Keinginan yang Membutakan


Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan, bagi mereka yang bebas dari ikatan cinta, tiada lagi kesedihan dan ketakutan.

Gw pandangi tulisan pada foto yang ter-tag di facebook gw. Seorang sahabat memberikannya dengan maksut tertentu. Sayang saat foto itu ditag, gw belum sepenuhnya sadar untuk memahami wawasan yang terkandung pada tulisan tersebut.

Gw mulai paham wawasan tadi setelah rasa ANEH itu datang. Rasa aneh yang lama kelamaan gw sadari sebagai penanda bahwa gw mulai bisa jatuh cinta lagi.

Gw tipikal orang yang GAMPANG tertarik dan kagum dengan orang lain, BUT on the contrary, gw sangat SULIT untuk jatuh cinta (bahkan saat pria itu sudah gw pacari belum tentu juga gw bisa merasakan yang namanya jatuh cinta sama dia).

Gw nggak bisa yakin bahwa seorang lelaki akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahi gw. Gimana kita bisa tahu kalau lelaki itu ternyata suami yang payah? Yang suka memukuli, mencaci maki, Menghina, pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat??

That’s why I never beg for somebody elses’s love. Gw benci kekalahan. Gw nggak mau merebahkan ego gw. Gw sebel kalo dikiritik. Gw ogah untuk mengikuti cara pandang orang lain yang nggak sesuai sama kata hati gw. Gw gampang banget ILFIL bahkan untuk hal remeh yang gw nggak suka. Pokoknya, I just…. DON’T easily fall for someone.

But now, I really fall, I fall deeply. Both deeply happy and deeply wounded.

Deeply happy when I satisfy my ego by having him as mine. Deeply happy is when I can silently catch the wind and whisper his name on it. Deeply happy is for seeing his mudlle face while he sleeps. Deeply happy is even when we eat together and he took half of my rice because of.. I’m on a diet. Deeply happy is even when I can’t found any word for a simple poem that I want to write because of him. Deeply happy is when I can hold him tight with my tears go down into his jacket for he never know it.

But I deeply wounded to know that he doesn’t even care for me a bit. Deeply wounded when I have to stay away as much as I can. Deeply wounded when I saw him happy without my presence. Deeply wounded when I can’t see him in days. Deeply wounded when I can’t let him go, imagining he belongs to someone else. Deeply wounded when I dreamed that I can’t find him in everywhere. And deeply wounded whenever I see him wounded for any kind of wounds.

Sampai pada suatu ketika, sahabat gw, sebut aja Jay, seorang dukun kenamaan (hahaha of course not the REAL one) menumpahkan resah dan kegundahannya ke gw.

 


“Kamu iku loh selalu saja menderita karena cinta. Serius loh iki! Menurutku bakatmu ancen ngono. Dengan cara pandangmu rasanya dunia ini… menyedihkan.”

Pandangan gw lurus, dingin tanpa ekspresi.

“Dia merasa kamu yang butuh dia… bukan saling membutuhkan. Dan hubungan gak bisa dibina dengan cara seperti itu…”

Gw mendengus lirih. He’s not like that. Like I need him, he also needs me.

“C’mon buanglah sikap… ugh.. sorry pedes… janganlah bersikap mengemis!”

Gw masih terdiam, tanpa ekspresi. Hm, bersikap mengemis..? Am I??

“Ngene Rum… ikuti aja air mengalir.. jangan ngoyo. Kalo memang jodo, ya biar jadi. Kalo gak jodo ya wis ghak popo. Jadi jangan berusaha dengan segala macam cara untuk mempertahankan, tapi bersikaplah tegas dan jelas. Tegas rela bila harus kehilangan!”

Nope, I CAN’T. For now, I DON’T WANT to let him go. I have deeply fallen for him.

“Kalau arah hatimu sudah jelas, raga ini gak perlu diperintah wis jalan sendiri. Rak perlu kakehan mikir.. ning aku rung yakin awakmu sanggup.”

Fiuh. Gw menghembuskan angin parau dari dalam dada gw.

“Kalo kamu gak MERASA TAKUT kehilangan, sudah pasti itu yang akan kamu lakukan! Ah, bagian yang paling terpenting sekarang hanya: BUANG rasa takutmu tadi. Semenjak jatuh cinta, aku pikir kamu jadi semakin bodoh.”

(Heavy sigh). Betul juga sih, selama ini berarti.. gw setengah mati ketakutan kali ya?

“Sebenernya awakmu sudah tahu bab kuwi… ning dibutakan oleh keinginan.”

Gw terdiam sangat lama.

Dibutakan oleh keinginan. Gw menarik nafas sambil memejamkan mata. Hufff..

Pikiran gw terbawa ke masa kurang lebih setahun lalu, disebuah Wihara yang suasananya sangat gw suka. Tenang. Cuma ada gw dan desiran angin. Disitulah pertama kali gw ketemu Jay.

Mata gw tertuju pada ukiran batu di lantai keras itu. Lingkaran yang menggambarkan sebuah daur infinite: Ayam, Ular, Babi lalu kembali lagi ke Ayam. Terus berputar disitu: Loba-Dosa-Moha. Ayam melambangkan ketakutan/kebencian. Babi melambangkan kebodohan. Dan Ular melambangkan kerakusan.

Ditengah kebingungan gw, Jay datang dan menjelaskan makna dibalik ukiran itu. “Keinginan akan menimbulkan ketakutan/kebencian. Kebencian akan menimbulkan kebodohan. Dan kebodohan akan membuat kita makin rakus.”

Kita harus mampu membebaskan diri dari KEINGINAN- KEINGINAN agar tidak merasa takut. Well, pada hakekatnya manusia SULIT lepas dari keinginan. Tapi kita yang sadar, hendaknya berusaha sekuat tenaga mengendalikannya.

Mengapa begitu banyak manusia ditakdirkan terikat oleh keinginan? karena sejak lahir kita sudah dikudang-kudang supaya jadi wong gede, wong bagus, wong ayu. Diajarkan bersaing, agar mampu hidup layak menurut mata umum.

“That is why… aku lebih bercita-cita jadi gelandangan. At the lowest class, I’ve nothing to lose, I’ve nothing to fear..” Kata Jay saat itu.

Hm, gw pikir benar memang. Toh apapun keputusannya, jodoh atau tidak, kita TIDAK PERLU merasa takut. Dan jika kita sudah mampu untuk TIDAK MERASA TAKUT pasti kita memiliki semacam kepercayaan. Dengan begitu kita bisa ikhlas atau berpasrah diri apapun ketentuannya, karena kita nggak takut untuk kehilangan lagi. Well, kuncinya: hanya TIDAK merasa takut. Adalah diri kita sendiri sebagai makhluk, hanya sebatas makhluk, yang menciptakan ketakutan itu sendiri.

Rasa takut itu keterpurukan. Keterpurukan yang letaknya didasar paling bawah. Hina. Dina. Nista. Namun, sesuatu dikatakan naik jika sebelumnya ia berada dibawah. Dan titik terendah dibutuhkan setiap orang agar dia mampu melihat dirinya sendiri lalu memaksanya untuk naik menjadi sesuatu yang lebih tinggi (mulia). Kita musti ingat, bahwa pasang surut seseorang, naik turun kehidupan, terkadang bisa melenakan dan membuatnya berhenti mencari sesuatu yang sejatinya lebih baik.

Disitulah titik terendah diperlukan. Sebuah titik kehidupan yang akan memaksa seseorang untuk memperbaiki diri, dan tak akan pernah berhenti untuk memperbaikinya.

Hidup adalah soal KEBERANIAN menghadapi tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar. Dan keberanian hanya bisa dimiliki oleh mereka yang PERNAH PUNYA rasa takut.

Kata bokap gw, menyelami kisah cinta itu memang njlimet. Karena cinta memang sesuatu hal yang buram dan menyiksa, sehingga tak semua lembarannya dapat dibaca dan dipahami. Tapi kita tak perlu kecil hati. Apa yang kurang jelas pada pembacaan pertama, akan mulai menerawang pada pembacaan kedua, dan pada pembacaan ketiga atau keempat kalinya lembaran buram itu akan mulai terpahami. Kuncinya (kata bokap): Niat dan telaten.

“Makanya jangan BERANI jatuh cinta kalo nggak siap disakiti..” lanjut bokap sabar setiap kali menemukan gw lagi ngerungkel dikamar sambil nangis-nangis.

You could be MAD as a mad dog with the way things went. You can swear and cursed fate. But when it comes to the end, you have to let go. But this is not my end, not yet. I still have to encourage and deliberated my own self. I still and do believe that there’s always room for improovement.

Bersyukurlah bagi mereka yang pernah dihinggapi rasa ragu. Keraguan adalah pertanda bahwa hati dan pikiran masih berpihak pada kita. Dan bagi orang-orang yang kuat imannya, keraguan adalah sebuah titik awal dari tumbuhnya sebuah keyakinan.

Well anyway, gw itu agak sedikit idealis (baca: ndhiablegh bin ngeyel), so gw yakin juga jika segala idealisme gw untuk mempertahankan semua cinta yang gw punya, butuh keyakinan nurani, kelapangan dada dan kebesaran hati.[]
This entry was posted in Cerita Gw. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>