Tentang Para Pahlawan Wanita itu

Only silence that is the true friend that never betrays. Silence is so great, it feels like a black coffee with a slice of panettone cake. Perfectly sweet, smells good, but a bit surrounded by a bitterness-bitterness of life.

Gw menggeser posisi punggung, mencari posisi yang lebih nyaman. Butir-butir moisture sisa musim semi yang menari-nari mengelilingi udara disekitar gw, berasa hangat, berat dan pekat. Akibatnya, langit malam yang harusnya hitam memikat, menjadi agak merah dan sedikit gelap.

Kaos Ho Chi Minh gw berkibar-kibar riang ditiup angin yang temperaturnya hampir bikin gw sinting. Panas memang, tapi gw menikmati hawa panas ini dalam kesendirian gw. Lagipula, I got a very breathtaking scenery up here. Very much entertaining, so the feel of hot and loneliness (heleh) has gone away.

Entahlah, gw kalo ketemu balkon, pasti bawaan gw menerawang, mikir-mikir hal-hal yang pernah lewat dihidup gw. Seperti halnya hal-hal baru ini, hal-hal yang menekan batin gw hingga sangat erat. Sampai-sampai gw nggak ngerti, apa yang harus gw lakukan.

Kemarin, gw jalan-jalan sama si Zikhry ke Victoria Park, menurut gosip, kalo kangen indonesia, lu ngacir aja ke sana. Karena banyak pahlawan devisa (TKW – termasuk gw, hihihi) asal Indonesia yang main ke park; gw sebut park bukan karena sok, tapi akan jadi terlalu aneh kalo gw sebut: taman yang luas, terlihat hijau, tradisional namun hi-tec ini.

Belum masuk ke area park, gw udah disambut sama swalayan made in Indonesia. Gw lantas norak bukan main. Jingkrak-jingkrak bak anak kecil dibeliin boneka tinky winky. So excited!

Didepan toko itu ada beberapa wanita duduk-duduk, lesehan. Dari ciri khas betapa moving fast and so much western-nya kota ini, gw bisa nebak, pasti mbak-mbak ini orang Indonesia. Haha. No offense ya.

Gw memberanikan diri masuk kedalam, penasaran aja, apa sih yang dijual di warung Indonesia ini?

Setelah gw liat-liat, emang banyak banget produk indonesia yang dijual disitu, dari kosmetik, makanan (ada nasi gudeg yang bisa dipanaskan loh!), bumbu, snack, beng-beng, bahkan ada MARNING! (mending googling deh kalo nggak tau Marning itu apa).

Harganyapun relatif sama, misalnya aja gw kemarin beli lotion merk x, harganya 18 rebu di Indonesia, di sini dijual $16 (kurs $1 = Rp 1210). Trus kripik KUSUKA fave gw, harganya $6. intinya fair lah, nggak belagu yang punya toko.

Di toko sini juga ada pengiriman uang khusus, tanpa potongan. Ada juga electronic storenya, yang dijual hanya MP4 player, ponsel, n gadget telecom yang simple gitu lah. Nggak lupa jual emas-emas juga. Mungkin yang punya toko tau, kalo para TKW pada suka nyimpen emas.

Puas mampir-mampir ke warung tadi, gw memasuki area dalem Victoria Park. Well, typical khas orang Asia, kalo nggak foto-foto dulu, ya nggak apdol. Haha!

Setelah gw dan Zikhry menggila foto-foto, kami iseng duduk dideket situ, awalnya sebelah tempat duduk gw, orang Pakistan, ganteng! Tapi nggak lama, orang itu pergi dan datanglah, guess what?! Mbak-mbak, berdua dengan logat yang jawa super medok!

Seperti biasa, gw anaknya excited-an, makanya mereka gw culik, ajak ngobrol dikit. Mereka seneng banget juga. Untuk mengkamuflase agar mereka lebih open wawancaranya, gw ama Zikhry ngaku anak kuliahan, lagi research. Waks!

Setelah beberapa waktu wawancara, muka gw nggak begitu excited lagi. Ada beberapa fakta yang bikin gw kesian aja sama mereka. They really crawl from the deep abyss.

Standardnya, gaji mereka $3480 (HKD) sebulan (kurang lebih 4.210.800 IDR). Dan mereka harus setor ke PT (nyebutnya sih gitu, agen kali ya) $3000 perbulan selama 7 kali. Setornya gampang, bisa langsung, bisa lewat 7eleven (mirip-mirip Indomart di Indonesia).

Jadi intinya perbulan mereka cuma dapet $480 (580.800 IDR) aja. Kalo kontraknya 2 tahun, enak, tajir aja. Tapi kalo kontraknya cuma 12 bulan? Yah, mereka cuma punya waktu 5 bulan buat nikmatin full rate gaji mereka.

Gw terbayang, buset daaah (ini bukan umpatan), Zikhry aja ibaratnya dibayar beratus-ratus dollar per hari disini, kerja Zikhry yang nggak sampe jam 9 malem, dikenakan pajak juga nggak sampe $3000 tuh. Wadoh kok begini amat realitanya!

Itupun masih ada satu-dua orang, karena NGGAK PUNYA (bukan MINIM) pengetahuan, baik pengetahuan tentang: minimum wage, rights and semua rules yang related and applied di sini, ada yang cuma dibayar $1800-$2000 sebulan!

Well, maybe money is not everything, but sometimes without money everything becomes nothing. Makanya dibela-belain.

Hm.. sujud gw bertambah dalam hanya untuk memikirkan hal ini.

Well anyway, mereka so pasti cerita yang seneng-seneng juga lah. Dalam kondisi seperti itupun mereka masih mensyukuri, jika mereka jauh lebih baik daripada TKW yang pergi ke Arab, atau Singapore. Karena di sini human rights lebih dihargai. Sebagian besar majikan sudah sadar terhadap hak-hak yang dimiliki para TKW ini, sehingga, the rights is fully given. Ditambah disini lebih bebas juga katanya. Haha jadi mereka bisa make baju suka-suka.

Nggak sadar, gw nyerocos aja, meminta mereka berpendapat, apa sebenernya harapan mereka terhadap pemerintah indonesia saat ini. Kurang lebih jawabannya kayak gini:

“Gini lo mbak, pemerintah kita itu kurang memberikan penyuluhan buat kita-kita (kami, mungkin maksudnya), jadi kita banyak yang nggak tau soal aturan itu. Jadi kalo dapet majikan yang kurang ajar, kebanyakan, kita Cuma diem aja, karena kita nggak tau hak kita sejauh mana.”

“Pelayanan di konsulat (KBRI) juga buruk. Kalo tanya-tanya dikit, mereka suka melayani dengan seenaknya, bentak-bentak. Tapi yah, dibanding yang lalu-lalu, pelayanannya meningkat sih, sekitar 2%.” Lalu mbak itu tertawa. Gw masih majang muka serius.

“Harusnya kayak konsulat pilifina (Philiphina), mereka itu bagus mbak pelayanannya, ngurus TKWnya juga serius, makanya jarang orang pilifin yang gajinya dibawah standar, jarang juga ada yang dikibulin sama majikannya, mereka berani ngelawan, karena mereka tau persis hak dan kewajiban mereka.”

Awan bergerak tanpa berarak namun melambat dan sekarat, hanya hening yang menemani panjangnya jeda helaan nafas Mbak Mini (nama sang TKW narasumber). Mungkin dia ingat anak-anaknya, bisa jadi dia ingat kampung halamannya. Gw nggak pernah tau.

Kalimat gw selanjutnya patah, penuh rasa bersalah, “apa yang bisa aku bantu, mbak mini?”. Mbak Mini Cuma tersenyum, menepuk-nepuk pundak gw, “sudah, sekolah saja yang benar.”[]
This entry was posted in Catatan Perempuan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>