Menggali Keimanan di Negeri Terbuang

Plaza Senayan. 19:30. Gw clingak clinguk sendirian. Entah sudah berapa ratus kali jus berwarna merah centil didepan gw, gw aduk-aduk nggak karu-karuan. Pun setiap orang lewat, sepertinya, memandang haru ke gw. Well of course, that’s because I’m the one who’s sitting alone there. Tapi gw nggak resah, justru gw biasa aja. Gembira malah.

Sudah beberapa minggu ini gw hadir dan eksis kembali di Jakarta tercinta, yang sumpek, uyel-uyelan dan nggak kalah semrawut bin macet bak neraka, walaupun sebenernya gw belum pernah mampir kesana. Bukannya belagu, after all, gw ngerasa kehilangan sesuatu aja.

Gw mulai kangen temen-temen gw di negeri nun jauh disana. Juga kangen sama para BMI (Buruh Migran Indonesia) yang tiap minggu ngumpul di Victoria park. Ah, BMI, yang jumlahnya ribuan. Ribuan rakyat kecil yang pergi merantau menjual tenaga kasarnya, diusir oleh kemelaratannya sebagai warga dari suatu negara yang sebetulnya sangat kaya raya.

*sigh*

Gw jadi inget, Kemaren, sumpah loh, gw kaya orang bego dipinggir jalan, gara-gara bingung, mau nyebrang, tapi nggak ada zebra cross, nggak ada traffic light buat pejalan kaki/pedesterian (Lokasi tepatnya di perempatan Al Azhar – Telkom KBB).

Jadi selama kurang lebih 15 menit gw diem aja dipojokan, gw asli nggak merasa aman, mobil disitu kenceng-kenceng semua, dan gw nggak tau, apakah nyebrang disini, pada dasarnya, boleh apa nggak. Sampe suatu ketika, ada anak SMA nyebrang aja dengan santai sambil SMS-an. My God! Puyeng gw liatnya.

Belum lagi rasa kangen gw sama burung-burung gereja yang imut-imut lagi nurut, yang nemplok seenaknya dimana-mana. Plus para burung dara yang bebas centil bermain ditaman-taman kota, tanpa harus takut disiksa, ditembak, digoreng, ataupun dibumbu kecap.

Tapi itu belum ada apa-apanya dibanding cerita gw yang berikut. Hahaha, beneran bikin gw geli sekaligus kesel soalnya.

Tiap hari, gw ngantor naik kereta. Kereta yang gw naiki cukup aman, ber-AC, tempat duduk empuk, yang naik wangi-wangi. Tapi meski wangi, mereka itu ya masih ada aja yang ndak beli tiket. Karena mekanisme/manajemen baik jadwal ataupun pentiketan di perkereta-apian kita masih jauh dari standar pemenuhan kata: “layak”.

Suatu Sore menjelang malam, disebuah kereta yang walaupun padat namun tak kunjung merayap, seorang Mbak berdandan Menor yang duduk disebelah gw colek-colek lalu bertanya: “eh, ini tiket keretanya berapa ya?”.

Gw jawab “lima ribu, mbak”. Kami diam kembali.

Beberapa saat kemudian, Mbak berdandan Menor itu tiba-tiba tanya lagi: “Kalo nanti kondekturnya lewat, kasih berapa ya biasanya? Saya lupa BELI karcis nih, tadi buru-buru.” (padahal gw juga buru-buru, tapi gw bela-belain beli tiket).

Ditanya begitu, gw gelagepan, tapi gimanapun, gw nggak mau bikin Mbak berdandan Menor itu panik, gw tetap berusaha adep silokromo, “ya kasih aja seikhlasnya, mbak. Biasanya sih sama, barangkali 5000 rupiah.” lalu gw tersenyum. Suwer, manis banget deh pokoknya (lebay).

Eh tau-tau, si Mbak berdandan Menor tadi nyinyis, memandang gw dengan tatapan nanar, “Ih, saya sih jujur aja ya mbak, sudah biasa ikut prosedur (beli karcis), warga negara yang baik loh saya, jadi ngga biasa yang main-main belakang gitu, ini kan karena tadi buru-buru aja, makanya nggak beli karcis, lupa”, Mbak berdandan Menor itu membuang muka, seolah walaupun dia yang salah kaga beli karcis, tapi tetep ajeh gw yang jadi hinaaaaa banget (walaupun beli karcis), karena mengerti sisi gelap praktek kolusi ticketing terselubung diperkereta-apian Indonesia.

“Lah..!! gundul-gundul pacul!! arek mbujukan!!! Slompret!! Jagad dewo, Edhian tenan, ditulungi malah mentung! Asyyiem!!”.

Meringis maksa, bak menahan kentut, gw mesam-mesem sama Mbak berdandan Menor tadi. Well, as I recall, gw cuma bisa ngamuk didalam hati aja, walaupun sebenernya gw pingin banget nyeteples karcis kereta gw, dibulu mata palsu si Mbak berdandan Menor yang terpasang amburadul itu.

“Enak aja, Asal lo tau!! gw kaga pernah absen beli karcis!!”. Tapi ndilalah, sekali lagi kok ya, yang keluar malah muka cengengesan gw aja, wes itu thok, nggak pake ngamuk, melainkan priangas-pringis. Susah memang kalo punya watak sumbadra kayak gw, ditindas terus! Hahaha.

Hm, jadinya kerasa bener banget kata-kata pak Mario Teguh di acara SUPERnya: “bergaullah dengan orang-orang baik, agar kita mudah berperilaku dengan baik”. Mungkin Mbak berdandan Menor itu mainnya tau deh sama orang apa. Orang-orangan sawah kali, makanya sawan. Hehehe.

Well, life is just like taking picture, exposes for shadow and develop for highlight. Jadi karena kejadian-kejadian tadi, gw nggak lantas serta merta benci sama Jakarta, lalu mau ikut pindah ke negara yang jauh lebih civilized dari Jakarta (tanpa bermaksut menghina Jakarta tercinta).

Bagaimanapun beratnya, manusia tetap memiliki rahasia kemampuan dalam mengatasi alam. Apabila batasan rahasia itu terbuka, maka manusia bukan saja menjadi transendental atau bebas dari kungkungan alam, tapi juga sekaligus berarti ia menapak ke level yang lebih tinggi, yang semestinya memang ia tempuh.

Masih banyak yang bisa dijadikan pelajaran hidup disini, banyak orang-orang mulia yang hidup sederhana. Yang memulai hidup dan menggali keimanan mereka melalu titik terendah yang pernah mereka alami.

Dan sesuatu akan dikatakan naik dari sebuah level tertentu jika sebelumnya, sesuatu tersebut berada di level bawah. Dan titik terendah dibutuhkan setiap orang agar dia mampu melihat dirinya sendiri lalu memaksanya untuk naik menjadi sesuatu yang lebih tinggi. Pasang surut seseorang, naik turun kehidupannya, terkadang bisa melenakan dan membuatnya berhenti mencari sesuatu yang lain yang sejatinya lebih baik.

Disitulah titik terendah diperlukan. Sebuah titik kehidupan yang akan memaksa seseorang untuk memperbaiki dirinya, lalu tak akan pernah berhenti untuk memperbaikinya, serta makin bersyukur atas apa-apa yang telah diperolehnya selama ini.

Makanya, gimanapun, gw tetap cinta Indonesia. Cintaaa banget..!

Dari sini gw bisa belajar arti sabar menunggu macet, syukur bisa disambi membuka dialog dengan Tuhan, ngobrol sendiri ngalor ngidul, dari hati ke hati yang bersifat pribadi.

Disini gw bisa belajar arti kewaspadaan dan keberanian untuk nyebrang jalan tanpa rambu/tanda apapun, syukur bisa disambi komat kamit menyebut (mengingat) nama Tuhan memohon keselamatan setiap kali melangkah nyebrang.

Disini gw juga bisa belajar mengkondisikan amarah sebagai inversi suatu joke kiriman Tuhan, syukur bisa disambi berpikir bahwa jika Tuhan maha humoris, kenapa kita tidak turut tertawa dan menerima rahmat tersebut dengan tangan terbuka yang selebar-lebarnya?

Tuh gimana negara kita tercinta Indonesia nggak ngangeni?

“drrrrrttt.. Drrrttttt..” Ponsel gw bergetar.

Jus merah centil didepan gw mulai mencair. Gw hentikan perputaran konstan sedotan ditangan yang sedari tadi seperti mengaduk-aduk segala angan.

“hallo?”
“hey, aku udah didepan McD, kamu dimana?”
“aku didepan tamani express”
“Coba kamu berdiri deh”

Gwpun dengan sigap berdiri. Melihat seorang laki-laki biasa dengan bola mata yang cahayanya mampu menenggelamkan dunia gua. Yang tiap tatapannya mampu menyusuri tiap mimpi-mimpi gw selama ini. Dia melambai dengan ceria.

Tuh gimana negara kita tercinta Indonesia nggak ngangeni?[]
This entry was posted in Cerita Gw. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>