Menulis: Mengasah Ketinggian Jiwa

There’s something undescribed excitement about writing the first words of a story. you can never quiet tell where they’ll take you. Gw teringat, Imam Ali menegaskan agar kita mengikat ilmu dengan menuliskannya. Karena itu, menulis merupakan kegiatan hidup yang amat bernilai tinggi dan mulia. Sebab dengan menulis, hidup kita akan terasa lebih berarti.

Bagaimana nggak berarti??? untuk menulis dengan baik, kita memerlukan kemampuan untuk bisa menambahkan a more value into the life itself lalu nggak lupa menganalisa: bagaimana awal terjadinya, bagaimana pola frekuensi kejadiannya, garis merah/hikmah apa yang bisa kita ambil dari sana dsb dsb.

Tanpa kita sadari, menulis (selain berbuah bacaan yang sukur-sukur menginspirasi orang lain) akan menimbulkan sebuah kesadaran diri, juga keberanian berfikir yang dapat menajamkan intuisi serta memberi ruang (seizing the gap) untuk mengasah ketinggian jiwa kita. Maka menuliskan kebermaknaan hidup, bagi gw, menjadi hal utama sebelum kita nantinya nggak mampu lagi menjalani hari sama sekali (baca: mati!). Yeah walaupun sedikit, hidup setidaknya harus memiliki nilai dan arti, at least buat diri lo sendiri.

Lagian nyenengin juga kalee, kalo ada stranger yang baca tulisan lo, dan pada akhirnya bisa menginspirasi mereka untuk berbuat baik.

Well pokoknya, when you see something unusual, just not content to look at it. You must capture it. Inget kata Om Liang Gie, “Semua akan sirna, hilang, kecuali yang ditulis”. Bagi gw, menulis adalah sesuatu hal yang indah (beauty) and beauty is really worth preserving.[]

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>