Cinta yang Terlupa

Gw melirik ponsel kelabu yang telah setia bersama gw selama 2 tahun ini. Tertera disana: “Frederic Chopin prelude in E minor”. Alunan piano ini kerasa pilu banget di dada. Bahkan angin sore yang silir semilir nggak mampu memalingkan gw dari derasnya rasa prihatin gw saat ini.

Temen kantor gw, Slinky Li, pernah bilang ke gw: “The only thing you can do to a dissaster is acceptance.” Menurut gw, filosofi hidup yang kayak gini nggak maen-maen. Ah, atau lebih tepatnya, gw aja yang terlalu oncom, mengada-ada untuk menggali lebih dalam tentang arti sebuah “acceptance”, acceptance terhadap kesalahan ataupun kebenaran yang berlalu lalang didepan mata kita.

Memang pada dasarnya, salah dan benar itu bukan milik kita. Kita hanya meminjam sebuah kebenaran dari Sang Pencipta. Dan saat kita melakukan kesalahan, itu hanya sekedar pertanda bahwa kita terlalu jauh dari-Nya.

Adalah seorang gadis, let’s call her: Monica. Gw kenal Monica bahkan jauh sebelum kami mengerti arti cinta dan laki-laki. Mungkin 20 tahun lalu. Monica pernah mengalami moment yang luar biasa berat, karena satu-satunya lelaki yang selalu memenuhi seluruh ruang mimpi dan bilik kenyataan hidupnya, melangsungkan pernikahan dengan wanita lain.

Well, sepertinya bagi gw, ini hanya kisah cinta biasa yang bisa aja terjadi dalam kehidupan setiap orang. Bukan hanya Monica, bahkan gw pun pernah mengalami hal serupa. So there’s nothing special about it, right?.

Wrong..!

“Eh Ting (Monica selalu manggil gw: keriting), eh tau ga? Aku lagi di rooftop, kalo mao, aku bisa aja terjun bebas dari sini. You know, after all, pernikahan Baskoro, really a knife in my heart..”

Monica menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi, itu sama aja aku memberi ruang kebenaran atas kesalahan yang dulu aku perbuat. Kamu tau, Ting? Ngga ada yang salah dalam kehidupan ini. Yang keliru adalah ketika kita menyikapi segala sesuatu dengan tidak memperhitungkan akibat dari pilihan sikap kita..”

Monica menghela nafas.

“Waktu itu aku memilih untuk nggak memperjuangkan cintaku ke Baskoro. Karena, aku kira, dengan membiarkan semuanya mengalir, Sang waktu toh akan membuat Baskoro kembali ke aku. Ternyata, aku nggak nyangka, endingnya meleset sejauh ini..”

Monica menutup perbincangan kami. Tanpa kata-kata pemanis, terasa dingin dan sadis.

Monica yang secantik dan seanggun Dewi Jahnawi dari Jonggring Saloka, bisa saja menunjuk ataupun memilih secara acak a very high quality man dari segala penjuru jagad. Tapi entahlah, tampaknya memang harus ada orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kisah cinta yang complicated dan berujung tragis.

Monica selalu mencintai pria ini, seorang pria biasa, dengan kepintaran diatas rata-rata. Modal ketampanan pas-pasan dan postur yang slightly bersahaja. Ya, dia Baskoro. Waktu SMA adalah kali terakhir Monica bisa duduk berdua dengan Baskoro. Tertawa bahagia dibawah pohon akasia. Saat itu mereka tak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan cinta. Ya! hanya tertawa dan berbahagia dibawah pohon akasia. Bahkan mungkin, Monica terlalu sibuk menikmati setiap inci smiling curve dan mata bening Baskoro.

Bertahun-tahun selama gw mengenal Monica dan semua pacar-pacar perfecto-nya, tetaplah, selalu ada “Baskoro”. Kata emak gw, first love never die. Tapi, Monica selalu protes kalo gw bilang Baskoro itu first love dia.

Monica selalu bersikap tegar, dia tak ingin lagi menggali perasaan yang sudah begitu teguh untuk menjadikannya merapuh kembali. Tapi sering kali, gw menemukan Monica terpagut begitu lama, memandangi kerlip bintang.

Mungkin dia mencoba dengan sangat keras, untuk mengingat dan mencari smiling curve dan mata bening milik Baskoro disana, sambil sesekali berbisik lirih “I wanna kiss you underneath these stars..” Seolah Monica ingin malam menyampaikan lirih kerinduannya kepada Baskoro.

Kadang kala, Monica pergi menemui Baskoro, frekuensinya pun nggak setahun sekali, tapi mereka bertemu. Dua jam, dalam hening, memandangi layar bioskop yang Monica nggak ngerti isi cerita film yang diputar, karena terlalu sibuk menggali perasaan yang mengalir hangat dalam nadinya. Sibuk menghirup lamat udara beku yang juga dihirup Baskoro. Sibuk menyimpan tiap detik berharga bersama Baskoro dalam setiap laci hatinya.

Setelah pertemuannya dengan Baskoro, anehnya, Monica malah selalu tampak lelah, pancaran sendu matanya seolah berkata, “Ah, hidup memang berat ataukah aku yang tak cukup kuat?”.

But I know, that’s just a retarded question. Dalam hati, gw mengagumi Monica.

Gw nggak nyangka ada makhluk macam Monica yang dapat menyelami arti mencintai lalu mampu memanggul beban cinta yang sebegitu beratnya dengan pasrah. Gw sendiri hingga saat ini, yakin, Monica nggak pernah menitikkan air mata barang setetespun atas pernikahan Baskoro. Walaupun pada kenyataannya, pernikahan Baskoro bagai racun mematikan yang meremas hatinya hingga luluh lantak.

Kehidupan bagi Monica tak lain adalah sebuah pengabdian, pengabdian kepada janji, pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada kerabat, pengabdian kepada kebenaran yang dipegang, pengabdian kepada kehidupan, pengabdian kepada sang pencipta. Juga.. pengabdian kepada cinta.

Pengabdian cinta Monica kepada Baskoro.

Monica paham, bahwa takdir Tuhan banyak diganjal oleh ‘takdir kuasa manusia’. Tapi Monica memutuskan untuk menggantungkan diri pada Tuhan saja. Monica bersedia menanggung derita cintanya, asalkan dia rasakan itu memang kehendak Tuhan.

Walau dengan hati hancur, gw tau, Monica berhasil lulus dalam ujian kesabaran yang dihadiahkan Tuhan kepadanya. Monica berhasil lolos dalam ujian ‘acceptance’ yang diberikan kepadanya. Gimanapun, kekayaan diri adalah bukan apa yang dapat kita miliki, tetapi adalah bagaimana kita dapat menjadi apa adanya, sebaik-baik diri kita. Dan jangan pernah lupa satu hal, Gusti Allah mboten sare.

Lagipula, Tuhan itu maha adil.

==================

Ting!
Kapan pulang?
Kamu sehat disana?

kemarin aku main kerumahmu,
dan hebatnya, kamu nggak punya pohon mangga lagi tuh,

hahaha, pohon manggamu ditebang habis sama si Om.
Aku mau ngasih tau, aku mau nujuh bulanan minggu depan,
Si Woro udah nggak sabar pengen adiknya ini cepet brojol.

Cowok lho, Ting. Kamu pasti seneng banget.

Ting, aku mau menamainya Baskoro.

BR,
Monica

==================

Yups! Tuhan itu adil: only those who dare to fail greatly can ever achieve greatly. Monica telah menikah dengan seorang laki-laki, bukan Baskoro. Monica sangat mencintai laki-laki ini dan juga anak-anak mereka.

Tapi walaupun begitu, sepenggalan cintanya kepada Baskoro nggak pernah mati. Bak kisah cinta Bisma Dewabrata kepada Dewi Amba. Sepenggal cinta itulah yang disimpan Monica untuk Baskoro, mungkin Monica berharap, dikehidupan berikutnya, Baskoro adalah miliknya. Karena penerimaan itulah, Monica akhirnya melepaskan Baskoro.

Kisah hidup Monica juga ibarat video clip youtube kiriman Zuber, temen lama gw. Kalo nggak salah video clip itu milik Keroncong Chaos, judul lagunya: Kuburan Cinta. Model video clipnya, walaupun nggak secantik Monica, tetaplah spektakuler. Inti videonya ada seorang pemuda yang ditinggal kawin oleh model spekta tadi, lalu pemuda itu memutuskan mau mengakhiri hidupnya dengan cara nyebur sumur. Tapi nggak jadi, eh malah pemuda itu ambil wudhu. Video klip selesai.

Gw jadi ingat seseorang. Seseorang yang selalu ada disetiap langkah perjalanan hidup gw. Namanya adalah satu-satunya nama laki-laki yang berani gw sebut dan gw ceritakan ke nyokap-bokap gw. For these whole years, nama yang sama, selalu nama yang sama. Tapi, gw cuman mingkem, manyun lantas masuk kamar kalo bokap gw nanya: “Kapan dong dia diajak main ke rumah?..”

Karena gw selalu tau, laki-laki ini nggak pernah mencintai gw. Ironisnya, mungkin dia menikah tahun ini, dan bukan sama gw pastinya. Haha.

Gw tertawa! Ya, gw masih mampu tertawa! Gw harus mampu belajar menertawakan diri gw, karena kata pak ustad di pengajian: makin tinggi kemampuan seseorang dalam menertawakan dirinya sendiri, maka akan semakin meningkat pula kebesaran jiwa mereka. Semakin luas pengetahuan seseorang atas kedunguan-kedunguannya sendiri, semakin matang dan tegar kepribadiannya. Dan gw berharap, gw bisa begitu.

Mirip Monica, pada malam yang legam, kelam, dan hanya ditemani sepenggalan sinar bulan, gw sempat juga terpagut lama memandangi kerlip gemintang.

Lalu mencoba juga dengan sangat keras, untuk mengingat dan mencari wajah lelaki itu disana.[]

Him, the only man with his silly and rainy face.
This entry was posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>