Perempuan dan Attitude


Kawan gw, seorang gadis cantik (secantik Julia roberts) sesekali mengulangi pernyataan yang sama (fyi, selalu sama) semenjak pacar barunya yang duda beranak tiga, membelikan smart-phone (lets called it so) yang katanya canggih itu. “Lo harusnya beli Blackberry, yum. Lo bisa ym-an ama cek facebook gratis loh. Seru kan? Lo harusnya malu ama slip gaji, masa nggak mampu sih beli? Blackberry doang gitu lo”.

Ditawari begitu gw cuma nyengir dan mengangkat Sherry glass gw (yang isinya mirip spirtus: blueberry-coke), “Cheers for your superb life.” lanjut gw.

She may not know, that my old-small-tiny-cute-not-too-expensive handset (well, the vendor sounds not categorized it as a smart one of course) appearetly has an HSPA connection, that is OF COURSE allows me to roam freely in a cyber world. Duh, not only chatting and doing some fun with social networking site.

*sigh*

Disebuah kereta express lokal dalam kota. Mata gw nggak bisa kedip saat ada cewek cakep (banget) ini, duduk didepan gw persis, memainkan rambut brunet bucheri-nya (bucheri: bule cet sendiri) sambil bertelpon ria, entah dengan siapa.

Cewek ini mirip sekali dengan Victoria, si vampire ganas dalam buku Twilight (sebuah seri novel karya Stephenie Meyer). Berbalutkan Trench coat (sejenis rain coat) yang gw rasa nggak beli di Indonesia. Belum lagi tasnya, hm.. Quintessential woman’s handbag by Coco Chanel. Pokoknya pasukan elit wanita james bond bangeeet, keren abis deh, gw pengen banget bisa kaya gini.

Nggak beberapa lama, ni cewek nutup telpon. Cewek model gini pasti nggak bisa deh kalo nggak ngecek make up dong, so diambilnya kaca kecil dari tas mahalnya, ups ada yang bleber kayaknya. Otomatis secepat kilat dia merogoh tissue lalu secepat mungkin mendempul ketidak-sempurnaan tadi. Dan saat itulah, saat dimana semua yang ada dibenak gw tiba-tiba aja blur, tiba-tiba gelap.

Hm, itu cewek buang tissuenya keluar kereta (saat itu kereta belum jalan, pintu masih buka). Iya!! buang sampah diluar kereta, di Peron. Bukan dibuang pada apapun yang notabene tempatnya sampah.

GOSH!!! She just can put it for a while inside her stupid-expensive-bag, for heaven’s sake! She may not know that beauty with no attitude is a totally BIG dissaster!

Auch lagi saat gw terkenang pada suatu malam belum lama berselang, sebut saja Sophie, temen gw yang lain, MARAH-MARAH sama segerombol cewe satu kantornya tapi lain divisi: “Sempet ya kalian ke Salon pas Lunch disaat GENTING kaya gini?!! Dasar gak professional..!!! pake acara korupsi jam makan siang and ngeberantakin RENCANA kerja gw pulak!!! Apa sih mau loe-loe pada?!”

Sophie, sambil menunjuk muka innocent para Barbie itu, melanjutkan dengan intonasi pelan namun menghujam: “Boleh gak kalo gw anjurkan kalian untuk bisa lebih BALANCE sebagai manusia!! kalian kok kayaknya gampang banget ya ngeluarin uang ratusan ribu buat ke Salon?!!! Apa susahnya sih beli buku seharga 35rebu cuma buat ngencengin ISI OTAK KALIAN??!!”

What a lovely statement! Ingin rasanya gw melakukan pengalungan bunga kepada Sophie saat itu, tapi apa daya, kayaknya she’s not in the mood for that sweet kind of things.

Sementara itu, baik gw ataupun yang dimarahi cuma bisa mingkem. Suara Sophie bener-bener kenceng dan waow: menggetarkan sukma. Hahaha!

Yang gw tau, saat itu Sophie mau melakukan sebuah Business Trip dan butuh cepet dicarikan tiket, diurusin hotel, cash advance dsb dsb. Dan yang bikin Sophie marah, dari jam 11.15 gerombolan Barbie itu udah pada nggak ada semua, dan ironisnya mereka baru pada nongol lagi sekitar jam 14.30!!! (sekitar 3 jam cuy). Jiah, kalo gw ada di posisi Sophie, udah gw angkat tuh mesin xerox. (anarki banget, hahahahaha)

Satu lagi kasus lain. Ada teman, of course perempuan, yang menyembunyikan umur sesungguhnya. Approaching 30 ngakunya early 20. Some place at cafe, kalo para cewek seumuran gw sedang kumpul bareng lalu didatangi cowok-cowok lucu, jempol kaki gw selalu jadi korban, diinjek sama temen saat gw polos njawab: “gw 26″ ke cowok-cowok lucu itu. Setelah diinjek, gw cuma meringis dan berbisik: “what did I do?!?”.

Di lain kesempatan, kadang mereka bertanya: “kenapa sih yum, lo cuek aja proclaim bahwa umur lo sudah nyaris 30?”.

“Helloooo, I am 26 and will be 30 anyway, so what?? It’s God’s gift to reach that age, why denying it?”. Dan as usual, kalimat itu cuma ada dalem hati aja, diluaran gw cuma bisa nyengir lebar sambil mengangkat bahu: “kaga tau dah..”.

Sambil taking a deep sigh lalu disambi nyruput kopi, gw mbatin: a women, so ugly on the inside that she couldn’t bare on the living if she couldn’t be beautiful on the outside?

“Ayolah nona muda, jangan nampak begitu sedih, matahari secuil itu tiada akan pernah ubah warna kulitmu jadi semacam kuli pribumi. dan apa pula gunanya payung kecil genit yang kau bawa-bawa itu?” – Kartini

Oh not again. Dan autis gw pun kumat.[]
This entry was posted in Catatan Perempuan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>