario kemanapun dia pergi.

Salah satu dialog menarik saat Hadji Gumus ditanya oleh salah satu detektif tentang Istrinya yang seorang penganut Christian. Katanya: “Tuhan itu satu. Dan betapapun kita berbeda satu sama lain, kita selalu punya kecenderungan untuk mencari dan mendekatkan diri kepada-Nya.”

Ada adegan lain juga yang menarik. Adegan dimana pada akhirnya si Hadji Gumus ini dibebaskan karena teroris yang sesungguhnya ketangkep. Nah di hadji gumus sama nih om-om teroris ada di sel, tapi terpisah sebelah-sebelahan. Si Hadji Gumus ini ngasih salam duluan ke terorisnya, “Assalamualaikum” katanya.

Nggak lama boss polisinya masuk ke sel, marah-marah sama si terorisnya, ini gw kasih dialognya deh ya, biar gampang:

Boss polisi: “You cold-blooded bastard! Tell me who you’re working for. Who’s giving you orders?!”

Teroris: “I take my orders from Allah. I’m waging holy war on the path of Allah.”

Boss polisi: “What part of holy war is for kidnapping and robbing Muslims, burying them alive, also cutting off their heads, you piece of shit!!”

(soalnya ada seorang polisi yang disembeleh sama si teroris ini, trus videonya dikirim ke kantor polisi Turki gitu deh diplot ceritanya. Asusmsi gw, polisi yang digorok tadi juga muslim, makanya boss polisinya ngomong gitu.)

Teroris: “Qur’an instructs us to do battle until everyone is a muslim. The prophet Muhammad fought the enemies of Allah until his dying breath. And we’ll do the same.”

(tiba-tiba Hadji Gumus motong pembicaraan mereka secara halus. Lembuuut banget ngomongnya, pelan, nggak teriak-teriak and keliatan angkuh kaya si mbah teroris.)

Hadji Gumus: Allah instructed the Prophet to use persuasion and wisdom to spread God’s word. Jihad is simply an invitation to tread the path of God while seeking the truth. When attacked by enemies, our prophet defended his life, his property, and his honor. In his 23 years as prophet, he fought only for two months. May God forgive our sins.”

(Trus boss polisi dan anak buahnya merasa bersalah gitu udah nuduh Hadji Gumus)

Boss Polisi: “I’m so sorry, Hadji. I apologize personally and on behalf of the police force. We made a terrible mistake.”

Hadji Gumus: “It’s God’s will.”

Gila ya, beneran deh, keliatan sekali orang yang Akhlaknya mulia, selalu sabar, penuh kasih dan kelembutan. Kapan ya gw bisa kaya gitu. Subhanallah.

Agama itu, bagi sebagian orang, ada yang diaplikasikan ada yang cuma dihafalkan. Islam itu simple sebenarnya. Rukun iman, rukun islam, cukup. Lalu kita kembali ke nurani kita. Kita akan menjadi Muslim sejati jika moralnya bagus, dan akhlaknya juga bagus.

Kata bokap gw: “Janganlah kamu sholat dalam keadaan mabuk. Sehingga kamu mengetahui apa yang kamu ucapkan. Makanya nduk, sholat itu harus KHUSU’. Khusyu’ itu berarti kamu betul-betul menyadari apa yang kamu ucapkan dan apa yang kamu lakukan. Sehingga kamu meyakini, takut, dan mentaati peraturan Allah SWT. Jadi, walaupun ritual sholat sudah selesai, kamu senantiasa tetap akan ‘sholat’ dimanapun. Karena sejatinya, kamu akan tetap mengingat Allah, bagaimanapun, dan kapanpun kamu berjalan dan tersebar dipermukaan bumi.”

kembali kepada film Turki tadi. Hadji Gumus dan segala akhlak yang dimilikinya. Begitu penuh kesabaran, cinta kasih, dan sangat menghormati perbedaan-perbedaan. Jadi memang sebenarnya kita perlu hening untuk mengetahui maslah yang sebenarnya. Andai aja semua orang kaya dia, gw jamin ngga mungkin ada perang. Mau perang salib, mau perang badar, mau perang di Libya atau Iraq. Nggak mungkin ada.

Saat ini, para Ulama menjebak kita dalam urusan-urusan seputar pahala dan dosa. Itu yang sudah menjadi ‘tuhan’ baru kita. Dan rupanya nggak hanya sekedar dosa dan pahala yang dipikirkan orang-orang. Tapi juga sibuk ngurusin pahala dan dosa orang lain. Jadi, kalo ada yang beda dikit, masjidnya dibakar. Ada yang nggak sama persis, dianggap darahnya halal untuk ditumpahkan. menyedihkan!

Itu sih namanya ya, pelajaran akhlak sama kontrol nafsu jelas kalah total. Yang punya neraka dijamin seneng banget, visitornya nambah.

Ilmu itu bagaikan seorang perempuan : lembut, menyenangkan, dan mencukupi hidup kita. Jadi sifatnya ilmu itu lembut, seperti sifatnya Allah: Maha Lembut. Makanya kita disuruh ‘IQRAA’, membaca, mengamati, niteni kalau dalam bahasa jawa. Ilmu titen atau ilmu ‘iqraa’ itu memang luar biasa. Kalo ngga percaya, ngga tau gimana caranya, 
pasti akan kita temukan patterns of God’s behavior dalam hidup kita. Misalnya aja gini: “Oh, gw ini dapet rejeki biasanya karena gini, dan karena gitu.” dll, dsb, dkk, etc.

Nah! Membaca atau mengamati hal-hal yang terjadi disekitar kita itu tadi lah yang nomor satu, bukan membaca secara literal, melainkan membaca fakta-fakta yang ada di alam. Inilah intisari dari perintah ‘Iqraa’.

Orang yang mengenal dirinya, secara otomatis ia akan tahu bagaimana memperlakukan diri sendiri dan bagaimana harus bersikap terhadap hal-hal yang ada disekitarnya dengan cara memaksimalkan potensi dan keunikan yang ia miliki sebagai anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan.

Dan di dunia, orang seperti ini akan merasa tentram, sebab ia intim dengan alam, juga dengan Tuhannya. Meskipun sedang dirundung kebingungan dan kesedihan atau penderitaan, seperti si hadji yang dituduh teroris tadi, orang itu harus tetap tenang, sebab yang disukai Tuhan adalah jiwa yang tenang (nafsun muthmainah). Ingat, Allah telah berkali-kali menagihmu untuk berpikir, karena akalmu adalah wakil otoritasmu dalam menjalani hidup. Afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun.

Islam itu letaknya di dapur, yang disuguhkan di meja makan adalah output-nya, kebaikannya. Seperti kata pak ustadz dipengajian: Orang yang belum mendalam butuh MULUT untuk memuji Allah, sedangkan yang sudah mendalam, detak jantungnya pun sudah memuji Allah. Masya Allah. yuk ah sekarang kita mulai memperbaiki akhlak kita sedikit-sedikit. Sayangi sesama, dan bantu orang yang kesulitan tanpa membedakan jurang perbedaan yang terbentang ataupun yang tidak terbentang. Mari hidup menebar benih kebaikan dan cinta kasih untuk sesama. Dan rasakan bedanya.[]

This entry was posted in Cerita Gw, Nasihat Bokap. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>