People Who Hurt Other People

For me, being a woman…. and competent is a burden.

I’ve been living in this heavy burden for my whole life. Kadang gw capek melihat bagaimana orang memperlakukan gw. Lantas gw melangut dan akhirnya bertanya, kenapa sih gw nggak dilahirkan sebagai laki-laki aja? Atau gw kadang bertanya, kenapa sih gw nggak jadi perempuan biasa-biasa aja yang anteng dan nggak banyak mempertanyakan tentang kehidupan yang kadang berjalan tak sejajar keinginan?

I’ve lived so hard because I wasn’t afraid to live, and I wasn’t afraid of die. Kadang, penderitaan dan keberuntungan datang dengan wajah yang sama, dan sungguh, kita masih sulit untuk membedakan yang datang ini yang mana? karena keduanya terjerat dan saling terlibat

Days ago, some customer yelled at me: “Jancuk! nek kowe lanang wes tak tapuki raimu, cuk!”. And he threw me a cellphone.

The problem is simple: he cannot afford to loose because I have a valid database. I have a technical proof on my hand and I can explain all of his question. And I am a woman.

Dalam rasa malu akibat kekalahannya, dia hanya bisa berteriak: “Koen iku kewanen rene dewekan, perusahaanmu yo aneh, kok beraninya kirim perempuan kesini! cari mati!”

I did cry. But not because of his harsh words. But because of his racism. Am I wrong for being a women? is it a mistake because I have boobs and vagina? Is it really a sin for this woman struggling earning a living for her family? Hufft, being a woman and competent is really a burden.

Gw sedih memikirkan betapa manusia bisa tidak berhati-hati menjalani hidup. Betapa mereka bisa kehilangan rasa takut dan melupakan bahwa semesta selalu terjaga dan karma itu ada. “Who are we in this complicated world?” ini quotenya Rumi di film The Kite Runner. We are nothing but the dust in the wind.


Bagi gw, hidup manusia itu selalu berstruktur. Ada orang yang hidup tapi belum menemukan dirinya. Ada yang baru menemukan dirinya. Ada yang tak tau siapa dirinya. Bahkan ada yang tak perduli dia akan seperti apa nantinya. It’s a complete mess.

Let’s point out these 2 major life quotes:

Quote 1: Inna akramakum ‘inda allahi attakum. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa diantaramu.

Quote 2: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Karena sesungguhnya ketika kita berbuat baik kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada diri kita.

Sedari kecil, dua hal diatas sangat berarti dalam hidup gw, karena mereka adalah family virtues yang harus gw amalkan dalam kehidupan gw. Menjadi orang yang bertakwa dan bermanfaat untuk orang lain adalah dua nasehat penting warisan dari bapak.

Warisan ini menjadi “pagar” di kehidupan gw. Pagar batas dimana gw selalu diwajibkan untuk selalu mempermudah hidup orang lain, baik dalam konteks pekerjaan ataupun dalam lingkup kehidupan sosial sehari-hari. So, I really hate bulliers. For me, a bullier is always been a heavy resistance for other people’s life. Bullier selalu menyusahkan hidup orang lain. Bagaimana kita bisa menabung takwa dan amal kebaikan jika kita masih saja membangun pondasi hidup kita dengan menyusahkan dan menyakiti orang lain?

Kita nggak akan pernah sadar sejauh mana kita bertindak dengan sedemikian buruk dan memberikan efek kerusakan mental kepada orang lain atas perilaku inhuman (perikemanusiaan limited) kita. Our bad words are really can affect other people’s life.

Misal, kita dengan sengaja menyebut seseorang tolol dan serta merta melempar kertas hasil kerja kerasnya itu tepat di wajah dia (padahal ada tempat sampah, lho.. kenapa juga harus di muka orang?). Lantas orang ini dengan sedih pulang ke rumahnya, lalu merasa depresi dan memutuskan mati gantung diri.

Hm, sudah berapa kali kah kita membunuh atau menghancurkan hidup orang tanpa kita sadari? Please people, take a hold on life. Berhati-hati lah terhadap hidup. Milikilah rasa takut dan malu kepada semesta pemilik kehidupan. Seperti ungkapan yang dikenal manusia dari ucapan kenabian terdahulu: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR. al-Bukhari).[]