People Who Hurt Other People

For me, being a woman…. and competent is a burden.

I’ve been living in this heavy burden for my whole life. Kadang gw capek melihat bagaimana orang memperlakukan gw. Lantas gw melangut dan akhirnya bertanya, kenapa sih gw nggak dilahirkan sebagai laki-laki aja? Atau gw kadang bertanya, kenapa sih gw nggak jadi perempuan biasa-biasa aja yang anteng dan nggak banyak mempertanyakan tentang kehidupan yang kadang berjalan tak sejajar keinginan?

I’ve lived so hard because I wasn’t afraid to live, and I wasn’t afraid of die. Kadang, penderitaan dan keberuntungan datang dengan wajah yang sama, dan sungguh, kita masih sulit untuk membedakan yang datang ini yang mana? karena keduanya terjerat dan saling terlibat

Days ago, some customer yelled at me: “Jancuk! nek kowe lanang wes tak tapuki raimu, cuk!”. And he threw me a cellphone.

The problem is simple: he cannot afford to loose because I have a valid database. I have a technical proof on my hand and I can explain all of his question. And I am a woman.

Dalam rasa malu akibat kekalahannya, dia hanya bisa berteriak: “Koen iku kewanen rene dewekan, perusahaanmu yo aneh, kok beraninya kirim perempuan kesini! cari mati!”

I did cry. But not because of his harsh words. But because of his racism. Am I wrong for being a women? is it a mistake because I have boobs and vagina? Is it really a sin for this woman struggling earning a living for her family? Hufft, being a woman and competent is really a burden.

Gw sedih memikirkan betapa manusia bisa tidak berhati-hati menjalani hidup. Betapa mereka bisa kehilangan rasa takut dan melupakan bahwa semesta selalu terjaga dan karma itu ada. “Who are we in this complicated world?” ini quotenya Rumi di film The Kite Runner. We are nothing but the dust in the wind.


Bagi gw, hidup manusia itu selalu berstruktur. Ada orang yang hidup tapi belum menemukan dirinya. Ada yang baru menemukan dirinya. Ada yang tak tau siapa dirinya. Bahkan ada yang tak perduli dia akan seperti apa nantinya. It’s a complete mess.

Let’s point out these 2 major life quotes:

Quote 1: Inna akramakum ‘inda allahi attakum. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa diantaramu.

Quote 2: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Karena sesungguhnya ketika kita berbuat baik kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada diri kita.

Sedari kecil, dua hal diatas sangat berarti dalam hidup gw, karena mereka adalah family virtues yang harus gw amalkan dalam kehidupan gw. Menjadi orang yang bertakwa dan bermanfaat untuk orang lain adalah dua nasehat penting warisan dari bapak.

Warisan ini menjadi “pagar” di kehidupan gw. Pagar batas dimana gw selalu diwajibkan untuk selalu mempermudah hidup orang lain, baik dalam konteks pekerjaan ataupun dalam lingkup kehidupan sosial sehari-hari. So, I really hate bulliers. For me, a bullier is always been a heavy resistance for other people’s life. Bullier selalu menyusahkan hidup orang lain. Bagaimana kita bisa menabung takwa dan amal kebaikan jika kita masih saja membangun pondasi hidup kita dengan menyusahkan dan menyakiti orang lain?

Kita nggak akan pernah sadar sejauh mana kita bertindak dengan sedemikian buruk dan memberikan efek kerusakan mental kepada orang lain atas perilaku inhuman (perikemanusiaan limited) kita. Our bad words are really can affect other people’s life.

Misal, kita dengan sengaja menyebut seseorang tolol dan serta merta melempar kertas hasil kerja kerasnya itu tepat di wajah dia (padahal ada tempat sampah, lho.. kenapa juga harus di muka orang?). Lantas orang ini dengan sedih pulang ke rumahnya, lalu merasa depresi dan memutuskan mati gantung diri.

Hm, sudah berapa kali kah kita membunuh atau menghancurkan hidup orang tanpa kita sadari? Please people, take a hold on life. Berhati-hati lah terhadap hidup. Milikilah rasa takut dan malu kepada semesta pemilik kehidupan. Seperti ungkapan yang dikenal manusia dari ucapan kenabian terdahulu: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR. al-Bukhari).[]

Tentang Mendengarkan

Dari kecil, bokap gw suka ngajak gw jalan-jalan untuk sekedar ngobrol dan ngajak bersama membaca dan memahami sekecil apapun tanda-tanda yang diturunkan oleh Gusti Allah. Gw masih inget banget, bokap gw dulu bilang: “Ilmu Allah itu tak terhingga, maka semua ilmu itu nggak mungkin diturunkan hanya di kepala SATU orang saja. Sama seperti halnya di buku ada ilmu, di bulir cahaya matahari ada ilmu, di rintik hujan pagi ada ilmu, di batang pohon pisang juga ada ilmu, di butiran pasir pantai juga ada ilmu. Begitu luas ilmu Allah..”

Bertahun-tahun lalu itu, saat dituturi, gw cuma diam dan berusaha keras memahami, walaupun at the end sebenernya gw nggak paham-paham. Hahahahahaha. Nah, Bokap gw itu suka kentang alias nanggung, jadi waktu itu gw ainul yaqin, kalo cerita tadi, sebenernya masih to be continued. Tapi entah continuednya kapan.

Dan ternyata, kemarin, setelah beberapa tahun setelahnya, gw (akhirnya) mengalami sambungan cerita itu.

Jadi begini, cerita itu berawal ketika gw memiliki seorang kawan yang punya hati kerasnya minta ampun. Dia selalu mengkritik, tapi sama sekali nggak mau mendengar. Jadi satu arah aja. Dan dia selalu menggunakan kalimat menyepelekan, sekaligus menyakitkan. Hobinya Nyacat pokoknya.

Kalo ditengah argumentasi, gw ngasih tau dia: “Dari dulu gw selalu diem, selalu diem dan nerima kalo lo kritik, tapi sekarang, gw mau lo yang dengerin gw.” Nah tuh, Dia pasti nanti jawab: “Kagak, gw KAGAK mau dengerin lo! Lo yang seharusnya belajar untuk menerima perbedaan”.

Kederrrrrrr. Sebenernya yang nggak bisa nerima perbedaan itu siapa sik?

Kawan gw ini selalu mengajak semua orang untuk ngikutin semua maunya dia. Mood berubah-ubah. Suka ganti plan seenaknya. Well, dia memang bossy, suka ngatur-ngatur hidup orang yang bahkan BUKAN keluarganya. Tapi yang namanya sudah berkawan lama, gw perduli dan mau dia sadar, jika dengan menjadi keras begitu terus, dia akan semakin menyakiti orang-orang yang menyayangi dia.

Gw cuma nggak mau liat dia kebangetan, sampe-sampe saat dia sadar kelak, semua orang yang sayang sama dia sudah demikian tersakiti, hingga pergi ninggalin dia. Sendirian dah. Emang enak?

Lagian bagi gw, menyakiti hati orang itu bikin hidup lo kaga berkah. Rejeki jadi kaga lancar, urusan banyak yang kaga beres, yah pokoknya kusut lah.

Hari ini, si Puti, temen gw inih, sudah melampaui batas. Telah sebegitu sangatnya dia menggores dan menyakiti gw. Dan gw memutuskan untuk menyerah. Gw akhiri pembicaraan kami. Lalu seperti layaknya species wanita lain disetiap akhir pertengkaran: gw nangis. Akhirnya gw sambil tereak di bantal, mengadukan nasip gw ke Gusti Allah: “Allah yang maha lembut, kenapa sih Engkau tidak bagi kelembutan sedikit saja ke dada manusia ini..!”

KZL.

Sedang manyun-manyun berduka lara, gw dipanggil bokap, disuruh mbetulin komputernya yang hang. Bokap sepertinya terlihat nggak perduli ngeliat muka gw yang kusut plus bendul bendul pada kedua mata gw karena nangis, tapi ternyata bokap merhatiin.

Ketika computer bokap udah nyala lagi, bokap gw nyapa gw dengan pertanyaan aneh, “Kamu masih inget nggak dulu papa cerita soal ilmu Allah yang Maha melimpah?”. Gw mengangguk sekedarnya. “Sini sini cobak duduk dulu..” lanjutnya ragu.

“Papa dulu bilang kan, kalau ilmu Allah itu maha melimpah, makanya nggak cukup ditaruh di satu kepala manusia saja. Inget nggak?” Gw tertunduk, memuntir-muntir kaos oblong butut gw. “Nah nduk, kalau kamu berantem sama orang, ojo gegabah. Dipikirkanlah lagi pelan-pelan, siapa tau memang kamu yang salah.”

“WHAT?!” Gw melirik judes, setengah kaga terima.

“Lhooo… dikandani malah mendelik.” Kata bokap. Gw tambah manyun. Bokap ngelanjut, “Ngene nduk, seburuk-buruknya kelakuan orang itu pasti ada kebaikan yang dia beri ke kamu. Hanya saja kamu belum pandai menangkap baiknya itu dimana. Yang sekarang bisa kamu tangkap malah esensi keburukannya saja.”

“yeile…” Bibir gw semakin monyong, walaupun gw sebenarnya mendengarkan.

“Kamu itu harus lebih banyak belajar lagi, belajar untuk mendengar hal-hal yang tak bisa didengar, dan belajar untuk melihat hal yang tak bisa dilihat.”

“Udah diliat dan udah didengerin dari dulu..!!” Sela gw judes. Masih sambil termanyun. KZL.

“Lha iki, blaik namanya.” Bokap gw menghisap rokoknya. Bara api berjatuhan menjadi abu yang mengapung ringan. “Kan sudah tak bilangin, kamu harus selalu mampu untuk mengembalikan semua ke dirimu sendiri, selalu berani untuk mengatakan: ‘lha iyo, jangan-jangan aku yang salah’. Karena itu otomatis akan membuat kamu merendah. Kita mampu menjangkau yang Maha Tinggi saat kita sedang rendah hati”

“…….” gw mendengar males-malesan. Padahal penasaran juga sama lanjutannya.

“Cobak itu kamu liat, orang di bukit sama orang di dataran biasa, kalau ngebor pompa air, siapa dulu yang dapet air? Lha yang posisinya lebih dibawah dekat air tanah to? Makanya selalu rendah hati, jangan sombong nanti malah ndak dapet air..”

“….” Dalam hati gw membenarkan.

“Setiap orang, walaupun dia 99% jahat, dia tetap punya 1% kebaikan. 1% kebaikan tadi itu merupakan ilmu yang sudah lebih dari cukup.”

“…” Gw mengangguk.

Ah, gw berharap sekali jika Puti mau belajar mendengarkan, karena dia nggak pernah tau, rahmat (Ilmu) apa yang akan Tuhan sampaikan dari waktu ke waktu buat dia lewat kata-kata orang lain.

Bukit tempat si Puti tinggal masih terlalu tinggi, Puti memilih untuk mencari ketinggian dalam kesendirian dia untuk mencapai mata air suci, dimana air air suci itu sendiri sebenarnya mengalir deras dibawah kaki tempatnya menengadahkan wajah.

Andai dia tau.

Memahami orang lain adalah kearifan, sedangkan memahami diri kita sendiri adalah pencerahan, kata Lao Tzu, ribuan tahun lalu. Dari sini gw sadar, sampe lebaran monyet sekalipun, gw memang nggak akan bisa ngerubah sifat kerasnya Puti. Gw nyerah. Gw milih nggak temenan lagi ama dia lagi. Selamanya.

Dari sini walaupun keilangan temen atu, gw Alhamdulillah bisa belajar tentang satu hal, bahwa siapapun orang itu, mau dia rampok, mau dia kyai, mau dia orang jahat, atau orang baik, well pokoknya siapapun itu, tetap bisa menjadi pengantar pesan dari Tuhan, apapun jenis pesannya. Maka belajarlah kembali untuk mendengarkan. Belajarlah untuk merendahkan hati, mengkoreksi diri: “ah, jangan-jangan aku yang salah…”[]

Kebaikan dan Kebenaran


Minggu pagi. Sekeluarga besar gw (besar dari Hong Kong! :p orang cuman bertiga!) sedang asik di teras rumah.

Bokap gw lagi asyik nguras kolam ikan. Disebelah, arah berlawanan, ada nyokap gw yang duduk pake dingklik sambil nyemangatin bokap. Dan di depan pintu ruang tamu, gw lagi asyik ungkang-ungkang kaki sambil megang buku lama yang menceritakan tentang Roofstaat (kerja paksa) yang merompak Jawa hingga 800juta gulden.

Lalu Emak gw nyuruh bokap mindahin ikan Sepat yang masih kecil-kecil, karena takut dimakan ikan-ikan Lele yang nggragasnya bukan main. Tapi bokap gw bilang “Nasipnya si ikan lah kalo sampe dimakan sama para Lele” sambil ketawa-ketawa jail. Gw cuman ngelirik sambil ngrepus krupuk bawang dari toples kaleng biskuit.

Nggak beberapa lama, ada suara kegaduhan. Ributnya bukan main. Gw sampe setengah loncat.

Wah ada orang berantem!!!!

Rupanya ada dua tetangga gw yang berantem, sebut saja Bu Tarigan dan Pak Joko. Pak Joko marah-marah karena ada bau bangkai disekitar rumahnya, ternyata bau bangkai itu disebabkan oleh ayam sang Bu Tarigan yang sudah mati berhari-hari di got depan rumah Pak Joko. Karena posisi matinya si ayam nlisep (halah bahasanya, nlisep means nyempil dan unreachable), maka keberadaan sang bangkai ayam tiada diketahui.

Sangat sulit melerai pertikaian ini, Pak Joko mengaku benar, Bu Tarigan juga mengaku benar.

“Ayam ibu ini mati mendadak, bisa jadi flu burung kan..!!! Ini sangat meresahkan saya! Harusnya punya piaraan itu diopeni, bu!!” Sahut Pak Joko ketus.

“Lah, mana saya tau lah, ayam saya mati kenapa pak. Memangnya ayam saya harus saya pasangi GPS satu per satu???!” Teriak Bu Tarigan nggak kalah jengkel.

Gw pikir dua orang ini ada benarnya, dua-duanya sama-sama punya kebenaran.

Malamnya, setelah akhirnya ‘jenazah’ ayam itu dibakar, gw lalu tergelitik dan ngajak diskusi bokap tentang menyingkapi sebuah kebenaran. Kalau disederhanakan ada tiga model kebenaran yang berlaku dan dialami manusia. Pertama, benere dhewe (benarnya sendiri). Kedua, benere wong akeh (benarnya orang banyak). Dan, ketiga bener kang sejati (kebenaran hakiki).

Jika kebenaran itu berjalur banyak begitu, maka gw menyimpulkan bahwa kebenaran itu tidak satu. Lho piye to? Kebenaran itu harus satu definisinya, yaitu B-E-N-A-R yang BENAR. Jika memang semisal ada banyak ‘benar’, ada kemungkinan kebenaran yang satu bisa kres (cross) dengan kebenaran yang lain.

Sambil memeluk kaleng bekas biskuit yang berisikan kerupuk bawang made in pasar Ciputat, gw mencoba berfikir lebih tajam. Gw menahan laju nafas dan menyipitkan kedua mata gw, alih-alih berharap semoga pencerahan itu segera tiba (padahal seret).

Sambil nyumet rokok, bokap gw masih asik mikir. Gw pun masih asik dengan krupuk ditangan. Mata gw terus menatap, mengajak bercakap. Bokap gw mengelempuskan asap rokok ke udara, beliau paham, namun diam.

“Iyh dina shirotol mustaqim..” Bokap gw kembali menghisap rokoknya.

Jidat gw bekerut. “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus?” Balas gw dengan intonasi bingung.

Bokap gw melanjutkan, “iya, lalu, kenapa bukan Tunjukkanlah kami jalan yang benar?, hayoooo.. ?”.

Gw menggeleng tolol.

Bokap lalu bercerita soal kejadian tadi pagi. Beliau menjelaskan jika kebenaran itu HANYA ada satu, dan kebenaran yang satu itu milik Tuhan. Jadi, tidak ada yang namanya bener-nya manusia a, benarnya manusia b, benarnya manusia c, dst.

“Lalu bagaimana kita mencari kebenaran yang satu itu, pops?” tanya gw semrawut.

“Dalam kehidupan ini, manusia selalu menemukan keruwetan hidup, kesulitan hidup, karena mencari kebenaran atas satu sama lain.”

Jidat gw tambah berkerut nggak karu-karuan.

Bokap melanjutkan: “ya gini deh, kamu misalnya, bersengketa sama orang lain. Sebaiknya yang kamu cari ya jangan kebenaran”.

“heuu??? lah kok gitu???” gw memotong ngeyel tanpa ‘sendhiko dawuh’.

“Lho iyo, nek kamu cari kebenaran, bakal njlimet. Kamu punya sebuah kebenaran, orang lainpun punya kebenaran. Padahal kebenaran itu cuma ada satu.”

Bokap gw menunjuk langit-langit rumah tepat saat menyebutkan kata SATU. Tanpa sadar mata gw mengikuti.

“Dalam bermasyarakat, sebaiknya yang kamu cari itu BUKAN kebenaran, nduk.. melainkan kebaikan.”

“Maksutnya?” akhirnya gw meggeser tempat duduk dan menaruh toples krupuk di meja. Supaya lebih konsentrasi.

“Nek kowe, nggolek benere dhewe, yo rak bakal ketemu. Lah wong maksute wis bedho, garise jugak wis bedho. Mulakno, tadi aku bilang, jika bersengketa, yang dicari itu KEBAIKAN, bukan kebenaran..”

Cengiran gw semakin lebar.

“Nah, seperti yang tadi kubilang, setiap kamu sholat kan kamu sebut itu ‘iyh dina sirothol mustaqim – tunjukkanlah kami jalan yang lurus’, ya to? Kenapa bukan tunjukkan kepada jalan yang benar? Hayo? Weeee ojo main-main mbek ayat kuwi, nduk. Jika kamu, melakukan sesuatu apapun dengan lurus, itu berarti kamu sudah baik. Dan kebenaran itu akan datang sendiri, seiring sejalan, jika kamu dan hidupmu sudah berada pada lingkaran kebaikan.”

Gw mendapatkan sebuah pelajaran berharga lagi. Pelajaran yang tidak lahir dari perpustakaan, referensi atau buku-buku, melainkan bersumber dari pengalaman otentik, dari keringat dan airmata realitas, dari nurani yang jujur dan pikiran yang jernih. Kalo kata guru ngaji gw, itu ilmu sejati. Mutu dan pahalanya sepuluh kali lipat dibanding dosen yang mentransfer kalimat-kalimat dari buku ke diktat para mahasiswanya.

Well, hidup bukanlah impian, melainkan kenyataan-kenyataan yang dingin dan telanjang, tapi kenyataan itu pun tak perlu buruk jika orang tiada menghendakinya. Dia tidak buruk, dia indah, selama ada keindahan di dalam bathin kita.

Begitu juga dengan pemaknaan dari sebuah kebenaran itu sendiri. Malam itu gw tidur pulas, diiringi senyum puas atas semua jawaban bokap yang terasa sangat pas.[]

——–

Answer less. Question more.
Comply less. Question more.
Believe less. Question more.

Lelaki dan Kedangkalan Pikiran

Beberapa waktu kemarin gw mulai berani untuk membuka diri perihal memulai sebuah relationship. Tapi berangsur-angsur (untuk sekarang) keterbukaan itu kok rasanya pengen gw tutup lagi. Gw jadi parno ajeh gara-gara si Zikhry.

Kemarin di subway, Zikhry cerita, katanya kalo mau nikah itu, kita harus cek kesehatan. Gw cuma diem aja, gw yakin pasti cerita si Zikhry ini kelanjutannya aneh-aneh. Akhirnya bener dugaan gw, Zik cerita kalo temennya dia (sebut saja Bang Udel) nyaranin, kalo misalnya elo mau nikah, supaya nggak ada rasa was-was, penyesalan, penasaran, atau apa lah sebelum nikah, harus diadakan dialog terbuka untuk saling jujur.

Paling nggak alur dialognya ya seputar si cewek masih perawan atau nggak, si cowok udah pernah begituan belum, punya sejarah penyakit apa aja. Ya intinya, demi masa depan cemerlang gitu loh. Gw menganggap semua itu merupakan hal yang wajar, secara emang hidup gw lurus dan normal-normal aja, ya dialog kayak gini nggak jadi masalah buat gw. Ya ngga?

Tapi yang jadi concern mendasar gw (bahasa simple: bikin gw senewen) adalah sewaktu Bang Udel berstatement:

“Semisal dialog itu nggak berhasil, dan you masih belum percaya apakah tu calon bini lo jujur apa kaga, ya lo harus cek langsung, kalo perlu (ekstrimnya) lo suruh dia bugil (tuing tuing tuing). Supaya lo kagak kaya beli kucing dalem karung. Siapa tau bini lo toketnya gede sebelah atau bulu ketekan. Wajarlah, hanya sebatas cek up ala militer gitu. Ibaratnya kan, lo mau beli barang buat dipake seumur hidup, kalo tau-tau lo dapet barang apkiran hayo?! ntar bakal nyesel dah lu.”

Anjrit. Gw beneran tersinggung kali ini. For God’s sake, apa maksutnya barang apkiran? Barang second grade? Barang kw-2? Apa kabarnya kalo cewek itu juga manusia? Punya perasaan, nalar, naluri dan juga emosi. Edan cowok-cowok jaman sekarang!

“Tapi lo pikir lagi deh rum, bener juga kan? Loe realistis aja deh, kalo misalnya calon lo itu nggak perfect, gimana?” Kalimat terakhir dari Zikhry itu bener-bener nampol. Weh, dunia kayanya kejam banget terhadap kaum perempuan. Kenapa jadi kami yang musti telanjang? Kenapa juga jadi kami yang harus dites dan dibuktikan?

Kalo misalnya abis disuruh bugil ternyata nggak cocok? Tetep direject? Atau nggak jadi beli? Muke gile. Serius dah, sakit tau nggak mendengar kenyataan kalo ternyata jenis cowok kayak Bang Udel masih berkeliaran dimana-mana. Nyali gw jadi ciut lagi. Secara gw emang kagak percayaan ama cowok anaknya. Hilang deh semua khayalan gila gw about how we still can fall in love, but in a free way, even without any fear of being rejected.

Trus gw tanya ke Zikhry, kalo misalnya pacarnya dia sekarang memang apkir, alias kaga perawan, gimana? Zikhry njawab sambil cengar-cengir: “ya kan dia udah berani jujur. Mending jujur kayak gitu, setidaknya ya gw masih bisa terima, gw anggap itu karma gw ajah.”

Gw potong: “Kok gitu?”

“Ya iyalah, daripada gw menemukan ketidaksempurnaan itu sendiri? Hayoh, lebih sakit ati lah gw. Kalo udah gitu mah, paling ekstrimnya, gw.. kawin lagi..”

Hm, jadi kangen Zuber, laki-laki ini dulu selalu mensemangati gw kalo gw lagi mellow, dan selalu protes kalo gw selalu ngedumel soal kelakuan cowok yang nana dan nini. Kalo udah mentok, si zuber biasanya bilang: “kalo mau diterima apa adanya, ya harus bisa menerima apa adanya”. Dalem banget tuh kalimat.

Hm, hari dimana Zikhry ketawa-ketawa menceritakan semua hal tadi emang dah lama lewat. Tapi masih ada berasa pilu aja gw. Daripada manyun puasa-puasa, gw memutuskan untuk jalan-jalan sendiri pas wiken. Eh pas banget baru berapa meter dari kosan, hujan, mana gw nggak bawa payung, yah nasip.

Udah hampir seperempat jam gw berdiri mandangin hujan. Hujan kali ini terlalu basah untuk ditambah air mata. Yet for a serious seeker seperti gw, inspiration is everything. Jadi, mau bagaimanapun berasa gundah hati ini, tetap harus ada hikmah yang diambil.

Well, reality is not necessarily lethal, tetapi (at least) kudu mampu membuat kita berpikir satu dua kali untuk lebih waspada terhadap hidup dan tetep kembali pada jalur shirotol mustaqim (jalan yang lurus). Toh sekalipun misalnya jalan kita nggak lurus, Tuhan yang Maha Baik pasti akan tetap mengizinkan kita untuk berputar.

Kesempurnaan itu sendiri merupakan suatu identitas. Dan identitas tidak boleh dibentuk, identitas harus selalu terbentuk dari dalam. Karena ketika identitas hanya merupakan susunan orisinalitas yang notabenenya dibentuk maka kesempurnaan hanya akan menjadi kosmetik.

Lain halnya jika kesempurnaan itu terbentuk dari dalam, hal itu akan menjadi identitas yang matang. Dan identitas yang matang adalah identitas yang berguna bagi penyandangnya.

Like Buddha ever said once: Do not mingle (bercampur, bergaul), because you have different intentions, therefore your views are different and your actions will of course be different. Walah, mbuh lah. Ila allahi marji’ukum – Kepada Allah kembalimu semuanya.

Well, thinking that someone is beautiful is only a concept. But have you ever thought: what is beauty? We may say that it is in the eye of the beholder. Nah makanya didalam geraian rintik hujan, gw sedikitnya mulai dapet pencerahan, jika mungkin, someday, somehow, gw bakal nemu cowok yang cinta dan nerima apa adanya gw, tanpa harus nyuruh gw bugil. Jadi gw semestinya nggak boleh jiper cuman gara-gara Zikhry cerita hal konyol beginian.

These kind of problems are just like the sky, which has no end in space. Bisa jadi ini Cuma sekedar perihal yang ingin disampaikan Tuhan melalui bala tentara langitnya ke gw, bahwa sesungguhnya the real source of fear is ‘not knowing’. Kalo kata bokap gw: “Wes nrimo ae nduk, jo keakehan mikir, uwong ki wes ono dalane masing-masing”.[]

Kesalehan Sosial


“Tek.. Tek.. Tek..”

Tanpa suara, pria tuna netra itu terdiam dibawah derasnya hujan.

“Tek.. Tek.. Tek..”

Pria tuna netra yang sama masih tediam disamping lampu persimpangan jalan.

Sementara didepan pria itu, kendaraan besar dari pelabuhan tersibuk kota Kowloon, berlalu lalang dengan kejam. Menimbulkan sedikit getaran dan deburan angin bercampur air yang tanpa ampun melayang-layang kencang pada wajah pria itu.

Namun dia tetap tenang.

“treketrek-treketrek-treketrek-treketrek”

Bunyi bit ketukan yang berasal dari lampu persimpangan itu menjadi semakin cepat. Dan pria tuna netra itu (masih dibawah curahan hujan dan tentunya terpejam) melangkahkan kakinya kedepan, tak patah arang. Sedang kendaraan besar yang sedari tadi dengan sombongnya berlalu lalang seolah tunduk pada pria itu dan membiarkannya lewat secara aman, sampai di ujung jalan.

———-

6:00 pm. After-work Hour.

“0” Gadis ini memencet tombol ditembok lift. Orang-orang yang tiba-tiba muncul lalu saling berdesakkan dan memasuki lift yang sama, gadis itu tanpa ekspresi menahan tombol “door open” hingga akhirnya semua orang lengkap memasuki lift yang irit dan sempit ini.

“12-11-10-9” Gadis itu memegangi tas coklatnya dengan erat. Kali ini dia tertunduk. Diusap-usap bahunya yang kecil, berharap segala lelah dan penatnya hari itu dapat hilang jika diusap-usap pelan seperti itu.

“4-3-2-1” Gadis yang sama mendongak, memperhatikan gerak lampu seven-segment yang terpanjang didalam lift.

“Ding”. Ground Floor. Pintu Lift membuka. Kembali gadis itu menahan tombol “door open”. Sama. Tanpa ekspresi. Lalu sekelebatan melirik orang-orang berebut keluar dari lift. Setelah dirasa kosong. Dilepaskan jarinya yang lentik dan mungil dari tombol “door open”. Lalu dipijitnya angka terbesar pada deretan angka-angka penunjuk di dinding lift itu. “13”. Lalu Gadis itu beranjak keluar.

Pintu lift menutup dan melaju ke lantai 13.

———-

Wanita ini memakai blouse satin putih, dengan rok remple hitam berantai emas dipinggang. sungguh terlihat elegan. rambutnya panjang agak kelabu melewati bahu. Mata sipitnya samar terlihat karena dia membubuhkan eye-liner gelap.

Ditangannya teruntai gelang sewarna bumi yang sangat mencolok diatas kulitnya yang putih dan licin. Kukunya dihias sedemikian rupa. Sangat cantik. Jika dia melambaikan tangan sedikit saja, tak diragukan, setiap lelaki didepan situ, dijamin pingsan karena kecantikannya.

However, segala pandangan elegan, sophisticated, high-class, tak tersentuh, serta angkuh, seketika itu runtuh dipikiran gw. Dimana dengan tanpa merasa hina, melalui jemari ningratnya, wanita ini membantu mengangkat troli seorang tua yang sedang kesulitan menaiki tangga. Bahkan, troli itu kotor, besinya coklat dan berkarat. Lembab bercampur air hujan. Ternganga, gw beku lagi terpaku.

———-

Tiga kebaikan diatas, adalah kebaikan sederhana yang sangat samar (jarang diperdulikan) yang dilakukan oleh pelaku kehidupan yang juga samar (yang sama sekali tak perduli, apakah ada orang lain yang akan sadar atas kebaikan yang baru saja mereka perbuat).

Kebaikan pertama dilakukan oleh pemerintah juga komunitas sekitar yang perduli oleh para tuna netra (disini mereka bahkan bukan disebut sebagai “blind man” melainkan “person with visionary incapability”). Sehingga lampu merah dibuat mengeluarkan bunyi-bunyian, dimana bit pelan untuk menunggu, bit cepat untuk menyebrang. Fantastic.

Kebaikan kedua dilakukan oleh seorang gadis biasa. Tujuannya, mengembalikan lift ke lantai paling atas, supaya teman-temannya yang ingin juga segera pulang, tidak terlalu lama menunggu lift. Luar biasa.

Kebaikan ketiga dilakukan oleh sang wanita ningrat yang bisa gw bilang, nggak mungkin deh ada ¡§wanita ningrat¡¨ jakarta mampu melakukan hal yang sama seperti itu. (Bahkan edannya lagi, si wanita ningrat ini sempet-sempetnya membungkuk-dalam kepada orang tua tadi ketika orang tua itu mengucapkan terima kasih). Amazing!

Bokap gw pernah bilang, bahwa yang dimaksud dengan sholeh itu adalah segala kebaikan, kebenaran dan ibadah yang bisa diaplikasikan langsung ke publik sehingga manfaatnya dapat dirasakan untuk kebersamaan. Jadi, jika kamu beribadah sendiri, itu baik. Tapi lebih baik lagi jika kamu mengamalkannya sehingga kamu dapat berguna untuk orang lain. Dan akan sangat baik sekali jika dilakukan tanpa disadari oleh orang lain. Kurang lebih begitu. (waow, sangat sulit).

Nah, gw baru menyaksikan sebagian kecil “kesalehan” itu dengan mata kepala gw sendiri. Dan perasaan yang gw rasakan saat itu sebenarnya malah bukanlah sesuatu hal yang terasa bungah ataupun excited.

Kebalikannya, gw merasa kalo gw benar-benar sedih. Gw malu. Gw seolah terbantahkan. Gw bagai terlempar tak berguna ke sudut paling gelap dan sepi. Karena gw nggak merasa pernah melakukan kebaikan sederhana namun bermakna seperti itu.

Gw terbiasa hidup dalam komunitas yang memerlukan kehinaan saudaranya sendiri untuk mendapatkan kejayaan. Yang juga membutuhkan kehancuran sesama manusia didalamnya untuk memperoleh sesuatu yang kami kira: kehormatan.

Sehingga apapun bentuk kebaikan yang terwujud, bukanlah merupakan suatu kebaikan murni tersembunyi yang terasa begitu indah dan menyejukkan seperti tadi.

Mengutip kata Cak Nun: di Indonesia, ‘kebaikan’ sukar berdiri sendiri dan murni sebagai kebaikan itu sendiri. Kebaikan selalu ‘dalam rangka’, ‘dalam pamrih’, ‘dalam niat-niat’ lain yang tersembunyi, yang belum tentu bersifat baik.

Sangat sedikit orang-orang di Indonesia yang mampu mangimplementasikan wujud keimanan dan kesalehan dalam kehidupan sehari-hari.

Kerongkoangan gw tercekat, semakin tercekat. Gw nggak perduli lagi gw ada dimana. Rasa malu ini sungguh menyesakkan dada. Memekakkan telinga. Melemaskan tenaga.

Hujan semakin deras dan keras. Segala istigfar dan airmata gw ikut terbawa bulir-bulir air yang entah datang darimana. Air itu mungkin kepanjangan tangan dari langit, entah, bisa jadi milik malaikat yang mengasihani gw saat itu. Ah, maafkan, maafkan hamba yang khilaf dari segala kebesaran-Mu, Tuhan.[]

Sebuah Kepasrahan

“Ayrum, Om m mokay aa..?”

Gw tersentak kaget, “Oh, it’s okay now. No problemo..” gw tersenyum, “I’ve finished it..” jawab gw santai. Well, seperti yang baru saja terjadi, rupanya gw sudah mulai menggila dan terbiasa melakukan bilingual language here.

Disini, gw seringkali ngerjain hal-hal yang nggak biasa, yang kalo kata temen gw dari Malaysia: tak mencabar alias nggak mutu. Misalnya: bikin note sendirian di taman kota sambil ngikik nggak karu-karuan, Haha, mirip orang nggak waras (baru mirip lhooo).

Gw orangnya memang gampang excited sama apapun yang menurut gw baru dan asing, walaupun menurut Niken, adek kelas gw, gw lebih terlihat hyper-lebay dan norak bin kampungan dibanding keliatan “so much excited”.

Anyway, semakin gw ketemu hal baru, gw menjadi semakin pandai untuk mengerti dan memahami tentang hidup. Dengan kata lain, gw lebih bisa memaklumi perbedaan. Seperti ada seorang guru invisible yang mengajarkan nilai hidup yang sama sekali baru buat gw, yaitu menjadi MAMPU untuk tidak sepenuhnya menyetujui, tetapi bisa menerima. Mempertanyakan, tapi bisa mengerti.

Rasanya luar biasa unik untuk bisa mengenal lalu mempelajari tata cara yang datang dari sisi berbeda dengan asimilasi kultur yang begitu luar biasa berwarna warni, kadang jungkir balik, sering bikin deg-degan, banyak tikungan tak terduga, mirip roller coaster.

Pengalaman paling seru gw, terjadi setiap kali gw mau sembahyang (sholat). Di agama gw, sebelum sembahyang, wajiblah kita berwudhu. Ada bagian-bagian tertentu dari tubuh yang harus dibasuh dengan air dan pastinya pake acara buka sepatu.

Nah! masalahnya, disini, yang namanya buka sepatu di ruang publik adalah perbuatan impolite, tercela, nista, dzolim! (meminjam bahasa si Isro dan Danan).

Gara-gara buka sepatu, mau wudhu, gw pernah dong, dimaki-maki pake bahasa Putung Hoa ama mbah-mbah cina di lavatory (lavatory itu sodaranya rest room/toilet). Untungnya, gw kagak ngarti. Gw sambutlah alunan alto (highest voice part) dari sang mbah-mbah cina itu pake tampang cengengesan gw yang asli dodol (baca: cantik) banget. :p

Belum lagi, gw pernah diusir, nggak boleh masuk Masjid gara-gara gw turis. Sakit rasanya membayangkan, tinggal sejengkal kita mau melakukan kebaikan, tapi kok dijegal. Rasanya sulit sekali untuk diterima.

Awalnya gw merasa MARAH. Kok mau ibadah rasanya susah banget. Sambil muangkel, gw telpon bokap. Setelah cerita sampe muncrat-muncrat, bokap gw malah ketawa, “Ndut, marah itu perlu, jika demi kebaikan.” Gw masih manyun. “Wani ngalah, luhur wekasane (yang berani ngalah, budinya lebih luhur).” bokap gw melanjutkan. “Ibadah itu pengabdian, salah satu bentuk pengabdian adalah mengutarakan rasa bersyukur, kepasrahan, dan penyerahan secara ikhlas”. Gw masih aja merengut. “Kamu harus paham, bahwa kepasrahan dan penyerahan secara ikhlas adalah sesuatu yang sangat wajar dan normal. Bukan berarti kalah, bukan juga mengalah. Pasrah itu menerima, nanti makin tua, kamu akan makin paham, kok. Sudah, baik-baik ya disana?”.

Mulanya gw nggak ngerti, bokap ngomong apa. Tapi seiring waktu, berasa ada sesuatu yang tumbuh dihati gw. Nggak disangka, bokap gw sangat mengerti cara membalut kemelut dengan begitu indah. Gamblang menjelaskan, tanpa membagi kecemasan. Gw pun dapat memahami walaupun dalam diam dan kesendirian.

Sebenarnya sederhana: tulang itu keras, harus keras maka ia bernama tulang, dan kerasnya tulang tidak bisa diterjemahkan menjadi “tulang adalah pro kekerasan.”

Begitu juga dengan gw dan amarah gw. Gw yang mengeluh tentang begitu sulitnya melakukan ibadah di negara orang.

Saat itu, Yang gw pikir hanya kata: “Pokoknya”. Pokoknya gw berprinsip, ibadah itu harus lengkap dan genap, sholat yang harus begini, dan wudhu yang telah ditetapkan begitu. Makanya gw marah saat segalanya gw rasa kurang: Wudhu yang nggak berbasah-basahan dari kepala sampai ujung kaki, atau sholat tanpa rukuk dan sujud.

Gw berusaha menarik benang merah, bahwa semua itu nggak akan sulit jika kita mau lebih berserah diri dan pasrah. Pasrah itu bukan mencari, tapi menerima. Pasrah itu bukan menentang, tapi berpegang. Pasrah itu bukan kehilangan, melainkan keikhlasan.

Dari situ gw mulai sedikit memahami dan mencoba meresapi bahwa sesungguhnya gw HARUS percaya bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Pengertian dan Maha Pengampun.

Dan gw sadar, kesempurnaan wudhu dan gerak sholat yang selama ini gw tetapkan, adalah pertanda kesombongan gw bahwa selama ini gw tidak percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengertian dan Maha Pengampun, bahwa selama ini gw tidak meyakini sedalam-dalamnya bahwa Tuhan memiliki kesempurnaan atas sifat Maha Pengertian dan Maha Pengampun.

Inilah rasanya menjalani ibadah tanpa memahami apa yang dijalani. Merasa menyembah, tanpa mengenal kemuliaan yang disembah. Sungguh membutakan.

Langit malam masih merembang, biru menghitam dan bintang-bintang lugu, malu-malu, bermunculan dalam diam. Menghela nafas, gw menutup mata gw, berusaha menangkap angin yang terasa menusuk dan dingin.

Masih banyak ilmu tentang kehidupan yang gw nggak paham. Ah, betapa masih dangkalnya pemahaman ini.[]

Only he who has the power to punish can pardon..

Sebakul Cinta


Cinta itu seperti pasir. Semakin digenggam erat, semakin dia akan pergi dari jari-jari kita. Kalau tidak dijaga, dia akan hilang terbawa angin. Dan ketika kita melepaskan genggaman pasir itu, selalu ada butir-butir yang tetap menempel di tangan.

Begitulah seduhan cinta yang gw rasakan setiap hari, memuncak disaat kepergian gw dalam rangka menjadi TKW di negeri antah berantah: setengah British setengah China yang jaraknya hanya sepenggalan galah.

Disaat yang benar-benar krusial dalam hidup ini, gw merasakan betapa sangat nyata pemberian cinta dari orang-orang sekitar gw yang sayang sama gw (well, tentunya yang gw sayangi balik juga).

Seperti contohnya, emak gw yang selalu menyemangati gw setelah beberapa kali gw ngeluh: “Mak, ranselnya jadi beraaaaat..”

Dan emak gw dengan santai bercanda, “Biar kamu semangat, kamu sambil gendong, keberatan, bilang aja: makanan, makanan, makanan, makanan.. kalo demi makanan kan jadi nggak berat..”. Sementara nyokap gw ngakak nggak karu-karuan, muka gw tetep lempeng.

Trus bokap gw juga, gw dibawain buanyak banged Incidal (obat alergi) karena bokap tau, gw gila banget ama seafood (FYI, disono: melimpah-ruah). Walaupun, in contrary, gw alergi minta ampyun sama makanan laut (kebayang nyiksanya kan?). Belum lagi masalah gw dibawain jahe segede gede jempol kaki, dengan pesan-pesan sponsor: “Ingat, jauhi Chivas dan Johnny Walker, wahai anakku.. Harom!!”

Dari temen kantor, Ideh, Sobat gw yang paling seksi, dia ngasih gw baju batik untuk menyadarkan gw tentang pentingnya rasa nasionalisme dan patriotisme walaupun gw menjadi TKW di negeri orang.

Ada lagi si Risma, Sobat di kantor, yang beliin gw sendok garpu yang lucu banget, dengan alasan “Buat di HK, kalo disana ghak iso sumpitan..”. Plus tambahan kalimat nyeleneh di kartunya, “Sori ya, aku nggak iso berpuisi, sikilku wes kesel muter-muter”. Tanpa ekspresi.

Ada juga Reza, yang dihari terakhir gw ngantor, dengan baiknya, bersedia nemenin gw sampe didetik terakhir. Lambaian tangan dalam diam-nya seolah berarti banget buat gw.

At least untuk saat ini, I know, gw nggak bakalan mati merana sebagai orang yg bukan siapa-siapa. I have friends, good friends of mine. Also have a lovable parents.

Well, pada hakikatnya, setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita. Dan gw dan segala keterbatasan gw, akan berusaha meraih semua cita-cita itu, demi orang-orang yang gw sayang.

I Love You All, guys.[]

Tikus dan Kemanusiaan

Kemaren gw baru aja bete setengah mati. Gara-gara ngeliat ada orang yang nangkep tikus, trus tu tikus dibakar hidup-hidup, bakarnya pake kertas lagi. Anjrit! Kebayang dong nyiksanya kayak apa?? Andai aja gw saat itu bisa berhenti dan ngeplak kepala si blegug itu.

Alhasil, gw cuma bisa nggrundel (misuh-misuh).

Gw kebetulan pergi sama bokap n temen gw, sebut aja Jacky. Ditengah rentetan protes guah, Jacky dengan oncomnya bilang: “Please deh rum, it¡’s JUST a RAT!” Cannot excuse, setiap tanggapan orang atas perikemanusiaan merupakan suatu ciri sampai dimana manusia itu dengan segala perikemanusiaannya.

Dan entah gw lagi PMS atau emang kesurupan, gw spontan noyor palanya Jacky. Sampe akhirnya kita saling berkeplak-keplakan kepala, dan nggak lama cakar-cakaran beneran.

“Damn you, it’s just a raaaaaaaaaat!!!” Jacky terus berusaha ngelepasin tangan gw yang narik paksa rambut ikal panjangnya yang barusan aja di creambath. Kayaknya itu peak of limitation gw deh. Coz gw jadi ikut nggak beradab n brutal juga ngehadapinnya.

Untung bokap gw turun tangan.

Well, sebenernya udah beberapa waktu ini gw capek banget ngeliat penyakit apatis dan “perikemanusiaan limited” yang gilanya terus terjadi disekitar gw and bener-bener spreading bak silent epidemic.

Semua tindakan heartless itu asli bikin gerah gw. Imajinasi gw yang berenang liar seakan-akan berontak, “Woy ncom, it’s gotta be more than this.”

Gw dulu pernah menjawab pertanyaan di salah satu bulbo FS (yang gw isi kadang serius kadang kagak) tentang bentuk-bentuk tindakan yg dapat merusak moral manusia. Kalo nggak salah dulu gw jawabnya kurang lebih gini:

Tindakan yg dapat merusak moral manusia adalah tindakan-tindakan tak bermartabat, yang dilakukan tanpa berpedoman pada kehalusan budi pekerti serta tanpa dilandasi kesadaran individual yang tinggi.”

Ada tiga kata kunci disitu: tindakan bermartabat, kehalusan budi pekerti, dan kesadaran individual yang tinggi. Semuanya memberi perspektif keteladanan, nilai kritis, harmonis, produktif dan demokratis.

Sekarang ini, lo liat deh, di Indonesia banyak orang yang berpendidikan tinggi tapi cenderung reaktif, defensif, bahkan dogmatis. Typical orang tertutup yang sama sekali nggak adaptif (boro-boro mau sensitif). Pertama, mereka ini amat resisten sama hal-hal baru, kedua, jelas cenderung ingin menyerang, menyangkal dan gak welcome. Padahal katanya bangsa kita ini bangsa beradab yang demokratis, yang tingkatan toleransinya tinggi.

(Numpang mengumpat) Beradab? Demokratis? toleransi tinggi? Pret dut cuih!!

Asal lo tau, gw masih lho, punya temen yang bangga setengah mati sama ke-apatisan yang dia punya. Bukannya dibenerin, malah bangga. Seolah-olah itu ciri moderisme yang harus dipunyai orang-orang dikota besar kayak Jakarta. Bullshit!

Kartini dulu pernah berkata pada teman bersuratnya di Belanda, “Saya begitu ingin berkenalan dengan gadis modern”. Hmm.. Bila suara Kartini menyatakan kekaguman pada fajarnya abad modern, Pramudya justru menyuarakan kekecewaan yang mendalam tentang arti modernisme. Gw bilang, untuk masa sekarang, Pram bisa jadi benar.

Meskipun era modern membawa kebaikan untuk manusia, namun secara paradoks, umat manusia itu sendiri berada dalam “highly ultimate danger” selama ada orang yang masih hidup tidak sebagai manusia, tetapi sebagai binatang.

Gw percaya, bangsa kita memang kena kutuk. Kena kutuk akibat terlalu banyak perilaku kebinatangan yang dilakukan oleh sang manusia yang notabenenya makhluk tuhan yang digembar-gemborkan paling mulia.

Contoh globalnya gini deh, liat aja reaksi dan bentukan sikap egois nan brutal suatu golongan atau masyarakat manusia yang sedang berhadapan dengan golongan atau masyarakat manusia yang lain, yang asing, yang belum dikenalnya, atau yang mana ia tak mau (atau malas) mengenalnya. Mirip halnya dengan seekor ANJING yang mengambil sikap terhadap ANJING lain yang tidak pernah dikenalnya.

Sikap demikian, sama sekali nggak patut dijadikan contoh oleh suatu bangsa atau individu (bahkan OKNUM) manapun juga.

Sepele aja, nggak usah jauh bicara tentang perikemanusiaan. Bicara tentang toleransi aja lama-lama bisa dicap “pendosa”.

(Mungkin paragraf ini agak sarkasme) Saat ini, banyak orang yang merasa membela Tuhan, mengimani sedalam-dalamnya, tetapi dalam prakteknya, NGGAK! Sama sekali nggak mencerminkan sebagai orang yang beriman. Perilakunya rusak, kriminal! Hawa nafsu dituruti, keadilah hidup dikhianati.

Suatu kesia-siaan yang mungkin menggelikan, bahkan mungkin menyedihkan. Anyway, balik lagi ke topik perikemanusiaan llimited tadi.

Kalo gw nonton tipi-tipi (yang Alhamdulillahnya produk kapitalis juga), buset, orang-orang barat kalo nolong orang lain yang susah, nggak nanggung-nanggung. Boro-boro manusia, nolong hewan a.k.a binatang aja sampe sebegitu dibela-belainnya. Rasa penghargaan terhadap kemanusiaan yang luar biasa!

Kalo di Indonesia? Wah Madesu, Suram!

Kegelapan yang ada di Indonesia dipastikan berasal dari dan hanya disebabkan oleh sistem dan struktur sosial yang memberi peluang bagi beragamnya tindakan kekerasan terhadap kemanusiaan.
Kata bokap gw, perikemanusiaan, atau kasih (compassion), atau apalah namanya, memang sepintas tampak lemah, tapi kalau kita bisa memanfaatkan energi yang tersimpan dibaliknya, kelemahan itu bisa berevolusi dan njadiin kita individu yang sangat kuat.

Ingat, sempurnanya tubuh nggak pernah menjadikan jaminan atas sempurnanya jiwa. Namun, bagaimana kita mau menyempurnakan jiwa kalo nggak tertinggal sedikitpun rasa perikemanusiaan didalamnya??? Well, ada yang mampu menjawab tantangan ini?[]

My Kanjeng Pops

Gw punya bokap, Orangnya rada nyentrik. Gw belajar banyak hal dari bokap. Dari mulai ngaji (semua aliran, dari Muawiyyah, Sunni, Syiah), filsafat baik yang jawa ataupun mistik. Misalnya aja ya, gw pernah semaleman mbahas arti kata: khusuk. Kata bokap, khusuk itu melihat tapi buta. Mendengar tapi tidak mendengar, dan membiarkan raga lebur menjadi serpihan energi. In a more sophisticated words: being not exist but full of concious. Gw sumpah dah, kaga begitu paham. Tapi gw ngerti jika kata-kata itu penuh kebaikan. Dan sarat dengan ilmu.

Tapi bukan itu inti ceritanya.

Pada suatu hari, bokap-nya temen gw, Yudi, meninggal. Nggak lama, nggak sampe sebulan, Ibunya Yudi juga meninggal. Tragic. Well, that’s life.
Sebusuk-busuknya masalah. Kagak ada yang lebih busuk dari keilangan orang tua. Paitnya lagi, Yudi itu anak tunggal, sama kaya gw. Woanjrit! berarti gw, someday, bakal ngalamin apa yang dia alamin sekarang.

(_ _);

Kebetulan malemnya, abis pulang ngantor, gw nongkrong dulu ama bokap gw di seputaran Hang Lekir. Biasa, bokap suka kepengen ngerokok. Kaga tau kenapa, gw dengan polos (atau goblok) bilang ke bokap: “Papa, aku nggak mau papa mati..”

Gw sama bokap emang udah kaya pren. Kita emang terbuka banget satu sama lain. Jadi gw nggak pernah ngejaga omongan untuk curhat atau nggak enakeun ke bokap. Ditanya kayak gitu, bokap gw cuma ngisep rokok dalem-dalem, sambil senyum-senyum.

“Mati.. mati.. emang aku kucing piaraanmu..”

Ngeliat gelagat bokap yang nggak serius, gw berusahan negesin sekali lagi ke bokap, “Pa.. aku bener-bener nggak mau papa mati..”

Bokap gw dengan santai cuma ngelirik. “Kematian itu hal yang pasti, nduk, Ngga ada yang bisa ngelawan.”

A common answer: singkat, padat, cermat.

Nggak lama, bokap matiin rokoknya yang emang dah abis itu, “Kalau kamu yakin kamu beriman sekaligus percaya sama semua ketentuan Tuhan, kamu HARUS mulai belajar menerima hal yang PASTI itu, mulai dari SEKARANG.” Dan cerita itupun diakhiri oleh jari telunjuk bokap (yang dipake buat negesin kata “SEKARANG”) mendarat dengan mulus dijidat gw.

Itulah bokap gw. Bokap yang setiap malem gw doain jadi immortal kayak si “highlander” jagoan gw jaman SD itu. Gw gila?! Emberan.

Death is a certain thing, kematian adalah hal yang pasti, dan kagak bisa ditawar lagi. Emang iya sih, nggak hanya bokap, semua pasti punya masa dan punya umur masing-masing. Well, kayaknya bakalan sulit banget buat gw untuk nerima kenyataan itu. Ya gw berharap, semoga saat itu tiba, ada seseorang yang menguatkan gw untuk menerima, bahwa orang tua gw dipanggil karena memang disayang Allah SWT.[]