Idealisme dan Sebuah Kontroversi Realitas

Weekend days. Tadinya gw niat mau makan-makan di Solaria Plaza Semanggi karena BJ, Senior Manager Finance gw, ultah. Tapi rencana itu gagal. Gw “diculik” Ricky (Boss gw), buat ngobrol seputar kerjaan. Katanya sih cuman 5 menit, tapi buset.. (jangan tanya deh..).

Ricky tuh best friend gw di kantor, walaupun beda negara, bahasa dan budaya, dia concern banget sama gw, secara emang dia dulu yang interview gw waktu recruitment gitcuu. Intinya gw sama Ricky diskusi masalah “work idealism and reality controversion”.

Why? Karena untuk mencari pekerjaan yang fit pada kondisi apapun, kita selalu dijejelin sama dua pilihan yang paling common: Money (Reality) atau Work Passion (Idealism).

Money. Nggak mungkiri, kita sebagai manusia cenderung ingin pemuasan materi, yang kalo kata Lia: “Realistis aja nyet, semuanya tuch dibeli pake uang, Money rules! Belom lagi kalo ntar lo udah jadi nyokap-nyokap, kebutuhan banyak, ini itu, iya kalo suami lo ntar pejabat negara yang suka korupsi, lo tinggal sante. Makanya rum, mumpung masih muda, kita harus bisa terus naikin rate sallary kita.”

So??

Kita pasti nggak akan berenti nyari kerjaan yang ngasih gaji pualing gede, kalo bisa: sekian (3 digit) juta perak tanpa dipotong pajak. Haiyyah.

Work Passion. Kadang, ada orang yang nggak ngerasa fit atau cocok sama kerjaan dia sekarang, ConSo (Contoh Soal) kayak temen gw si Riza. Riza kerja di salah satu Bank milik negara yang ngasih gaji & tunjangan gila-gilaan. Tapi apa? Dia nggak puas!! Lha wong dia anak teknik bergelar engineer, tapi kok kerjaannya dealing sama finance (kalo kata gw sih why not?). Yaa ada semacam sesuatu yang ketahan dan undescribed didalam diri dia yang nggak terima kalo dia harus kerja di Bank.

Terakhir ketemu, Riza bilang ke guah, “Yoem, gw mau resign aja deh dari sini, gw nggak betah kerja di Bank. Gw tuh Engineer IT, kalo gw tetep kayak gini terus-terusan gw ngerasa ada puzzle pencarian diri gw yang missing.”

NAH! Bingung kan lo?

Ya walaupun kadang, gw juga menemukan ada beberapa orang naif yang dengan sangat tololnya bilang (yang ini gw nggak mau nyebut nama): “Ya elah Rum, plis deh, kenapa nggak cari kerjaan yang cocok trus ngasih gaji gede? Kayak susah aja nyari kerjaan, Jangan dibikin ribet deh..” (Gw sih waktu dia ngomong gitu cuman cengar-cengir aja, sambil dalem hati mbatin: “Ampuni aku Tuhanku, wahai yang maha pengasih, maha penyayang lagi maha pengampun, jika sampai terucap ataupun terdesir sumpah serapah dan harapan dalam dadaku tentang seburuk-buruk keburukan akan datang kepada orang ini..”

Woy!! Balik lagi dungs ke gw & Ricky tentang masalah idealisme dan sebuah Kontroversi realitas.
Di perbincangan itu, gw bilang ke Ricky kalo selama pengamatan gw setahun ini, ternyata ada dua type pekerja. Ada beberapa orang yang bekerja untuk kepuasan diri, tetapi ada juga orang yang bekerja demi uang.

Yang gw liat, sepertinya ini bukan masalah pilihan untuk menjadi type yang mana, tapi lebih ke: Mampu nggak sih orang itu memproyeksikan rasio ability yang dia punya terhadap jumlah uang yang dia anggap worthed atas level performansi yang dia capai?

People just don’t care. Pokoknya dengan performansi rendah, nggak bekerja sungguh-sungguh, tapi gaji harus setinggi langit.

Well, bagi gw pribadi (ini cuma opini lho), apapun yang kita perbuat, semua ada tanggung jawab horizontal dan vertikalnya. Horizontal salah satunya yah sama sesama rekan kerja (at least kalopun suatu saat lo sukses, orang nggak akan mencibir sinis tentang pencapaian lo itu). Dan kalo yang vertikal, bisa ditebaklah, itu tanggung jawab lo sama Tuhan. Walaupun ada beberapa orang yang bilang, “Nggak ada lah relevansinya, Rum”. Tapi gw insist, bekerja itu bagian dari ibadah, so pasti ada yang dipertanggung jawabkan secara vertikal.

Gw inget, si Dodi, temen gw pernah bilang: “Makan tuh idealisme lu, ngapain lo kerja ampe mampus-mampus, tapi yang lain pada santai gajinya juga sama aja, tuh liat sekarang lagi pada ketawa-ketawa maen tenis meja.”

NAH! Gw bilang sih itu pemaknaan yang keliru. Keliru pertama: Dengan melakukan pencapaian idealisme kerja, gw nggak berarti harus kerja keras banting tulang sampe mampus (jaman sekarang, otak mendominasi otot, bung!). Keliru kedua: Kita nggak perlu ikut-ikut orang yang punya work attitude santai dan nggak bertanggungjawab seperti contoh tadi (kalo santai, tapi bertanggung jawab penuh¡ atas pekerjaannya, ya nggak masalah).

Hmm.. gw jadi teringat kata-katanya Jerry Hung, temen gw yang lain: “The chance only given to the one who well-prepared!”. Gw lantas berpikir, mungkin itu bedanya engineer Indonesia sama engineer yang bukan indonesia. Perbedaan mendasarnya jelas terlihat pada cara dan apresiasi mereka mempertanggungjawabkan pekerjaannya secara moral, terutama untuk dirinya sendiri, sehingga aura tersebut berimpact keluar dari dirinya dan menghasilkan performansi kerja yang luar biasa baik (lalu otomatis lah, yang namanya duit juga bakal ngalir sendiri karena prestasi kerja yang kayak gitu).

Jadi, intinya (balik lagi), gw dan Ricky menyimpulkan bahwa Idealisme dan realitas (tuntutan hidup = money) bukanlah bagian yang terpisah. Idealisme kerja harus kongkrit sama realitas yang ada. Well, tapi nggak semudah itu, untuk mewujudkannya kita butuh pondasi yang kuat, yaitu Work Attitude.

Hahaha.. nggak pake Bahasa Indonesia atau bahasa apa, bisa ditebak: Gw selalu mendominasi pembicaraan. Tapi memang, saat ini yang bisa gw lakukan hanya berdialog, toh hanya melalui dialog seperti inilah kita nggak akan merasa asing, ataupun diasingkan.

Ricky pun malam itu pulang dengan membawa kebanggaan. Coz dia menutup malam itu dengan kalimat:”It’s really an honour to meet you, you are really smart, independent and mature woman. Your character is very strong, and I can see what you will be in the next few years.”

Dan pada malam yang sama, gw pun pulang dengan sejuta tanda tanya, tadi gw kesurupan apa yak… sampe bisa ngomong gitu? Hadeuh.[]

This entry was posted in Telco Industry. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>