a Work Attitude

Semoga menjadi inspirasi untuk para engineer indonesia.

Belakangan ini Boss gw kasian sama gw, katanya makin hari, makin banyak kerjaan yang dibebankan ke gw, dan semuanya itu menuntut gw untuk bisa lebih pintar memotong-motong konsentrasi gw seperti puzzle, lalu merangkainya kembali secara tepat di detik-detik terakhir.

Tapi anehnya, gw kok malah berasa makin enteng, nggak ada kerjaan. Gw nggak ngerasa ribet ataupun pusing kayak dulu-dulu lagi. Gw pun ngerjain semua kerjaan itu (mengutip kata Will: Those Hell Jobs) lebih santai, tapi tepat waktu dan semua pihak senang. Gak ada tekanan sama sekali, kayaknya fun-fun aja gitu.

Hahaha (sembari berdiri dengan dua kaki terbuka lebar, tangan di pinggang lalu tertawa puas, mirip adegan di film-film kartun), Gw berkata dalam hati: “Makin keren aja gw ini!”. Abis ini dilempar bola bowling sama icha kayaknya. Hehehehe.

Dalam kondisi yang luar biasa ruwet gini, entahlah, gw malah menemukan suatu kelegaan tersendiri. Gw makin merasa berjalan ke arah titik terang dalam mencari some way out to chase a freedom to liberate my own self.

Ya tapi kan nggak dalam waktu sedetik, ting, lantas gw bisa secara otomatis beradaptasi dengan demikian cepat. Freedom isn’t free it self! you have to work hard to free your freedom, dude.
Dalam perjalanan hidup, gw selalu mencoba meraba peta implisit yang dibisikkan Tuhan melalui barisan tentara langit-Nya. Sehingga apapun kondisinya, gw sepertinya harus menemukan “the thin red line” alias pemaknaan yang bergolak didalamnya terlebih dulu, sehingga apapun yang terjadi, mau itu baik ataupun buruk, gw bisa lebih mensyukurinya aja.

Begitu juga gw dalam hal memaknai arti “pekerjaan”.

Kita harus bisa bekerja berdasarkan PASSION. Maksutnya ya.. being happy dengan apa yang kita kerjakan plus (kalo bisa) punya lingkungan yang juga mendukung. Pokoknya kata mbah gw, just don’t waste your time, pokoke make your works meaningful deh! (Haiiyah, mbah yang mana neh???.)

Mengutip dari blog gw sebelumnya bahwa: perbedaan mendasar antara pola pikir pekerja Indonesia dan pekerja yang bukan made in Indonesia, jelas terlihat pada cara dan apresiasi mereka mempertanggungjawabkan pekerjaan secara moral, terutama untuk dirinya sendiri. Yang gw amati, kebanyakan orang Indonesia lemah pada sisi Management, terutama Self Management (walah MADESU). Selain itu kita juga lemah dalam hal mengkombinasikan analisa dan intuisi.

Lalu nggak ketinggalan masalah keterampilan multibahasa, coz secara nggak langsung bahasa terkait dengan how to maintain your own personal communication (to make a good relationship). Kan kita jadi bisa iseng-iseng ngajak mereka berdialog cuma buat nyuri work attitude mereka yang menurut gw top markotop bin jos markojos buanget. (Ini untungnya kerja di perusahaan asing internasional).

Pada suatu sore, Si Ricky bilang ke gw, “Arum, you should deeply understand one basic thing before you do any kind of hell works: Technical skill can be gone, but one thing would never gone.. it’s attitude (work attitude maksutnya), coz it’s the only way to tackle the world and help you to make a better life”.

Well, emang sih not in-a-hell-of-a-life you can reach any greatest achievement in your life before you can form and keep developing your work attitude. Dan dua hal yang punya “very significant role” terhadap pembentukan dan pengembangan work attitude, yaitu: Self Esteem (Rasa Percaya Diri) dan Good Habit (Kebiasaan Baik).

Self Esteem. Rasa percaya diri disini bukan berarti sama dan semakna dengan kePEDEan para Ababil (ABG Labil), melainkan lebih kepada: rasa percaya diri pada keunggulan pemikiran kita dan pada kemampuan kita untuk berpikir. Sehingga kita juga memiliki rasa percaya diri tentang mampu atau tidaknya kita menanggulangi tantangan dasar kehidupan, yang berdampak juga pada timbulnya kemampuan dari dalam diri kita untuk merasa bahagia dan menghargai diri sendiri (adanya peningkatan emotional quotion-kecerdasan emosi).

Atau secara mudahnya gw gambarkan sebagai: kepercayaan diri bahwa kita MAMPU untuk belajar, membuat pilihan dan keputusan, dan mengelola suatu perubahan.

Pekerja lokal jarang mau berpikir filosof kayak gitu. (Well jujur aja, gw kalo nggak ketemu Ricky juga pasti NGGAK akan tau bagaimana mengembangkan self esteem ini dari core terdalam diri gw). Pekerja kita cenderung nggak perduli terhadap segala perkembangan self esteem mereka karena dibutakan oleh materi. Money Rules, money rules, dan money rules melulu.

Tapi bagi gw, gimanapun, idealisme kerja akan TETEP sebanding sama materi. Pekerja yang memiliki kebebasan untuk bersikap kreatif, sisi baiknya akan muncul. Dan dalam naungan company yang terbuka dan adil, pekerja tersebut akan mempunyai nilai tersendiri. Secara otomatis, pencapaian itu AKAN diberi imbalan dalam hal keuangan. Dan nggak lupa sekaligus bonus bagi jiwa si pekerja tadi, karena apresiasi yang diberikan perusahaan atas nilainya itu. (Nilai bersifat abstrak dan nggak bisa dicairkan dengan uang.)

Habit (Kebiasaan). Berikut adalah beberapa kebiasaan yang gw liat emang fundamental banget dalam usaha pembentukan work attitude:

Pertama: Kebiasaan hidup dengan sadar. Mengambil kutipan Jack Welch of GE Company: “Rasa percaya diri, berterus terang, dan kemauan sungguh-sungguh untuk menghadapi kenyataan, meskipun hal tersebut sangat menyakitkan adalah inti dari hidup dengan sadar.”

Kedua: Kebiasaan menerima apa adanya. Dengan menerima diri kita apa adanya, kita akan lebih cooperative dan down to earth (semua perasaan defensif dan keinginan untuk tidak mau menerima kritik ataupun ide-ide yang berbeda akan jauh lebih berkurang). Sehingga kita bisa menerima banyak hal baru (yang ternyata tanpa kita sadari positif) tanpa menimbulkan konflik.

Ketiga: Kebiasaan bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Kita adalah penentu pilihan dan tindakan kita sendiri. Untuk itu kita juga bertanggung jawab atas kehidupan, ketentraman dan pencapaian tujuan kita; dan jikapun kita membutuhkan bantuan orang lain untuk mencapai tujuan itu, kita harus memberikan sebuah “Nilai” sebagai imbalannya. Itu bentuk tanggung jawab kita. (Secara gamblang gini: gw mau hidup cukup, dan untuk mencapai tujuan gw itu, gw butuh kerja, otomatis ada imbalan yang harus gw kasih ke perusahaan yaitu: a value atau sebuah nilai dari diri gw.)

Keempat: Kebiasaan mempertahankan hak. Gw rasa ini lebih merupakan sikap kita untuk membela keyakinan dan pendirian kita menurut cara-cara yang memadai dan, jangan lupa, dilakukan pada situasi yang tepat.

Kelima: Kebiasaan hidup dengan tujuan. Hidup dengan tujuan itu sangat penting dan nggak mudah. Kita harus mampu mengidentifikasi sasaran (baik jangka pendek dan jangka panjang), lalu memprediksi tindakan yang diperlukan untuk mencapainya, belum lagi usaha buat ngatur perilaku kita untuk memperoleh sasaran ini (disiplin oy!), ditambah lagi perlunya memantau tindakan-tindakan yang udah kita lakukan untuk meyakinkan bahwa apakah kita udah berada pada “track’ yang benar apa nggak, dan terakhir, jangan lupa untuk memperhatikan hasilnya apakah udah sesuai sama goal kita atau belum (semoga aja udah, karena kalo belum, lo harus feedback lagi keatas.. Capeee deyyh).

Keenam: Kebiasaan memiliki integritas pribadi. Jadi gini, integritas pribadi adalah hidup sesuai dengan apa yang kita ketahui, apa yang kita nyatakan, dan apa yang kita lakukan; berkata benar, menepati janji, memberi teladan tentang apa yang kita yakini, dan memperlakukan orang lain dengan adil dan murah hati adalah beberapa langkah kongkritnya.

Anjrit, banyak amat sih gw nulis? Hahaha kesurupan lagi kayaknya.

Ya terlepas dari kesurupan atau nggak, pokoknya, gw cuma ngingetin, Lo melakukan sesuatu hal, bukan karena hal tersebut menyenangkan buat Lo (meskipun memang demikian). Dan Lo melakukan sesuatu hal, bukan karena secara politis memang benar. Tapi Lo melakukan sesuatu hal tersebut karena Lo harus sangat percaya dan meyakini bahwa antara ekspresi kreatif seorang pegawai dengan suksesnya suatu perusahaan (diucapkan dengan penuh intensitas) sangat-amat-terkait-erat.

Dan untuk mencapai kebesaran diri lo sendiri, mulailah dari tempat dimana lo berada sekarang, gunakan apa yang lo punya, dan lakukan apa yang lo bisa. Just remember, when you’re high on a mountain you cannot be anything but what you are.[]

This entry was posted in Telco Industry. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>