Tikus dan Kemanusiaan

Kemaren gw baru aja bete setengah mati. Gara-gara ngeliat ada orang yang nangkep tikus, trus tu tikus dibakar hidup-hidup, bakarnya pake kertas lagi. Anjrit! Kebayang dong nyiksanya kayak apa?? Andai aja gw saat itu bisa berhenti dan ngeplak kepala si blegug itu.

Alhasil, gw cuma bisa nggrundel (misuh-misuh).

Gw kebetulan pergi sama bokap n temen gw, sebut aja Jacky. Ditengah rentetan protes guah, Jacky dengan oncomnya bilang: “Please deh rum, it¡’s JUST a RAT!” Cannot excuse, setiap tanggapan orang atas perikemanusiaan merupakan suatu ciri sampai dimana manusia itu dengan segala perikemanusiaannya.

Dan entah gw lagi PMS atau emang kesurupan, gw spontan noyor palanya Jacky. Sampe akhirnya kita saling berkeplak-keplakan kepala, dan nggak lama cakar-cakaran beneran.

“Damn you, it’s just a raaaaaaaaaat!!!” Jacky terus berusaha ngelepasin tangan gw yang narik paksa rambut ikal panjangnya yang barusan aja di creambath. Kayaknya itu peak of limitation gw deh. Coz gw jadi ikut nggak beradab n brutal juga ngehadapinnya.

Untung bokap gw turun tangan.

Well, sebenernya udah beberapa waktu ini gw capek banget ngeliat penyakit apatis dan “perikemanusiaan limited” yang gilanya terus terjadi disekitar gw and bener-bener spreading bak silent epidemic.

Semua tindakan heartless itu asli bikin gerah gw. Imajinasi gw yang berenang liar seakan-akan berontak, “Woy ncom, it’s gotta be more than this.”

Gw dulu pernah menjawab pertanyaan di salah satu bulbo FS (yang gw isi kadang serius kadang kagak) tentang bentuk-bentuk tindakan yg dapat merusak moral manusia. Kalo nggak salah dulu gw jawabnya kurang lebih gini:

Tindakan yg dapat merusak moral manusia adalah tindakan-tindakan tak bermartabat, yang dilakukan tanpa berpedoman pada kehalusan budi pekerti serta tanpa dilandasi kesadaran individual yang tinggi.”

Ada tiga kata kunci disitu: tindakan bermartabat, kehalusan budi pekerti, dan kesadaran individual yang tinggi. Semuanya memberi perspektif keteladanan, nilai kritis, harmonis, produktif dan demokratis.

Sekarang ini, lo liat deh, di Indonesia banyak orang yang berpendidikan tinggi tapi cenderung reaktif, defensif, bahkan dogmatis. Typical orang tertutup yang sama sekali nggak adaptif (boro-boro mau sensitif). Pertama, mereka ini amat resisten sama hal-hal baru, kedua, jelas cenderung ingin menyerang, menyangkal dan gak welcome. Padahal katanya bangsa kita ini bangsa beradab yang demokratis, yang tingkatan toleransinya tinggi.

(Numpang mengumpat) Beradab? Demokratis? toleransi tinggi? Pret dut cuih!!

Asal lo tau, gw masih lho, punya temen yang bangga setengah mati sama ke-apatisan yang dia punya. Bukannya dibenerin, malah bangga. Seolah-olah itu ciri moderisme yang harus dipunyai orang-orang dikota besar kayak Jakarta. Bullshit!

Kartini dulu pernah berkata pada teman bersuratnya di Belanda, “Saya begitu ingin berkenalan dengan gadis modern”. Hmm.. Bila suara Kartini menyatakan kekaguman pada fajarnya abad modern, Pramudya justru menyuarakan kekecewaan yang mendalam tentang arti modernisme. Gw bilang, untuk masa sekarang, Pram bisa jadi benar.

Meskipun era modern membawa kebaikan untuk manusia, namun secara paradoks, umat manusia itu sendiri berada dalam “highly ultimate danger” selama ada orang yang masih hidup tidak sebagai manusia, tetapi sebagai binatang.

Gw percaya, bangsa kita memang kena kutuk. Kena kutuk akibat terlalu banyak perilaku kebinatangan yang dilakukan oleh sang manusia yang notabenenya makhluk tuhan yang digembar-gemborkan paling mulia.

Contoh globalnya gini deh, liat aja reaksi dan bentukan sikap egois nan brutal suatu golongan atau masyarakat manusia yang sedang berhadapan dengan golongan atau masyarakat manusia yang lain, yang asing, yang belum dikenalnya, atau yang mana ia tak mau (atau malas) mengenalnya. Mirip halnya dengan seekor ANJING yang mengambil sikap terhadap ANJING lain yang tidak pernah dikenalnya.

Sikap demikian, sama sekali nggak patut dijadikan contoh oleh suatu bangsa atau individu (bahkan OKNUM) manapun juga.

Sepele aja, nggak usah jauh bicara tentang perikemanusiaan. Bicara tentang toleransi aja lama-lama bisa dicap “pendosa”.

(Mungkin paragraf ini agak sarkasme) Saat ini, banyak orang yang merasa membela Tuhan, mengimani sedalam-dalamnya, tetapi dalam prakteknya, NGGAK! Sama sekali nggak mencerminkan sebagai orang yang beriman. Perilakunya rusak, kriminal! Hawa nafsu dituruti, keadilah hidup dikhianati.

Suatu kesia-siaan yang mungkin menggelikan, bahkan mungkin menyedihkan. Anyway, balik lagi ke topik perikemanusiaan llimited tadi.

Kalo gw nonton tipi-tipi (yang Alhamdulillahnya produk kapitalis juga), buset, orang-orang barat kalo nolong orang lain yang susah, nggak nanggung-nanggung. Boro-boro manusia, nolong hewan a.k.a binatang aja sampe sebegitu dibela-belainnya. Rasa penghargaan terhadap kemanusiaan yang luar biasa!

Kalo di Indonesia? Wah Madesu, Suram!

Kegelapan yang ada di Indonesia dipastikan berasal dari dan hanya disebabkan oleh sistem dan struktur sosial yang memberi peluang bagi beragamnya tindakan kekerasan terhadap kemanusiaan.
Kata bokap gw, perikemanusiaan, atau kasih (compassion), atau apalah namanya, memang sepintas tampak lemah, tapi kalau kita bisa memanfaatkan energi yang tersimpan dibaliknya, kelemahan itu bisa berevolusi dan njadiin kita individu yang sangat kuat.

Ingat, sempurnanya tubuh nggak pernah menjadikan jaminan atas sempurnanya jiwa. Namun, bagaimana kita mau menyempurnakan jiwa kalo nggak tertinggal sedikitpun rasa perikemanusiaan didalamnya??? Well, ada yang mampu menjawab tantangan ini?[]

This entry was posted in Nasihat Bokap. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>