Cara Mengkritik

Masih jam kantor. Gw usap-usap ujung jejari tangan gw. Jari gw pada lecet-lecet dan nyut-nyutan gara-gara motongin (setengah meteran) satu rol kabel CAT-5, trus di krempling satu-satu ke RJ45. Kalo satu rol ada sekitar 50 meter, gw ngerjain 100 kabel LAN berarti, duh.

Well, sebenernya asyik juga sih, secara gw terkadang suka mendadak autis. Sekalian lah dalam rangka nostalgia juga, ngerjain tugas prakarya kayak jaman SD.

Gw usap lagi pelan-pelan. Yah ujung jari gw jadi.. kasar. Hm, gw berpikir gila sejenak, amatlah sungguh malang laki-laki yang nanti seumur hidup menggandeng tangan gw, yang gw raba wajahnya saat dia lagi demam atau meriang, yang gw sentuh bahunya perlahan dengan maksut menguatkan untuk bangkit lalu menjalani hidup.

Ya tentu karena apa yang dia harapkan dari kecil (believe me, men always do), dapet seorang putri jelita yang tangannya halus putih gemulai bak sutra, eh ini malah dapet tangan gw: kasar-kasar dan rada gelap lagi. Hahaha.

Lagi asik-asik becanda ama pikiran gw sendiri, eh ponsel gw jumpalitan. Satu message di inbox. Hm, gw senyum senyum aja bacanya. Dari seorang teman, teman menggila gw (sebut saja mas Alang). Oh, rupanya mas Alang rada protes soal penilaian gw terhadap foto beliau di salah satu situs fotografi tanah air.

Sambil nyengir, gw taro lagi ponsel gw disamping tumpukan configurasi file yang sudah selesai gw kerjakan. .

Hidup ini tercermin dalam lingkaran dualisme, baik secara kebendaan ataupun secara sifat. Namun, manusia cenderung hanya mau menerima separuh dari lingkaran tersebut. Menerima kelahiran, tapi tidak kematian, menerima kemenangan tanpa menoleh pada kegagalan, meraih glamoritas dunia, bukan akhirat. Padahal the true liberation itself comes from appreciating the whole cycle (fully!). Dan bukan hanya sekedar berpegang pada separuh bagian, dimana kita merasa cocok dan nyaman disitu.

Jadi inget, sekitar hampir seminggu lalu, gw pernah bersitegang dengan seorang om-om, karena umurnya 44 tahun katanya. Gara-gara debat pada salah satu forum diskusi. Dia marah sekali dengan kritikan gw. Sampai dia perlu repot-repot mengirim mail dan menjelaskan panjang lebar tentang dirinya. Berasa HRD aja gw, pakek nerima CV segala. Hehehe.

Beliau menjelaskan nama, asal-usul, umur, profesi, tempat bekerja, jabatan, banyak anak buah yang dimiliki untuk saat ini, keadaan keluarga, anak, istri, serta nana dan nini yang lain. Gw cuma mengelus dada. Sambil nyengir tentunya.

Heran aja gw. Ternyata selama ini seorang manusia belum boleh dinilai dari cara berpikirnya tanpa melibatkan atribut yang melekat didirinya, dihargai dari ketenangan dan kebijaksanaan jiwanya bukan dari jabatan serta banyak anak buat yang dia miliki. Well, it¡¦s so much oldies sekali man! (bukan konservatif, karena ada kalanya konservatif itu baik).

Emosi timbul ketika seseorang mengkritik kita, mengacuhkan kita, menyepelekan kita atas sesuatu hal yang kita peroleh, dan diluar itu, sebenarnya kita nggak setuju, kita malah dengan angkuhnya beranggapan jika kita berhak mendapatkan lebih dari itu. Dan parahnya, orang kadang suke ketlisep (misuderstand) tentang pengertian mengkritik dan menghujat. Mengkritik itu walaupun pahit tapi tetap berbuah solusi. Tapi kalau menghujat, ya hanya berkoar-koar tanpa solusi, bahkan tanpa mengikuti norma-norma serta etika yang jelas.

Dari semula, kita memang bermasyarakat namun kurang memperhatikan estetika, karena kita tak pernah dididik untuk memiliki taste yang baik dalam bergaul, tidak dididik untuk beradab, tidak dididik untuk memperhatikan martabat, derajat, serta kemuliaan sebagai manusia.

Memang sih, gw akui, within each emotion there is always an element of judgement. Selalu tetap ada yang dinilai. Misalnya ada seseorang yang berpendapat: ¡§gw kan temen lo, maka lo nggak boleh ngeritik gw¡¨. Nggak gitu brur.

Suatu hari, gw juga pernah berantem sama Zikhry di subway. Gara-gara menurut Zik, gw selalu berkelakuan baik sama orang karena ada ekpektasi lebih. Maksutnya gini, gw baik sama orang, dan (gw berekspektasi) orang lain juga harus baik sama gw, tapi kalo pada kenyataannya orang itu nggak baik sama gw, ya gw bakal kecewa, dan itu menurut Zik nggak worthed aja, mending cuek, orang mau ngapain juga terserah.

Trus pada end line kalimatnya, klise, kata-kata yang sangat typicalkeluar dari seorag Zikhry, sebuah iklan: “kalo gw sih..”¨. I don’t care kalo elu. This is me, this is who I am.

Akhirnya saat itu dengan marah gw tereak “Lo sinis banget ya jadi orang?!”. Walaupun padahal tadinya gw hampir menerima kritikan Zik. Kalo aja dia nggak iklan.

Ah, mungkin Tuhan nggak (atu belum) mengizinkan gw untuk jadi orang cuek kayak Zik. Kami berdua sama-sama Aries, mungkin karena itu kerasnya sama. Yah tapi walaupun besoknya tetep biasa lagi, gosip-gosip lagi. Namanya kawan. Yasyuddu ba’dhuhum ba’dho, saling memperkuat satu sama lain. Kalau kata Recto Verso-nya Dee, ada keindahan di balik penderitaan, ada kegembiraan di balik penderitaan, semuanya ada dua sisi. Secara cuman Zik juga temen gw disini ya akhirnya ujung-ujungnya, walau manyun-manyun gw tetep baekan sama dia.

Balik lagi ke urusan emosi dan kritik tadi. Intinya, adalah diri kita sendiri sebagai makhluk, hanya sebatas makhluk, yang menciptakan ketakutan itu sendiri. Ketakutan terhadap neraka, surga, kekalahan, umur, kekecewaan, sakit hati, kebenaran, kejujuran. Seperti yang pernah gw diskusikan kepada seorang guru yang gw anggap ayah, bahwa jujur itu sulit, tapi menerima sebuah kejujuran itu jauh lebih sulit.

Apapun yang terjadi, kalau kita menciptakan destruksi, artinya jika kita melakukan perbuatan yang kita yakini benar, tapi dengan toriqoh, kafiyah, siasah, atau cara, yang ternyata menciptakan destruksi, itu tetap tidak lulus dalam teori kesalehan sosial. Menimbang definisi dari DR.H.Mohammad Sobary, kesalehan sosial adalah ketika perbuatan baik didalam ide dan gagasan kita itu baik serta diaplikasikan secara tidak menimbulkan masalah sosial.

Jadi jika kita baik, tapi dalam penerapannya menimbulkan satu masalah, ada orang yang menderita karena kebaikan kita, menjadi tidak sholeh. Sholeh adalah kita kebaikan kita lulus menjadi kemaslahatan sosial, rahmatan lil alamin untuk orang banyak.

Semoga lain kali kita semua dianugerahkan kesolehan serta kearifan budaya, sehingga kita mampu untuk mengkritik orang secara baik, lalu orang yang dikritik malah akan berterimakasih dan minta nambah (demi kebaikan dirinya sendiri). Amin.[]
This entry was posted in Cerita Gw. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>