Manusia dan Kemuliaan Status


Gw punya sahabat baik, let’s call her Manda. She’s perfect as a friend. Menyenangkan, cantik, pintar (sekaligus polos), dan luar biasa baik hati. Manda sangat gw sayangi, dan gw rasa semua orangpun begitu.

Tapi Manda punya satu masalah: Nyokapnya.

Nyokapnya Manda adalah tipikal seorang ibu-ibu pejabat golongan elit yang pernah tinggal lumayan lama diluar negeri. Well, masalahnya, setiap pembesar memang punya beberapa kecenderungan tertentu.

Misalnya saja merasa berbobot kalau sudah ngomong, lebih berbobot lagi kalau tak mendengarkan orang lain. Yang paling parah, asal menilai lalu memberi pembedaan perlakuan pada orang lain hanya berdasarkan atribut (baca kasta) yang melekat pada diri orang lain tersebut (contoh: bagaimana status keluarga, baca: lo datang dari keluarga tajir atau melarat.)

Untungnya, gw dateng dari keluarga melarat. Bokap gw nggak pernah jadi pejabat, apalagi pergi keluar negeri. Bokap gw nggak punya Villa di puncak-puncak bukit. Bokap gw nggak ngerokok cerutu import.

Karena bagi bokap gw, laki-laki nggak harus dinilai dari harta dan tahta, nilai dan tata krama yang sangat penting adalah bahwa laki-laki itu harus bertanggung jawab, laki-laki harus menghidupi. Itu saja.

Gw jadi merasa terlempar jauh ke masa lalu, saat hidup dan kebebasan masih terpasung, terkotak-kotak, dan paham feodalisme masih bercokol disetiap proses perjalanan hidup manusia. Dimana harta, tahta, status dan kebangsawanan darah itu sangat berarti, sedangkan tiada tempat lagi bagi kebangsawanan jiwa dan budi pekerti.

Gw kenal nyokapnya Manda, gara-gara suatu hari, beliau pernah telpon gw. Simple aja, cuma nanya gw lagi sama Manda apa nggak. Kebetulan waktu itu, gw pulang cepet dari tongkrongan, jadi gw nggak tau si Manda pergi kemana. Gw pikir that’s it, setelah gw bilang gw nggak tau Manda dimana, telpon bakal ditutup, dan pembicaraan bakal selese.

Ternyata gw salah, selain melakukan “underground-stalking” menanyakan Manda dan segala aktivitas Manda di luar rumah, nyokapnya Manda juga menanyakan secara mendetail tentang hal ikhwal siapa gw, tentang what I do for living, tentang pekerjaan orang tua gw, tentang kuliah gw dimana dan ngambil jurusan apa, dimana gw tinggal, gw punya pacar atau nggak, dsb dsb.

Semua pertanyaan itu, gw jawab dengan jujur. Dan dari situ lah Nyokapnya Manda tau latar belakang keluarga gw (yang ternyata bukan keluarga darah biru. Orang darah gw merah kok).

Well, mulanya gw agak risih dan bingung, Karena gw pikir, emang penting ya nanya bokap gw siapa dan pekerjaannya apa? tapi buru-buru gw tepis semua kekhawatiran dan prasangka jelek gw tentang itu. Yah namanya baru kenal, wajar jika ingin tahu lebih banyak.

Setiap nelpon gw, nyokapnya Manda selalu menekankan (atau lebih tepatnya mengancam) agar gw nggak ngasih tau Manda jika selama ini nyokapnya suka telpon gw. Karena, Manda bakal marah ke nyokapnya kalau aja nyokapnya ketauan mata-matain Manda dari belakang. Gw pun menurut, “Sendhiko Dawuh, Tante, aku janji nggak bilang Manda”.

However, mentang-mentang gw bukan berdarah pepsi blue, semakin lama, nyokapnya Manda semakin bersikap seenaknya dan tidak bisa mengontrol kata-kata dan intonasi bicaranya saat nelpon gw. Beliau selalu bicara dengan nada tinggi, membentak dan memberi perintah selayaknya bendoro ke babunya.

Well, sebenernya kan ya, seperti kata Pramoedya, seorang terpelajar itu harus bisa adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Makanya gw (yang merasa terpelajar) memaklumi dan gw berusaha TETAP bersikap sesopan mungkin. Gimanapun Nyokapnya Manda itu orang tua yang harus gw hormati.

Namun, gw kok rasanya semakin yakin jika memang BETUL gw diperlakukan berbeda sama nyokapnya Manda. Karena secara nggak sengaja, kawan setongkrongan yang lain (sebut saja Lila) cerita bahwa dia juga ditelpon nyokapnya Manda, Sependapat, temen-temen tongkrongan gw yang lain juga begitu, ikut ditelpon sama nyokapnya Manda.

Bedanya, ke temen-temen gw yang lain Nyokapnya Manda begitu halus, lembut, baik, dan sangat sopan. Nah Lo. Bahkan pake kata-kata panggilan ‘Sayang’ segala.

Tadinya gara-gara itu, gw sempat berprasangka mungkin setiap nelpon gw, sampe pake otot dan marah-marah karena beliau lagi PMS atau senewen sama hal lain aja, trus kebawa ke gw. Yah, lagi apesnya gw aja.

Seminggu, dua minggu berlalu, sebulan pun lewat. Nyokapnya Manda udah jarang banget nelpon gw.

Nah, di suatu malam, gw nongkrong lagi sama temen-temen gw, Manda juga ikut. Kami ketawa-ketawa, Karaoke, cela-celaan sampai kelaperan. Setelah itu kami memutuskan untuk cari angkringan, makan dipinggiran jalan. Tanpa diduga, HP gw bunyi. Caller: Nyokapnya Manda.

Gw excited (campur panik). Gw pikir saat itu adalah kesempatan baik buat gw untuk ngerubah imej gw supaya akhirnya nyokapnya Manda bisa baik sama gw. At least worth to try. Nggak ada salahnya dicoba.

Namun hasilnya.. diluar ekspektasi gw.

“Udah deh!! Tante nggak bisa tahan lagi!!! Kamu dan teman-temanmu itu sudah keterlaluan dan semakin liar!!! Nggak bisa kontrol waktu dan nggak terkendali!!! Pokoknya..!! Tante mau Manda pulang sekarang!!!”.

Cuma itu kata terakhir yang gw inget dari nyokapnya Manda sebelum Beliau nutup telpon. Entahlah, saat itu, rasanya ada yang retak dihati gw. One simpel question: WHY ME??? Apa karena gw miskin trus dia boleh bersikap begitu sama gw?

Lalu dalam tangis kemarahan gw yang tertahan, gw inget temen gw, Isro. Dia pernah memberi nasehat ke gw bahwa Tuhan mempunyai maksut tertentu dengan memberikan kita dua buah mata. Mata yang kanan untuk melihat kebaikan, yang kiri untuk melihat keburukan. Mata kanan untuk melihat Kebaikan pada orang lain dan Mata kiri untuk melihat Keburukan pada diri kita sendiri.

Amarah gw pun mereda. Karena ‘mata’ ini harus bisa melihat dengan benar secara fungsi yang dijelaskan diatas tadi. Ada hikmah yang harus diurai dibalik semua kejadian ini. Dan ada pelajaran yang Tuhan mau berikan ke gw.

Kata guru ngaji gw, manusia bukanlah makhluk mulia, namun manusia diberikan potensi kemuliaan. Manusia menjadi mulia ketika potensi kemuliaannya difungsikan, sebaliknya, manusia dapat menjadi hina ketika potensi kemuliaannya diabaikan.

Seseorang tidak menjadi terhormat karena ia seorang pejabat atau direktur, serta tidak menjadi rendah karena ia seorang sopir, satpam atau kuli bangunan. Kehormatan seseorang terletak pada bagaimana ia menyikapi posisinya, bagaimana ia berperilaku pada fungsinya.

Manusia yang paling beruntung adalah kalau ia punya jabatan tinggi sekaligus memiliki kesantunan dan kearifan kepada bawah-bawahannya. Dan manusia yang paling sial adalah kalau sebagai seorang kuli ia masih saja suka tidak jujur dalam pekerjaannya.

Ah, jika saja Nyokapnya Manda mampu mengingat bahwa dibalik semua kehormatan, mengintip kebinasaan, dibalik hidup adalah maut, dibalik kebesaran adalah kehancuran, dibalik persatuan adalah perpecahan, dibalik sembah adalah umpat, pasti beliau akan memperlakukan gw lebih baik lagi.

Semenjak itu, gw jadi autis menjelang tidur, lama terjaga dikegelapan kamar. Dan gw jadi merasa tenang saat menikmati indahnya cahaya lampu teras rumah yang masuk dan jatuh melewati kisi-kisi blindfolded jendela.

Semburat cahaya akan membentuk garis gelap-terang teratur ditembok kamar. Gelap lalu terang. Kemudian gelap dan terang kembali. Begitu sederhana, seperti halnya hidup. Karena memang tidak ada yang lebih sederhana dari hidup: lahir, makan, minum, tumbuh, beranak-pinak, dan berbuat kebajikan.

Ya, berbuat kebajikan. []
This entry was posted in Cerita Gw. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>