Patah Hati


Di gerbong kereta Ekonomi AC.

“Mbak, novelnya sedih banget ya? Sampe sembab begitu?”

Novel ber-genre fiction-horror itupun dia benamkan diwajahnya. Bagi Nona, mengalihkan konsentrasi ke media manapun nggak akan membantu banyak, segala aliran rasa dan air matanya tetap tak bisa dia hentikan.

———————-

Di kantor.

“Udahlah mbak, muka lo itu emang udah maksimal, nasip lo cuma dua, kalo nggak ditolak, ya diputusin…”

Pulpen murah meriah itupun akhirnya mendarat di kepala adik kelas, dan sahabat, sekarang teman satu kantor Nona yang memang sedari dulu hobi nyela tanpa pandang bulu.

———————-

Di chat ym.

“Non, lo jangan terlalu mendewakan si dul, kasian dianya…”

Jemari Nona mengambang kaku diatas keyboard. Mendewakan? Dahinya berkerut. Nona bahkan tak mengerti maksut dan artinya. Pikirannya terlalu kosong saat itu.

———————-

Di chat ym yang lain.

“Ah cemen, cuma segitu doang lo…???”

Nona memejamkan mata, menghela nafas yang terasa amat berat, kemudian me-reply chat tadi dengan lambat: “Iya….. gw emang cuma segini doang”.

———————-

Di chat fb.

“Lo jangan sampe deh ngadu ama dia kalo gw cerita-cerita semua ini. Lo nggak mau gw berantem sama dia kan, non? Gw sayang sama dia, buat gw.. selain jadi sahabat, dia itu laki-laki yang sangat baik..”

Nona membuyarkan pandangannya, berharap semua cerita ini tidak nyata dan nggak pernah terjadi.

———————-

Di telpon.

“Kenyataan itu memang pahit, tapi harus diterima. Gw sengaja nggak mau nutupin apapun dari lo, non. Gw pun udah beberapa hari ini pusing.. bingung mau bilang ama lo-nya gimana. Tapi gw udah janji sama nyokap bakal ngomong ke elo. Gw harap penjelasan gw tentang adek gw cukup diplomatis..”

Nona tiba-tiba saja merasa pusing, limbung, berkunang-kunang, mual, dan seperti tiba-tiba menciut ditarik meluncur kedalam gravitasi pusat bumi. Dunia tiba-tiba jadi tempat yang teramat asing buatnya. Setengah mati diaturnya nafas yang tanpa arah itu. Lalu dia katupkan seluruh wajah kedalam tangkuban jemarinya yang basah.

———————-

Di sms.

“Hah kerokan lagi…? Lo penyakitan amat semenjak diputusin adek gw… hahaha…”

Nona tertawa keras, menertawai dirinya sendiri. Ternyata, sudah sebegitu parahnya psikosomasis phase yang dia alami. Mungkin sebentar lagi nona betul-betul akan memasuki fase skizofrenik . Nona nggak akan pernah tau.

———————-

Semua kenangan Nona bersama dul bersifat transendental, yaitu berkaitan dengan sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman biasa dan ilmiah.

Bagi Nona, Dul adalah pelabuhan terakhirnya.

Namun, takdir telah merampasnya, merampok semua kebersamaan yang selama ini dia pikir nyata dan ada. Bagaimanapun pedih, Nona sadar, giving all her love is never put a guarantee that he will love her back.

“Allah… ampuni aku…” sajak Nona terbata-bata sambil meremas hatinya yang mendesak sesak. Matanya mulai berkaca-kaca.

Malam itu sedikit temaram walaupun sepotong bulan tergantung agak terang. Nona ingin sekali sembunyi di tetes air di ujung daun talas agar meretas, dan melupakan jejak Dul di sisa sisa hujan sore itu.

Tapi sungguh, disaat lupapun Nona tak dapat melupakan Dul. Retorika ini mungkin berarti beda bagi si Dul. Tapi bagi Nona, keduanya sama saja. Sama-sama rentan, sama-sama merasakan kehilangan.

Dalam langkahnya yang diseret lambat-lambat, Nona berlari dari semua rasa yang dia batasi. Dia seka untuk yang kesekian kali tetes airmata itu menggunakan bahu tangannya. Nona tak pernah tahu berapa lama Dul singgah dihatinya, tapi irama Dul serupa iringan detak jam dinding yang dia hapal.

“Ampun Allah.. Ampun… belas kasihanilah aku…”

bisiknya lirih lalu bersimpuh terisak ditanah basah.[]
This entry was posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>