Kekerasan Hati dan Kelumpuhan Nurani


Gw selalu punya kebiasaan aneh, yang adegannya mungkin cuma bisa ditemui di film-film dokumenter ataupun film-film independen kelas festival, karena scene-nya biasa dipake untuk memberi tekanan dramatisasi di adegan-adegan monolog.

Dari kecil, gw selalu melakukan hal-hal yang nyaris sama setiap hari. Kehidupan gw ibarat konstelasi bintang yang posisinya selalu konstan dan nggak malang melintang. Well, semisal gw menemukan hal baru yang membuat gw merasa sangat amazed, maka percayalah, gw akan tetep disitu selamanya.

Contoh, gw suka Caramel Macchiato Starbucks, dari pertama gw ngerasain sampe akhirnya jatuh cinta (sama rasanya, bukan sama gengsinya), gw nggak pernah beli produk yang lain. Atau lagi misalnya: tempat duduk. Kalo gw datang ke suatu tempat, mau itu warteg atau cafe elit sekelas iL Mare, pasti gw akan duduk ditempat yang sama, plus memesan hal yang sama pula. Begitu juga tempat duduk di kereta, pesawat atau bis (pasti gw bakal milih baris paling depan/paling belakang dan dekat jendela).

Entahlah, Gw suka keteraturan. Dan gw selalu nyaman untuk ada dititik yang selalu sama itu.

Diluar itu, orang lain selalu berpikir kalo gw adalah salah satu contoh dynamic person, ever. I just don’t know why, but most people always thought that I run so damn fast beyond my own limitation.

Ah itu kan kata mereka. I still pretty much like glancing to the dark moon while taking a cup of macchiato in hands. Or even trying to be quiet for hours only to define the drop of the rains.

A bit poetic actually, but that’s what really happen.

Karena kebiasaan itu, tampaknya gw mulai betah tinggal di tempat sekarang gw berdiri, tempat dimana keteraturan dan orang-orang yang hidup didalamnya membuat gw iri setengah mati.

Sangking irinya, gw curhat ke Reza, salah satu member senior milis para oncom. Dan kita berdua sama-sama menyesali, seharusnya Indonesia tercinta bisa dibangun seperti ini.

“Gw sering miris rum liat Indonesia, sebagian besar isinya orang Islam, tapi nilai-nilai yg ada dilingkungan sekitar gak menunjukkan sebagaimana orang islam. Coba lo liat deh, baik disitu ataupun di negara-negara lain, kebanyakan, mereka dominan bukan muslim, tapi mereka bisa beneran menghargai kejujuran, penghargaan tinggi terhadap hak orang, dan nilai-nilai lain yang sebenarnya ada di Islam.”

Statement si Reza itu bener-bener bikin gw deg-degan. Bukan masalah SARAnya, tapi lebih ke perbedaan perilaku masing-masing kelompok masyarakat tersebut.

Kalo bicara soal agama, disini orang-orangnya sangat-sangat plural, jadi agama bukan suatu penyebab suatu bangsa bisa civilized atau nggak. Yang gw amati, sepertinya, the way they hold the basic principal of filosofi hiduplah yang sangat berpengaruh terhadap civilized atau nggaknya mereka.

(Sigh) sangat-sangat gw sesali, kelompok masyarakat yang satu, terlihat sangat civilized, sementara yang lain terlihat begitu primitif. Well, amplitudonya begitu jauh untuk negara yang hanya memiliki beda teresterial sejauh 3000 mil saja.

Indonesia adalah bangsa yang mengaku negara hukum, namun hanya sesekali menjalankan hukum. Yang mengambang tanpa kesadaran akan hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya berkebudayaan hukum.

Indonesia adalah bangsa yang secara harfiah menjalankan ajaran agama, namun tanpa dialektika berpikir agama, nggak ada hukum resiprokal ataupun bait kausalitas yang seimbang antara input dan output dari nilai-nilai bijak yang diajarkan agama. Bahkan (sering gw temui) terdapat diskoneksi ekstrim antara praktis kehidupan beragama dengan hakikat keberadaan Tuhan yang sebenarnya.

Indonesia adalah bangsa yang sudah kehilangan ukuran. Ukuran apakah mereka sedang maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, apakah mereka pandai atau bodoh, apakah mereka menang atau kalah.

Indonesia adalah bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai manusia, sebagai rakyat, atau bangsa.

Makarim al-akhlaq, budi pekerti yang mulia. Itu yang minim sekali dipunyai kebanyakan manusia Indonesia (bukan diniatkan untuk SARA, ini cuma masalah penggunaan bahasa aja).

Di Indonesia, nilai-nilai toleransipun harus dibatasi dengan memandang “kamu siapa” atau “datang dari golongan mana”. Rasa penghargaan terhadap orang lainpun ikut dikorupsi, siapa saja yang harus dihargai, haruspun turut dipilih. Apakah harus semua orang? Apakah tidak semua orang? Masyarakat Indonesia nggak tau.

Kita nggak hanya harus bebas dari buta huruf dan buta teknologi. Kita juga harus terbebas dari buta akan kesadaran hak-hak orang lain. Kita harus paham betul, bahwa aturan dibuat bukan hanya untuk ditaati, bukan hanya untuk menghindari penalti, tapi juga untuk menunjukkan tingginya martabat kita sebagai manusia karena kita menghargai hak-hak orang lain yang juga diatur lewat aturan-aturan atau norma-norma tersebut.

Misalnya aja gini. Peraturan tentang merokok. Well oke, nggak usah ngomong tentang aturan dari pemerintah dulu. Gampangnya gini. Dalam satu mobil/bis/busway/publik place dimana ada kehadiran orang lain, lo harus SADAR, lantas nggak akan berbuat bodoh dengan merokok didepan mereka. Kenapa BODOH? Coz smoking is not killing you, it’s killing others. Dan jika memang lo punya kesadaran kemanusiaan, maka lo nggak akan merokok DENGAN ataupun TANPA rules yang ditempel Pemerintah disitu.

Seperti apa kata Evangeline Booth, seorang pelaku reformasi sosial, Bukannya apa yang kita terima yang bermakna, tetapi apa yang kita berikan untuk orang lain.

Don’t be so indisgenious and relentless (keras hati), coz actually (with all due respect) CHANGE simply starts when we decide. And this is where all the journey is begin.

Jangan lumpuhkan nuranimu, kawan![]

Whatever comes our way, whatever battle we have raging inside us, we always have a choices, and it’s the choices that make us who we are. And we can always choose to do what’s right.
This entry was posted in Cerita Gw. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>