Sebayang Pilihan

Kopi lampung dalam genggaman pria berbahu seksi ini masih penuh mengepul. Nggak heran lah, karena baru lima menit yang lalu, bubuk hitam (yang gw campur dengan sedikit gula saja) gw tuangin air super mendidih. Teringat wejangan emak gw: “Kopi lo nggak akan berasa sempurna, tanpa tempaan air mendidih yang sangar dan bergolak dengan keras..”

I’m not a good Barista though, karenanya setiap baris berselang, gw selalu menanyakan hal yang sama kepada pria ini: “kopinya NGGAK enak ya?”. Pria tampan ini cuma mengurai sedikit senyum jahil dan memberi anggukan tanda setuju, walaupun gw tau, Re selalu menikmati kopi jadi-jadian buatan gw itu.

Biasanya kalo kangen, Re memang suka tiba-tiba datang ke rumah, tanpa berita dan pemberitahuan apa-apa. Yang bikin gw takjub adalah bahwa ternyata Re masih juga hobby memasang tampang polos sambil berseloroh nggak jelas: “Tau ga? Gw sebenernya males ketemu lo, tapi anehnya, dari kemaren gw ngerasa kalo lo ngerasanin gw, ya daripada lo nanti kenapa-kenapa, gw terpaksa deh bela-belain kemarih, takut lu kangen gituh sama guah…”

Biasanya gw cuma ngacak-ngacak rambut keritingnya sambil bilang: “Onyon…”.
Malam itu Re masih memakai kemeja kerjanya. Celana stright black pipe dipadu dengan setelan kemeja lengan panjang junkies dominasi hitam, yang dibalut garis-garis tipis vertikal warna bronze, silver, dan orange. Terlihat manis dan so much sophisticated. I always like him when he being like this. He simply like a chocolate candy bar: delicious, melty sweet but strong and can be the best healer you can get, ever!. Hmm.. he is so much like a tree, he shelters me, and I lie in his shade.

Tapi cerita ini bukan romansa cinta recehan. Beneran, bukan!

Gw jadi kangen gaya bicara and tampang jeleknya Mas Lilik (senior LPM kampus) jaman masih suka memprovokasi gw untuk jadi ‘pemberontak’ di kampus (kebetulan waktu itu gw masih mahasiswa nan junior lagi polos yang gampang banget dikibulin).
Hmm.. (sedikit menyunggingkan bibir) segala diskusi kami, biasanya, memang jadi inspirasi menarik buat gw untuk berimajinasi dibawah rintik hujan malam yang menjadi satu-satunya pengantar gw pulang (ke kostan..).

Tapi malam itu kami nggak ngebahas soal kampus, kami malah ngebahas suatu kalimat pendek (atau tepatnya retorika) seputar: menjadi yang sempurna dalam suatu kesederhanaan dan menjadi yang sederhana dalam satu kesempurnaan.

Sampe sekarang gw masih berpikir dan membandingkan, manakah yang sesungguhnya lebih baik?
menjadi yang sempurna dalam suatu kesederhanaan atau menjadi yang sederhana dalam satu kesempurnaan?

Menurut pendapat orang-orang (terutama wanita), Re adalah sosok pria yang luar biasa (mendekati) sempurna. Tampan, pintar, lucu, dan sangat menggemaskan. Jujur aja, boong banget kalo gw nggak sampe suka sama Re. But I felt so wrong, so much in psychotic and weird feeling: I might like him (very much), but I just don’t fall for him. No love. At all.

Re yang tampan ini nggak bisa bikin gw singit bak layangan kobat kabit dilangit saat gw diam-diam menikmati senyumannya dari jauh. Re yang pintar dan cerdas ini juga nggak bisa bikin gw ngerasa mlompong saat hari-hari gw kosong. Re yang lucu dan kocak ini boro-boro bisa bikin gw memutar otak kiri untuk keep nyuri atensi.

Well intinya, Re yang (nyaris) sempurna, nggak bisa bikin gw.. ingin memiliki dia selamanya, sampe-sampe yang kalo kata chairil anwar: “dengan cerminpun ku enggan berbagi”.

Berjuta perasaan kosong dan aneh ini betul-betul menyekap dan menyengat imaji. Namun, saat batas terjauh nurani gw mengembara, menjadi sejingga, sewarna, bak Bunglon, then I found a reason: ketertarikan adalah bukan bentukan dari cinta.

Bukan semata-mata kesempurnaan rupa ataupun raga (pada dirinya) yang membuat gw jatuh cinta. Gw rasa ada misteri lain. Misteri lain ini sangat sederhana, bahkan kita sendiri nggak tau apa dan bagaimana itu. Namun se-absurd apapun rasanya, tetap dapat membuat kita merasa sempuna (because, he needs me). Hingga, gw yang sederhana, menjadi penyempurna buat Re. Yang sempurna dalam suatu kesederhanaan.

Tetapi pada masa antah berantah, gw juga pernah jatuh cinta sama pria biasa. Pria bertampang sederhana, lempeng, dan nggak begitu tampan. Garing, mengibur, kadang-kadang nggak gitu lucu. Orangnya walaupun pintar, tapi dia konservatif, kaku, stright, kacrud sumicrud, dsb dsb. Yet again, yang sederhana dalam satu kesempurnaan.

See? Keduanya sama-sama punya kata sederhana dan sempurna. So, is it still called a choice? Of course you still can choose, but not among choices.

Choices is a matter of good and bad. Sama halnya dengan sebuah impresionis instan, yang bahkan, kita bisa saja mengalami ketersesatan intelektual, kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk hal-hal yang sangat sederhana.

Well, we simply can choose our destination, and the destination itself is not a choice, it¡¦s our way through life. Jadi? Bagaimana? menjadi yang sempurna dalam suatu kesederhanaan atau menjadi yang sederhana dalam satu kesempurnaan? []

This entry was posted in Cerita Cinta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>