Sakit Sendiri


“Please don’t go, I’d take care of you for the rest of my life..”.

The air is as silence as it might be frozen. The impuls of the moment, nearly kills your nerves. Barely kills you, when the truth is even harder to absorb then a light.

Kalimat terakhir dari James benar-benar membuat gw mikir setengah mati. Namun apa daya, gw dengan teganya pergi gitu aja, bahkan tanpa sepatahpun kata a dieu ke dia. Well, kalaupun gw ingin, I’m in a half way back to Indonesia, dan rasanya gw bukan superman yang dengan oncomnya bisa terbang balik ke negara antah berantah itu.

Gw bahkan nggak kenal James sebelumnya. Gw baru kenal James setelah minggu pertama gw dinyatakan bebas menjelajahi that urban-living city by Boss gw.

Gw ketemu James saat gw sedang melepas ragu dan menikmati keramahan senja Star Avenue pada weekend itu. Akhirnya setelah beberapa test, gw memutuskan kalo James adalah jenis alien yang harmless dan bisa dinobatkan sebagai my new alien friend. Anyway, as he has lived for years there, so bisa dong, doi gw manfaatin jadi tour guide gw selama gw ada di this urban-living city.

Walaupun emang sih, dari pertama ngeliat gw, James nggak pernah lagi memalingkan matanya yang kadang biru kadang hijau dari gw. I know from the first time, he likes me.. a lot.

James always bilang, muka gw unik, mata gw begitu bening dan besar. James juga bilang, gw bahkan nggak perlu pake eye shadow atau Sharma (eye-liner) untuk mempertegas keindahan mata gw. James bilang, aura gw beneran kuat untuk membuat dia nggak bisa tidur setiap malamnya gara-gara gw. Pujian yang menurut gw aneh dan nggak wajar, coz I never being flattered like that before.

Cowok-cowok lokal (made in indonesia) yang bersama gw jarang ada yang bisa sejujur James. And I admit it, lama-lama, gw jadi penikmat kalimat-kalimat manis yang terlontar dari James.

Well anyway, I’d never take everything as a serious matter. Coz gw pikir, semua cowok alien itu memang suka terlalu ekspresif, jujur dan lebay, and fortunately, gw juga tipikal cewek yang perkasa dan kebal terhadap kata-kata perpisahan ataupun rayuan busuk seorang pria, sehingga gw lebih menikmati acara jalan-jalan gw dibanding kebersamaan gw bersama James.

Gw juga percaya pepatah kuno: “Janganlah tergesa-gesa, supaya tidak ada yang terluka” dalam membina sebuah relationship.

Well, anyway, gw merasa kalaupun gw jatuh cinta sama James, this kind of relationship will never work for us. We are just too different. Mata James terlalu biru untuk bisa melangutkan kehangatan cinta yang pastinya nggak berhenti dia kasih ke gw. James terlalu mirip tiang bendera untuk bisa gw pegang pipinya, saat gw pengen mengekspresikan betapa gemesnya gw sama segala jokes yang dia kasih. Rengkuhan James terlalu dalam untuk gw jadikan sandaran saat kami berdua terdiam menikmati malam.

Bayangan-bayangan itu terlalu nggak irrasional, absurd dan impossible buat gw.

Gw selalu beharap dicintai laki-laki seperti halnya James mencintai gw. Gw selalu beharap dipandang just the way I am seperti halnya James menerima gw apa adanya. But once it happened to me, it just not right, everything went so wrong.

And finally, I hurt James so bad. Apalagi ketika dalam kalimat penolakan gw, James berujar: “Sungguh, kupikir semua akan menyakitkan buatku untuk sekedar mengingat dan menikmati senyumanmu dari jauh”

Hingga kini tiap malamnya, gw selalu melayang-layang, bermonolog, berdialog intensif dengan Tuhan. Ibarat Anritsu Wiltron, gw menerka-nerka apa yang salah dalam diri gw, nggak lupa memohon ampun sedalam-dalamnya kepada Tuhan atas segala luka dan kekecewaan yang gw goreskan didada kiri James.

Mencintai pada akhirnya bukan menjadi pilihan, melainkan sebuah keputusan. Itu merupakan suatu rumusan kesedihan yang tak terelakkan.

Gw harus bisa menata kembali perasaan gw yang juga hancur karena memikirkan kepedihan James. Gw harus bisa belajar menyederhanakan arti cinta, dan menerima segala kekacauan yang gw buat ini sebagai bentuk pertanggungjawaban gw.

Walaupun dalam hati kecil gw, gw sempat bersumpah, jika suatu saat, gw ketemu another “James”, gw akan mulai belajar mensikapi perbedaan itu searif mungkin. Sehingga nggak akan ada lagi yang merasa sakit atau disakiti. Karena, sumpah lo, menyakiti orang lain itu terasa lebih menghimpit dan menyesakkan dada lo sendiri.[]
This entry was posted in Cerita Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>