Materi dan Kehinaan Manusia

Hantaran cahaya lemah milik gedung sebelah menyapa sendu seolah-olah rindu. Rambut yang ikal memanjang ini gw ikat kencang-kencang. Walaupun nggak semirip poni tail, tapi angin dingin musim gugur yang lumayan sinis mengiris, bisa numpang lewat ke tengkuk belakang tanpa harus berucap sayang.

Cangkir kopi dari giok ini masih gw pegang tanpa niat. Gw mulai lupa bagaimana rasa kopi ini, karena setengah jam yang lalu gw sengaja biarkan aromanya berlomba moksha ke angkasa.
Balkon tempat gw berdiri nggak kalah manis sama balkon The Mayflower Marriott Executive Apartments, di Jakarta. Bedanya mungkin, ketinggian gedung di Jakarta nggak ada apa-apanya dibanding disini.

Kadang gw berpikir, apa jadinya gw tanpa hari ini? Apa jadinya gw tanpa bulatan cinta penuh disetiap seduhan kopi yang sedari tadi enggan gw cicipi? Ah it doesn’t matter. Gw tetap orang yang sama. Nggak ada yang beda. Seberapapun cepatnya waktu berlari, gw masih jejak ada disini.
Beberapa waktu lalu ada seorang kawan lama (sebut saja Fay) ber-say hi lewat media chat. Dia tanya “Lo dah punya apa sekarang, yum?”.

Well, entahlah, tapi pertanyaan sederhana itu mengusik sekali. Hm.. seperti apa ya? Sampai-sampai gw harus memikirkan beribu kali tentang perihal bagaimana dia bisa bertanya hal nista kayak gitu.
Kata mas Emha: ada kesombongan orang berkuasa, ada kesombongan orang kaya, ada kesombongan orang pandai juga ada kesombongan orang saleh. Nah mungkin masalah tadi bisa jadi salah satunya.

Seperti ada justifikasi inklusif bahwasanya jika semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin menumbuhkan perasaan lebih unggul dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia.
Dari situ kita semua dapat menilai bahwa pendidikan menjadi sama sekali nggak punya concern mendasar atau memiliki efek signifikan terhadap nilai kedewasaan sosial, kerendahan hati kemanusiaan, kematangan jiwa atau demokrasi kebudayaan.

Sebenarnya jika ditelaah lebih dalam, semakin hina dan rendah jiwa seseorang, makan akan semakin tinggilah kebutuhan mereka untuk memperhinakan sesamanya. (Katanya sih, secara psikologis memang demikian formula survival kejiwaannya). Amit-amit (lantas ketok-ketok meja).
Waahhhh sepertinya pemerintah beserta departemen pendikan serta dinas pengaturan SDM (kalo ada dan berfungsi) perlu rekonsiliasi ulang, kalo perlu rapat besar-besaran (asal jangan korupsi besar-besaran) untuk mensikapi bahwa kita membutuhkan SDM yang nggak hanya pintar mengolah kekayaan alam tapi mengelolanya dengan satu tujuan yakni demi kemajuan bersama dan kesejahteraan bangsa indonesia.

Outputnya jangan hanya SDM yang cuma bisa tanya ke temannya:
“Woy mobil lo apa sekarang?”
“rumah lu di estate mana?”
“Lo keluar negeri dah kemana aja?:
“Gaji, tunjangan, dan facility yang lo dapet apa dan berapa?”

Kata “berbakti¬°” (atau bahasa jawanya BEKTI) pada saat sekarang memang sudah punah. Dipunahkan oleh kata dignity, harga diri, serta harta, tahta, dan neraka. Ampunilah dosa kami, ya Tuhanku.[]

This entry was posted in Cerita Gw. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>