People Who Hurt Other People

For me, being a woman…. and competent is a burden.

I’ve been living in this heavy burden for my whole life. Kadang gw capek melihat bagaimana orang memperlakukan gw. Lantas gw melangut dan akhirnya bertanya, kenapa sih gw nggak dilahirkan sebagai laki-laki aja? Atau gw kadang bertanya, kenapa sih gw nggak jadi perempuan biasa-biasa aja yang anteng dan nggak banyak mempertanyakan tentang kehidupan yang kadang berjalan tak sejajar keinginan?

I’ve lived so hard because I wasn’t afraid to live, and I wasn’t afraid of die. Kadang, penderitaan dan keberuntungan datang dengan wajah yang sama, dan sungguh, kita masih sulit untuk membedakan yang datang ini yang mana? karena keduanya terjerat dan saling terlibat

Days ago, some customer yelled at me: “Jancuk! nek kowe lanang wes tak tapuki raimu, cuk!”. And he threw me a cellphone.

The problem is simple: he cannot afford to loose because I have a valid database. I have a technical proof on my hand and I can explain all of his question. And I am a woman.

Dalam rasa malu akibat kekalahannya, dia hanya bisa berteriak: “Koen iku kewanen rene dewekan, perusahaanmu yo aneh, kok beraninya kirim perempuan kesini! cari mati!”

I did cry. But not because of his harsh words. But because of his racism. Am I wrong for being a women? is it a mistake because I have boobs and vagina? Is it really a sin for this woman struggling earning a living for her family? Hufft, being a woman and competent is really a burden.

Gw sedih memikirkan betapa manusia bisa tidak berhati-hati menjalani hidup. Betapa mereka bisa kehilangan rasa takut dan melupakan bahwa semesta selalu terjaga dan karma itu ada. “Who are we in this complicated world?” ini quotenya Rumi di film The Kite Runner. We are nothing but the dust in the wind.


Bagi gw, hidup manusia itu selalu berstruktur. Ada orang yang hidup tapi belum menemukan dirinya. Ada yang baru menemukan dirinya. Ada yang tak tau siapa dirinya. Bahkan ada yang tak perduli dia akan seperti apa nantinya. It’s a complete mess.

Let’s point out these 2 major life quotes:

Quote 1: Inna akramakum ‘inda allahi attakum. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa diantaramu.

Quote 2: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Karena sesungguhnya ketika kita berbuat baik kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada diri kita.

Sedari kecil, dua hal diatas sangat berarti dalam hidup gw, karena mereka adalah family virtues yang harus gw amalkan dalam kehidupan gw. Menjadi orang yang bertakwa dan bermanfaat untuk orang lain adalah dua nasehat penting warisan dari bapak.

Warisan ini menjadi “pagar” di kehidupan gw. Pagar batas dimana gw selalu diwajibkan untuk selalu mempermudah hidup orang lain, baik dalam konteks pekerjaan ataupun dalam lingkup kehidupan sosial sehari-hari. So, I really hate bulliers. For me, a bullier is always been a heavy resistance for other people’s life. Bullier selalu menyusahkan hidup orang lain. Bagaimana kita bisa menabung takwa dan amal kebaikan jika kita masih saja membangun pondasi hidup kita dengan menyusahkan dan menyakiti orang lain?

Kita nggak akan pernah sadar sejauh mana kita bertindak dengan sedemikian buruk dan memberikan efek kerusakan mental kepada orang lain atas perilaku inhuman (perikemanusiaan limited) kita. Our bad words are really can affect other people’s life.

Misal, kita dengan sengaja menyebut seseorang tolol dan serta merta melempar kertas hasil kerja kerasnya itu tepat di wajah dia (padahal ada tempat sampah, lho.. kenapa juga harus di muka orang?). Lantas orang ini dengan sedih pulang ke rumahnya, lalu merasa depresi dan memutuskan mati gantung diri.

Hm, sudah berapa kali kah kita membunuh atau menghancurkan hidup orang tanpa kita sadari? Please people, take a hold on life. Berhati-hati lah terhadap hidup. Milikilah rasa takut dan malu kepada semesta pemilik kehidupan. Seperti ungkapan yang dikenal manusia dari ucapan kenabian terdahulu: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR. al-Bukhari).[]

Rebahan

Gw single dan sibuk bukan main. Mengurusi pekerjaan, piaraan, perkebunan dan segala tetek bengek perihal keduniawian. Rasanya 24 jam nggak akan pernah cukup. Kesibukan ini nggak hanya terjadi sekarang. Sejak gw masih sekolah dulu, hidup gw juga udah sibuk. Sibuk sekolah, sibuk les, sibuk sosialita. Kayaknya gara-gara kesibukan itu, otak gw jadi terlalu aktif. Tanpa sadar gw jadi pemikir, filsuf. Filsuf ecek-ecek, amatiran. Tapi believe me, kesibukan itu sangat menguras tenaga. Dan untuk kembali bertenaga, cara ngecas gw cuma satu: spent time untuk leyeh-leyeh, rebahan dan males-malesan. Gabut aja pokoknya.

Waktu jaman SD, gw sering tiba-tiba merasa lelah secara mental. Secara fisik gw nggak sakit. Tapi, I felt like so exhausted. Hang. Nggak bisa ngapa-ngapain. Makanya gw sering banget minta izin ke nyokap untuk bolos. Karena kalo pas kondisi kaya gini gw berangkat sekolah, gw malah nggak produktif. Gw pasti cuma skip class dan leyeh-leyeh di taman. Untungnya, nyokap gw orangnya selon banget, jadi kalo gw lagi kumat, pasti dikasih bolos, asal bolosnya di rumah aja.

Karena itulah gw menyadari pentingnya arti rebahan. Rebahan adalah salah satu kebutuhan pokok dalam hidup gw. Rebahan gw bukan tidur terus seharian ya, tapi lebih ke bangun siang, trus seharian glesotan di kasur nggak ngapa2in, sampe bosen, akhirnya main sama kucing, trus ujung-ujungnya bisa jadi malah baca buku berjilid-jilid, atau beberes rumah, atau masak, atau malah berkebun. Lalu anehnya, besoknya berakselerasi ke hal-hal yang lebih produktif lagi. Kalo pas jaman sekolah, nilai ulangan gw jadi bagus. Gw aktif dan kritis dalam setiap pelajaran di kelas. Kalo sekarang, pas kerja, ya nemu ide yang ujung-ujungnya dipuji sama atasan.

Rebahan is a luxury vacation for my brain. you guys should try too. This is something healthy and helps us feeling sober and alive. Setelah gw udah tua, gw baru sadar, kalo sesekali santai itu gak papa, sehat.

Namun, adakalanya sekarang gw sulit menemukan waktu untuk leyeh-leyeh. Otak gw nggak bisa berhenti mikir. I don’t know how to quit. Kelelahan mental yang keterusan ini akhirnya berujung ke stress, marah, gelisah dan ujung-ujungnya asam lambung. Waktu itu, di UGD gw berpikir keras, I need a way out. Gimana ini caranya rebahan tanpa rebahan? Gimana caranya bisa santay ditengah kesibukan kita tanpa harus bolos?

I nearly spend four frikkin’ months to finally find some way.

Dengan bersyukur, tersenyum kepada langit, bersikap sadar dan kagum terhadap keindahan disekitar kita, berbahagia atas segala hal yang telah kita peroleh dan kita jalani, mengamati orang asing di pinggir jalan dan berbahagia untuk mereka ternyata efeknya sama seperti rebahan.

I walk a lot, to everywhere. While doing it, I observe people and things. It makes me calm.

Saat berjalan, kadang, gw tanpa sengaja bertemu langit yang berwarna ungu. Warna yang sama yang kita temui di flight senja atau flight subuh hari, dimana semua orang terlelap dan hanya ada kita, rasa bahagia dan horizon berwarna jingga bercampur ungu dikalungi semburat biru.

Atau tak sengaja, di trotoar gersang bertumpuk debu, kita bertemu sebatang bunga kucai berwana pink yang serbuk sarinya berkilauan berwarna kuning seperti pisang. Hal yang sangat indah sampai kita berbahagia dan harus menitikkan air mata saat melihatnya.

Atau melihat pasar buah di malam hari, dari balik gerbong kereta yang membawa kita pulang. Lampu yang tergantung berkilauan bertemu dengan tumpukan kulit apel, pear dan alpukat yang mengkilat karena diusap minyak kelapa atau dilapisi lilin sebelum dijajakan. Berkombinasi warna, mendebarkan dada.

Perasaan ringan itu, membuat nadi berdetak lebih lambat. Membuat kita terjaga bahwa semesta selalu memberikan hiburan yang tidak pernah kita sangka. Seberat apapun hidup yang kita jalani selalu akan terasa indah jika kita mampu menemukan hadiah dan penghiburan Tuhan didalam setiap laju perjalanan kita. Yang kita butuhkan hanya kesadaran untuk “mampu menemukan” dan banyak bersyukur setelahnya.[]

Merajut Hati Yang Patah – Part 3

Ada sedikit tips dan saran dari gw untuk orang-orang yang lagi berusaha sembuh dari kedukaan/kehilangan. It worked for me. Healingnya super fast. Boleh dipraktekin sesuai kepercayaan masing-masing.

Step 1 – Never stop holding on to God

Gw nggak neko-neko kok. Ngadu dan nangis aja sepuas-puasnya sama yang pegang takdir dan rancangan hidup lo. Abis sholat, banyakin istigfar (supaya hati tenang), shalawat khitab yang banyak (supaya perasaan kita adem), ama baca Yasin 41x setelah sholat (sekali aja untuk meredakan panasnya amarah di dada). Say it out loud: Qobiltu!

Step 2 – Ganti Semua Bau-bauan dan Wangi-wangian

The smell of something can so immediately trigger a detailed memory or even intense emotion of the past. Luka menganga kalo mau sembuh ya rajin dibersihin, ganti perban dan dikasih sulfatilamid. Kalo lukanya malah dikopek-kopek, trus menyenyeh lagi, kapan mau kering? Wangi-wangian itu bukan hanya minyak wangi lho. Tapi semua. Iya, semua, kaya toner rambut, sampo, sabun, pewangi ruangan, wangi-wangian mobil, minyak aroma defuser, pewangi cucian, pengharum ruangan, deodoran, bedak tabur, wangi-wangian apapun yang bakal bikin kita flashback ke masa lalu.

Step 3 – No music. Apapun jenisnya.

Music also can be a fatal trigger for memories. Makanya kalo lagi nyetir sendiri, radio pasti gw matiin. Nah, sambil nyetir, gw ngumpulin dzikir sama sholawatan sebanyak-banyaknya. Kalo terkadang sampe nggak sengaja nangis-nangis lagi, ya nggak papa, itu proses. Kalau sudah terasa agak ringan gejala sesaknya. Boleh dengerin Classical Music yang sifatnya menenangkan, bikin happy dan riang. Contoh lagunya bisa di search ya: Je Te Veux – Satie

Step 4 – Cari Orang dengan Masalah Hidup yang Lebih Berat

Setelah mental break down gw sudah agak membaik, gw memutuskan untuk silaturahim ke handai taulan. Nggak tau yaa, dari dalam hati gw nyuruhnya begitu. Ya gw ikutin. Ternyata ada hikmahnya banget. Dan ini menjadi salah satu hal penting yang bikin mental gw cepet banget sembuh. Anyway, harus ditekankan ya: kita silaturahim itu bukan untuk menceritakan kepedihan hidup kita ke orang lain. Justru kita mau tau kabarnya semua orang itu gimana supaya kita lupa sama nasib naas kita sendiri. Di perjalanan silaturahim itu, gw menemukan kalo ternyata banyak orang lain yang masalah hidupnya jauh lebih berat dari gw. Namun gilanya, dengan kondisi hidup yang lebih berat tersebut, mereka masih bisa tetap tabah dan survive menjalani kehidupan mereka.

Case 1. Temen gw ini udah 3 kali jadi janda. Dan semua mantan suaminya dia: tukang pukul. Heavy physical abuse dan selalu pergi setelah ninggalin satu anak. Jadi anaknya dia ada tiga dan bapaknya beda-beda. Pekerjaan temen gw ini serabutan. Bukan pegawai negeri ataupun swasta. Kebayang kan? ada anak tiga, sekolah semua, tapi pendapatan hidup dia nggak tetap. But you know what? She looks fine and happy menjalani hidupnya yang sulit. Bahkan bantuan gw pun dia tolak secara halus.

Case 2. Sama, temen gw ini divorce juga karena masalah ekonomi. Anaknya dua. Belom selesai ngurusin acara divorcenya dia, eh bapak ibuknya yang umurnya udah 68 tahun, ikut bercerai juga. Gara-gara bapaknya ini main gila sama pembantu rumahnya. Nggak hanya itu, dia harus mengalami kisruh kekacauan rumah tangga orang tuanya yang ternyata full physical abuse. “Kebayang ngga lo, ngeliat aki-aki sama nini-nini lempar-lemparan belati di rumah? Belom lagi lo harus terpaksa kelempar gelas mug tepat di jidat, gara-gara mau misahin mereka berantem?” Katanya tertawa terbahak-bahak sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

Case 3. Temen lama. Menikah sudah 11 tahun. Belum dikaruniai anak. Setelah cek intensif, suaminya mengalami penyumbatan di saluran sperma dan harus dioperasi ringan. Operasinya betul-betul ringan lho ya, nggak sampai 4 jahitan. Simple kan? eh tapi, nanti dulu. Ternyata si suami temen gw ini menolak dioperasi. Ego dia sebagai laki-laki terluka. Surat vonis dan panggilan operasi dari dokter akhirnya disobek-sobek. Si suami ini, menolak punya anak. Temen gw cuma bisa menyeka matanya yang basah, sambil mendekatkan jari telunjuk dan jempolnya selebar 5 milimeter didepan muka gw: “Padahal tinggal segini lagi.. gw bisa jadi ibu.” Sedih ngga lo?

Case 4. Temen gw yang ini juga belum punya anak. Usia pernikahannya sekitar 8 tahunan. Dia settle kalo urusan ekonomi. Pekerjaan dan pendapatannya stabil. Bisnisnya dimana-mana. Wanita sukses lah. Tapi.. si suami kerjanya serabutan. Dan gilanya, si suaminya ini selingkuh 4 kali dan 2 diantara selingkuhannya itu.. hamil. And she plans to adopt the kids.

Nah! Masalah idup gw cuma: pacar gw dan keluarga besarnya ngebohongin gw and doi nikah ama temen gw sendiri.

See? Sependek itu masalah idup gw. Dan gw masih mau nabrakin diri ke KRL? mau nenggak baygon? mecahin pala ketembok? Malu gw. Aselik. Malu woy. Disitulah, gw merasa Gusti Allah lagi mengelus kepala gw sambil tersenyum manis: “I gave you nothing to worry.. just a little bitterness to make you grow.”

Makanya, daripada mikirin paitnya hidup, lebih baik kita cari remahan kebahagiaan di hal-hal yang membuat kita lebih mensyukuri hidup. Mencoba silaturahim, ketemu orang-orang, tanya kabar mereka, sambil sesekali bersedekah dan jangan lupa untuk selalu berbuat baik sama orang.

Step 5 – Find a new hobby

Hobby buat gw banyak sih definisinya. Bisa being workaholic, do jogging, walking, writing, shopping, inspiring people, berkebun, masak, baking, miara kucing, menekuni drama korea, jadi fangirls, jadi kpopers, belajar trading, ikut kursus online, ikut les jahit, dll.
Kata orang, Time will heal – ‘waktu’ itu menyembuhkan. Ada benernya sih, tapi nggak 100% bener. Kalau proses healing kita cuma mengandalkan waktu dan mostly do nothing, ya ngga sembuh-sembuh. Kita betul-betul butuh positive distractions untuk membangkitkan kembali fungsi diri kita sebagai manusia. Jadi, jangan pernah takut untuk mencoba ‘bergerak’. Inget ya, bergerak lambat, mati muda. Makanya seperti kata pak Gerry di film World War Z: “Key for survival is to keep on moving“.[]

Merajut Hati Yang Patah – Part 2

At some point in everyone’s life, pasti kita akan mengalami kedukaan/kehilangan. Bisa karena kematian, kehilangan pekerjaan, kehilangan kekasih, kehilangan hewan peliharaan, ataupun ketipu bisnis habis-habisan.

Setiap orang bergelut dengan kedukaan/kehilangan dengan cara beragam. Tapi, biasanya polanya sama. Seperti yang digambarkan Elizabeth Kübler-Ross dalam bukunya “On Death and Dying”, kedukaan/kehilangan terbagi dalam 5 tahap:

Tahap menolak fakta yang terjadi (denial)
Tahap terjadinya kemarahan terhadap fakta yang ada (anger)
Tahap tawar menawar untuk menolak fakta yang ada (bargaining)
Tahap merasa bersedih atas fakta yang terjadi (depression)
Tahap pasrah menerima fakta yang ada (acceptance)

Dalam proses melalui kedukaan/kehilangan dalam diri gw. Nggak semua 5 hal diatas gw alami. Dan urutannya pun, nggak sesuai seperti itu. Tapi itu nggak papa, setiap orang memaknai kedukaan/kehilangan dengan cara yang berbeda-beda kan? Kalo di gw urutannya lebih ke:

Anger, Acceptance, lalu Deppression.

ANGER

He’s cheated on me. Just thinking about it again will bring back all my anger. I know, it’s only the past. But whenever I think back on that moment, I feel so bad to my old self.

Kalo kata Rachel, temen gw, yang baru divorce: “Demented bastard are everywhere, and they always using a broken marriage as an excuses for cheating.”

Dan gobloknya, cowok-cowok ini kalo sudah ketangkep basah, kita sebagai perempuan selalu kembali memaafkan sambil berpikir “It’s okay, men are inherit to be a cheater once a while. It’s a women’s job to forgive and fix them.”

Ya.. tapi dengan begitu, kita salah. Membenarkan sesuatu yg sudah jelas salah seperti mengalikan apapun dengan nol. Makanya gw ngga merasa ada hal lain yang bisa dinegosiasikan lagi kalau sudah menyangkut kata “selingkuh“. I rather choose to leave.

Kemarahan dapat membuat fakta (atau kebenaran) yang ada terasa berat. Terus berbuat baik adalah hal tepat yang bisa kita lakukan. Memang pada saat kita dikuasai amarah, kita bisa menjadi hysterical dan brutal. Kita menjadi tak bisa menahan. Tapi, jika tidak ditahan, kita akan hidup penuh dengan penyesalan.

ACCEPTANCE

Pak Mardigu Wowiek pernah bilang, “People don’t change, even once dia dapet wisdom, pandangan dia hanya melebar saja. But surely, they will remain the same“. So, nggak salah dong kalo ada nasehat: a cheater, will always be a cheater. Well anyway, if a man cannot keep a promise with a woman, what else can he keep?

There is a latin epigram: if it’s false in one thing, then it’s false in everything. Dia tak akan kembali walau kita menangis. Sekarang kita sendiri. Sebisa mungkin kita harus tabah menerima semua keadaan ini. Walaupun getir dan pahit di hati.

Hal ini yang mendasari gw akhirnya menerima semua kepahitan gw dengan penuh rasa syukur. Nyatanya, melalui kehilangan atau tidak, hidup ini tetaplah hangat (sekaligus menyedihkan). Humans are build to endure all great sorrow in this world, so let’s start using our humanoid feature right now. We can do it!

DEPRESSION

To be in touch with a profound sorrow is never been easy. Gw hilang arah dan terus merasa kurang dan salah. Gw pasrah, cenderung menyerah. For months, I cannot sleep and eat well, cannot breath freely and I keep crying everywhere for no specific reason. It just felt hurt and pressing this chest deeper.

The pain feels so horrible.

Sulit sekali rasanya berusaha menggapai-gapai nafas. Terasa tenggelam namun berada diatas permukaan. Seisi dunia berputar, seperti komidi putar yang putarannya semakin cepat dan membahayakan.

So? Menangislah sepuasnya. Gak papa. It’s okay. Gwenchana. All is well. Everything will be allright.

Pada saat di puncak frustasinya, Dr. Ji (Drakor: The World of The Married) menangis di pinggir pantai sambil berencana bunuh diri. Kalo gw, waktu itu, malah nangis sejadi-jadinya di cafe, didepan temen gw yang bingung gw kenapa (karena gw udah nangis duluan sebelum bisa cerita panjang lebar). Hahahahah.. Sampe diliatin orang-orang. Well, I don’t really care. I need to get it out.

Sakit yang tertahan di dada bisa bikin konslet. Harus kita keluarkan. Tekanan itu harus dikeluarkan supaya nggak jadi stress. Remember, a continous stress can kill you.

Akhir kata, kita sebagai orang yang ditinggalkan harus hidup sebahagia mungkin. Kita terkadang akan menangis, tapi juga akan sering tertawa dan terus hidup dengan tegar. Itulah balasan yang tepat, atas semua nikmat hidup yang telah kita terima.[]

Merajut Hati Yang Patah – Part 1

Kita semua adalah pejuang kehidupan. Selayaknya pergerakan kurva elliot wave, ada saat dimana setiap manusia akan mengalami level resisten (bawah) dan support (atas). Tidak ada masa kejayaan yang datang terus menerus dan tidak ada pula masa kesedihan yang akan terjadi terus menerus. Perubahan itulah yang membuat kita menyebutnya sebagai lika-liku kehidupan (bukan “lurus”nya kehidupan).

Now, I’m in the resistent level of my life. For these past 2 years, gw megap-megap melakukan pertahanan hidup. Ibarat ikan koi di akuarium toples, ya tadi itu, gw dicomot keluar dari toples. Nyaris mati.

Gw patah sepatah-patahnya. Pacar gw nikahin temen gw diem-diem. Ibunya dia bohongin gw juga. Well, dikhianati dua orang yang saat itu gw sayang dan gw percaya.

Dan belom kelar paitnya, karena gw kerja satu bidang ama pacar gw itu, ya gw nggak hanya kehilangan keluarga dan cinta. Gw juga kehilangan lingkaran teman, kolega, kesempatan, jabatan, uang, kepercayaan sekaligus ‘waktu’ gw yang sangat limited.

Singkatnya 2/3 kehidupan gw terenggut seketika dan itu terjadi saat gw bener-bener lagi nggak siap. Pukulan telak. TKO. Skak Mat.

It’s been two profoundly shitty years for me. I’m breaking apart. Gw jatuh sejatuh-jatuhnya. Hancur sehancur-hancurnya.

Dulu, di bulan-bulan pertama menghadapi masalah ini, gw cuma bisa tidur di atas sajadah. Lebay? Nggak. Itu life support gw.


Untuk sembuh dari patah hati hebat, memang kita nggak bisa sendiri. Buat gw, perlu 4 hal penting ini:

  1. Pegangan/Iman
  2. Dukungan orang terdekat (versi gw: orang tua)
  3. Niat dari diri kita sendiri untuk sembuh
  4. Rancangan proses menjalani terapi kesembuhan yang tepat

Keilangan 1 dari 4 poin ini? ya siap-siap aja. Level 3 nya lo bisa stress, Level 2 nya lo bisa konslet/gila dan separah-parahnya level ultimate dari patah hati: ya mati. Kalo nggak mati bunuh diri, ya mati karena tekanan psychosomatic. Gw ngomong ini ada samplenya, banyak udah kok contoh casenya. Makanya, alhamdulillah gw masih bisa cerita lah disini about “How can you mend a broken heart (in a proper way)”.

Semua orang, apapun jenis patah hatinya, awalnya sama. Pasti selalu mikir the shortest way to end the pain. Segala tangisan yang sudah keluar atau bahkan yang nggak keluar, pasti bikin sesak di dada. Dan sesak ini yang nyakitin kita banget dan pengen cepet-cepet kita sudahi. Makanya, ibarat lagi megang bara api ditangan, kita mau cepet-cepet buang baranya karena panas dan perih, eh tapi baranya bara plastik, meleleh dan nempel cuy di tangan kita. Gimana dong?

Setiap orang punya level ketahanan yang berbeda soal perbaikan mental break down akibat broken heart ini. Gak bisa juga semua orang disamakan cara penyembuhannya. Ada yang mentalnya ditekan sedikit, tapi udah nggak kuat. Ada yang mentalnya ditekan sampe mau meledak, tapi dia tetap kuat. Itulah hebatnya manusia. Tetapi.. tetap semua healing itu sama standarnya. Secara garis besar ada hal-hal yang bisa kita jadikan pegangan.

Contoh, ada orang yang kaya Dr Ji (Drakor: The World of The Married) yang mengalami patah hati dengan level berat, perceraian dengan anak remaja yang mental si anak juga jadi beban dia, full domestic abuse, dikhianati pula sama satu kota, dan she’s still intact, masih bisa berfikir logis, dan level sabarnya gilak.

Tapi ada juga, iparnya sepupu gw, sebut saja namanya mbak Mawar. Doi punya pacar dari SMA, pacaran 3th, trus bapaknya mbak Mawar nggak setuju. Lantas mereka dipaksa putus dan pacarnya mbak Mawar diusir dari rumah. Kebetulan si bapak galak dan otoriter (maklum, orang militer) dan mbak Mawar bukan tipikal cewek yang mentalnya mental pendemo/protester kaya gw. Akhirnya cuma bisa diem dan nahan. Nah, karena cara nahannya salah, akhirnya konslet deh. Beneran gila cuy. Sampe harus dipasung. Gw inget, di bulan ke 3 gw patah hati, gw ketemu sama si Mbak Mawar ini di kampung bapak gw pas acara khaul keluarga. Dalam waktu beberapa tahun sakit mental, mukanya mbak Mawar bener-bener 100% berubah. Dari gadis jawa ayu, sekarang jadi beneran kaya orang gila full timer. Wajah kusam kuyu, bola mata yang bergerak-gerak cepat, wajah nggak terurus, rambut mekar, gigi berantakan karena harus konsumsi obat anti depressan. Waktu ketemu mbak mawar, gw nangis sejadi-jadinya. I feel awful, full of despair. Because, She could be me. I could be her.


Dalam proses menjalani kesembuhan gw yang belum 100% ini, gw banyak melakukan self evaluation. Mungkin karena gw insinyur yang kerjaannya selalu monitoring dan evaluating project, ya jadinya kebawa kali ya.

Ada 3 kesalahan utama yang merusak mental kita pasca broken heart:

  1. We always tend to blame ourself
  2. We always tend to make a short cut (Berfikir bunuh diri)
  3. We always tend to think that we loose everything

MY MISTAKE NO #1: ALWAYS BLAMING MYSELF

Awal gw patah hati, gw dapet omongan dari sekertarisnya ex gw: “Bapak seneng sama calonnya yang sekarang karena calonnya bapak itu montok dan putih. Kata bapak, calonnya ini juga nggak neko-neko orangnya dan menghargai bapak sebagai laki-laki”

I was shaking and in deep-shock, gw nggak berhenti menyalahkan diri gw sendiri, apa yang bikin dia akhirnya milih perempuan itu? apa kurangnya gw? apa gw kurang putih? Apa gw terlalu mendominasi? apa gw terlalu pintar? apa dia merasa ada kesenjangan sosial? apa gw selama ini nggak menghargai dia sebagai laki-laki? apa dia merasa insecure sebagai laki-laki?

I blamed myself with all those questions.

Tapi setelah gw ngobrol banyak sama emak bapak gw, trus gw ketemu juga sama temen-temen lama gw, ngopi bareng. Gw akhirnya tau value gw sebagai manusia. Gw sadar kok, kalo gw ini berharga, gw orang baik, gw masih dibutuhkan/dicari orang, gw masih disayangi banyak orang.

It was my mistake that I was blinded to put himself first other than me (nah, masih aja gw nyalahin diri gw sendiri kan? hahahahaha)

Lagian kalo dipikir-pikir, selama taunan, dia nyaman-nyaman aja buktinya hidup sama gw. Makanya, akhirnya ya gw mikir, “ah.. gw nggak sepenuhnya salah. Titik.”. Dan with his ex before me juga sama kok, dia bertahan cuma sampe 5 tahun. Repeating himself. Maybe, he always ngerasa bosen setiap 5 tahun. Udah kaya RAPBN aja tiap 5 tahun ganti.


ANOTHER MISTAKE NO #2: NEKAT MAU MATI

Iya, gw goblok banget emang. Cetek. Terserah deh, lo mau bilang gw apa. Hahahahaha.. tapi itu beneran terjadi sama gw. Waktu itu, gw bener-bener ngerasa bersalah banget sama orang tua gw. The pain was so horrible that the only thing you can think is to end things.

Walhasil, gw pernah niat buat nabrakin diri ke KRL, tapi pas keinginan gw untuk nabrakin diri ke KRL lagi on-fire, ndilalah kok gw selalu ketemu temen lama gw di Stasiun. Eh malah gw ditarik ke cafe lah, diajak ngobrol dengerin dia curhat lah, trus gw jadi lupa mau bunuh diri. And believe it or not, it always happenned like that. God really works in a misterious way.

Pernah juga gw nyoba minum Baygon, ternyata pas minum, gelasnya kegedean. Padahal niatnya mau langsung tenggak kaya minum miras trus kelar, mokat, koit. Tapi, karena gelasnya kegedean, pikiran gw malah kebawa kaya mau minum teh anget: gw sruput lah tu Baygon, HAHAHAHA ya karena disruput, rasanya sumpah: pait dan terbakar di lidah, gw langsung lari nyari keran sambil nangis-nangis. Ya nangis-nangis antara kesakitan sama nangis-nangis karena menyesal. Untung belum sampe ke tenggorokan. Batal deh akhirnya nenggak baygon. Well, ternyata bunuh diri itu nggak semudah yang kita pikirkan.

Hidup adalah kecemasan tanpa henti. Living a life itu seperti berjalan dipinggir jurang. Nah, kita kan paham kalo posisi ini bahaya. Pilihannya bisa kepleset dan mati masuk jurang, atau.. kita sebisanya mencoba bertahan untuk hidup walau berjalan disisi jurang. How? Bagaimana caranya menjalani hidup bahaya seperti itu dengan tenang?

The real source of fear is not knowing. When you begin to notice the damage that emotion can do, awareness will develop. When you have this awareness, you will understand the dangers before you. Now, you know the fear that haunts you, you understand them. And walking on a cliff (living a life) is not so frightening anymore. In fact, it is thrilling.


MY MISTAKE NO #3: MINDER KARENA MERASA LOST EVERYTHING

Gimana sih rasanya dikhianati sama orang yang paling kita percayai saat itu? yang kita udah invest disegala hal, baik materi ataupun perasaan? Yang kita sudah invest kasih sayang, kesetiaan, kepercayaan, semangat hidup, dan masa depan?

Gw udah all in banget lah saat itu. Gw udah nggak ada deh kepikiran berpisah atau hidup sama orang lain. Semua kesalahan dan kekurangan dia yang paling fatal sekalipun gw maklumi demi masa depan. Ya beginilah jadinya, jika kita bergantung sama manusia.

Ibarat pemilik perusahaan bangkrut, gw karam. Bankrupt is really complicated. Starting over is complicated. And I don’t do complicated. I never have.

Satu-satunya cara membuat gw ikhlas dan tabah tentang kehilangan ini adalah menerima sekaligus mengakui kalo gw kalah. Selayaknya orang kalah, ya gw memilih pergi dan menertawakan kebodohan gw sendiri (bahasa lainnya: konslet skala kecil).

Because once.. some old man said: recognizing the humor in our most bitter situation prevents suffering. We still experience some emotions, but they can no longer play tricks on us.Buat gw, kekalahan ini rasanya sangat manis hingga terasa pahit. Pahit yang melonggarkan pikiran dan melapangkan dada gw.

Every life is touched by God at least once. If someone or something nudged you back in the right direction just when you were drifting away from the world, that is the moment that God stays by your side. And God really be with me all the time. I feel blessed.


It’s been 20 months. I am getting better. Koreng di dada gw udah mulai sembuh. Makan dan tidur rasanya sudah enak. Almost normal. Udah breaking point lah kalo istilah anak-anak trading.

Namun, walau waktu sudah berlalu, rasa sakit tetaplah terasa sakit. Pikiran bawah sadar gw masih menyimpan rasa traumatik tersendiri. Ada kalanya, setiap tiga atau enam bulan sekali, didalam setengah tidur gw, tekanan dan rasa sakitnya datang lagi tanpa bisa dikendalikan. Sakit yang sama, tekanan yang sama. Persis kaya kita kram otot. Datangnya tiba-tiba. Beneran. Gw bisa lho, langsung kaya dikagetin, dan inget sama semua sakit dan tekanan yang gw udah lupakan itu dalam sekali jentik. Jedar! Duer Duer! datangnya menggebuk sekaligus tanpa ampun. Tapi ya untungnya, hilangnya pun lebih cepat. Ibarat immunity, now my body can handle it well.

Kalau lagi kumat begitu, biasanya, gw menekan dada gw, menahan nafas sebisanya dan nggak berenti berdoa supaya Gusti Allah segera menarik keluar rasa sakitnya. Pokoknya, I was holding my breath until that horrible feeling is gone. Tapi ya gitu, seperti layaknya kehadiran angin muson barat dan datangnya musim penghujan disetiap tahun, they will come again. Ya.. disabarin aja.

Kita tau, hidup ini berat. Tapi, semua keputusan akan kembali kepada diri kita. Keputusan itu bisa jadi menguatkan atau bahkan melemahkan kita. Anything happens for a reason, just don’t give up. Bersemangatlah. Chaiyo! Manse! Ganbatte!

Love causes cancer. Like everything else. But it’s still love. It has its moments. So, I think I’m gonna gather up the tattered remnants of my dignity and say goodbye.[]

God,
I don’t understand the danger that I see with my eyes,
please take a good care of me..

And God,
grant me the serenity to accept the things I cannot change,
the courage to change the things that I can,
and the wisdom to know the difference..

Pria dan Puisi


“Jane, where are you?”

Membaca message dari lelaki itu di ponsel gw, detak di dada ini spontan terasa dialiri aliran listrik 15 juta Kilovolt. Suddenly stop beating, I feel very light and loose and I felt that there’s million sparkles around.

This man, sebut saja Bimo, has been so delicate, sympathetic, loyal, caring, untutored, gentle, and I am.. in love with him.

He’s the man I am looking for. Totally, head to toe. At least for current.

Senyum-senyum girang, gw mereply message dari dia: “Gw lagi di kosan bim, biasa lagi ngitung kancing, kira-kira siapa yang bakal traktir gw dinner malem ini”

Ngga lama ponsel gw kembali berbunyi: “kalo gitu gw aja yang traktir. Mau gw jemput atau.. Lo jemput gw?”

OMG. Another heart attack! He’s in town!

Gw berasa heng selama 10 menitan. Sambil berusaha mengumpulkan segenap jiwa raga gw yang tersisa, gw senam pernafasan sebentar, huffffttt. “Errrttt, Earth is calling Jane, errrtttt.. Please get back to earth.. Errrt, where the hell are you, Jane?!”. Gw pikir gw udah gilak. But it did happen. Gw beneran Heng!

I run crazily inside kostan gw sendiri! Padahal sempit lho kamar gw. Chaotic banget lah pokoknya. Bingung mau mandi apa nggak, mau pake minyak wangi yang kebuah-buahan atau yang keseksi-seksian, make warna alis coklat atau item, make kebaya kartini atau jeans+kaos aja, Ah I am too.. HAPPY!!
Sambil mengetuk-ngetukan jemari gw ke setir mobil, gw nunggu Bimo dideket tempat dia nginep. Rasanya resah. Kayak balon aer yang hampir pecah.

Gw bolak-balik nelen ludah sambil ngeliat kaca spion. Damn, it feels like forever for waiting him like this. Where is he? Is he okay? Does he know the road for getting to this parking lot? Is he really here? Is he still remember my car?

I can’t control my self. I’m too falling for this guy. It’s been a while for I never met this kind of guy anymore, After ahmad, after Bilven, after I lost my Ahmad and my Bilven.

Dan gw akhirnya melihat siluetnya dari jauh. Still the same. Same old Bimo. Tinggi, Kurus, Ceking, dengan bahunya yang panjang dan lebar. Just wearing simple T-shirt and jeans. Of course, masih sama, megang rokok ditangan kiri. Yep, dia kidal.

Bimo mengetuk kaca jendela gw, “tuk-tuk”. Gw melirik sekilas. Pura-pura acuh. Kacamata Rayban Bimo, yang juga jadi kesayangan gw, tepat menempel dikaca dari sisi lainnya. Gw tersenyum sambil membuka kaca perlahan, “Lama nian, Tuan?”.

Bimo cuma tersenyum, menghisap rokoknya sekali, lalu membuangnya entah kemana. Dia memberi isyarat agar gw pindah dari posisi gw duduk. He’s taking the wheels.

Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya adalah seni. Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang keramat, yang luhur, well.. segala yang indah dalam hidup ini buat gw adalah puisi.

Persis seperti Bimo. Bagi gw, dia adalah puisi. Dia seperti kata indah yang mendebarkan jiwa. Dia bak rima kalimat yang mampu melangutkan rasa.

Dia indah. Dia penjarah. Penjarah hati gua.

Gw ketemu Bimo secara nggak sengaja di kota yang berbeda. Bimo tinggal di Muara Enim, kerja di pertambangan batubara, sedangkan gw tinggal di Palembang yang jaraknya kurang lebih 8 jam via jalan darat. Biasalah, gw kenal Bimo karena ternyata dia adalah temennya temen gw. Setelah kenal lumayan akrab, kami kerap saling mengunjungi satu sama lain.

At first, I’m not paying so much attention to him. He’s just like ordinary guys with no special sparkle. Even Bimo betul-betul jadi makhluk extrateresterial buat gw. Until that day. The day that I have to be in his car for hours, stuck with him, only him. And we both did everything to kill the boredom.

We’re talking about politics, jokes, interests, hobby, routine activity, work, about shores and mountains. Listening U2 together for hours. Ugh, Gw menemukan orang yang betul-betul mampu berdialog dengan gw. Both way. Perfectly.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Bagi gw, isi dibalik krempengisme si Bimo adalah poetic. I fall for his substance. As we drifted to another place in time, this feeling of mine was so heady and sublime, I lost my heart to him.

Hari itu, Bimo juga cerita soal love lifenya dia. He is enggaged with a girl. And he loves her very much. They will get married next year. Pertamanya gw merasa kecewa. Tapi gw pikir, toh selama ini gw emang selalu jatuh cinta sama orang yang salah kok, makanya gw nggak ambil pusing. Gw nggak mengharapkan Bimo ngawinin gw jugak kan? Lagian, gw cuma seneng aja punya temen ngobrol di tempat asing kaya gini, Hahaha..
Bimo bagi gw adalah laki-laki bebas. Dia bisa menentukan langkah dan tujuan hidupnya dan dia konsisten dan persistent terhadap hal yang dia pilih. Ketabahannya itu yang bikin gw jatuh cinta sama dia.

Dia bisa saklek sekaligus fleksibel dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa basah dan kering dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa jadi santa sekaligus jadi pit hitam berbarengan. Dia mampu menjadi tiada dalam suatu keadaan. Dualisme yang dia miliki bukan merupakan suatu ke’plin-plan’an buat gw, melainkan suatu hal yang sangat extra-ordinary dan poetic.

“Jane, U2 mau manggung di Bali..” katanya singkat.

“O really?” Jawab gw surprised.

Gw tatap matanya lekat-lekat. Ada ketenangan yang gw temukan disana. Bimo tertawa. Ada emosi yang tertanam juga disana.

“Jane, will you come to my wedding..?” katanya singkat.

“If only you’ve requested it..” Jawab gw tenang.

Bimo mungkin tau tentang segala rasa yang berkibar di dada gua. Rasa itu terasa transparant sekali. But we both know, it’s impossible to continue our relationship to futher step. We both know it’s forbidden.

Malam itu, safely, gw anter dia ke tempat dia nginep. He say take care and good bye like usual. 
Diiringi Electrical Storm-nya U2, gw balik ke kosan. Rasanya lega sekali. It’s been a while gw nggak merasa jatuh cinta seperti ini.

Have you ever thought that you love a man so much that you will not be at peace until you see him? On the contrary, your sanity and sober mind take place. They keep telling you that actually it’s possible for you to make he loves you and no other can do that or should do that.

Ya ampun, it feels so complicated. Comme il fault, as it should be. Complicated.

“Innallaha ma ‘ashshabirin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Bathin gw sambil mengurut dada. Ya Allah, ada dua orang nggak ya, yang kayak Bimo? Kalau bisa yang idle ya? Aku mohon, ya Allah. Dan gw tertidur sambil tersenyum setelahnya.[]

If you want to ease the pain, you can lean from me, my love will still remain..

Ujian Tentang Kesombongan


Pada suatu hari, di sebuah antrian di Bandara Internasional, gw menemukan seorang ibu ibu pengusaha kaya (sepertinya begitu coz gw pernah liat jaketnya, berharga sekitar 2500 USD!! Beruntunglah gw suka windows shopping di mall-mall mahal, jadi ngerti, tapi nggak beli hahaha).

Ibu-ibu tadi mencak-mencak nggak karu-karuan gara-gara antriannya diselak oleh salah seorang TKW buruh migran asal negara kita tercinta.

“Heh! Pada tau aturan nggak sih? Nggak di Negara sendiri, nggak di Negara orang, kelakuan masih pada sama aja, kampungan! Antri dong!”

Para TKW yang diteriaki sempat kaget tapi setelahnya malah cekikikan bersama kawan-kawan se-gank mereka. Otomatis ibu-ibu kaya tadi tambah naik darah karena teriakannya nggak digubris. Hingga akhirnya ibu-ibu itu melaporkannya pada petugas bandara.

Gw nggak mau nerusin cerita tadi akhirnya kaya apa, yang jelas, some part of myself ngerasa ikut sebel ama kelakuan mbak-mbak TKW tadi. Karena pada hakekatnya, gw nggak gitu suka sama orang yang nggak menaati aturan umum. But anehnya, some other part of myself kok ngerasa kasihan ama mbak TKWnya, dibentak-bentak kaya gitu. Dan rasanya di gw kaya ada yang ngganjel, kaya ada yang nggak pas aja. But I don’t know what it is.

Beberapa waktu kemudian, ada kejadian yang mirip saat gw ngantri beli karcis commuter train di salah satu stasiun elit di daerah Sudirman. Bedanya, kali ini penyelaknya adalah seorang pekerja kantoran yang secara streotip: tampak terpelajar dan ngerti aturan-aturan dasar tentang bagaimana MENGANTRI TIKET secara baik. Tapi yo ngono, dia tetap aja nyelak antrian, walaupun dia diteriakin orang: “antri dong, mas! Ngga aturan banget sih?!”. Still for me, rasanya ada yang mengganjal. But I really don’t know why. Gw mencoba bertanya dalam hati: “Ya Allah, sebenarnya ada apa sikkk?”

Bulan demi bulan berlalu, sampai pada akhirnya gw melupakan kejadian itu.

Sampai beberapa hari kemarin. Hari dimana gw ketemu kawan lama gw, sebut saja Mia, disalah satu stasiun paling buluk se Jakarta, saat itu: Stasiun Palmerah.

Mia bekerja pada salah satu Bank BUMN terbesar di Indonesia. Dari setelan baju, jelas gw kalah jauh. Mia memakai blazer yang sangat kaku, begitu rapihnya hingga walaupun ada tsunami sekalipun, gw yakin itu blazer tetep akan jreng jreng kaku dan rapih seperti sedia kala.

Rupanya karena apes, kami berdua ketinggalan kereta, tepatnya ketinggalan kereta AC. Yups kereta AC yang berarti juga kereta dengan gerbong terisi angin dingin tanpa asep rokok.

Akhirnya, demi mengejar waktu, gw dan Mia menaiki kereta KRL ekonomi biasa. Tanpa AC. Dulu masih ada kereta macem gini. Banyak.

Didalam gerbong yang amat penuh, berdesakan, ada bapak-bapak, umurnya sekitar 45 tahunan. Merokok nggak karu-karuan. Asapnya ngebul kemana-mana. Ya ke muka gw, juga ke muka Mia. Mengalami nasip sial seperti itu, gw cuma pasrah menggeser-geser posisi duduk gw ke dekat jendela terbuka (well, tapi jendelanya emang kebuka semua sih hahahahahaha namanya juga kereta EKONOMI TANPA AC).

Mia ngedumel setengah mati, “susah ya emang, dasar orang kampung! nggak berpendidikan! nggak pada tau aturan, ngerokok di gerbong penuh begitu! Goblok!”

Kaget juga gw, ama omelannya si Mia. Ya gw emang sebel juga ama bapak-bapak tadi, tapi kok ya tumben gw nggak marah-marah. Malah gw ngebathin lagi, gw kenapa sik?

Padahal, for your information, gw itu biasanya selalu protes dan marah-marah, hobi ngomel deh pokoknya gw. Tapi kok sekarang kayaknya tumben aja gw nggak senewen. Apa karena faktor umur? Jiah gw makin wise gitu maksutnya? Halah.. nggak juga sih..

Well, lanjut. Sampai di stasiun tujuan, bau gw udah nggak jelas. Turun kereta, gw nyari bokap gw. Biasa deh bokap, selalu ngejemput anak kesayangannya saben malem di Stasiun dekat rumah. Rutinitas abadi. Bokap gw sambil nunggu gw, rupanya sambil ngopi. Kopi fave dia: Kopi jahe. Gw memutuskan untuk bergabung dan memesan segelas kopi hitam, tanpa jahe, dan hanya dengan sedikit gula.

Seruputan kopi pertama, panas, melonyot, membuat gw komat-kamit sebentar lalu membuka obrolan dan diskusi sama bokap gw soal perihal tadi. And, jawaban-jawaban yang terlontar dari bokap gw membuat gw mangap, nganga dan tercengang: Bahwa ini adalah ujian tentang kesombongan.

Jadi dulu, waktu gw nonton pilem “Passion of the Christ” sama bokap gw, gw inget ada penggalan adegan dimana Yesus berkata “Ampuni mereka Bapa, karena mereka tidak tahu..”. Padahal saat itu Yesus lagi disiksa, disalib, wah pokoknya adegannya: full-blood gitu lah, gw sampe ikut nangis.

Nah disitulah akhirnya bokap memberikan sedikit gambaran ke gw, jika “ketidaktahuan” akan kita membuat buta sekaligus membahayakan hidup kita.

Jadi untuk kasus TKW dan mas-mas kantoran yang kaga mao antri, serta untuk case bapak-bapak yang ngerokok di kereta api, sebenarnya sangat SIMPLE.

Mereka begitu karena mereka NGGAK TAU. “Nggak tau” berarti: maqam mereka terhadap sebuah pengetahuan tertentu: terbatas.

Dari situ, kata bokap gw, masalahnya bukan pada mereka, tetapi pada diri kita. Bahwasanya Allah sedang menguji seberapa jauh tingkat kesombongan kita terhadap segala ilmu yang telah Allah berikan kepada kita. Astagfirullah. Ini dia jawabannya.

Gw istighfar berkali-kali. Sekali lagi: rupanya ini ujian tentang kesombongan.

Karena itu seburuk apapun tampilan, sifat serta kelakuan seseorang, Allah tetap memberikan kemuliaan kepadanya. Entah apa. Itu bukan kita yang tahu dan bisa menilainya. Masya Allah.

Tanpa dibekali pengetahuan, kita betul-betul mirip ternak, yang tiap hari musti digiring kesana kemari tanpa mengetahui sebab musabab kenapa harus digirang-giring begitu.

Coba kalo semua ternak itu pintar, mestinya nggak akan perlu ada gembala ataupun dog shepperd dimana-mana. Ternak tentunya akan punya inisiatip sendiri-sendiri untuk mensinergiskan posisi mereka demi mengikuti keseimbangan perputaran jagad alam semesta raya ini.

Subhanallah.

Dan benar kata orang dulu, menuntut ilmu itu nggak cukup hanya sekedar sekolah disekolah mahal tanpa subsidi pemerintah, tapi juga harus kita cari di selipan tempat yang lain.

Kita cari di tempat orang bertumpuk berjejal bahkan berkeleweren di jalan-jalan. Di pasar. Di Warteg. Di Kantin. Di Belakang Mall. Di Mushola Sempit. Di Gang Senggol. Di tempat ibu-ibu bakul, bapak-bapak, anak-anak, orang-orang perkasa bekerja amat keras dan punya nyali besar untuk menghadapi kesengsaraan hidup.

Karena segala ikhwal kebaikan dan keluhuran budi pekerti, tidak diterjemahkan ke dalam buku-buku pelajaran. Dan bukan juga datang dari gedung-gedung sekolah yang memang dibangun untuk menyediakan prasarana elit, mahal, nomor satu, dan menginternasional. Bukan lagi juga datang dari jajaran laboratorium canggih yang diperuntukan agar kita menjadi orang pandai (dan TIDAK terutama agar kita menjadi orang yang baik).

Adapun hal-hal yang menyangkut nasib orang lain, tenggang hati terhadap sesama, kesadaran untuk meruwat keadilan dan kemuliaan, tidak merupakan urusan utama di dalam butir-butir pelajaran dan baris-baris pengetahuan yang diajarkan di sekolah.

Sehingga kita selalu diajari untuk tidak mengerti apa-apa kecuali mengurusi kepentingan diri sendiri. Tangan dan kaki kita dilatih tidak untuk berbuat apa-apa kecuali untuk beringas memompa perut dan gengsi pribadi. Kita menjadi terdidik untuk tak paham kebersamaan. Dididik untuk menjadi segumpal keasingan, tidak untuk menjadi seseorang di tengah berbagai macam orang. Kita tidak diajarkan bisa kaya tanpa harta. Bisa makan tanpa sega. Puasa tanpa puasa. Dan beramal tanpa amal.

Dan gw sudah menemukan banyak sekali bukti, bahwa ternyata tingginya tingkat pendidikan dan luasnya ilmu seseorang, tidak membuat kasih sayang sosialnya meningkat. Karena pada hakikatnya, seperti kata Pramudya: tak ada orang terpelajar, dimanapun dia bertempat, akan melanggar hak-hak perseorangan.

dari pahitnya semua pengalaman itu, gw menyimpulkan, jika TERPELAJAR itu bukan berarti HANYA memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan memiliki perluasan ilmu yang cukup. TERPELAJAR juga berarti memiliki tingkat pengertian dan pemahaman khusus untuk mengejawantahkan jejak kehidupan. Sehingga hal itu memaksa kita untuk tunduk kepada kesombongan-kesombongan diri akibat ketidaktahuan dan kebutaan kita tentang bagaimana “tidak berdayanya” ilmu kita dimata Allah.

TERPELAJAR juga berarti mampu IQRA (membaca) kalamullah—ilmu-ilmu dari kitab Allah, yang terbentang minal masyriki ilal maghribi. Sehingga mampu membuat kita semakin paham dan mengerti lalu bersujud dan kembali merendahkan hati.[]

Tentang Lelaki Dibawah Hujan

Kota Kembang, Januari 2010.

Gerimis enggan berhenti sedari pagi. Dingin yang mencekik paru-paru tak membuatnya beranjak lalu. Matanya basah tapi bahunya bersedu sedan. Kaku yang merindu. Merindukan sesuatu yang tidak bisa ia jangkau kembali.

“Maaf jika aku tak pernah bisa memenuhi janjiku..”

Nona bermonolog. Dipejamkan paksa matanya yang panas untuk meretaskan air mata terakhir yang bisa ia hempaskan. Gerimis masih meretas, membasahi serat-serat kerudung Nona, menembus masuk ke kepala, ke otak, lalu ke jantungnya. Di dada, terasa pahit, namun melegakan. Setidaknya Nona merasa punya alasan untuk datang kembali ke tempat ini.

Fachri, satu nama yang nyaris Nona lupakan.

Dari laki-laki ini Nona belajar arti berbagi. Sebelumnya Nona tidak pernah mengerti bagaimana harus ‘berbagi’, baginya ‘memberi’ itu lebih penting. Namun Fachri mampu meyakinkan Nona bahwa, berbagi lebih memiliki arti.

Nona bersahabat baik dengan Fachri. Fachri tak banyak bicara, tak punya banyak koleksi kata mesra, tapi mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sekedar memandangi senja dari atap gedung kampus, ataupun turun ke sungai untuk melihat kilauan sinar matahari mengambang di atas air.

Jika hari hujan, Fachri tanpa diketahui siapapun akan meletakkan payungnya disebelah tas Nona. Fachri tau persis, betapa ceroboh, pelupa dan malasnya Nona. Sebaliknya, kadang Nona menemani Fachri berjam-jam di depan layar monitor, tanpa dialog. Nona tau persis, Fachri senang ditemani, padahal Nona mengantuk minta ampun.

Mereka bersama-sama tahun demi tahun. Kenyamanan dan kebersamaan telah terjalin begitu mesra tanpa ada kata. Sampai pada akhirnya Nona berpikir, Fachri tak kuasa ia jangkau. Fachri seperti imajinasi, utopia yang tak mungkin ada. Sehingga walaupun hadir, Fachri seperti tak terjangkau olehnya.

Dan pertikaianpun mulai terjadi. Nona berpikir perpisahan yang dia rencanakan ini adalah yang terbaik dan akan membuat Fachri bahagia, sedangkan Fachri berpikir jika Nona sok tau, “Kamu gak tau, hal apa yang terbaik buatku dan perihal siapa yang bisa membuat aku bahagia” Kata Fachri.

Namun Nona sekeras batu. She thought she’s not worthy at all for him. Perbedaan yang membentang terlalu jauh. Perbedaan Suku. Perbedaan Fisik. Nona berpikir dia hanya wanita biasa yang tidak akan membuat Fachri, Mahasiswa paling tampan dikampus ini bahagia.

Hal ini membuat Fachri marah dan kecewa. Jembatan kemesraan mereka pun retak.

Sepatu kanvas basah, tubuh yang menggigil, langkah yang tak kunjung terhenti, dan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Nona still can feel him here, there, and everywhere. Lamat-lamat ditundukkan kembali wajahnya ke bawah. “I want you back and forever be mine..”. Hanya kata itu saja yang terlintas.

Nona tak kuasa mengingat kembali semuanya, saat beberapa tahun lalu, laki-laki ini, dibawah hujan, menatapnya untuk yang terakhir kali, lalu bertanya dan memaksanya untuk berjanji.

“Don’t give up on me.. and on us. Jangan Pergi.”

Tak ada jawaban dari Nona. Hanya rintik hujan.

“Please..” Fachri mengambil genggaman tangan Nona.

Nona masih terdiam. Menahan getaran hebat dibibirnya. Dan Laki-laki inipun menyerah. Tertunduk dan pergi. Pergi meninggalkan Nona dengan sekotak coklat basah di tangan. []

Rasa Patah Hati


Di gerbong kereta Commuter Line.

“Mbak, novelnya sedih banget ya? Sampe sembab begitu?”

Novel ber-genre fiction-horror itupun dia benamkan diwajahnya. Bagi Nona, mengalihkan konsentrasi ke media manapun nggak akan membantu banyak, segala aliran rasa dan air matanya tetap tak bisa dia hentikan.

———————-

Di kantor.

“Udahlah mbak, muka lo itu emang udah maksimal, nasip lo cuma dua, kalo nggak ditolak, ya diputusin…”

Pulpen murah meriah itupun akhirnya mendarat di kepala adik kelas, dan sahabat, sekarang teman satu kantor Nona yang memang sedari dulu hobi nyela tanpa pandang bulu.

———————-
Di sms.

“Hah kerokan lagi…? Lo penyakitan amat semenjak diputusin adek gw… hahaha…”

Nona tertawa keras, menertawai dirinya sendiri. Ternyata, sudah sebegitu parahnya psikosomasis phase yang dia alami. Mungkin sebentar lagi nona betul-betul akan memasuki fase skizofrenik . Nona nggak akan pernah tau.

———————-

Semua kenangan Nona bersama Dia bersifat transendental, yaitu berkaitan dengan sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman biasa dan ilmiah.

Malam itu sedikit temaram walaupun sepotong bulan tergantung agak terang. Nona ingin sekali sembunyi di tetes air di ujung daun talas agar meretas, dan melupakan jejak Dia yang meninggalkannya di sisa sisa hujan sore itu.

Tapi sungguh, disaat lupapun Nona tak dapat melupakannya. Retorika ini mungkin berarti beda. Tapi bagi Nona, keduanya sama saja. Sama-sama rentan, sama-sama kehilangan.

Dalam langkahnya yang diseret lambat-lambat, Nona berlari dari semua rasa yang dia batasi. Dia seka untuk yang kesekian kali tetes airmata itu menggunakan bahu tangannya. Nona tak pernah tahu berapa lama Dia singgah dihatinya, tapi irama Dia serupa iringan detak jam dinding yang dia hapal.

“Ampun Allah.. belas kasihanilah aku…”

bisiknya lirih lalu bersimpuh terisak ditanah basah.[]

Perempuan dan Attitude


Kawan gw, seorang gadis cantik (sungguh, ini bukan lebay), sesekali mengulangi pernyataan yang sama (dan selalu sama) semenjak pacar barunya yang duda beranak tiga, membelikan smartphone (lets called it so) yang katanya canggih itu. “Lo harusnya beli kaya ginian, yum. Lo harusnya malu ama slip gaji, masa nggak mampu sih beli? Ginian doang gitu lo”.

Ditawari begitu gw cuma nyengir dan mengangkat Sherry glass gw (yang isinya sekilas mirip spirtus), “Cheers for your super life.” lanjut gw.
Malamnya, di sebuah cafe express lokal dalam kota. Mata gw nggak bisa kedip saat ada cewek cakep (banget) ini, duduk didepan gw persis, memainkan rambut brunet bucheri-nya (bucheri: bule cet sendiri) sambil bertelpon ria, entah dengan siapa.

Cewek ini mirip sekali dengan Victoria, si vampire ganas dalam buku Twilight (sebuah seri novel karya Stephenie Meyer). Berbalutkan Trench coat (sejenis rain coat) yang gw rasa nggak beli di Indonesia. Belum lagi tasnya, hm.. Quintessential woman’s handbag by Coco Chanel. Pokoknya pasukan elit wanita james bond bangeeet, keren abis deh, gw pengen banget bisa kaya gini.

Nggak beberapa lama, ni cewek nutup telpon. Cewek model gini pasti nggak bisa deh kalo nggak tacap dong, so diambilnya kaca kecil dari tas mahalnya. Otomatis secepat kilat dia merogoh tissue lalu secepat mungkin mendempul ketidak-sempurnaan tadi. Dan saat itulah, saat dimana semua yang ada dibenak gw tiba-tiba aja blur, tiba-tiba gelap.

Itu cewek buang tissuenya sembarangan. Iya!! buang sampah sembarangan. Bukan dibuang pada apapun yang notabene tempatnya sampah.

She may not know that beauty with no attitude is a totally BIG dissaster!

Satu lagi kejadian, saat gw terkenang pada suatu malam, belum lama berselang, sebut saja Sophie, temen gw yang lain, MARAH-MARAH sama segerombol cewe satu kantornya tapi lain divisi: “Sempet ya kalian ke Salon pas Lunch disaat GENTING kaya gini?!! Dasar gak professional..!!! pake acara korupsi jam makan siang and ngeberantakin RENCANA kerja gw pulak!!! Apa sih mau loe-loe pada?!”

Sophie, sambil menunjuk muka innocent para Barbie itu, melanjutkan dengan intonasi pelan namun menghujam: “Boleh gak kalo gw anjurkan kalian untuk bisa lebih BALANCE sebagai manusia!! kalian kok kayaknya gampang banget ya ngeluarin uang ratusan ribu buat ke Salon?!!! Apa susahnya sih beli buku seharga 35rebu cuma buat ngencengin ISI OTAK KALIAN??!!”

What a lovely statement! Ingin rasanya gw melakukan pengalungan bunga kepada Sophie saat itu.

Sementara itu, baik gw ataupun yang dimarahi cuma bisa mingkem. Suara Sophie bener-bener kenceng dan waow.

Satu lagi kasus lain. Ada teman, of course perempuan, yang menyembunyikan umur sesungguhnya. Approaching 30 ngakunya early 20. Some place at cafe, kalo para cewek seumuran gw sedang kumpul bareng lalu didatangi cowok-cowok lucu, jempol kaki gw selalu jadi korban, diinjek sama temen saat gw polos njawab: “gw 26” ke cowok-cowok lucu itu. Setelah diinjek, gw cuma meringis dan berbisik: “what did I do?!?”.

Di lain kesempatan, kadang mereka bertanya: “kenapa sih yum, lo cuek aja proclaim bahwa umur lo sudah nyaris 30?”.

“Helloooo, I am 26 and will be 30 anyway, so what?? It’s God’s gift to reach that age, why denying it?”. Dan as usual, kalimat itu cuma ada dalem hati aja, diluaran gw cuma bisa nyengir lebar sambil mengangkat bahu: “kaga tau dah..”.

Sambil taking a deep sigh lalu disambi nyruput kopi, gw mbatin: a women, so ugly on the inside that she couldn’t bare on the living if she couldn’t be beautiful on the outside?

“Ayolah nona muda, jangan nampak begitu sedih, matahari secuil itu tiada akan pernah ubah warna kulitmu jadi semacam kuli pribumi. dan apa pula gunanya payung kecil genit yang kau bawa-bawa itu?” – Kartini
[]

Lelaki dan Kedangkalan Pikiran

Beberapa waktu kemarin gw mulai berani untuk membuka diri perihal memulai sebuah relationship. Tapi berangsur-angsur (untuk sekarang) keterbukaan itu kok rasanya pengen gw tutup lagi. Gw jadi parno ajeh gara-gara si Zikhry.

Kemarin di subway, Zikhry cerita, katanya kalo mau nikah itu, kita harus cek kesehatan. Gw cuma diem aja, gw yakin pasti cerita si Zikhry ini kelanjutannya aneh-aneh. Akhirnya bener dugaan gw, Zik cerita kalo temennya dia (sebut saja Bang Udel) nyaranin, kalo misalnya elo mau nikah, supaya nggak ada rasa was-was, penyesalan, penasaran, atau apa lah sebelum nikah, harus diadakan dialog terbuka untuk saling jujur.

Paling nggak alur dialognya ya seputar si cewek masih perawan atau nggak, si cowok udah pernah begituan belum, punya sejarah penyakit apa aja. Ya intinya, demi masa depan cemerlang gitu loh. Gw menganggap semua itu merupakan hal yang wajar, secara emang hidup gw lurus dan normal-normal aja, ya dialog kayak gini nggak jadi masalah buat gw. Ya ngga?

Tapi yang jadi concern mendasar gw (bahasa simple: bikin gw senewen) adalah sewaktu Bang Udel berstatement:

“Semisal dialog itu nggak berhasil, dan you masih belum percaya apakah tu calon bini lo jujur apa kaga, ya lo harus cek langsung, kalo perlu (ekstrimnya) lo suruh dia bugil (tuing tuing tuing). Supaya lo kagak kaya beli kucing dalem karung. Siapa tau bini lo toketnya gede sebelah atau bulu ketekan. Wajarlah, hanya sebatas cek up ala militer gitu. Ibaratnya kan, lo mau beli barang buat dipake seumur hidup, kalo tau-tau lo dapet barang apkiran hayo?! ntar bakal nyesel dah lu.”

Anjrit. Gw beneran tersinggung kali ini. For God’s sake, apa maksutnya barang apkiran? Barang second grade? Barang kw-2? Apa kabarnya kalo cewek itu juga manusia? Punya perasaan, nalar, naluri dan juga emosi. Edan cowok-cowok jaman sekarang!

“Tapi lo pikir lagi deh rum, bener juga kan? Loe realistis aja deh, kalo misalnya calon lo itu nggak perfect, gimana?” Kalimat terakhir dari Zikhry itu bener-bener nampol. Weh, dunia kayanya kejam banget terhadap kaum perempuan. Kenapa jadi kami yang musti telanjang? Kenapa juga jadi kami yang harus dites dan dibuktikan?

Kalo misalnya abis disuruh bugil ternyata nggak cocok? Tetep direject? Atau nggak jadi beli? Muke gile. Serius dah, sakit tau nggak mendengar kenyataan kalo ternyata jenis cowok kayak Bang Udel masih berkeliaran dimana-mana. Nyali gw jadi ciut lagi. Secara gw emang kagak percayaan ama cowok anaknya. Hilang deh semua khayalan gila gw about how we still can fall in love, but in a free way, even without any fear of being rejected.

Trus gw tanya ke Zikhry, kalo misalnya pacarnya dia sekarang memang apkir, alias kaga perawan, gimana? Zikhry njawab sambil cengar-cengir: “ya kan dia udah berani jujur. Mending jujur kayak gitu, setidaknya ya gw masih bisa terima, gw anggap itu karma gw ajah.”

Gw potong: “Kok gitu?”

“Ya iyalah, daripada gw menemukan ketidaksempurnaan itu sendiri? Hayoh, lebih sakit ati lah gw. Kalo udah gitu mah, paling ekstrimnya, gw.. kawin lagi..”

Hm, jadi kangen Zuber, laki-laki ini dulu selalu mensemangati gw kalo gw lagi mellow, dan selalu protes kalo gw selalu ngedumel soal kelakuan cowok yang nana dan nini. Kalo udah mentok, si zuber biasanya bilang: “kalo mau diterima apa adanya, ya harus bisa menerima apa adanya”. Dalem banget tuh kalimat.

Hm, hari dimana Zikhry ketawa-ketawa menceritakan semua hal tadi emang dah lama lewat. Tapi masih ada berasa pilu aja gw. Daripada manyun puasa-puasa, gw memutuskan untuk jalan-jalan sendiri pas wiken. Eh pas banget baru berapa meter dari kosan, hujan, mana gw nggak bawa payung, yah nasip.

Udah hampir seperempat jam gw berdiri mandangin hujan. Hujan kali ini terlalu basah untuk ditambah air mata. Yet for a serious seeker seperti gw, inspiration is everything. Jadi, mau bagaimanapun berasa gundah hati ini, tetap harus ada hikmah yang diambil.

Well, reality is not necessarily lethal, tetapi (at least) kudu mampu membuat kita berpikir satu dua kali untuk lebih waspada terhadap hidup dan tetep kembali pada jalur shirotol mustaqim (jalan yang lurus). Toh sekalipun misalnya jalan kita nggak lurus, Tuhan yang Maha Baik pasti akan tetap mengizinkan kita untuk berputar.

Kesempurnaan itu sendiri merupakan suatu identitas. Dan identitas tidak boleh dibentuk, identitas harus selalu terbentuk dari dalam. Karena ketika identitas hanya merupakan susunan orisinalitas yang notabenenya dibentuk maka kesempurnaan hanya akan menjadi kosmetik.

Lain halnya jika kesempurnaan itu terbentuk dari dalam, hal itu akan menjadi identitas yang matang. Dan identitas yang matang adalah identitas yang berguna bagi penyandangnya.

Like Buddha ever said once: Do not mingle (bercampur, bergaul), because you have different intentions, therefore your views are different and your actions will of course be different. Walah, mbuh lah. Ila allahi marji’ukum – Kepada Allah kembalimu semuanya.

Well, thinking that someone is beautiful is only a concept. But have you ever thought: what is beauty? We may say that it is in the eye of the beholder. Nah makanya didalam geraian rintik hujan, gw sedikitnya mulai dapet pencerahan, jika mungkin, someday, somehow, gw bakal nemu cowok yang cinta dan nerima apa adanya gw, tanpa harus nyuruh gw bugil. Jadi gw semestinya nggak boleh jiper cuman gara-gara Zikhry cerita hal konyol beginian.

These kind of problems are just like the sky, which has no end in space. Bisa jadi ini Cuma sekedar perihal yang ingin disampaikan Tuhan melalui bala tentara langitnya ke gw, bahwa sesungguhnya the real source of fear is ‘not knowing’. Kalo kata bokap gw: “Wes nrimo ae nduk, jo keakehan mikir, uwong ki wes ono dalane masing-masing”.[]

Menikah dan Keuzuran

Gw punya best friend (temen SMP), cewek, namanya Dara. Si Dara ini sering berkeluh kesah di status YM soal LDR (Long Distance Relationship)-nya dia. Gw liat Dara khawatir gitu sama hubungan dia ama pacarnya, padahal si pangeran ganteng dan baik hati itu udah minta Dara untuk nunggu 3 tahun lagi aja, karena si cowok ini masih ada di New York sekarang.

Well, segala sesuatu emang nggak pasti sih, tapi bagi gw, status si Dara udah lebih dari cukup. Kategori AMAN-lah. Nggak kayak gw, udah jomblo, kronis pula. Harusnya gw yang kebat kebit. Hahaha.

Ngomongin soal kawin gini, semalem gw yang sedang homesick dan sensitip serta suka marah-marah ini, ngakak sejeder-jedernya, gara-gara disuruh kawin.

Jadi ada temen, namanya Ipung. Nah nggak ada angin nggak ada ujan, si Ipung tiba-tiba aja nyuruh gw kawin, dengan alasan: ‘umur lo udah uzur!’

Jah, gw dibilang uzur. (~..~)v

Gw sih nimpalin sambil ngegaring aja, sampe pada satu moment si Ipung bilang, “Cepetan nikah lah yum. Hm, kalo berkenan, gw mau kok. Untuk menghindari lumuran DOSA yang tidak diinginkan. Karena pada hakikatnya, semakin lo uzur, ntar dosanya nambah kalo nggak nikah-nikah.”

BAH!

Asli, bukan lamarannya yang penting, tapi kata DOSAnya yang lebih nemplok di muka gw. Berasa pendosa banget kalo seumuran gw belon kawin. (sigh).

Even though we are perfect, but really, no one or nobody around us is perfect. Tetap aja, kerasa claustrophobic, kalo semakin banyak orang-orang (bahkan yang lo nggak kenal sekalipun) nyuru-nyuru lo nikah.

Baik sih, niatnya ngingetin, tapi kalo akhirnya bergunjing, nah ini yang gw kaga demen. Gw sendiri yang jalanin aja super santai trus kenapa orang-orang musti repot nana dan nini tentang ke-uzuran gw?

Tapi ini bukan ngebahas gw dan segala keuzuran gw kok. Gw cuma pengen ngasih tau para cowok aja, besok-besok kalo ngelamar cewek, yang jujur, apa adanya, nggak usah pake alasan pengen ngehindarin dosa.

Kalo ceweknya normal, ya kaga papa. Masalahnya cewek sekarang pinter-pinter, jadi rayuan lo musti dibikin lebih sadis, apalagi kalo ceweknya rada sableng kaya si Kanya temen gw ini, beuh, ati-ati aja yak?

————

“I can’t understand people who married for sex. Sex is not purpose but BONUS! Anything you shared with your beloved people is great, moreover, with S-E-X. Sex with unbeloved people can be FUN, but just.. NOT great”

Gw cuma mengangguk-angguk tanda mengerti. Gw ambil serauk kacang tanah gurih lagi asin favourit gw. Gw kupas dan kunyah-kunyah sambil terus konsentrasi mendengarkan ocehan si Kanya. Tanpa menyela.

“Gw jadi bisa ngerti, kenapa orang jaman sekarang jadi gampang banget memutuskan untuk cerai..” Kanya menghentikan kalimatnya, memberi kode dan mempersilahkan gw untuk menyanggah.

Gw cuma geleng-geleng kepala, menunjuk mulut gw yang penuh dengan kacang sambil naik-naikin alis yang secara implisit berarti meminta Kanya sendiri yang meneruskan kalimatnya.

“Kenapa coba? Kenapa orang cerai? KENAPA? That’s because they are not really falling in love at the beginning, Mereka pasti menikah karena sex, dan alasan paling KLISEnya: for AVOID sins. Gosh! It’s silly and stupid!”

Dan gw hampir keselek kacang bangkok (karena gendut banget kacangnya), saat Kanya memegang kedua pipi gw (setengah menampar kalo boleh curhat (T_T)v ) sambil bilang:

“So! My dearly friend, when a man comes to you and ask you for marriage and the reason is to AVOID sin, just leave him right away! Got it?!”. Sekali lagi kedua telapak tangan Kanya, berbarengan, menepok pipi gw. Kanan dan kiri. “PLAK!!!”.

Semprul bin sontoloyo. Sakit juga. Tapi gw cuma bisa mengangguk pelan, sambil berusaha menelan pelan-pelan kacang yang hampir masuk ke rongga pernafasan.

Kalo gw nggak sigap, bisa mati keselek guah!

Kalo jaman dulu, orang menikah memang hanya untuk menyalurkan hasrat yang satu itu (a.k.a = sex). Sex meant pleasure, which humans really crave. Tapi sekarang? Bicara diluar aspek religi, we can have this without marrying.

“Bullshit ngomongin soal menghindari dosa, kalo dibalik itu terselubung niat yang orientasinya cuma body, toket, dan seks juga.” Kanya menambahkan kalimat protesnya sambit mengikat rambut-nya yang sedari tadi tergerai lurus.

Sedangkan gw, masih mengupas dan mengunyah kacang-kacang malang itu.

Menurut Kanya, perempuan mustinya tersinggung, kalo diajak menikah hanya karena akan dijadikan sebagai objek pengeliminasi dosa, iya = D-O-S-A, instead of as a life time partner, or a lover, or a beloved wife, ataupun sebentuk subjek lain (bukan objek) yang setidaknya punya kesempatan juga untuk jadi pemeran aktif dalam suatu kehidupan pernikahan.

Setelah gw pikir-pikir, ya ada benernya juga sih. Alasan menghindari dosa tadi sepertinya bener-bener kekanak-kanakan. Mending tu cowok bilang yang lain gitu, misalnya:

“ayuk nikah, sunnah rosul”
“ayuk nikah, biar kita bisa nyicil rumah bareng”
“ayuk nikah, aku cinta banget sama kamu”
“ayuk nikah, ibuku udah nanyain terus tuh”
“ayuk nikah, tapi di KUA aja ya, miskin nih”
“ayuk nikah, sebelum dilangkahin adek-ku”
“ayuk nikah, sebelum aku dilamar orang”
“ayuk nikah, biar bapakku bisa nimang cucu taun depan”
“ayuk nikah, tapi kamu sabar nungguin aku pulang ya” (si Dara banget :p)
Gw rasa, akan terasa lebih jujur, lebih plong, lebih apa adanya. Ya nggak?

Versi gw pribadi sih, Pokoknya do NOT let marriage be your social alibi, do it because of love. Manis banget kan gw? Nggak pusing kaya si Kanya. (Hahaha. Digantung gw kalo dia baca tulisan ini).

Tapi tetep bagi gw, ke-uzuran gw akan bertambah parah aja nih. Karena gw percaya jika a person may love you, but avoid marrying you (or anybody else) if they somehow believe life with you will be difficult. Dan gw merasa, semua cowok akan kesusahan kalo hidup sama gw. Sigh. Mengutip apa kata Caca temen gw, “Cuma begundal gila aja yang berani nikahin elu, com. Hahaha!!”.

Baru selese mikar-mikir, gw dapet e-mail dari temen gw:

Aku bingung sekaligus salut sama kamu rum, rupanya kamu masih hobby pegang bola panas yang bergulir kencang, Hahaha..

eh Rum, bertahun tahun, aku memiliki pertanyaan yang belum kudapat jawabannya, Pacar mu siapa sie, atau kamu ga punya pacar? hehehe.. salam deh buat lelaki misterius mu itu.

-Qentang-

Sambil gigit-gigit apel ditangan, gw nyengir. Ngikik sendiri, siapa lelaki misterius lagi begundal gila itu ya? Ck ck ck¡K []

Cinta yang Terlupa

Gw melirik ponsel kelabu yang telah setia bersama gw selama 2 tahun ini. Tertera disana: “Frederic Chopin prelude in E minor”. Alunan piano ini kerasa pilu banget di dada. Bahkan angin sore yang silir semilir nggak mampu memalingkan gw dari derasnya rasa prihatin gw saat ini.

Temen kantor gw, Slinky Li, pernah bilang ke gw: “The only thing you can do to a dissaster is acceptance.” Menurut gw, filosofi hidup yang kayak gini nggak maen-maen. Ah, atau lebih tepatnya, gw aja yang terlalu oncom, mengada-ada untuk menggali lebih dalam tentang arti sebuah “acceptance”, acceptance terhadap kesalahan ataupun kebenaran yang berlalu lalang didepan mata kita.

Memang pada dasarnya, salah dan benar itu bukan milik kita. Kita hanya meminjam sebuah kebenaran dari Sang Pencipta. Dan saat kita melakukan kesalahan, itu hanya sekedar pertanda bahwa kita terlalu jauh dari-Nya.

Adalah seorang gadis, let’s call her: Monica. Gw kenal Monica bahkan jauh sebelum kami mengerti arti cinta dan laki-laki. Mungkin 20 tahun lalu. Monica pernah mengalami moment yang luar biasa berat, karena satu-satunya lelaki yang selalu memenuhi seluruh ruang mimpi dan bilik kenyataan hidupnya, melangsungkan pernikahan dengan wanita lain.

Well, sepertinya bagi gw, ini hanya kisah cinta biasa yang bisa aja terjadi dalam kehidupan setiap orang. Bukan hanya Monica, bahkan gw pun pernah mengalami hal serupa. So there’s nothing special about it, right?.

Wrong..!

“Eh Ting (Monica selalu manggil gw: keriting), eh tau ga? Aku lagi di rooftop, kalo mao, aku bisa aja terjun bebas dari sini. You know, after all, pernikahan Baskoro, really a knife in my heart..”

Monica menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi, itu sama aja aku memberi ruang kebenaran atas kesalahan yang dulu aku perbuat. Kamu tau, Ting? Ngga ada yang salah dalam kehidupan ini. Yang keliru adalah ketika kita menyikapi segala sesuatu dengan tidak memperhitungkan akibat dari pilihan sikap kita..”

Monica menghela nafas.

“Waktu itu aku memilih untuk nggak memperjuangkan cintaku ke Baskoro. Karena, aku kira, dengan membiarkan semuanya mengalir, Sang waktu toh akan membuat Baskoro kembali ke aku. Ternyata, aku nggak nyangka, endingnya meleset sejauh ini..”

Monica menutup perbincangan kami. Tanpa kata-kata pemanis, terasa dingin dan sadis.

Monica yang secantik dan seanggun Dewi Jahnawi dari Jonggring Saloka, bisa saja menunjuk ataupun memilih secara acak a very high quality man dari segala penjuru jagad. Tapi entahlah, tampaknya memang harus ada orang-orang tertentu yang ditakdirkan memiliki kisah cinta yang complicated dan berujung tragis.

Monica selalu mencintai pria ini, seorang pria biasa, dengan kepintaran diatas rata-rata. Modal ketampanan pas-pasan dan postur yang slightly bersahaja. Ya, dia Baskoro. Waktu SMA adalah kali terakhir Monica bisa duduk berdua dengan Baskoro. Tertawa bahagia dibawah pohon akasia. Saat itu mereka tak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan cinta. Ya! hanya tertawa dan berbahagia dibawah pohon akasia. Bahkan mungkin, Monica terlalu sibuk menikmati setiap inci smiling curve dan mata bening Baskoro.

Bertahun-tahun selama gw mengenal Monica dan semua pacar-pacar perfecto-nya, tetaplah, selalu ada “Baskoro”. Kata emak gw, first love never die. Tapi, Monica selalu protes kalo gw bilang Baskoro itu first love dia.

Monica selalu bersikap tegar, dia tak ingin lagi menggali perasaan yang sudah begitu teguh untuk menjadikannya merapuh kembali. Tapi sering kali, gw menemukan Monica terpagut begitu lama, memandangi kerlip bintang.

Mungkin dia mencoba dengan sangat keras, untuk mengingat dan mencari smiling curve dan mata bening milik Baskoro disana, sambil sesekali berbisik lirih “I wanna kiss you underneath these stars..” Seolah Monica ingin malam menyampaikan lirih kerinduannya kepada Baskoro.

Kadang kala, Monica pergi menemui Baskoro, frekuensinya pun nggak setahun sekali, tapi mereka bertemu. Dua jam, dalam hening, memandangi layar bioskop yang Monica nggak ngerti isi cerita film yang diputar, karena terlalu sibuk menggali perasaan yang mengalir hangat dalam nadinya. Sibuk menghirup lamat udara beku yang juga dihirup Baskoro. Sibuk menyimpan tiap detik berharga bersama Baskoro dalam setiap laci hatinya.

Setelah pertemuannya dengan Baskoro, anehnya, Monica malah selalu tampak lelah, pancaran sendu matanya seolah berkata, “Ah, hidup memang berat ataukah aku yang tak cukup kuat?”.

But I know, that’s just a retarded question. Dalam hati, gw mengagumi Monica.

Gw nggak nyangka ada makhluk macam Monica yang dapat menyelami arti mencintai lalu mampu memanggul beban cinta yang sebegitu beratnya dengan pasrah. Gw sendiri hingga saat ini, yakin, Monica nggak pernah menitikkan air mata barang setetespun atas pernikahan Baskoro. Walaupun pada kenyataannya, pernikahan Baskoro bagai racun mematikan yang meremas hatinya hingga luluh lantak.

Kehidupan bagi Monica tak lain adalah sebuah pengabdian, pengabdian kepada janji, pengabdian kepada keluarga, pengabdian kepada kerabat, pengabdian kepada kebenaran yang dipegang, pengabdian kepada kehidupan, pengabdian kepada sang pencipta. Juga.. pengabdian kepada cinta.

Pengabdian cinta Monica kepada Baskoro.

Monica paham, bahwa takdir Tuhan banyak diganjal oleh ‘takdir kuasa manusia’. Tapi Monica memutuskan untuk menggantungkan diri pada Tuhan saja. Monica bersedia menanggung derita cintanya, asalkan dia rasakan itu memang kehendak Tuhan.

Walau dengan hati hancur, gw tau, Monica berhasil lulus dalam ujian kesabaran yang dihadiahkan Tuhan kepadanya. Monica berhasil lolos dalam ujian ‘acceptance’ yang diberikan kepadanya. Gimanapun, kekayaan diri adalah bukan apa yang dapat kita miliki, tetapi adalah bagaimana kita dapat menjadi apa adanya, sebaik-baik diri kita. Dan jangan pernah lupa satu hal, Gusti Allah mboten sare.

Lagipula, Tuhan itu maha adil.

==================

Ting!
Kapan pulang?
Kamu sehat disana?

kemarin aku main kerumahmu,
dan hebatnya, kamu nggak punya pohon mangga lagi tuh,

hahaha, pohon manggamu ditebang habis sama si Om.
Aku mau ngasih tau, aku mau nujuh bulanan minggu depan,
Si Woro udah nggak sabar pengen adiknya ini cepet brojol.

Cowok lho, Ting. Kamu pasti seneng banget.

Ting, aku mau menamainya Baskoro.

BR,
Monica

==================

Yups! Tuhan itu adil: only those who dare to fail greatly can ever achieve greatly. Monica telah menikah dengan seorang laki-laki, bukan Baskoro. Monica sangat mencintai laki-laki ini dan juga anak-anak mereka.

Tapi walaupun begitu, sepenggalan cintanya kepada Baskoro nggak pernah mati. Bak kisah cinta Bisma Dewabrata kepada Dewi Amba. Sepenggal cinta itulah yang disimpan Monica untuk Baskoro, mungkin Monica berharap, dikehidupan berikutnya, Baskoro adalah miliknya. Karena penerimaan itulah, Monica akhirnya melepaskan Baskoro.

Kisah hidup Monica juga ibarat video clip youtube kiriman Zuber, temen lama gw. Kalo nggak salah video clip itu milik Keroncong Chaos, judul lagunya: Kuburan Cinta. Model video clipnya, walaupun nggak secantik Monica, tetaplah spektakuler. Inti videonya ada seorang pemuda yang ditinggal kawin oleh model spekta tadi, lalu pemuda itu memutuskan mau mengakhiri hidupnya dengan cara nyebur sumur. Tapi nggak jadi, eh malah pemuda itu ambil wudhu. Video klip selesai.

Gw jadi ingat seseorang. Seseorang yang selalu ada disetiap langkah perjalanan hidup gw. Namanya adalah satu-satunya nama laki-laki yang berani gw sebut dan gw ceritakan ke nyokap-bokap gw. For these whole years, nama yang sama, selalu nama yang sama. Tapi, gw cuman mingkem, manyun lantas masuk kamar kalo bokap gw nanya: “Kapan dong dia diajak main ke rumah?..”

Karena gw selalu tau, laki-laki ini nggak pernah mencintai gw. Ironisnya, mungkin dia menikah tahun ini, dan bukan sama gw pastinya. Haha.

Gw tertawa! Ya, gw masih mampu tertawa! Gw harus mampu belajar menertawakan diri gw, karena kata pak ustad di pengajian: makin tinggi kemampuan seseorang dalam menertawakan dirinya sendiri, maka akan semakin meningkat pula kebesaran jiwa mereka. Semakin luas pengetahuan seseorang atas kedunguan-kedunguannya sendiri, semakin matang dan tegar kepribadiannya. Dan gw berharap, gw bisa begitu.

Mirip Monica, pada malam yang legam, kelam, dan hanya ditemani sepenggalan sinar bulan, gw sempat juga terpagut lama memandangi kerlip gemintang.

Lalu mencoba juga dengan sangat keras, untuk mengingat dan mencari wajah lelaki itu disana.[]

Him, the only man with his silly and rainy face.

Tentang Para Pahlawan Wanita itu

Only silence that is the true friend that never betrays. Silence is so great, it feels like a black coffee with a slice of panettone cake. Perfectly sweet, smells good, but a bit surrounded by a bitterness-bitterness of life.

Gw menggeser posisi punggung, mencari posisi yang lebih nyaman. Butir-butir moisture sisa musim semi yang menari-nari mengelilingi udara disekitar gw, berasa hangat, berat dan pekat. Akibatnya, langit malam yang harusnya hitam memikat, menjadi agak merah dan sedikit gelap.

Kaos Ho Chi Minh gw berkibar-kibar riang ditiup angin yang temperaturnya hampir bikin gw sinting. Panas memang, tapi gw menikmati hawa panas ini dalam kesendirian gw. Lagipula, I got a very breathtaking scenery up here. Very much entertaining, so the feel of hot and loneliness (heleh) has gone away.

Entahlah, gw kalo ketemu balkon, pasti bawaan gw menerawang, mikir-mikir hal-hal yang pernah lewat dihidup gw. Seperti halnya hal-hal baru ini, hal-hal yang menekan batin gw hingga sangat erat. Sampai-sampai gw nggak ngerti, apa yang harus gw lakukan.

Kemarin, gw jalan-jalan sama si Zikhry ke Victoria Park, menurut gosip, kalo kangen indonesia, lu ngacir aja ke sana. Karena banyak pahlawan devisa (TKW – termasuk gw, hihihi) asal Indonesia yang main ke park; gw sebut park bukan karena sok, tapi akan jadi terlalu aneh kalo gw sebut: taman yang luas, terlihat hijau, tradisional namun hi-tec ini.

Belum masuk ke area park, gw udah disambut sama swalayan made in Indonesia. Gw lantas norak bukan main. Jingkrak-jingkrak bak anak kecil dibeliin boneka tinky winky. So excited!

Didepan toko itu ada beberapa wanita duduk-duduk, lesehan. Dari ciri khas betapa moving fast and so much western-nya kota ini, gw bisa nebak, pasti mbak-mbak ini orang Indonesia. Haha. No offense ya.

Gw memberanikan diri masuk kedalam, penasaran aja, apa sih yang dijual di warung Indonesia ini?

Setelah gw liat-liat, emang banyak banget produk indonesia yang dijual disitu, dari kosmetik, makanan (ada nasi gudeg yang bisa dipanaskan loh!), bumbu, snack, beng-beng, bahkan ada MARNING! (mending googling deh kalo nggak tau Marning itu apa).

Harganyapun relatif sama, misalnya aja gw kemarin beli lotion merk x, harganya 18 rebu di Indonesia, di sini dijual $16 (kurs $1 = Rp 1210). Trus kripik KUSUKA fave gw, harganya $6. intinya fair lah, nggak belagu yang punya toko.

Di toko sini juga ada pengiriman uang khusus, tanpa potongan. Ada juga electronic storenya, yang dijual hanya MP4 player, ponsel, n gadget telecom yang simple gitu lah. Nggak lupa jual emas-emas juga. Mungkin yang punya toko tau, kalo para TKW pada suka nyimpen emas.

Puas mampir-mampir ke warung tadi, gw memasuki area dalem Victoria Park. Well, typical khas orang Asia, kalo nggak foto-foto dulu, ya nggak apdol. Haha!

Setelah gw dan Zikhry menggila foto-foto, kami iseng duduk dideket situ, awalnya sebelah tempat duduk gw, orang Pakistan, ganteng! Tapi nggak lama, orang itu pergi dan datanglah, guess what?! Mbak-mbak, berdua dengan logat yang jawa super medok!

Seperti biasa, gw anaknya excited-an, makanya mereka gw culik, ajak ngobrol dikit. Mereka seneng banget juga. Untuk mengkamuflase agar mereka lebih open wawancaranya, gw ama Zikhry ngaku anak kuliahan, lagi research. Waks!

Setelah beberapa waktu wawancara, muka gw nggak begitu excited lagi. Ada beberapa fakta yang bikin gw kesian aja sama mereka. They really crawl from the deep abyss.

Standardnya, gaji mereka $3480 (HKD) sebulan (kurang lebih 4.210.800 IDR). Dan mereka harus setor ke PT (nyebutnya sih gitu, agen kali ya) $3000 perbulan selama 7 kali. Setornya gampang, bisa langsung, bisa lewat 7eleven (mirip-mirip Indomart di Indonesia).

Jadi intinya perbulan mereka cuma dapet $480 (580.800 IDR) aja. Kalo kontraknya 2 tahun, enak, tajir aja. Tapi kalo kontraknya cuma 12 bulan? Yah, mereka cuma punya waktu 5 bulan buat nikmatin full rate gaji mereka.

Gw terbayang, buset daaah (ini bukan umpatan), Zikhry aja ibaratnya dibayar beratus-ratus dollar per hari disini, kerja Zikhry yang nggak sampe jam 9 malem, dikenakan pajak juga nggak sampe $3000 tuh. Wadoh kok begini amat realitanya!

Itupun masih ada satu-dua orang, karena NGGAK PUNYA (bukan MINIM) pengetahuan, baik pengetahuan tentang: minimum wage, rights and semua rules yang related and applied di sini, ada yang cuma dibayar $1800-$2000 sebulan!

Well, maybe money is not everything, but sometimes without money everything becomes nothing. Makanya dibela-belain.

Hm.. sujud gw bertambah dalam hanya untuk memikirkan hal ini.

Well anyway, mereka so pasti cerita yang seneng-seneng juga lah. Dalam kondisi seperti itupun mereka masih mensyukuri, jika mereka jauh lebih baik daripada TKW yang pergi ke Arab, atau Singapore. Karena di sini human rights lebih dihargai. Sebagian besar majikan sudah sadar terhadap hak-hak yang dimiliki para TKW ini, sehingga, the rights is fully given. Ditambah disini lebih bebas juga katanya. Haha jadi mereka bisa make baju suka-suka.

Nggak sadar, gw nyerocos aja, meminta mereka berpendapat, apa sebenernya harapan mereka terhadap pemerintah indonesia saat ini. Kurang lebih jawabannya kayak gini:

“Gini lo mbak, pemerintah kita itu kurang memberikan penyuluhan buat kita-kita (kami, mungkin maksudnya), jadi kita banyak yang nggak tau soal aturan itu. Jadi kalo dapet majikan yang kurang ajar, kebanyakan, kita Cuma diem aja, karena kita nggak tau hak kita sejauh mana.”

“Pelayanan di konsulat (KBRI) juga buruk. Kalo tanya-tanya dikit, mereka suka melayani dengan seenaknya, bentak-bentak. Tapi yah, dibanding yang lalu-lalu, pelayanannya meningkat sih, sekitar 2%.” Lalu mbak itu tertawa. Gw masih majang muka serius.

“Harusnya kayak konsulat pilifina (Philiphina), mereka itu bagus mbak pelayanannya, ngurus TKWnya juga serius, makanya jarang orang pilifin yang gajinya dibawah standar, jarang juga ada yang dikibulin sama majikannya, mereka berani ngelawan, karena mereka tau persis hak dan kewajiban mereka.”

Awan bergerak tanpa berarak namun melambat dan sekarat, hanya hening yang menemani panjangnya jeda helaan nafas Mbak Mini (nama sang TKW narasumber). Mungkin dia ingat anak-anaknya, bisa jadi dia ingat kampung halamannya. Gw nggak pernah tau.

Kalimat gw selanjutnya patah, penuh rasa bersalah, “apa yang bisa aku bantu, mbak mini?”. Mbak Mini Cuma tersenyum, menepuk-nepuk pundak gw, “sudah, sekolah saja yang benar.”[]

Wanita Bekerja

Arum: lo nggak tau alasan gw untuk tetep kerja dit, jangan timpang sebelah dulu

Radithya: Nggak, pokoknya istri kudu di rumah urus anak & jaga amanah rumah

Arum: gw maklum kalo lo berpendapat gitu karena lo nggak tau background gw

Radithya: kalo istri kerja, jadi lah istri pembakang, ga berkah istri kaya begitu

Arum: apapun itu, gw hargai pendapat lu, toh gw juga kagak mau merit ama lu

Radithya: gara-gara ortunya dua-duanya kerja, jadi lah anak-anaknya anak pembantu, kasian de tu anak..

Arum: nggak, kalo emaknya gw, tujuan gw kerja bukan duit kok, insya allah mulia, banyak berkah

Radithya: blom kawin seh bisa ngomong gampang, ntar kalo anak sakit …..uda cape kerja ..cape pula anak sakit

Arum: Yang kaya gitu kan nanti nata sendiri, adapt lah bisa, lagian kalo kerjanya nggak nganggep beban, dan kalo anak juga nggak dianggap sebagai beban, sebagai manusia yang punya nurani, gw nggak akan ngerasa capek dit, lagian gw kan nggak kayak elo: PNS, tukang korupsi, narrow minded, overjudgmental pula..

==================================
Setelah berhari-hari, otak gw masih kram. Conversation gw sama si Radit Monyong barusan bener-bener triple strike (telek) banget buat gw. Gila! Secara nggak langsung gw didoain masup neraka ama dia. Sigh..!!

Well, rasanya kira-kira memang mustahil untuk bisa tepat mengenali manusia secara logis dan mendalam. Karena pemaknaan masing-masing individu terhadap suatu konsep atau cara pandang perihal tertentu JELAS berbeda, sejalan dengan perbedaan teori ilmiah yang dimiliki masing-masing. Singkatnya: mahzab filsafatnya beda.

Orang-orang kayak gini, berani melontarkan kritikan-kritikan maut tapi ngawur. Biasanya mereka meletakkan sasaran kritik mereka berdasarkan maunya mereka aja. Toh nggak harus sampe mengeluarkan kata-kata menyakitkan buat orang lain untuk menyampaikannya kan? Kalo kata kitab suci agama gw: Dan ajaklah mereka berdebat dengan cara yang sebaik-baiknya (QS – 16:125).

Gw rasa semuanya bakal baik-baik aja atas dasar dukungan dan kebijakan si husband will be agar nantinya kita dapat mengupayakan tawazun (keseimbangan) antara kerja, diri probadi dan rumah tangga.

Gw adalah satu dari jutaan pemikir yang sadar akan tanggung jawab sosial gw, dan gw nggak akan ngelepas tanggung jawab itu barang sekejap. Jadi, please deh para cowok, kompensasi dan hak trial sebagai wanita yang bekerja juga wajib diberikan kepada gw dan mungkin ribuan wanita yang kayak gw, kaum mustadh’afin: orang-orang yang tertindas sepanjang jaman.

Dikutip dari buku kuwair:

Kecerdasan dan kecendekiawanan, adalah dua hal yang dapat membuat seseorang mampu memutuskan belenggu-belenggu yang membelit dirinya dan menjadikannya mampu mendahului jamannya.[]

Tentang Akhlak

Senja meredup manja. Semburat biru mulai mendominasi kanvas merah di sore berbau laut itu. Leichhardt, with a beautiful water view, is my favourite place. Berjalan bertelanjang kaki, sepanjang the water’s edge then follow the harbour foreshore for very long way has been put some undescribe-and-happy feeling for me.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Namun, kali ini gw hanya ingin merasakan kedamaiannya aja. No camera shutter, no cell phone, nobody, nothing. Hanya ada gw, biru laut, langit sore dan (tentunya) Tuhan.

“Mak!!”

Suara ini demikian familiar di gw: Dennis.

“Weh, ngapain mak….?!”

Gw berkedip-kedip. Suasananya tiba-tiba berubah. Gw baru sadar, kayaknya gw barusan nggak sengaja ketiduran di meja kantor gw. (Asyiem..).

Banyak pengunjung tetap di cubical gw. Well, nggak sombong, tempat gw emang punya view paling bagus. Segala beban, kata temen-temen gw, kerasa plong kalo udah numpang duduk sebentar deket sini. (Bilang aja mau deket-deket gw hehe).

Salah satunya, Dennis. Dennis ini salah satu sahabat favorite gw dikantor. Dia typical cowok yang betul-betul bisa dibilang cowok banget. Lembut, manis, tata kramanya bagus, dan lucu.

Dia juga sangat bertanggung jawab, ya sama kerjaan, ya sama keluarganya (dia jadi kepala keluarga setelah papanya meninggal). Anaknya nggak gampang ngeluh, selalu bersyukur dan nerima apapun kondisi dia sekarang. Gw rasa dia bakal sukses dengan attitude dia yang pantang nyerah but so sweet dan nice itu.

Sebelum resign, Dennis sempat mengungkapkan, betapa bahagianya dia bisa ketemu lalu kerja bareng sama gw dan juga temen-temen yang lain.

Gw jadi inget, dulu gw punya temen kantor (sebut saja Sheila), anaknya bawel dan apatis banget. Seinget gw, udah banyak kata-kata nggak bersyukur keluar dari mulut dia. Padahal saat itu, kondisi Sheila (jauuuuuh banget) 89 kali lebih baik daripada Dennis.

Mending kalo cuma ngeluh (karena ngeluh itu manusiawi). Tapi ini mah: su’udzon ama orang, nyelain/nyacat orang, sama sekali nggak berterimakasih atas hidup, nggrundel (aduh, nggak ada terjemahan bahasa Indonesianya “nggrundel” ya?). Well, kalo kata pak ustad gw di pengajian: “Hatinya penuh kerewelan yang mubazir. Hatinya tak kunjung selesai.”

Kayaknya, energi, pikiran dan hatinya dikuras BUKAN untuk napak kedepan. Saat itu, dia lebih asyik mikirin gimana nyari kemungkinan pekerjaan lain yang menurutnya lebih berGENGSI dan berpendapatan lebih tinggi, dibanding asyik melatih ketrampilan baru atau rajin mencari peluang-peluang yang bisa mengembangkan hidupnya (hidup yang bukan sebatas pekerjaan aja).

Tapi sekalinya dibahas, malah kata-kata tuduhan apatisnya Sheila yang keluar: “Seinget gw, setiap ada yang resign, lo selalu bersikap gitu tuh, ngejutekin orang pindah, kalo lo ga pindah kan, bukan berarti semua orang harus ga pindah..”. Dan itu semua nggak bener.

Itu kalimat terakhir dari Sheila yang sangat-sangat mengecewakan gw. Rasa sayang gw kedia saat itu bener-bener terdiscount hampir 70%-nya. Emang sih, Sheila nggak satu-dua kali kayak gini sama gw, bahkan bisa dibilang Sheila mampu melampaui record cowok-cowok keparat dalam hidup gw dalam hal bikin gw nangis.

Gw sih mau aja jawab: “you crazyface damn ass..” (dibahasakan: “Raimu, cuk!”). Tapi gw nggak tega, Sheila terlalu manis (diwajah) untuk disakiti. However, dia juga pernah bikin gw ketawa dan bikin gw seneng juga.

Well, namanya juga manusia, selalu rakus akan tuntutan, haus akan ketidakrelaan. Hatinya Sakaw: menagih, menagih, dan menagih.

Bisa jadi karena dia adalah produk dari suatu masyarakat feodal yang hobi memelihara kebodohan. Dia adalah anak dari jaman dungu yang tidak pernah menggali akal dan rasionalitas, sehingga tidak pernah mengerti bahwa menempuh hidup yang mulia adalah dengan menjalani hidup yang benar dan baik, tanpa menyakiti orang lain.

Sebenarnya persoalan ini, intinya bukan membahas tentang gw dan masalah gw sama Sheila. Gw cuma mau memberitakan, bahwa sebaiknya kita jangan gemampang, jangan terlalu memudahkan persoalan dan gampang menuduh apalagi menyakiti orang.

Jangan dipikir gula pasti manis atau pare pasti pait. Gula nggak mesti manis. Intelektual nggak mesti mampu berpikir. Dan sarjanapun nggak pasti pinter. Sama aja dengan ‘kata-kata’: mungkin lo gampang banget ngeluarinnya, tapi lo nggak akan tau gimana sulitnya kata-kata itu diterima oleh orang lain.

Kalo kata manager finance gw, Lia dan alkitabnya, “yang masuk kedalam mulut lo, apapun itu, keluarnya tetep sama. Jadi nggak masalah. Tapi, apa yang keluar dari mulut lo, itu yang harus lo pikirkan, karena lo nggak akan tau, gimana efeknya ke orang lain.”

Lalu, Bokap gw juga menjabarkan hal yang sama lewat bahasa yang lebih simple: “Aji ning diri, soko lathi” – bagaimana kamu, adalah bagaimana lidahmu berujar.

Jadi, beranikah lo berperang melawan diri lo sendiri untuk mengurangi sikap gemagah kepada orang-orang lemah? Sanggupkah lo mengalahkan obsesi kehidupan lo sendiri untuk merintis peperangan-peperangan yang at least lebih punya harga diri?

Segala makhluk adalah hamba Tuhan, dan segala hamba yang dicintai-Nya adalah yang sebanyak-banyak memberikan manfaat kepada makhluk-Nya. So, berhentilah untuk saling menyakiti.

Mulailah untuk membangun suatu noble traits of character (makarim al akhlak) dalam diri masing-masing. Mulailah meruntuhkan tembok-tembok kebanggaan terhadap sifat apatis yang lo miliki. Mulailah belajar mengeluarkan kata-kata yang lebih bijak.[]

Sinisme tentang Perempuan

Seorang teman gw yang sangat pintar dan baik (bu Dian) bilang: “proof of life is, if you are a pretty woman, people will talk to you nicely, but for my case-as a proud ugly and old woman-they DON’T even need to STARE AT YOU while you were talking to them, needless to answering it nicely. Sanity really takes place for such behaviour”.

Wanita cantik memang selalu mendapat apologi untuk apapun kesalahannya. Mau dia matre kek, yang penting cantik. Mau dia oneng kek, yang penting cantik. Mau dia nge-babu-in elo kek, yang penting cantik. Well, sangking bodonya, kaum cowok pasti nerima-nerima aja (sebelum mereka bener-bener disakitin).

“Yum, gw tiap hari ada full 24 jam buat Rima. Pagi gw jemput, pulang gw anter. Bahkan karena kantor dia lebih jauh dari kantor gw, gw rela dia bawa mobil gw sedangkan gw naek bus. Apapun yang dia mau, sebisa mungkin gw penuhin. Gw sayang banget sama dia and 6 taon kayak gitu terus, for damn 6 years!!”.

Seperti biasa, kalo dicurhatin gitu, muka gw pasti ruwet (baca: cantik) banget: naik-naikin alis sambil manyun-manyun gak jelas. Radit benar-benar devastated. Pacarnya minta putus mendadak plus tanpa alasan (gosipnya sih kecantol pria yang lebih kaya).

Radit bergumam, “gw yakin, Rima pasti diSANTET”

Waduh! Sambil setengah mendelik, gw membetulkan posisi duduk gw. Ampun deh, cowok memang benar-benar bodoh dan rapuh dalam kondisi terpuruk. Yang bisa gw lakukan saat itu, cuma men-tunyuk-tunyuk jidat gw, sambil sesekali geleng-geleng kepala (tunyuk-tunyuk = memencet yang memijat *heleh*).

Dihadapkan pada Radit yang masih bimbang dan menerawang, hati kecil gw menyesali, betapa kejamnya cewek-cewek model begini. Model cewek selfish matre nan manja plus nggak jelas. Model cewek yang menganggap ¡§hati¡¨ itu cuma sekedar keratan daging yang bisa ditusuk, dirobek-robek, diuyel-uyel, dimainin, dibejek-bejek sak penake udhele dhewe. Cewek yang menganggap otak-nya hanya sebagai sumpel kepala (nggak ada bedanya sama sumpel kutang) alih-alih biar kepalanya bagus, bundar dan terlihat ADA isinya.

Called me synical! Well, I do!

“yah ndut, cewek gw nggak bisa diajak makan di angkringan (dipinggir jalan), kasian, dia nggak biasa”. (Padahal wisata kuliner itu SAMA SEKALI nggak asik kalo di mall).

“Rum, gw agak telat nih, bilang sorry ama anak-anak yeh, abisan cewek gw nelpon, katanya payungnya ketinggalan dirumah, dia mau minta ambilin payung, makanya gw mau kerumahnya dulu ngambil payung, trus ngantur tu payung ketempat lesnya. Abis itu baru gw kesituh”. (mending minta jemput sekalian pas pulang, dibanding harus stupidly nyuru-nyuru orang lain untuk ngambilin barang-barang lo..)

“Yum, gw kagak ikut dah. Gw lagi miskin, ga punya duit cash. ATM gw lagi dibawa ama cewek guah. Besok aja deh jalannya, sekalian ngajak cewek gw.” (Anjrit. Duit itu pake capek kali nyarinya)

(T___T) Hhhhh¡K¡K¡K

Jadi inget, gw pernah dikirimi SMS, isinya: “don’t pray for an easy life, but pray for becoming a stronger woman”. Hm, padahal masih banyak kata kata lain kayak: prettier, or smarter, or dsb dsb. Why has to be stronger? Kenapa justru konotasinya terkesan maskulin untuk sebuah subjek yang feminin?. Gw berpikir keras, there must be something beyond this.

Look, selain cantik, perempuan itu harus mandiri, pintar dan berkarakter. Bukan pintar dalam batasan degree/ijazah, tapi juga emotively smart (bahasa engineernya: adaptif). Yang paling penting: dapat membangun pribadi yang egaliter (merasa sama dengan orang lain). Karena dengan menjadi sama, setidaknya kita menjadi lebih peka dan respect terhadap keadaan. (At least, being aware terhadap hak maupun kewajiban selayaknya perempuan yang berakal dan berbudi pekerti luhur).

Girls, hidup itu seni kompromi. Lo harus bisa mengkombinasikannya dengan ciamik (pas dan tepat). Jangan terlalu mengandalkan atau bergantung pada orang lain. Dan yang paling penting, belajarlah mengenali potensi diri sendiri demi hidup yang lebih baik.

Beuh, lagian rugi cong (dari bencong), kalo hari gini masih menjadi typical perempuan jadul jijay manja cupet kuper bodo. Anyway, untung banget kok kalo loe bisa mengkombinasikan cantik, pintar, dan kuat sekaligus dalam satu paket. Coz believe me, smart and beautiful women are seriously dangerous.[]

Evil VS Devil

Venue: Kereta AC Ekonomi Ciujung
Waktu: hari terakhir menjelang wiken
Mood: PMS time

—–

Sang Bapak: “Mas tolong kasih tempat duduknya buat si mbak ini” *Nunjuk ibu-ibu hamil gede banget yg lagi kepegelan*

Mas-Mas: “Enak aja, saya juga pegel nih pulang kerja, pak..”

Sang Bapak: “Mas, tapi mbaknya ini lagi hamil gede banget, berat, tolong pengertiannya”

Mas-Mas: “Cari ditempat lain aja deh! Ganggu banget sih..” *mengibaskan tangan*

Gw: *nggulung koran kereta gratis, sambil setengah kesetanan* “Heh stupid! Dia ini hamil dan butuh duduk!! Lo kira perut buncit iney *nunjuk perut mbaknya pake koran* gara-gara busung lapar?! Lo punya otak kagak?! Pake dong otaknya!? Oncom!! B’diri kagak lo?!”

Mas-Mas: “Siapa lo?! Ngomong merintah-merintah, teriak-teriak udah kayak orang nggak berpendidikan!”

Gw: “Heh, asal lo tau yeh!! Anjing gw kagak sekolah, Tapi dia ngerti gimana memperlakukan ibu-ibu hamil!! Bikin malu negara aja lo!! Buruan!! B’diri!!!”

———

Bahasa Indonesia ada tiga macam: bahasa Indonesia yang baik, yang benar dan yang enak. Mungkin kali ini, untuk memberikan pengajaran, gw harus nggak pake ketiganya.

Plus abis ini gw musti Ngaras (nyembah) lebih lama dipun gusti Allah kang murbeng dumadi (nyuwun ampunan, ya Gusti). Karena hari itu gw udah bener-bener lelah dan khilaf liat manusia Indonesia yang benar-benar terkutuk (audzubillahimindzalik). Untung banget, saat itu gw kagak bawa FN atau granat. Bisa mati se-kereta ntar.

Sigh. Kalau dirasa mampu, apa sih susahnya berkorban sedikit demi orang lain. Tampaknya sulit sekali berkorban (atau lebih tepatnya: berbagi) sedikit “pengertian”. Toh “pengertian” nggak akan ngabisin duit tabungan loe kan?

Katanya, dalam suluk dalang dalam wayang, Indonesia adalah surga yang turun ke dunia, negeri gemah-ripah, loh jinawi, tata tentrem, kerta rahardja. Orang Belanda menyebutnya, het zachtste volk der aarde (bangsa terlembut di dunia). Tapi apa yang terjadi sekarang? Kemana perikemanusiaan yang adil dan beradab? Kemana?

Gw sangat paham, jika gw sedang hidup dalam masyarakat yang dibangun atas dasar kedzaliman dan penindasan, kebodohan dan apatisme. Tapi itu semua bukan berarti gw juga harus diam dan being part of them.

Gw jijay ngeliat orang yang memandang dirinya sebagai bagian dari kaum intelektual, namun nggak sama sekali berpartisipasi menghadapi dekadensi. Malahan terkungkung oleh kebingungan, lalu menahan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya baik karena takut mengalami penindasan. Yang kata bokap guah: Mbejujak! Dzolim! Tercela! Yang (juga) kata Pram: Perikemanusiaan limited.

Please people, janganlah hanya berusaha diam (alih-alih sabar) dan tahan memelihara kebodohan semacam itu. Gw jamin kita akan terus-menerus sengsara dan nggak akan pernah memproleh solusi apapun atas segala masalah.

Tapi selamat Bung! Karena Anda memang hidup di tengah manusia modern yang merasa dirinya pahlawan-pahlawan rakyat namun yang otentik dan kongkret dalam khianat, sinisme, kecurigaan buruk yang berpotensialitas setan. Sehingga menurut gw, nggak dosa kalo kala-kala setan harus dilawan dengan setan.[]

Selingkuhan

The angel voices milik George Michael masih mendayu-dayu memanggil-manggil ‘Roxanne’ yang seharusnya milik Sting. Cafe ini tutup lebih lama dari cafe-cafe malam lain di Jakarta. Tempatnyapun nggak terlalu jauh dari kantor gw.

Maya masih menggenggam cairan bening berbau lembut yang sumpah, rasanya pasti menyengat ke otak lamat-lamat. Single malt scotch. Sudah tiga sloki, ini yang ke empat. Mata bulatnya bergerak-gerak, setengah sembab dan hampa tertutup gumpalan asap.

Belum lagi hembusan Mild Seven yang baunya asli, bikin gw ngiler setengah mati. Tapi mau gimana lagi, gw pasrah aja pas mulut ini seenaknya mengatakan “Nggak, makasih, gw nggak ngerokok.”
Unfortunatelly (or could be fortunatelly) semenjak November 2001, I decided to quit and done with all those stuff. Walhasil gw cuma bisa mingkem ngaduk-ngaduk lite-macchiato tanpa gula yang wanginya diperkirakan dapat menghapus segala lara di gua (kalo ada).

“Hey, ndut.. If a friend envies you, then she is not your true friend anymore”. Kalo udah mulai setengah-setengah gini, Maya emang suka manggil gw seenaknya. “And Y’know what? I’m so damn envy you”. Lanjut Maya patah-patah.

Gw cuma bisa lekat-lekat memandangi wajah putih Maya. Warna matanya merah, semerah mata jagoan gw waktu SD, Megaloman. Rambutnya yang terurai ringan, berwarna nggak jelas yang kadang hitam kadang pirang, membuat gw makin yakin, kalo Maya itu fans beratnya Megaloman.
“The sound of our feeling is no longer heard”. Tatapan Maya terpaku beku dalam beningnya sloki kristal yang sedari tadi bermain lincah didalam genggamannya. Seperti biasa gw cuma bisa diam.
Butiran air matanya satu satu mulai jatuh.

Ponsel gw bergetar. “May, gw harus pulang”. Ungkap gw pelan.

“Om Tatoo?”. (Bokap gw). Gw ngangguk pelan. “It’s okay, just give me a big hug like usual”.

Gw memeluk Maya.

Emang nggak gampang buat seorang Maya untuk ada diposisi: WIL, Wanita Idaman Lain, atau gampangnya wanita simpanan seorang laki-laki beristri. Maya nggak deserve aja untuk dapetin itu semua. Dia pintar, cantik pula. Dan dunia ada didalam genggamannya. Tapi gw juga nggak ngerti, kenapa dia musti milih jalan yang kayak gini.

Sebelumnya, dari dulu, dulu-dulu banget, sebelum semuanya jadi kayak gini, gw udah berkali-kali bilang ke Maya “Better don’t start that fire..”. Tapi jawaban simple dan percaya diri Maya ngeluluhin gw, “Yoem, jangan terlalu serius gitu ah, gw ama dia cuman seneng hang out bareng aja kok. It’s just about having fun, I’m not taking it as my personal things.”

Maya mengkodekan tanda kutip dengan jari-jarinya yang lentik. Lalu tertawa berbangga.
But look who’s laughing last.

Gw rasa emang nggak segampang yang gw kira. It’s so damn near impossible to find a good man who will gonna leave his wife, after you, which is a dessert, hidangan pencuci mulut.
Dan setelah semua api itu terbakar, Maya cuma malu-malu memutar ragu, “I dont want you to forgive me, but I want you to understand, I simply can’t live without him”. Saat itu gw pengen banget teriak “But HE’S NOT YOURS”.

Prinsip gw: Don’t ever get whatever things that is not yours!! It’s called STEALING! Since we’e a good people, we’re not STEALING!

Tapi mau gimana lagi, cinta itu buta. Kadang kalo udah badung dan kadung (alias telat, bahasa bokap gw), yang dimajukan bukan hati ataupun rasionalitas, melainkan nafsu setan alas (bahasa bokap gw lagi). Tau deh bener apa kagaknya.

Gw jadi inget juga tentang suatu percakapan antara gw sama my beloved Abby:

Gw: Bi, kata bokap gw, dalam budaya Djawa, pria itu memimpin, dan wanita mengikuti.

Abby: Lalu kalau gitu, pria bisa memimpin seenaknya dong? Asiiik, yang penting kan pokoknya wanita harus mengikuti. Tuh Lu harusnya nyadar…

Gw: Weh nggak gitu bi. Maksutnya tuh gini, pria menawarkan langkah, dan wanita akan setuju dengan mengikuti.. dasar bolot..

Abby: Hmm…

Gw: Kok Ragu gitu? Jangan Salah bi, bagaimanapun, mengikuti juga butuh kekuatan yang sama dengan memimpin..

Abby: Berarti keputusannya tetap di wanita ya?

Gw: Iya dong!

Dada gw sesak, teringat Maya. Why did she choose to be so? Tapi gw tetap berusaha objektif (sesuatu disebut objektif jika ia bebas dari pengaruh perasaan, emosi atau pandangan sebelumnya).

Dan seperti apa yang dikatakan Rowena (Perfect stranger): Secret is great, until you get caught. Dan bisa ditebak, yang rugi tetap yang mengikuti, Maya. Untuk si pria sendiri (sebut saja Pak direktur Bejo), setelah semua terjadi, masih ada kemungkinan sang istri mau memaafkan segala kekhilafan Pak direktur Bejo.

Tapi coba lihat disisi lain, misalnya Maya memaksa Pak direktur Bejo untuk tetap menceraikan istrinya dan menikahi Maya, trus ternyata Pak direktur Bejo nggak mau. Semakin Maya maksa, semakin benci ajeh Pak direktur Bejo sama Maya. Dan konsekuensi lebih lanjutnya bisa ditebak lah. Maya nggak akan dapat apa-apa.

There are two ways of live: with regret or without it.[]

Perempuan dalam Bingkai Modern dan Masa Lalu

Beberapa waktu lalu, menjelang perayaan hari kartini, gw memutuskan untuk menulis. Isinya menurut gw biasa-biasa aja, ulasan tentang bagaimana membuat kehidupan wanita menjadi lebih baik, dan tentunya nggak lupa gw jabarin dua faktor utama yang saling mendukung dan terkait dalam ulasan itu. Pertama: faktor internal berupa kecerdasan si perempuan itu sendiri dan yang kedua: faktor external berupa keterlibatan pasangan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung peran masing-masing agar nggak terjadi ketimpangan ataupun ketidakadilan buat si perempuan.

Well, niat gw sih sebenarnya nggak sampe sejauh itu. Gw cuma mau ngebuka dikiiiit aja, tentang realita perselingkuhan, yang sebenernya terjadi karena kesalahan dua belah pihak (baik laki-laki dan perempuan). Tapi karena konteksnya: ditulis pada perayaan hari kartini, gw yang badung ini agak-agak nyolot buat menambahkan sedikit hiperbolisme kedalam bahasa-bahasa gw (biar lebih nampol dan hot maksutnya).

Tapi entahlah, tulisan itu sepertinya menimbulkan suatu super-chemical-reaction pada masing-masing orang yang mbaca, sehingga diluar prediksi gw, buanyak banget yang kasih komentar, baik langsung di blog ataupun di imel.

Yah, yang komen bagus dan seiring sejalan sih nggak papa, membuat gw tambah cengar-cengir ke-GR-an, nah yang ngasih komen sadis-sadis dan menghujat ini yang bikin gw puyeng (masa tulisan gw dibilang hipokratik, sarkasme, dsb dsb??).

Emosi neh!

Zachrie, yang juga pengamat sosial gw, menyadari hal itu. Dan dia cuma ketawa ringan sambil berpesan: “Sabar.. sabar.. kamu harusnya bangga, Rum! kamu punya ekspresi dan sense buat ngebebasin dirimu. At least kamu bisa nulis apa yang orang selama ini hanya bisa membayangkannya aja. Itu kelebihanmu! Ya.. kalo kamu nggak bisa berlari sambil teriak, kan kamu masih bisa merayap sambil berbisik, pelan pelan aja.. itu baru namanya merendahkan diri meninggikan mutu”

Walaupun wejangan itu terdengar sangat bijak, reaksi gw tetep aja-aja manyun manyun nggak jelas. Mengetahui hal itu, Zach melanjutkan: “Ini jaman dimana semua orang sudah mengalami tingkat edukasi dan literate yang sangat tinggi, sehingga sudah selayaknya buku dihadapi dengan buku, gagasan ditarungkan dengan gagasan, dan tulisan dihadapi dengan tulisan, sudahlah.. mending kamu bikin tulisan lagi untuk menjelaskan inti persoalan yang kamu sampaikan di tulisanmu kemarin melalui perspektif yang lebih objektif lagi..”

(Tapi sayangnya, gw udah cukup males buat ngebahas-bahas yang kemaren)

Namun, dari situ, kami malah jadi punya bahan baru dan seru buat diskusi, seputar: bagaimana menjadi perempuan yang mandiri dan modern tetapi tetap menjunjung hal-hal yang berbau norma-norma tradisi konservatif, seperti: menyadari posisi dan perannya sebagai perempuan, memiliki kesabaran tingkat tinggi, menghargai orang lain, mau mendengar, bekerja keras dan membiasakan tepat waktu.

Garis merah yang dapat kami tarik adalah: bahwa citra feminism yang selama ini diteriakkan oleh kaum perempuan, kayaknya sudah mulai melenceng, baik dari kaidah logis maupun agamis. Dari situ, gw menemukan satu teori baru, bahwa sebagai perempuan yang cerdas, kita juga harus dapat mendefinisikan variabel kesetimbangan tertentu sebagai tolak ukur (atau bahasa tekniknya: threshold) untuk menentukan apakah kita sedang berada di low level atau bahkan malah over threshold.

Gunanya ya sudah pasti, kita jadi lebih pintar untuk memutuskan kapan mempercepat dan melambatkan langkah agar segala sesuatunya berjalan secara seimbang. Nah dengan begitu, otomatis, kita bisa jadi kekasih sekaligus partner yang klop buat pasangan (ini pake kondisi ideal sih, tau realitanya ada apa nggak)

Disitulah letak arti kesabaran buat seorang wanita. Kesabaran dalam menahan ego.
Waaaah… gw jadi ngerasa berhutang banyak sama buku-buku, blog-blog, infotainmen, dan (yang utama) berhutang banyak kepada orang-orang yang ngajak gw berpikir.

Kalau kita masuk ke dalam paradigma kebebasan wanita yang salah kaprah, bisa-bisa nanti terbawa arus. Wadooh kacau nih!! Tapi gw yakin, kita masih bisa mengubah. Masa kita kalah sama ikan laut? Ikan laut hidup di laut yang airnya asin, tapi toh dalam kondisi environtment yang seperti itu (asin), nggak merubah si ikan menjadi asin. Makanya jangan ndeso! Introspeksi dong. Gw idem deh ama katanya om Socrates kalo “hidup yg tidak diperiksa ulang tidak pantas untuk dihidupi”

NAH! sekarang untuk menjadi modern, sophisticated, intelligent but humble and lovable women, pertanyaannya bukan: bisa atau nggak? tetapi: mau atau nggak?
Well, life isn’t fair but that doesn’t mean we have to be unfair.[]