Tentang Akhlak

Senja meredup manja. Semburat biru mulai mendominasi kanvas merah di sore berbau laut itu. Leichhardt, with a beautiful water view, is my favourite place. Berjalan bertelanjang kaki, sepanjang the water’s edge then follow the harbour foreshore for very long way has been put some undescribe-and-happy feeling for me.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Namun, kali ini gw hanya ingin merasakan kedamaiannya aja. No camera shutter, no cell phone, nobody, nothing. Hanya ada gw, biru laut, langit sore dan (tentunya) Tuhan.

“Mak!!”

Suara ini demikian familiar di gw: Dennis.

“Weh, ngapain mak….?!”

Gw berkedip-kedip. Suasananya tiba-tiba berubah. Gw baru sadar, kayaknya gw barusan nggak sengaja ketiduran di meja kantor gw. (Asyiem..).

Banyak pengunjung tetap di cubical gw. Well, nggak sombong, tempat gw emang punya view paling bagus. Segala beban, kata temen-temen gw, kerasa plong kalo udah numpang duduk sebentar deket sini. (Bilang aja mau deket-deket gw hehe).

Salah satunya, Dennis. Dennis ini salah satu sahabat favorite gw dikantor. Dia typical cowok yang betul-betul bisa dibilang cowok banget. Lembut, manis, tata kramanya bagus, dan lucu.

Dia juga sangat bertanggung jawab, ya sama kerjaan, ya sama keluarganya (dia jadi kepala keluarga setelah papanya meninggal). Anaknya nggak gampang ngeluh, selalu bersyukur dan nerima apapun kondisi dia sekarang. Gw rasa dia bakal sukses dengan attitude dia yang pantang nyerah but so sweet dan nice itu.

Sebelum resign, Dennis sempat mengungkapkan, betapa bahagianya dia bisa ketemu lalu kerja bareng sama gw dan juga temen-temen yang lain.

Gw jadi inget, dulu gw punya temen kantor (sebut saja Sheila), anaknya bawel dan apatis banget. Seinget gw, udah banyak kata-kata nggak bersyukur keluar dari mulut dia. Padahal saat itu, kondisi Sheila (jauuuuuh banget) 89 kali lebih baik daripada Dennis.

Mending kalo cuma ngeluh (karena ngeluh itu manusiawi). Tapi ini mah: su’udzon ama orang, nyelain/nyacat orang, sama sekali nggak berterimakasih atas hidup, nggrundel (aduh, nggak ada terjemahan bahasa Indonesianya “nggrundel” ya?). Well, kalo kata pak ustad gw di pengajian: “Hatinya penuh kerewelan yang mubazir. Hatinya tak kunjung selesai.”

Kayaknya, energi, pikiran dan hatinya dikuras BUKAN untuk napak kedepan. Saat itu, dia lebih asyik mikirin gimana nyari kemungkinan pekerjaan lain yang menurutnya lebih berGENGSI dan berpendapatan lebih tinggi, dibanding asyik melatih ketrampilan baru atau rajin mencari peluang-peluang yang bisa mengembangkan hidupnya (hidup yang bukan sebatas pekerjaan aja).

Tapi sekalinya dibahas, malah kata-kata tuduhan apatisnya Sheila yang keluar: “Seinget gw, setiap ada yang resign, lo selalu bersikap gitu tuh, ngejutekin orang pindah, kalo lo ga pindah kan, bukan berarti semua orang harus ga pindah..”. Dan itu semua nggak bener.

Itu kalimat terakhir dari Sheila yang sangat-sangat mengecewakan gw. Rasa sayang gw kedia saat itu bener-bener terdiscount hampir 70%-nya. Emang sih, Sheila nggak satu-dua kali kayak gini sama gw, bahkan bisa dibilang Sheila mampu melampaui record cowok-cowok keparat dalam hidup gw dalam hal bikin gw nangis.

Gw sih mau aja jawab: “you crazyface damn ass..” (dibahasakan: “Raimu, cuk!”). Tapi gw nggak tega, Sheila terlalu manis (diwajah) untuk disakiti. However, dia juga pernah bikin gw ketawa dan bikin gw seneng juga.

Well, namanya juga manusia, selalu rakus akan tuntutan, haus akan ketidakrelaan. Hatinya Sakaw: menagih, menagih, dan menagih.

Bisa jadi karena dia adalah produk dari suatu masyarakat feodal yang hobi memelihara kebodohan. Dia adalah anak dari jaman dungu yang tidak pernah menggali akal dan rasionalitas, sehingga tidak pernah mengerti bahwa menempuh hidup yang mulia adalah dengan menjalani hidup yang benar dan baik, tanpa menyakiti orang lain.

Sebenarnya persoalan ini, intinya bukan membahas tentang gw dan masalah gw sama Sheila. Gw cuma mau memberitakan, bahwa sebaiknya kita jangan gemampang, jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh apalagi menyakiti orang.

Jangan dipikir gula pasti manis atau pare pasti pait. Gula nggak mesti manis. Intelektual nggak mesti mampu berpikir. Dan sarjanapun nggak pasti pinter. Sama aja dengan ‘kata-kata’: mungkin lo gampang banget ngeluarinnya, tapi lo nggak akan tau gimana sulitnya kata-kata itu diterima oleh orang lain.

Kalo kata manager finance gw, Lia dan alkitabnya, “yang masuk kedalam mulut lo, apapun itu, keluarnya tetep sama. Jadi nggak masalah. Tapi, apa yang keluar dari mulut lo, itu yang harus lo pikirkan, karena lo nggak akan tau, gimana efeknya ke orang lain.”

Lalu, Bokap gw juga menjabarkan hal yang sama lewat bahasa yang lebih simple: “Aji ning diri, soko lathi” – bagaimana kamu, adalah bagaimana lidahmu berujar.

Jadi, beranikah lo berperang melawan diri lo sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah? Sanggupkah lo mengalahkan obsesi kehidupan lo sendiri untuk merintis peperangan-peperangan yang at least lebih punya harga diri?

Segala makhluk adalah hamba Tuhan, dan segala hamba yang dicintai-Nya adalah yang sebanyak-banyak memberikan manfaat kepada makhluk-Nya. So, berhentilah untuk saling menyakiti.

Mulailah untuk membangun suatu noble traits of character (makarim al akhlak) dalam diri masing-masing. Mulailah meruntuhkan tembok-tembok kebanggaan terhadap sifat apatis yang lo miliki. Mulailah belajar mengeluarkan kata-kata yang lebih bijak.[]
This entry was posted in Catatan Perempuan, Cerita Gw. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>