Perempuan dalam Bingkai Modern dan Masa Lalu

Beberapa waktu lalu, menjelang perayaan hari kartini, gw memutuskan untuk menulis. Isinya menurut gw biasa-biasa aja, ulasan tentang bagaimana membuat kehidupan wanita menjadi lebih baik, dan tentunya nggak lupa gw jabarin dua faktor utama yang saling mendukung dan terkait dalam ulasan itu. Pertama: faktor internal berupa kecerdasan si perempuan itu sendiri dan yang kedua: faktor external berupa keterlibatan pasangan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung peran masing-masing agar nggak terjadi ketimpangan ataupun ketidakadilan buat si perempuan.

Well, niat gw sih sebenarnya nggak sampe sejauh itu. Gw cuma mau ngebuka dikiiiit aja, tentang realita perselingkuhan, yang sebenernya terjadi karena kesalahan dua belah pihak (baik laki-laki dan perempuan). Tapi karena konteksnya: ditulis pada perayaan hari kartini, gw yang badung ini agak-agak nyolot buat menambahkan sedikit hiperbolisme kedalam bahasa-bahasa gw (biar lebih nampol dan hot maksutnya).

Tapi entahlah, tulisan itu sepertinya menimbulkan suatu super-chemical-reaction pada masing-masing orang yang mbaca, sehingga diluar prediksi gw, buanyak banget yang kasih komentar, baik langsung di blog ataupun di imel.

Yah, yang komen bagus dan seiring sejalan sih nggak papa, membuat gw tambah cengar-cengir ke-GR-an, nah yang ngasih komen sadis-sadis dan menghujat ini yang bikin gw puyeng (masa tulisan gw dibilang hipokratik, sarkasme, dsb dsb??).

Emosi neh!

Zachrie, yang juga pengamat sosial gw, menyadari hal itu. Dan dia cuma ketawa ringan sambil berpesan: “Sabar.. sabar.. kamu harusnya bangga, Rum! kamu punya ekspresi dan sense buat ngebebasin dirimu. At least kamu bisa nulis apa yang orang selama ini hanya bisa membayangkannya aja. Itu kelebihanmu! Ya.. kalo kamu nggak bisa berlari sambil teriak, kan kamu masih bisa merayap sambil berbisik, pelan pelan aja.. itu baru namanya merendahkan diri meninggikan mutu”

Walaupun wejangan itu terdengar sangat bijak, reaksi gw tetep aja-aja manyun manyun nggak jelas. Mengetahui hal itu, Zach melanjutkan: “Ini jaman dimana semua orang sudah mengalami tingkat edukasi dan literate yang sangat tinggi, sehingga sudah selayaknya buku dihadapi dengan buku, gagasan ditarungkan dengan gagasan, dan tulisan dihadapi dengan tulisan, sudahlah.. mending kamu bikin tulisan lagi untuk menjelaskan inti persoalan yang kamu sampaikan di tulisanmu kemarin melalui perspektif yang lebih objektif lagi..”

(Tapi sayangnya, gw udah cukup males buat ngebahas-bahas yang kemaren)

Namun, dari situ, kami malah jadi punya bahan baru dan seru buat diskusi, seputar: bagaimana menjadi perempuan yang mandiri dan modern tetapi tetap menjunjung hal-hal yang berbau norma-norma tradisi konservatif, seperti: menyadari posisi dan perannya sebagai perempuan, memiliki kesabaran tingkat tinggi, menghargai orang lain, mau mendengar, bekerja keras dan membiasakan tepat waktu.

Garis merah yang dapat kami tarik adalah: bahwa citra feminism yang selama ini diteriakkan oleh kaum perempuan, kayaknya sudah mulai melenceng, baik dari kaidah logis maupun agamis. Dari situ, gw menemukan satu teori baru, bahwa sebagai perempuan yang cerdas, kita juga harus dapat mendefinisikan variabel kesetimbangan tertentu sebagai tolak ukur (atau bahasa tekniknya: threshold) untuk menentukan apakah kita sedang berada di low level atau bahkan malah over threshold.

Gunanya ya sudah pasti, kita jadi lebih pintar untuk memutuskan kapan mempercepat dan melambatkan langkah agar segala sesuatunya berjalan secara seimbang. Nah dengan begitu, otomatis, kita bisa jadi kekasih sekaligus partner yang klop buat pasangan (ini pake kondisi ideal sih, tau realitanya ada apa nggak)

Disitulah letak arti kesabaran buat seorang wanita. Kesabaran dalam menahan ego.
Waaaah… gw jadi ngerasa berhutang banyak sama buku-buku, blog-blog, infotainmen, dan (yang utama) berhutang banyak kepada orang-orang yang ngajak gw berpikir.

Kalau kita masuk ke dalam paradigma kebebasan wanita yang salah kaprah, bisa-bisa nanti terbawa arus. Wadooh kacau nih!! Tapi gw yakin, kita masih bisa mengubah. Masa kita kalah sama ikan laut? Ikan laut hidup di laut yang airnya asin, tapi toh dalam kondisi environtment yang seperti itu (asin), nggak merubah si ikan menjadi asin. Makanya jangan ndeso! Introspeksi dong. Gw idem deh ama katanya om Socrates kalo “hidup yg tidak diperiksa ulang tidak pantas untuk dihidupi”

NAH! sekarang untuk menjadi modern, sophisticated, intelligent but humble and lovable women, pertanyaannya bukan: bisa atau nggak? tetapi: mau atau nggak?
Well, life isn’t fair but that doesn’t mean we have to be unfair.[]

This entry was posted in Catatan Perempuan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>