Selingkuhan

The angel voices milik George Michael masih mendayu-dayu memanggil-manggil ‘Roxanne’ yang seharusnya milik Sting. Cafe ini tutup lebih lama dari cafe-cafe malam lain di Jakarta. Tempatnyapun nggak terlalu jauh dari kantor gw.

Maya masih menggenggam cairan bening berbau lembut yang sumpah, rasanya pasti menyengat ke otak lamat-lamat. Single malt scotch. Sudah tiga sloki, ini yang ke empat. Mata bulatnya bergerak-gerak, setengah sembab dan hampa tertutup gumpalan asap.

Belum lagi hembusan Mild Seven yang baunya asli, bikin gw ngiler setengah mati. Tapi mau gimana lagi, gw pasrah aja pas mulut ini seenaknya mengatakan “Nggak, makasih, gw nggak ngerokok.”
Unfortunatelly (or could be fortunatelly) semenjak November 2001, I decided to quit and done with all those stuff. Walhasil gw cuma bisa mingkem ngaduk-ngaduk lite-macchiato tanpa gula yang wanginya diperkirakan dapat menghapus segala lara di gua (kalo ada).

“Hey, ndut.. If a friend envies you, then she is not your true friend anymore”. Kalo udah mulai setengah-setengah gini, Maya emang suka manggil gw seenaknya. “And Y’know what? I’m so damn envy you”. Lanjut Maya patah-patah.

Gw cuma bisa lekat-lekat memandangi wajah putih Maya. Warna matanya merah, semerah mata jagoan gw waktu SD, Megaloman. Rambutnya yang terurai ringan, berwarna nggak jelas yang kadang hitam kadang pirang, membuat gw makin yakin, kalo Maya itu fans beratnya Megaloman.
“The sound of our feeling is no longer heard”. Tatapan Maya terpaku beku dalam beningnya sloki kristal yang sedari tadi bermain lincah didalam genggamannya. Seperti biasa gw cuma bisa diam.
Butiran air matanya satu satu mulai jatuh.

Ponsel gw bergetar. “May, gw harus pulang”. Ungkap gw pelan.

“Om Tatoo?”. (Bokap gw). Gw ngangguk pelan. “It’s okay, just give me a big hug like usual”.

Gw memeluk Maya.

Emang nggak gampang buat seorang Maya untuk ada diposisi: WIL, Wanita Idaman Lain, atau gampangnya wanita simpanan seorang laki-laki beristri. Maya nggak deserve aja untuk dapetin itu semua. Dia pintar, cantik pula. Dan dunia ada didalam genggamannya. Tapi gw juga nggak ngerti, kenapa dia musti milih jalan yang kayak gini.

Sebelumnya, dari dulu, dulu-dulu banget, sebelum semuanya jadi kayak gini, gw udah berkali-kali bilang ke Maya “Better don’t start that fire..”. Tapi jawaban simple dan percaya diri Maya ngeluluhin gw, “Yoem, jangan terlalu serius gitu ah, gw ama dia cuman seneng hang out bareng aja kok. It’s just about having fun, I’m not taking it as my personal things.”

Maya mengkodekan tanda kutip dengan jari-jarinya yang lentik. Lalu tertawa berbangga.
But look who’s laughing last.

Gw rasa emang nggak segampang yang gw kira. It’s so damn near impossible to find a good man who will gonna leave his wife, after you, which is a dessert, hidangan pencuci mulut.
Dan setelah semua api itu terbakar, Maya cuma malu-malu memutar ragu, “I dont want you to forgive me, but I want you to understand, I simply can’t live without him”. Saat itu gw pengen banget teriak “But HE’S NOT YOURS”.

Prinsip gw: Don’t ever get whatever things that is not yours!! It’s called STEALING! Since we’e a good people, we’re not STEALING!

Tapi mau gimana lagi, cinta itu buta. Kadang kalo udah badung dan kadung (alias telat, bahasa bokap gw), yang dimajukan bukan hati ataupun rasionalitas, melainkan nafsu setan alas (bahasa bokap gw lagi). Tau deh bener apa kagaknya.

Gw jadi inget juga tentang suatu percakapan antara gw sama my beloved Abby:

Gw: Bi, kata bokap gw, dalam budaya Djawa, pria itu memimpin, dan wanita mengikuti.

Abby: Lalu kalau gitu, pria bisa memimpin seenaknya dong? Asiiik, yang penting kan pokoknya wanita harus mengikuti. Tuh Lu harusnya nyadar…

Gw: Weh nggak gitu bi. Maksutnya tuh gini, pria menawarkan langkah, dan wanita akan setuju dengan mengikuti.. dasar bolot..

Abby: Hmm…

Gw: Kok Ragu gitu? Jangan Salah bi, bagaimanapun, mengikuti juga butuh kekuatan yang sama dengan memimpin..

Abby: Berarti keputusannya tetap di wanita ya?

Gw: Iya dong!

Dada gw sesak, teringat Maya. Why did she choose to be so? Tapi gw tetap berusaha objektif (sesuatu disebut objektif jika ia bebas dari pengaruh perasaan, emosi atau pandangan sebelumnya).

Dan seperti apa yang dikatakan Rowena (Perfect stranger): Secret is great, until you get caught. Dan bisa ditebak, yang rugi tetap yang mengikuti, Maya. Untuk si pria sendiri (sebut saja Pak direktur Bejo), setelah semua terjadi, masih ada kemungkinan sang istri mau memaafkan segala kekhilafan Pak direktur Bejo.

Tapi coba lihat disisi lain, misalnya Maya memaksa Pak direktur Bejo untuk tetap menceraikan istrinya dan menikahi Maya, trus ternyata Pak direktur Bejo nggak mau. Semakin Maya maksa, semakin benci ajeh Pak direktur Bejo sama Maya. Dan konsekuensi lebih lanjutnya bisa ditebak lah. Maya nggak akan dapat apa-apa.

There are two ways of live: with regret or without it.[]

This entry was posted in Catatan Perempuan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>