Kota 3 Warna


Saat ini gw tinggal di kota Palembang. Kota dengan jumlah penduduk terpadat dan tingkat kriminalitas paling tinggi se-NKRI. Well a bit scary awalnya, tapi ternyata tawaran angka pada slip gaji memang sakti dan bisa mengalahkan ketakutan jenis apapun. Hahahaha.

Untungnya (sebagai orang jawa emang selalu adaaaa aja kata: “untungnya”), di kota ini gw ketemu temen SMA gw, panggil aja Ola. Dan satu orang lagi, namanya Cita, perempuan lucu ini sering kami panggil “adeknya” karena emang Cita paling kecil diantara kami bertiga.

Demi misi: nyari temen atau minta ditemenin, gw memutuskan untuk pindah kost ke tempat kost Ola dan Cita. Dan memang betul, setelah ngekost bareng, kesempatan untuk menggila bersama-sama terpampang lebar dan nyatahhhhh.

Kami bertiga termasuk wanita-wanita pekerja keras teladan. Ola kerjanya ngurusin pembangunan tower, Cita kerja sebagai marketing di perusahaan Jepang, dan gw? Kerjaan gw apa ya? Jangan dibahas lah.

Kalo soal kerjaan, peringkat nomor 1 dipegang oleh Ola, gw nyebut dia: maniak lembur. Karena at weekdays, Ola mirip bencong taman lawang, berangkat pagi, pulang juga pagi. Setiap hari tanpa absen. Menurut keterangan si Ola, dia ngejar lemburan karena dia suka banget B.E.L.A.N.J.A. Jadi kalo kerja ngga pake lembur, hobi dia yang satu itu bakal NGGAK tersalurkan. Karenanya lah, gw kesulitan cari temen main badminton saat weekend (sabtu pagi 05:00-13:00 adalah jadwal Ola molor tanpa gangguan).

Peringkat nomor 2 dipegang Cita. Jam pulang kerja Cita agak lumayan sore. Yah antara jam 7 malem sampe jam 9 malem lah. Itu pun gw selalu tau kalo dia pulang karena dia pasti mampir ke kamar gw yang mirip-mirip pelabuhan transit sangking strategisnya. Setiap kali gw buka pintu, selalu ada hal baru yang dibawa Si Cita, kadang bikin gw terkaget-kaget, kadang bikin gw malah ngakak kegirangan. “Mbak, tadi mobil gw nolongin orang kecelakaan! Berdarah-darah!”. “Mbak, tadi gw berantem ama orang Palembang!”. “Mbak, tadi ada penjarahan!”. “Mbak, gimana kabar mas Bimo? Cieee..”. “Mbak, kayaknya gw mau gila deh!”. “Mbaaak, kerjaan gw mbaaak!!!!”. Dan masih banyak lagi cerita-cerita Cita. Sama aja kayak Ola, karena hari Sabtu si Cita kerja setengah hari, gw kesulitan ngajak dia main badminton saat weekend.

Peringkat ke 3, ya jelas gw, siapa lagi? Kerjaan gw cuma dua: eksperimen sama bales imel boss gw. Gw pegang area satu sumbagselbabel untuk maintain sinyal 2G-3G salah satu operator baru nekat Indonesia. Gw nyebut gitu karena emang project ini disebut The Titan Project alias project para dewa. Kerusuhan terus setiap hari, karena area gw pegang 40% total revenue dari si Operator dengan logo angka 3 ini. Hahahaha. Tapi lha ya kok aneh, setiap hari gw masih bisa pulang jam 5 sore, trus sabtu minggu gw libur total. Kalaupun gw dicaci maki, difak-fakin boss, ya gw masih bisa ketawa ketiwi bahagia. Konsep kebahagian gw cuma satu, kalau sedih dan merasa duka lara, lihatlah slip gaji. Dijamin gw semangat 45 lagi.

Gw, Ola dan Cita sering menggila menghabiskan waktu dikala wiken dengan cara berbeda. Jarang kami menghabiskan waktu bertiga. Kadang cuma gw sama Ola, kadang cuma gw dan Cita. Kalaupun kami menghabiskan waktu bertiga, gw rasa Palembang bisa kerusuhan, karena we can talk about so many things in hours and the only thing can stop is: Ola atau Cita kehabisan rokok.

Kami bertiga sering banget punya ide gila tanpa terkendali. Misalnya aja, tiba-tiba pada suatu sabtu siang, Cita gedor-gedor kamar gw sambil bilang: “mbakkk!!! Gw streeeessss!! Gw mau liburan, ni kunci mobil, terserah elu deh mau bawa gw kemana, yang pasti gw harus keluar Palembang!!!!”. Setelah secara spontan melempar kunci mobil ke arah gw (lebih tepatnya: ke muka gw), Cita melemparkan dirinya ke tempat tidur gw yang serapih tempat tidur hotel. OMG she has no idea how hard it is to make those seprai lempeng, alus, dan super mulus.

Gw cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat Cita menangkubkan mukanya ke bantal-bantal itu lalu berakting pura-pura mati. Cita udah kayak adek gw sendiri. Setelah itu seperti ritual umumnya, gw telpon dan mengajak serta Ola dan tau-tau kami bertiga sudah sampai Lampung, kadang Bengkulu, Lahat, Muara enim, atau cuma sampai Prabumulih.

Kadang kalo Cita sibuk, gw muter-muter berdua sama Ola ke Mall. Ola hobby banget ke Mall, dan gw dipaksa untuk nemenin dia. Karena gw tau, kalaupun Cita idle, Ola ngga akan mampu maksa Cita turut serta, karena Cita antipati sama Mall. Sedangkan gw, gw ngga pernah antipati sama siapapun kecuali boss gw si Ankit, indiahe edyan, dan semua cowok bajingan yang suka nipu dan nyepikin cewek-cewek lugu kayak gw. Ngapa curhat bukkkk..??

Biasanya kalo jalan-jalan sama Ola itu endingnya pasti setak di cafe atau restoran nggak jelas, lalu diskusi hal-hal yang sifatnya ngulik sejarah dan budaya. Lalu diskusinya agak mirip demo didepan kantor lurah dengan skala kecil, soalnya Ola kalo cerita suka agak-agak sambil gebrak meja dan teriak-teriak saat ngga setuju sama beberapa policy pemerintah. Kadang diskusi kami juga agak mirip rapat PKI akibat kebul asap rokok Ola yang sebal-sebul tanpa henti.

Beda lagi kalau gw ngobrol sama Cita. Obrolan Cita lebih ringan dan bebas kerutan (pada dahi). Yang Cita bahas lebih ke kondisi real pada lapangan untuk daerah Palembang dan sekitarnya. Karakter orang native Palembang emang kadang suka bikin kami terpingkal-pingkal geli ataupun bikin kami marah bukan main terutama untuk hal berlalu-lintas dijalan raya. Sampai si Bimo, pacar gw yang sundanese parah, kalo pengen nyetir serabutan, sering banget bilang: “Kela kela.. Di-Palembang-keun we lah..” (Bentar, kita nyetir pake cara Palembang aja..). Hahahaha.

Mereka-lah keluarga gw di Palembang. Dan mereka adalah satu dari dua hal yang bikin gw betah tinggal di Palembang (yang pertama pasti hahahaha slip gaji tadi. Hahahaha.)

Well, ternyata tinggal di Palembang nggak selamanya madesu dan miserable seperti kata orang-orang. Malah gw ngerasa hidup gw berwarna banget disini. Yah semoga aja gw betah terus deh ya.[]

Ditulis pada ketinggian 3500 kaki diatas permukaan laut.

Pria dan Puisi


“Jane, where are you?”

Membaca message dari lelaki itu di ponsel gw, detak di dada ini spontan terasa dialiri aliran listrik 15 juta Kilovolt. Suddenly stop beating, I feel very light and loose and I felt that there’s million sparkles around.

This man, sebut saja Bimo, has been so delicate, sympathetic, loyal, caring, untutored, gentle, and I am.. in love with him.

He’s the man I am looking for. Totally, head to toe. At least for current.

Senyum-senyum girang, gw mereply message dari dia: “Gw lagi di kosan bim, biasa lagi ngitung kancing, kira-kira siapa yang bakal traktir gw dinner malem ini”

Ngga lama ponsel gw kembali berbunyi: “kalo gitu gw aja yang traktir. Mau gw jemput atau.. Lo jemput gw?”

OMG. Another heart attack! He’s in town!

Gw berasa heng selama 10 menitan. Sambil berusaha mengumpulkan segenap jiwa raga gw yang tersisa, gw senam pernafasan sebentar, huffffttt. “Errrttt, Earth is calling Jane, errrtttt.. Please get back to earth.. Errrt, where the hell are you, Jane?!”. Gw pikir gw udah gilak. But it did happen. Gw beneran Heng!

I run crazily inside kostan gw sendiri! Padahal sempit lho kamar gw. Chaotic banget lah pokoknya. Bingung mau mandi apa nggak, mau pake minyak wangi yang kebuah-buahan atau yang keseksi-seksian, make warna alis coklat atau item, make kebaya kartini atau jeans+kaos aja, Ah I am too.. HAPPY!!
Sambil mengetuk-ngetukan jemari gw ke setir mobil, gw nunggu Bimo dideket tempat dia nginep. Rasanya resah. Kayak balon aer yang hampir pecah.

Gw bolak-balik nelen ludah sambil ngeliat kaca spion. Damn, it feels like forever for waiting him like this. Where is he? Is he okay? Does he know the road for getting to this parking lot? Is he really here? Is he still remember my car?

I can’t control my self. I’m too falling for this guy. It’s been a while for I never met this kind of guy anymore, After ahmad, after Bilven, after I lost my Ahmad and my Bilven.

Dan gw akhirnya melihat siluetnya dari jauh. Still the same. Same old Bimo. Tinggi, Kurus, Ceking, dengan bahunya yang panjang dan lebar. Just wearing simple T-shirt and jeans. Of course, masih sama, megang rokok ditangan kiri. Yep, dia kidal.

Bimo mengetuk kaca jendela gw, “tuk-tuk”. Gw melirik sekilas. Pura-pura acuh. Kacamata Rayban Bimo, yang juga jadi kesayangan gw, tepat menempel dikaca dari sisi lainnya. Gw tersenyum sambil membuka kaca perlahan, “Lama nian, Tuan?”.

Bimo cuma tersenyum, menghisap rokoknya sekali, lalu membuangnya entah kemana. Dia memberi isyarat agar gw pindah dari posisi gw duduk. He’s taking the wheels.

Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya adalah seni. Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang keramat, yang luhur, well.. segala yang indah dalam hidup ini buat gw adalah puisi.

Persis seperti Bimo. Bagi gw, dia adalah puisi. Dia seperti kata indah yang mendebarkan jiwa. Dia bak rima kalimat yang mampu melangutkan rasa.

Dia indah. Dia penjarah. Penjarah hati gua.

Gw ketemu Bimo secara nggak sengaja di kota yang berbeda. Bimo tinggal di Muara Enim, kerja di pertambangan batubara, sedangkan gw tinggal di Palembang yang jaraknya kurang lebih 8 jam via jalan darat. Biasalah, gw kenal Bimo karena ternyata dia adalah temennya temen gw. Setelah kenal lumayan akrab, kami kerap saling mengunjungi satu sama lain.

At first, I’m not paying so much attention to him. He’s just like ordinary guys with no special sparkle. Even Bimo betul-betul jadi makhluk extrateresterial buat gw. Until that day. The day that I have to be in his car for hours, stuck with him, only him. And we both did everything to kill the boredom.

We’re talking about politics, jokes, interests, hobby, routine activity, work, about shores and mountains. Listening U2 together for hours. Ugh, Gw menemukan orang yang betul-betul mampu berdialog dengan gw. Both way. Perfectly.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Bagi gw, isi dibalik krempengisme si Bimo adalah poetic. I fall for his substance. As we drifted to another place in time, this feeling of mine was so heady and sublime, I lost my heart to him.

Hari itu, Bimo juga cerita soal love lifenya dia. He is enggaged with a girl. And he loves her very much. They will get married next year. Pertamanya gw merasa kecewa. Tapi gw pikir, toh selama ini gw emang selalu jatuh cinta sama orang yang salah kok, makanya gw nggak ambil pusing. Gw nggak mengharapkan Bimo ngawinin gw jugak kan? Lagian, gw cuma seneng aja punya temen ngobrol di tempat asing kaya gini, Hahaha..
Bimo bagi gw adalah laki-laki bebas. Dia bisa menentukan langkah dan tujuan hidupnya dan dia konsisten dan persistent terhadap hal yang dia pilih. Ketabahannya itu yang bikin gw jatuh cinta sama dia.

Dia bisa saklek sekaligus fleksibel dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa basah dan kering dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa jadi santa sekaligus jadi pit hitam berbarengan. Dia mampu menjadi tiada dalam suatu keadaan. Dualisme yang dia miliki bukan merupakan suatu ke’plin-plan’an buat gw, melainkan suatu hal yang sangat extra-ordinary dan poetic.

“Jane, U2 mau manggung di Bali..” katanya singkat.

“O really?” Jawab gw surprised.

Gw tatap matanya lekat-lekat. Ada ketenangan yang gw temukan disana. Bimo tertawa. Ada emosi yang tertanam juga disana.

“Jane, will you come to my wedding..?” katanya singkat.

“If only you’ve requested it..” Jawab gw tenang.

Bimo mungkin tau tentang segala rasa yang berkibar di dada gua. Rasa itu terasa transparant sekali. But we both know, it’s impossible to continue our relationship to futher step. We both know it’s forbidden.

Malam itu, safely, gw anter dia ke tempat dia nginep. He say take care and good bye like usual. 
Diiringi Electrical Storm-nya U2, gw balik ke kosan. Rasanya lega sekali. It’s been a while gw nggak merasa jatuh cinta seperti ini.

Have you ever thought that you love a man so much that you will not be at peace until you see him? On the contrary, your sanity and sober mind take place. They keep telling you that actually it’s possible for you to make he loves you and no other can do that or should do that.

Ya ampun, it feels so complicated. Comme il fault, as it should be. Complicated.

“Innallaha ma ‘ashshabirin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Bathin gw sambil mengurut dada. Ya Allah, ada dua orang nggak ya, yang kayak Bimo? Kalau bisa yang idle ya? Aku mohon, ya Allah. Dan gw tertidur sambil tersenyum setelahnya.[]

If you want to ease the pain, you can lean from me, my love will still remain..