Surat Cinta yang Terhapus


Gw memandangi laki-laki sendu disebelah gw. Kebisuan diantara kami cukup lama terjalin. Lebih terasakan suasana prihatin, lebih kepada percakapan bathin. Dia sibuk mengusap-usap wajahnya dengan gemas. Rasa cemas yang sedari tadi merantas dipikiran gw, nggak gw perlihatkan. Gw berusaha untuk tetap tenang. Karena, kalau boleh jujur, nggak biasanya aja, gw merasakan aura dia yang sekelam ini.

“Kamu yang sabar ya, sayang?”. Dia membuka percakapan. Mencoba lebih tegar untuk menguatkan gw. Gw cuma tersenyum. Gw pandangi laki-laki ini dengan perasaan penuh sesak. Antara bingung, senang, haru, ragu, entahlah.. gw nggak sepasti itu untuk tau.

“Ya, namanya kan juga cobaan..” Gw tersenyum, berusaha menahan semua simpul getar dibalik senyuman gw itu. Menahan supaya air mata gw nggak berloncatan dan berhamburan keluar.

—————————–

Kasih sayang adalah juga benda, sekalipun mujarab dan abstrak, setiap benda harus tunduk kepada manusia, terserah pada manusia itu bagaimana hendak menggunakannya. Begitu juga dengan kasih sayang yang dimiliki, lelaki gw ini. Terserah pada dia bagaimana ingin menggunakannya. Dan terserah juga pada gw untuk menginterpretasikannya.

Well, so far, semua orang menganggap ada yang salah dengan kami dan segala komitmen yang telah kami tetapkan dan kami jalin selama ini-meminjam bahasa mbah gw, hubungan ini merupakan hubungan yang: mrojol selaning garu (diluar dari kebiasaan).

Walaupun sebenarnya, rasa bathin yg bernama cinta tak bisa dinilai dengan cara kerja pikiran dan atau perhitungan. Yah, itulah kenormalan hidup manusia beserta segala tuntutan yang makin membebani juga makin memboboti. Makin diterima satu tuntutan, makin berduyun yang lain datang.

Gosh! why do people like to complaints? Hm, maybe because it’s easy to complaint.

Gw selalu berpikir, tidakkah mereka bisa bersikap wajar dan biasa-biasa saja? Mereka selalu saja bertengkar dan berdebat ramai tentang gw dalam bahasa yang bagi gw sama asingnya dengan bahasa nasib manusia.

Ataukah semua ini hanya sebuah alibi untuk memaafkan kelemahan diri, keterbatasan, dan kekurangan mereka dalam melakukan sesuatu yang selama ini tidak mampu mereka wujudkan namun secara mengagetkan mampu gw lakukan dan wujudkan bersama lelaki ini? Ah entah, gw nggak mengerti.

——————–

kemaren gw liat lo lagi berdua sama cowo lo, trus gw cemburu, Aneh ya? Hm.. tapi kok dia masih bisa nana nini ke cewek lain sih? Gw pengen banget bilang ke dia, minta tolong untuk ngejaga and bikin lo bahagia, yum”.

Gw cuma terdiam. Rahang gw terkatup, enggan berkata dan menjelaskan apa-apa.

——————–

“Berangkat ngga lo ke kondangan?”
“Iyak, berangkat kok gw”
“Karo sopo?”
“Sama tetangga gw”
“Mas har-nya kmana? Bareng Angie ya? Hahaha”
“Iya, kok lo tau?”
“Jie elah, Ngambeeeeek..”
Gw cuma terdiam, memandangi cursor di LCD gw yang berkedap-kedip centil.

——————–

“Yum, cowok lo itu harus bisa jaga perasaan lo dong. Gimanapun kalian itu berkomitmen, ada koridor-koridor kesepakatan yang harus dipatuhi bersama. Nggak bisa bebas terus. Terlalu bebas bisa anarkis tauk!”.

Gw cuma terdiam. Sedan ungu matic berplat N itu terus melaju di sekitaran jalan Thamrin yang lumayan padat merayap.

——————–

“Yah itu resiko lo lah, lo kan udah milih dia..!”

Gw cuma terdiam. Berharap punya parasut, sehingga bisa kabur dan terjun bebas dari sini.

——————–

Parkiran Patra Simprug. Saat sebuah mobil Jeep mini melintasi gw dan lelaki ini, yang berjalan cepat didepan gw, tidak menjajari gw. Beberapa orang didalam mobil yang melintas itu ternyata teman-teman gw, mereka membuka jendela mobil yang masih melaju sambil berteriak: “MASIH BEGITU AJA HIDUP LO?!?! HAHAHAHAHA..!!! KASIAN DEEEEH”.

Gw cuma menghela nafas panjang lalu terdiam.

——————–

Lapangan Blok S, jumat siang: “Yakin dia ngga maen-maen ama elo? Dia ngga pernah mikirin perasaan lo.. Terlalu bebas, ati-ati kerebut orang, cong..”

Gw cuma terdiam. Es blewah yang wangi dan manis terasa totally plain di genggaman gw.

——————–

Gw buka aplikasi notepad dikomputer gw. Menghela nafas sebentar, lalu menyentuhkan ke sepuluh jemari gw diatas keypad yang berwarna kelam.

My Dul Sayangku,

Kebenaran kadang memang sukar dipahami dan hanya bisa kita rasakan. Seperti halnya rasa yang tanpa kita sadari bertumbuh, ketika kita mencoba meraba dan tergagap dalam usaha mendefinisikan keburaman cinta yang bersemayam didalam dada kita dahulu.

Awalnya aku meragu. Ternyata pria sesederhana kamulah yang mampu meruntuhkan tembok itu. Sehingga pada akhirnya aku menyerah, dan menerima bahwa mencintai pada akhirnya bukanlah menjadi satu pilihan melainkan menjadi sebuah keputusan.

Tapi, semua nggak berjalan sebagaimana yang aku duga. Walaupun kita satu, kita masih bicara dalam bahasa dan berada pada ruang dimensi yang berbeda. Tapi aku bahagia kok, paling tidak, seperti halnya Columbus, aku bisa melakukan ekspedisi baru untuk menjelajah duniamu.

Untuk memulainya, aku buang semua standar bahasa dan dimensi duniaku, dan aku rela melakukannya demi kamu sehingga kamu tidak perlu susah payah datang untuk menjelajahi rumitnya duniaku.

Untuk memulainya, aku juga mulai membuang semua impianku tentang pria-pria yang selalu kuinginkan selama ini. Imajinasi tentang pria penuh kesabaran ala John Rolfe-nya Pocahontas, atau pria penuh mimpi seperti Parang Djati di novel fiksi Bilangan Fu-nya Ayu Utami, atau pria sekeren John Frusciante-nya Red Hot Chili Peppers saat bermelody dengan gitar patah di lagu Scar Tissue, atau pria dengan keberanian bak Anakin Skywalker yang akhirnya jadi penjahat gara-gara cinta yang begitu besar ke Padme Amidala.

Tapi Sayangku, semakin menjelajah, aku yang sensitif dan mellow ini semakin merasa terluka karena aku merasa berpeluang lemah untuk lolos kualifikasi standar imajinasimu.

Penderitaan itu datang dan se-enaknya merambat nyeri disela dada kiriku. Awalnya aku hanya bisa menangis pilu. Tapi saat itu kau bilang, kau membenci tangis. Aku terdiam, mungkin aku harus belajar untuk tidak menangisi perbedaan kita, walaupun sebenarnya aku takut hatiku akan membatu tanpa air mata yang melegakan dadaku.

Sayangku, penderitaan disini adalah suatu ragangan, tulang belulang kehidupan. Memang aku tidak bisa merasakannya bila sedari awal aku memutuskan untuk berhenti menjelajahi duniamu. Tapi aku ingin kamu tau, aku begini karena besarnya rasa cintaku untuk kamu, sayang.

Walaupun, akhirnya aku menderita lagi karena aku nggak bisa berbuat sesuatu untuk memenuhi mimpi-mimpimu itu. Tapi, sekali lagi, atas nama cinta, aku mengabaikannya demi kamu. Aku masih merasa bisa untuk terus menggandeng tanganmu dan melalui semua badai itu bersama kamu.

Mengasihi dan dikasihi, dikasihi dan mengasihi, itu semua adalah bentuk pergulatan. Untuk membetulkan kasih sayangpun dibutuhkan pergulatan, keberanian dan ketepatan bertindak. Akupun mencoba untuk terus maju, tapi aku kecewa, karena kamu sepertinya nggak berbuat apapun untuk perubahan itu.

Aku ingat, aku tersenyum seperti bocah belasan tahun saat kamu bilang: “Aku tau kok kalo kamu sayang sama aku, tapi kamu tau nggak kalo aku sayang banget sama kamu?”.

Walaupun sebenarnya ada yang kurang bagiku, karena kamu nyaris tidak pernah melakukannya sambil menatap dan menelusuri gelap bola mataku.

Aku juga ingat, aku merasakan sakit didadaku karena terlalu bahagia setiap kamu menggengam tanganku dengan penuh perlindungan.

Walaupun sebenarnya aku sedih, karena kamu hanya mampu melakukannya disaat kamu ingin, bukan disaat aku juga ingin.

Aku juga ingat, aku merasakan seluruh kebahagiaan umat manusia jatuh mengambruki diriku saat kamu memandangiku dengan tatapan sayang seolah cuma aku bintang yang bersinar di kelamnya duniamu.

Walaupun entah mengapa, aku selalu merasa kamu bersikap acuh, dingin dan malu untuk berada/duduk didekatku saat kita berada di tengah keramaian dunia nyata, didekat teman-temanmu.

Aku juga ingat, aku merasakan jantungku sempat berhenti berdetak saat kamu meraih bahuku dan berkata: “Mungkin banyak wanita disekeliling aku yang perduli dan juga sayang sama aku, tapi kayaknya ngga ada deh, dari wanita-wanita itu yang mampu sayang sama aku sebesar rasa sayang kamu ke aku..”.

Walaupun aku sebenarnya sangat cemburu lalu diam-diam suka menangis karena tau kamu lebih suka menghabiskan waktumu dengan teman-teman wanitamu. Walaupun pada akhirnya aku tau, bahwa itu duniamu, dan aku nggak punya daya apa-apa untuk bisa merubahnya.

Kamu masih ingat juga nggak? aku pun nyaris berteriak waktu aku bilang: “kenalin om, ini pacar aku…” sehabis upacara pemakaman Pakdheku sepekan lalu. Mungkin kamu nggak tau, aku jarang sepamer itu untuk urusan pacar.

aku mau kamu tau. Mulai sekarang, semua bait “walaupun” tadi akan menjadi tanggunganku, Sayang. Dan dengan semua ketentuan Allah bagi kita, dan juga demi rasa sayang dan cintaku untuk kamu, aku akan mencoba untuk ikhlas menerima kondisi itu.

Seperti yang pernah dikatakan seseorang padaku dahulu, bahwa manusia beradab adalah juga yang tahu membalas budi. Dan aku selalu berusaha memenuhi kebaikan itu, walaupun untuk kamu, agak sedikit berbeda. Aku nggak tau sama sekali bagaimana aku harus membalas semua kebaikan kamu yang telah menyentuh lubuk terdalamku.

Bersama kamu, aku merasa jadi manusia yang lebih baik, yang ikhlas, yang percaya bahwa cinta itu memaafkan, yang mampu untuk mengakui kekalahan, yang mampu menerima keadaan, yang mampu menolong siapapun yang membutuhkan, yang mengajarkan aku untuk tetap berdzikir dan mengingat bahwa diatas langit masih ada langit.

My dul, bantulah aku untuk meyakinkan kamu jika kebebasan kita ini adalah sebuah pergulatan bathin dan juga suatu usaha memerdekakan cinta dalam hidup kita, sehingga kita harus dapat mengusahakannya bersama.

Jangan bingung, aku memang sadar dan serius untuk menempatkan kata bersama disitu. Karena bersama berarti ada aku.. dan juga ada kamu.

Dengan begitu, aku yakin, aku akan merasa aman berjalan disisimu. Dan kuharap kali ini, kamu juga mau berjalan bersamaku.

-ditulis di kamarku – di malam sehabis hujan itu-

——————–

Jemari gw berhenti untuk menekan tuts keypad. Pria sederhana ini mampu membuat gw terus mengingat senyumnya yang terisyaratkan dan menentramkan. Dengan Sigap, gw klik tombol cross di sisi kanan atas. ‘Do you want to save changes?’. Gw klik ‘No’. Notepad itu hilang seketika. Nafas yang gw hela terasa lama dan tak berjeda.

Suddenly, pop-up Yahoo messenger di layar monitor gw muncul. Lelaki itu.

“Dul, kamu lagi ngapain?”. Tanya dia ke gw.

“aku lagi nulis surat cinta buat kamu.”

Surprisingly, dia langsung sign out.

Gw tersenyum. Gw tau dia nggak terlalu pandai berkata-kata. Atau dia nggak seromantis para pria di film India. Tapi gw lebih lega. Setidaknya yang penting, untuk saat ini, meskipun dengan cara yang tidak biasa, gw tau, dia selalu mengingat gw dalam setiap langkahnya.

Hm, gw raih cangkir kopi gw, mengirup aroma yang membuat gw kembali menitikkan airmata. Ah, spending a day with someone you love, no matter how difficult life gets, is more meaningful than spending the most of your life with someone you do not love.[]
This entry was posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>