Farewell Pai Lian Bang


Per akhir Januari ini, gw positif pindah ke Jakarta tercinta kembali dan meninggalkan Palembang beserta es kacang merah, kueh 8 jam, sarikaya dan mpek-mpek lenggang kesayangan gw. Biasa deh, gw pindah karena (lagi-lagi) urusan kerjaan.

Gw, pada akhirnya, secara sadar, memutuskan untuk stop dari project ini. Kali ini, urusan menjaga kestabilan jiwa dan kewarasan otak betul-betul udah mengalahkan urusan slip gaji.

Masalahnya ngga sekompleks atau sesimple yang dibayangkan. Misalnya aja simple seperti cuma sekedar masalah, “ah projectnya ribet, males ah”. Oh believe me, I won’t quit because of that. Karena gw hobby banget ngelurusin benang kusut.

Atau alasan gw berhenti bukan juga karena problem yang demikian kompleksnya, seperti contoh adanya beberapa task force besar dengan target deadline sama dan semua dilakukan sekarang juga tanpa trial error atau exercise dulu. Itu tantangan buat gw, dan gw suka tantangan. Jadi ngga mungkin gw berhenti karena itu.

Dan di project gw sekarang, boss gw lose communication dengan gw, dalam artian, kami berjalan pada misi dan visi yang berbeda. Dia pada misinya mendelivery project dengan lempeng dot kom, dimana tanpa dia sadari di kanan dan kirinya, semua orang teamnya bergelimpangan, gugur di medan perang. Walaupun pada akhirnya misal, dia masuk dalam target delivery yang telah ditetapkan, but at that final victory line: he’s alone, coz all his men are dead already.

Bukan berarti gw ngga berorientasi pada delivery project. Itu tujuan utama gw. Tapi, believe me, manage orang itu ngga kayak sepotong kueh (piece a cake). Disatu sisi lo harus deeply understand about technical, maintain quality delivery lo, while disisi lain, lo juga harus mikirin kesejahteraan anak-anak buah lo. They can be paid less than us, but they don’t deserve being happy and comfortable with the war zone LESS than us.

Well, bertahun-tahun gw kerja, gw amati, ternyata gw selalu betah alias stay long term di suatu perusahaan cuma karena urusan komunikasi yang lancar sama atasan. Dan disini, gw nggak dapet trust itu dari boss gw sendiri. Lo bayangin, setiap kali lo mencoba berkomunikasi sama dia, hasilnya selalu: failed.

Kalimat-kalimat negatif itu selalu dilontarkan ke gw, as I always reviewing what the hell happened with myself that he hated me so much, I began to wondering, is it he who had problems with how to communicate with people, or me?. Yah memang garis merahnya: adalah sangat menantang saat lo mencoba berkomunikasi dengan orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi.

Gw ngga bermaksut rasis, boss gw ini Indiahe. Totally ass-licker and seperti kata senior kampus gw yang juga kerja di project yang sama (tapi beda region) “your boss, that guy, should go home to Mumbai and play some movie. He’s not suitable here.” Ya itulah, everybody can be a boss, but hell yeah, not everybody can lead a project.

Dulu, dulu banget, gw punya boss namanya Ricky Kwok (Sumpah, dia ngga sodaraan ama Mulan Kwok). He’s cantonese, galak dan judesnya minta ampun, tapi baiknya juga minta ampun. Dia bisa bilang “I will kill you!!” Ke gw, tanpa gw merasa terintimidasi. Instructions dari dia: J.E.L.A.S, dan otomatis delivery gw juga J.E.L.A.S. Komunikasi kami terjalin harmonis dua arah. He listened to my problem, and also I listened to his instructions very well. Seperti kata dia waktu itu: “In a rush and competitive match, if you want to know how to play a good ball, you have to know how to get the ball, and pass it to your team.” Ya of course kalo nggak, kita bakal kalah.

Banyak kata-kata mutiara Ricky yang gw jadiin panduan gw untuk nge-lead beberapa project gw belakangan ini. Well, as far as I know, the target always been achieved. Semua user gw satisfied ama gw. Gw pun masih suka skype-an sama si Ricky ini.

Setelah itu, gw juga punya boss yang lain. Namanya Klentheng. Dia senior di kampus, temen maen juga, temen diskusi, eh tak dienyana (halah) tau-tau gw ngikut kerja ama dia.

Klentheng ini orangnya stright forward. Dibahasakan kembali sama dia: sharp-tongue. Walaupun sumpah dah dia ini ya, udah galak, judes, suka teriak-teriak dan kadang suka ngga jelas (abis marah trus nyanyi-nyanyi), dia itu visi misinya jelas, maunya banyak, konsepnya padat. Dan orangnya simple dan “pokoknya jadi”, ngga ribet ama proses. Kalimat dari dia yang paling gw inget adalah: “Gw tau banyak orang yang nggak suka ama gw, tapi kan gw nggak bisa entertain semua orang. Jadi ya gw deliver apa yang bisa gw deliver.”

Klentheng ini juga care sama anak buah. Karena dibalik apatisme dan ke-bodoamatan dia sama tekanan kerjaan, dia itu orangnya nggak tegaan. Dia selalu punya jalan keluar yang “win win solution”-lah intinya. Sampe sekarang, walaupun udah nggak satu perusahaan, gw masih suka contact and nanya nana nini sama dia.

All project is tough, and it is our obligation and our challange to finish it. But we have to be supported by our superordinate. Our boss. Kalo nggak kaya gitu, ya kayak gw sekarang, mati gaya, mati kutu, mati skak (skak mat – halah), dan akhirnya nggak betah kerja deh disini. Oleh karenanya, if you wanna be a good leader, you must have high capability to communicate with your subordinate. Other ways, you’ll loose. Either loose the project, or loose your good man. Sayang kan, kalo suatu project kehilangan orang-orang talented cuma karena bossnya bego. Semoga gw nggak setolol itu kalo kapan-kapan gw jadi boss. Well, just try to your best for being a “good” leader, not only a “good” boss. Pahalanya Insya Allah gede.[]

Posted in Cerita Gw, Telco Industry | Leave a comment

Flying Bayu


Kehilangan keluarga yang sangat kita sayangi ternyata rasanya perih sekali. Gw pernah kehilangan kakek, nenek, om, pakde, ponakan, dll. Tapi rasanya ngga seperih kehilangan Bayu.

Gw kehilangan Bayu, sepupu gw yang paling gw sayangi, beberapa bulan lalu. Bayu dipanggil keharibaan Tuhan Yang Maha Welas Asih karena penyakit kronisnya yang baru diketahui 6 bulan sebelum hari kematiannya.

Rasanya saat inipun gw masih merasa dia baik-baik aja. Karena otak gw masih memvisualisasikan kondisi Bayu seperti kondisi terakhir kali gw ngeliat dia: Sehat, ceria, penuh tawa dan keriangan. Gw masih inget kok, terakhir kali kami chat adalah sewaktu dia nanya kabar gw yang lagi sakit. Waktu itu gw masuk UGD gara-gara masalah perut, lambung dan sekitarnya.

“Gw ngga puasa kok sebulan ini, rum. Gw masih konsumsi obat juga kan. Jadi soal itung-itungan puasa, lo ngga perlu ngerasa defeated. Paling nggak, lo masih ada puasanya dikit lah, walau cuma 6 hari..”

Itu kalimat terakhir Bayu di chat. Sampe akhirnya dia harus masuk RS untuk yang terakhir kalinya dan nggak ketemu gw lagi. Ngga chattingan sama gw lagi untuk selamanya.

Saat dikabari kondisinya yang semakin kritis, gw seperti hampa. Ada mosi tidak percaya yang pingin gw ungkapkan secara keras kepada orang-orang pembawa berita itu. Gw jadi sangat emosional saat gw tau semua orang tampak udah hilang harapan ke Bayu. Gw benci sikap semua orang yang kayak gitu. Betul-betul benci!

“Bayu is fine! He’s going to be allright!!” Kata gw setengah teriak pada gagang ponsel. Diujung sana adalah mbak Dian, kakak kandung Bayu, yang juga punya hubungan yang dekat dengan gw (Well, kami bertiga mostly dari SD sampai SMP menghabiskan tiap weekend bersama, never aparted).

“….”. Gw nggak denger jawaban apa-apa kecuali isakan tangis mbak Dian. Gw berusaha menajamkan pendengaran gw sekali lagi. “Rum, ikhlasin Bayu ya, rum.. Dia manggil-manggil lo terus. Gw harap lo bisa ikhlas.. Tolong jangan bebanin Bayu.. Kasian..”

Seketika itu gw lunglai. Begitu banyak mimpi gw dan Bayu yang belum direalisasikan. Awalnya gw memaksa. Sungguh dalam hati, gw memaksa agar Bayu mampu kuat bertahan sampai gw pulang. Tapi takdir berkehendak lain. He’s gone before I can stare his bold and black eyes. Alive.

Di rumah duka, gw benci tatapan orang-orang itu, yang memandangi gw dengan tatapan iba. Gw yakin saat itu wajah gw sekaku manekin toko. Dingin, palsu dan kaku.

Gw nggak percaya. Bayu is like my own sibling. He’s my little brother that I never had. Gw masih nggak percaya. Gw kunyah geraham gw sendiri. Gw genggam jemari gw rapat-rapat.

“I have to face this!” Bathin gw.

Sampe akhirnya tepat sebelum gw sampai di ruang tamu tempat Bayu telah terbujur kaku dan terbalut kain kafan putih, mata gw terbentur oleh sosok mirip Bayu, dia menghalangi jalan gw, berperawakan lebih gendut, beruban, serta memandangi gw lembut lewat tatapan teduhnya.

Gw memandangi pakde gw itu tanpa ekspresi, beliau ayahnya Bayu. Pakde gw tau seberapa dekat gw sama Bayu, serta seberapa gila mimpi-mimpi yang ingin gw dan Bayu wujudkan sama-sama. Langkah gw terhenti. Mata gw panas. Dada gw terasa sempit dan sakit.

Saat itu gw pengen bilang sama Pakde gw, “Semua ini mimpi kan, Pakde? Aku cuma dikerjain aja kan sama kalian??”. Tapi ngga ada satupun kata keluar.

Diujung sana, Pakde gw tersenyum, ngga ada air mata dipipinya. Pakde gw tau semua galau yang berkecamuk di dada gw. Marah, perih, sesak, penat, dan hampir pecah. At the contrary, wajah pakde gw bersih dan tenang sekali. Beliau berjalan pelan ke arah gw. Dan seketika itupun tanpa sadar gw histeris dipelukan Pakde gw.

————————-

Selalu ada yang nyeri saat gw memandangi jingga langit diatas pesawat. Entahlah, semenjak kepergian bayu, gw selalu memilih terbang saat langit berwarna jingga: sebelum maghrib, ataupun setelah subuh.

Bayu menjelma jingga buat gw. Diatas ketinggian ini, gw merasa lebih dekat sama Bayu. Hampir 3 bulan sejak kematian Bayu, gw belum bisa mengontrol emosi dan air mata gw saat bertemu jingga. Ah, rasa kehilangan tak pernah berubah. Warnanya masih sama. Jingga.

Beberapa tahun belakangan, gw n Bayu punya hobi sama, fotografi. Kami kemana-mana nggak pernah lupa bawa kamera. He’s on his Nikon, and I’m on my Canon. Once, Bayu pernah meminta gw ganti pakai Nikon, alasannya sederhana, supaya gw bisa ngajarin dia. Gw berjanji, tapi janji itu belum kesampaian.

I miss him lately. I always remembered him on every click that I made on my camera. Every shutter that shreded. Every clutch that I step. Every dawn, every twillight, every golden hours that I see. It reminds me of him. Gw merasakan nyeri yang amat sangat setiap kali gw menyentuh kamera gw.

God, I miss him.

But I know, Allah sayang sama gw, Keabsenan gw disaat terakhir Bayu mungkin dimaksutkan agar gw mengingat Bayu seperti kondisi terakhir yang gw lihat: ceria, sehat dan nggak sakit. Allah tau, mungkin hati gw terlalu fragile untuk ngeliat perjuangan terakhir Bayu.

Gw tau persis, Allah sayaaaaang juga sama Bayu. Makanya semua penderitaan dia ini dihentikan lewat cara seperti ini. Ini memang jalan paling baik buat semua. Dan Insya Allah, gw ikhlas.[]

Lord, plese keep him safe in your brace. Please tell him, that I’m sorry that I can’t be there by the time he needed me and called my name. Please tell him, that I love him and I miss him.
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Kota 3 Warna


Saat ini gw tinggal di kota Palembang. Kota dengan jumlah penduduk terpadat dan tingkat kriminalitas paling tinggi se-NKRI. Well a bit scary awalnya, tapi ternyata tawaran angka pada slip gaji memang sakti dan bisa mengalahkan ketakutan jenis apapun. Hahahaha.

Untungnya (sebagai orang jawa emang selalu adaaaa aja kata: “untungnya”), di kota ini gw ketemu temen SMA gw, panggil aja Ola. Dan satu orang lagi, namanya Cita, perempuan lucu ini sering kami panggil “adeknya” karena emang Cita paling kecil diantara kami bertiga.

Demi misi: nyari temen atau minta ditemenin, gw memutuskan untuk pindah kost ke tempat kost Ola dan Cita. Dan memang betul, setelah ngekost bareng, kesempatan untuk menggila bersama-sama terpampang lebar dan nyatahhhhh.

Kami bertiga termasuk wanita-wanita pekerja keras teladan. Ola kerjanya ngurusin pembangunan tower, Cita kerja sebagai marketing di perusahaan Jepang, dan gw? Kerjaan gw apa ya? Jangan dibahas lah.

Kalo soal kerjaan, peringkat nomor 1 dipegang oleh Ola, gw nyebut dia: maniak lembur. Karena at weekdays, Ola mirip bencong taman lawang, berangkat pagi, pulang juga pagi. Setiap hari tanpa absen. Menurut keterangan si Ola, dia ngejar lemburan karena dia suka banget B.E.L.A.N.J.A. Jadi kalo kerja ngga pake lembur, hobi dia yang satu itu bakal NGGAK tersalurkan. Karenanya lah, gw kesulitan cari temen main badminton saat weekend (sabtu pagi 05:00-13:00 adalah jadwal Ola molor tanpa gangguan).

Peringkat nomor 2 dipegang Cita. Jam pulang kerja Cita agak lumayan sore. Yah antara jam 7 malem sampe jam 9 malem lah. Itu pun gw selalu tau kalo dia pulang karena dia pasti mampir ke kamar gw yang mirip-mirip pelabuhan transit sangking strategisnya. Setiap kali gw buka pintu, selalu ada hal baru yang dibawa Si Cita, kadang bikin gw terkaget-kaget, kadang bikin gw malah ngakak kegirangan. “Mbak, tadi mobil gw nolongin orang kecelakaan! Berdarah-darah!”. “Mbak, tadi gw berantem ama orang Palembang!”. “Mbak, tadi ada penjarahan!”. “Mbak, gimana kabar mas Bimo? Cieee..”. “Mbak, kayaknya gw mau gila deh!”. “Mbaaak, kerjaan gw mbaaak!!!!”. Dan masih banyak lagi cerita-cerita Cita. Sama aja kayak Ola, karena hari Sabtu si Cita kerja setengah hari, gw kesulitan ngajak dia main badminton saat weekend.

Peringkat ke 3, ya jelas gw, siapa lagi? Kerjaan gw cuma dua: eksperimen sama bales imel boss gw. Gw pegang area satu sumbagselbabel untuk maintain sinyal 2G-3G salah satu operator baru nekat Indonesia. Gw nyebut gitu karena emang project ini disebut The Titan Project alias project para dewa. Kerusuhan terus setiap hari, karena area gw pegang 40% total revenue dari si Operator dengan logo angka 3 ini. Hahahaha. Tapi lha ya kok aneh, setiap hari gw masih bisa pulang jam 5 sore, trus sabtu minggu gw libur total. Kalaupun gw dicaci maki, difak-fakin boss, ya gw masih bisa ketawa ketiwi bahagia. Konsep kebahagian gw cuma satu, kalau sedih dan merasa duka lara, lihatlah slip gaji. Dijamin gw semangat 45 lagi.

Gw, Ola dan Cita sering menggila menghabiskan waktu dikala wiken dengan cara berbeda. Jarang kami menghabiskan waktu bertiga. Kadang cuma gw sama Ola, kadang cuma gw dan Cita. Kalaupun kami menghabiskan waktu bertiga, gw rasa Palembang bisa kerusuhan, karena we can talk about so many things in hours and the only thing can stop is: Ola atau Cita kehabisan rokok.

Kami bertiga sering banget punya ide gila tanpa terkendali. Misalnya aja, tiba-tiba pada suatu sabtu siang, Cita gedor-gedor kamar gw sambil bilang: “mbakkk!!! Gw streeeessss!! Gw mau liburan, ni kunci mobil, terserah elu deh mau bawa gw kemana, yang pasti gw harus keluar Palembang!!!!”. Setelah secara spontan melempar kunci mobil ke arah gw (lebih tepatnya: ke muka gw), Cita melemparkan dirinya ke tempat tidur gw yang serapih tempat tidur hotel. OMG she has no idea how hard it is to make those seprai lempeng, alus, dan super mulus.

Gw cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat Cita menangkubkan mukanya ke bantal-bantal itu lalu berakting pura-pura mati. Cita udah kayak adek gw sendiri. Setelah itu seperti ritual umumnya, gw telpon dan mengajak serta Ola dan tau-tau kami bertiga sudah sampai Lampung, kadang Bengkulu, Lahat, Muara enim, atau cuma sampai Prabumulih.

Kadang kalo Cita sibuk, gw muter-muter berdua sama Ola ke Mall. Ola hobby banget ke Mall, dan gw dipaksa untuk nemenin dia. Karena gw tau, kalaupun Cita idle, Ola ngga akan mampu maksa Cita turut serta, karena Cita antipati sama Mall. Sedangkan gw, gw ngga pernah antipati sama siapapun kecuali boss gw si Ankit, indiahe edyan, dan semua cowok bajingan yang suka nipu dan nyepikin cewek-cewek lugu kayak gw. Ngapa curhat bukkkk..??

Biasanya kalo jalan-jalan sama Ola itu endingnya pasti setak di cafe atau restoran nggak jelas, lalu diskusi hal-hal yang sifatnya ngulik sejarah dan budaya. Lalu diskusinya agak mirip demo didepan kantor lurah dengan skala kecil, soalnya Ola kalo cerita suka agak-agak sambil gebrak meja dan teriak-teriak saat ngga setuju sama beberapa policy pemerintah. Kadang diskusi kami juga agak mirip rapat PKI akibat kebul asap rokok Ola yang sebal-sebul tanpa henti.

Beda lagi kalau gw ngobrol sama Cita. Obrolan Cita lebih ringan dan bebas kerutan (pada dahi). Yang Cita bahas lebih ke kondisi real pada lapangan untuk daerah Palembang dan sekitarnya. Karakter orang native Palembang emang kadang suka bikin kami terpingkal-pingkal geli ataupun bikin kami marah bukan main terutama untuk hal berlalu-lintas dijalan raya. Sampai si Bimo, pacar gw yang sundanese parah, kalo pengen nyetir serabutan, sering banget bilang: “Kela kela.. Di-Palembang-keun we lah..” (Bentar, kita nyetir pake cara Palembang aja..). Hahahaha.

Mereka-lah keluarga gw di Palembang. Dan mereka adalah satu dari dua hal yang bikin gw betah tinggal di Palembang (yang pertama pasti hahahaha slip gaji tadi. Hahahaha.)

Well, ternyata tinggal di Palembang nggak selamanya madesu dan miserable seperti kata orang-orang. Malah gw ngerasa hidup gw berwarna banget disini. Yah semoga aja gw betah terus deh ya.[]

Ditulis pada ketinggian 3500 kaki diatas permukaan laut.
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Pria dan Puisi


“Jane, where are you?”

Membaca message dari lelaki itu di ponsel gw, detak di dada ini spontan terasa dialiri aliran listrik 15 juta Kilovolt. Suddenly stop beating, I feel very light and loose and I felt that there’s million sparkles around.

This man, sebut saja Bimo, has been so delicate, sympathetic, loyal, caring, untutored, gentle, and I am.. in love with him.

He’s the man I am looking for. Totally, head to toe. At least for current.

Senyum-senyum girang, gw mereply message dari dia: “Gw lagi di kosan bim, biasa lagi ngitung kancing, kira-kira siapa yang bakal traktir gw dinner malem ini”

Ngga lama ponsel gw kembali berbunyi: “kalo gitu gw aja yang traktir. Mau gw jemput atau.. Lo jemput gw?”

OMG. Another heart attack! He’s in town!

Gw berasa heng selama 10 menitan. Sambil berusaha mengumpulkan segenap jiwa raga gw yang tersisa, gw senam pernafasan sebentar, huffffttt. “Errrttt, Earth is calling Jane, errrtttt.. Please get back to earth.. Errrt, where the hell are you, Jane?!”. Gw pikir gw udah gilak. But it did happen. Gw beneran Heng!

I run crazily inside kostan gw sendiri! Padahal sempit lho kamar gw. Chaotic banget lah pokoknya. Bingung mau mandi apa nggak, mau pake minyak wangi yang kebuah-buahan atau yang keseksi-seksian, make warna alis coklat atau item, make kebaya kartini atau jeans+kaos aja, Ah I am too.. HAPPY!!
Sambil mengetuk-ngetukan jemari gw ke setir mobil, gw nunggu Bimo dideket tempat dia nginep. Rasanya resah. Kayak balon aer yang hampir pecah.

Gw bolak-balik nelen ludah sambil ngeliat kaca spion. Damn, it feels like forever for waiting him like this. Where is he? Is he okay? Does he know the road for getting to this parking lot? Is he really here? Is he still remember my car?

I can’t control my self. I’m too falling for this guy. It’s been a while for I never met this kind of guy anymore, After ahmad, after Bilven, after I lost my Ahmad and my Bilven.

Dan gw akhirnya melihat siluetnya dari jauh. Still the same. Same old Bimo. Tinggi, Kurus, Ceking, dengan bahunya yang panjang dan lebar. Just wearing simple T-shirt and jeans. Of course, masih sama, megang rokok ditangan kiri. Yep, dia kidal.

Bimo mengetuk kaca jendela gw, “tuk-tuk”. Gw melirik sekilas. Pura-pura acuh. Kacamata Rayban Bimo, yang juga jadi kesayangan gw, tepat menempel dikaca dari sisi lainnya. Gw tersenyum sambil membuka kaca perlahan, “Lama nian, Tuan?”.

Bimo cuma tersenyum, menghisap rokoknya sekali, lalu membuangnya entah kemana. Dia memberi isyarat agar gw pindah dari posisi gw duduk. He’s taking the wheels.

Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya adalah seni. Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang keramat, yang luhur, well.. segala yang indah dalam hidup ini buat gw adalah puisi.

Persis seperti Bimo. Bagi gw, dia adalah puisi. Dia seperti kata indah yang mendebarkan jiwa. Dia bak rima kalimat yang mampu melangutkan rasa.

Dia indah. Dia penjarah. Penjarah hati gua.

Gw ketemu Bimo secara nggak sengaja di kota yang berbeda. Bimo tinggal di Muara Enim, kerja di pertambangan batubara, sedangkan gw tinggal di Palembang yang jaraknya kurang lebih 8 jam via jalan darat. Biasalah, gw kenal Bimo karena ternyata dia adalah temennya temen gw. Setelah kenal lumayan akrab, kami kerap saling mengunjungi satu sama lain.

At first, I’m not paying so much attention to him. He’s just like ordinary guys with no special sparkle. Even Bimo betul-betul jadi makhluk extrateresterial buat gw. Until that day. The day that I have to be in his car for hours, stuck with him, only him. And we both did everything to kill the boredom.

We’re talking about politics, jokes, interests, hobby, routine activity, work, about shores and mountains. Listening U2 together for hours. Ugh, Gw menemukan orang yang betul-betul mampu berdialog dengan gw. Both way. Perfectly.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Bagi gw, isi dibalik krempengisme si Bimo adalah poetic. I fall for his substance. As we drifted to another place in time, this feeling of mine was so heady and sublime, I lost my heart to him.

Hari itu, Bimo juga cerita soal love lifenya dia. He is enggaged with a girl. And he loves her very much. They will get married next year. Pertamanya gw merasa kecewa. Tapi gw pikir, toh selama ini gw emang selalu jatuh cinta sama orang yang salah kok, makanya gw nggak ambil pusing. Gw nggak mengharapkan Bimo ngawinin gw jugak kan? Lagian, gw cuma seneng aja punya temen ngobrol di tempat asing kaya gini, Hahaha..
Bimo bagi gw adalah laki-laki bebas. Dia bisa menentukan langkah dan tujuan hidupnya dan dia konsisten dan persistent terhadap hal yang dia pilih. Ketabahannya itu yang bikin gw jatuh cinta sama dia.

Dia bisa saklek sekaligus fleksibel dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa basah dan kering dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa jadi santa sekaligus jadi pit hitam berbarengan. Dia mampu menjadi tiada dalam suatu keadaan. Dualisme yang dia miliki bukan merupakan suatu ke’plin-plan’an buat gw, melainkan suatu hal yang sangat extra-ordinary dan poetic.

“Jane, U2 mau manggung di Bali..” katanya singkat.

“O really?” Jawab gw surprised.

Gw tatap matanya lekat-lekat. Ada ketenangan yang gw temukan disana. Bimo tertawa. Ada emosi yang tertanam juga disana.

“Jane, will you come to my wedding..?” katanya singkat.

“If only you’ve requested it..” Jawab gw tenang.

Bimo mungkin tau tentang segala rasa yang berkibar di dada gua. Rasa itu terasa transparant sekali. But we both know, it’s impossible to continue our relationship to futher step. We both know it’s forbidden.

Malam itu, safely, gw anter dia ke tempat dia nginep. He say take care and good bye like usual. 
Diiringi Electrical Storm-nya U2, gw balik ke kosan. Rasanya lega sekali. It’s been a while gw nggak merasa jatuh cinta seperti ini.

Have you ever thought that you love a man so much that you will not be at peace until you see him? On the contrary, your sanity and sober mind take place. They keep telling you that actually it’s possible for you to make he loves you and no other can do that or should do that.

Ya ampun, it feels so complicated. Comme il fault, as it should be. Complicated.

“Innallaha ma ‘ashshabirin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Bathin gw sambil mengurut dada. Ya Allah, ada dua orang nggak ya, yang kayak Bimo? Kalau bisa yang idle ya? Aku mohon, ya Allah. Dan gw tertidur sambil tersenyum setelahnya.[]

If you want to ease the pain, you can lean from me, my love will still remain..

Posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta, Cerita Gw | Leave a comment

Tentang Ketenangan Hati


Baru aja, gw ngga sengaja donlot pilm bagus. Judulnya Five Minarets in New York (2010). Film besutan sutradara asal Turki, Mahsun Kirmizigül, yang juga penulis naskah beserta ikut juga jadi pemain inti (waw, sok eksis banget yaaaa ikut semua-mua..). Film ini berhasil bikin gw termehek-mehek berurai air mata. (Gw semakin yakin bahwa Tuhan betul-betul punya cara mengajar dan selera humor yang luar biasa tinggi.)

Di film ini, ada salah satu pemeran imigran asal Turki bernama Hadji Gumus yang dituduh teroris. laki-laki ini digambarkan sebagai seorang muslim yang taat. Takut akan aturan Allah, pasrah dan ikhlas akan segala keadaan yang menimpa dirinya. Dia juga bijak, sekaligus mampu memenuhi misi dari Rasulullah untuk nggak hanya sekedar menghafal-hafal Islam dan mengagung-agungkannya dalam balutan simbol religiusitas semata, melainkan menggunakannya dan mengaplikasikannya dalam seluruh kehidupan dia, dalam upayanya menyempurnakan akhlak sebagai manusia.

Selain digambarkan sebagai seorang muslim yang taat, Hadji Gumus yang dituduh teroris ini, memiliki Istri yang bukan muslim. Dileher istrinya tergantung kalung berliontin simbol salib. Sang Istripun selalu membawa rosario kemanapun dia pergi.

Salah satu dialog menarik saat Hadji Gumus ditanya oleh salah satu detektif tentang Istrinya yang seorang penganut Christian. Katanya: “Tuhan itu satu. Dan betapapun kita berbeda satu sama lain, kita selalu punya kecenderungan untuk mencari dan mendekatkan diri kepada-Nya.”

Ada adegan lain juga yang menarik. Adegan dimana pada akhirnya si Hadji Gumus ini dibebaskan karena teroris yang sesungguhnya ketangkep. Nah di hadji gumus sama nih om-om teroris ada di sel, tapi terpisah sebelah-sebelahan. Si Hadji Gumus ini ngasih salam duluan ke terorisnya, “Assalamualaikum” katanya.

Nggak lama boss polisinya masuk ke sel, marah-marah sama si terorisnya, ini gw kasih dialognya deh ya, biar gampang:

Boss polisi: “You cold-blooded bastard! Tell me who you’re working for. Who’s giving you orders?!”

Teroris: “I take my orders from Allah. I’m waging holy war on the path of Allah.”

Boss polisi: “What part of holy war is for kidnapping and robbing Muslims, burying them alive, also cutting off their heads, you piece of shit!!”

(soalnya ada seorang polisi yang disembeleh sama si teroris ini, trus videonya dikirim ke kantor polisi Turki gitu deh diplot ceritanya. Asusmsi gw, polisi yang digorok tadi juga muslim, makanya boss polisinya ngomong gitu.)

Teroris: “Qur’an instructs us to do battle until everyone is a muslim. The prophet Muhammad fought the enemies of Allah until his dying breath. And we’ll do the same.”

(tiba-tiba Hadji Gumus motong pembicaraan mereka secara halus. Lembuuut banget ngomongnya, pelan, nggak teriak-teriak and keliatan angkuh kaya si mbah teroris.)

Hadji Gumus: Allah instructed the Prophet to use persuasion and wisdom to spread God’s word. Jihad is simply an invitation to tread the path of God while seeking the truth. When attacked by enemies, our prophet defended his life, his property, and his honor. In his 23 years as prophet, he fought only for two months. May God forgive our sins.”

(Trus boss polisi dan anak buahnya merasa bersalah gitu udah nuduh Hadji Gumus)

Boss Polisi: “I’m so sorry, Hadji. I apologize personally and on behalf of the police force. We made a terrible mistake.”

Hadji Gumus: “It’s God’s will.”

Gila ya, beneran deh, keliatan sekali orang yang Akhlaknya mulia, selalu sabar, penuh kasih dan kelembutan. Kapan ya gw bisa kaya gitu. Subhanallah.

Agama itu, bagi sebagian orang, ada yang diaplikasikan ada yang cuma dihafalkan. Islam itu simple sebenarnya. Rukun iman, rukun islam, cukup. Lalu kita kembali ke nurani kita. Kita akan menjadi Muslim sejati jika moralnya bagus, dan akhlaknya juga bagus.

Kata bokap gw: “Janganlah kamu sholat dalam keadaan mabuk. Sehingga kamu mengetahui apa yang kamu ucapkan. Makanya nduk, sholat itu harus KHUSU’. Khusyu’ itu berarti kamu betul-betul menyadari apa yang kamu ucapkan dan apa yang kamu lakukan. Sehingga kamu meyakini, takut, dan mentaati peraturan Allah SWT. Jadi, walaupun ritual sholat sudah selesai, kamu senantiasa tetap akan ‘sholat’ dimanapun. Karena sejatinya, kamu akan tetap mengingat Allah, bagaimanapun, dan kapanpun kamu berjalan dan tersebar dipermukaan bumi.”

kembali kepada film Turki tadi. Hadji Gumus dan segala akhlak yang dimilikinya. Begitu penuh kesabaran, cinta kasih, dan sangat menghormati perbedaan-perbedaan. Jadi memang sebenarnya kita perlu hening untuk mengetahui maslah yang sebenarnya. Andai aja semua orang kaya dia, gw jamin ngga mungkin ada perang. Mau perang salib, mau perang badar, mau perang di Libya atau Iraq. Nggak mungkin ada.

Saat ini, para Ulama menjebak kita dalam urusan-urusan seputar pahala dan dosa. Itu yang sudah menjadi ‘tuhan’ baru kita. Dan rupanya nggak hanya sekedar dosa dan pahala yang dipikirkan orang-orang. Tapi juga sibuk ngurusin pahala dan dosa orang lain. Jadi, kalo ada yang beda dikit, masjidnya dibakar. Ada yang nggak sama persis, dianggap darahnya halal untuk ditumpahkan. menyedihkan!

Itu sih namanya ya, pelajaran akhlak sama kontrol nafsu jelas kalah total. Yang punya neraka dijamin seneng banget, visitornya nambah.

Ilmu itu bagaikan seorang perempuan : lembut, menyenangkan, dan mencukupi hidup kita. Jadi sifatnya ilmu itu lembut, seperti sifatnya Allah: Maha Lembut. Makanya kita disuruh ‘IQRAA’, membaca, mengamati, niteni kalau dalam bahasa jawa. Ilmu titen atau ilmu ‘iqraa’ itu memang luar biasa. Kalo ngga percaya, ngga tau gimana caranya, 
pasti akan kita temukan patterns of God’s behavior dalam hidup kita. Misalnya aja gini: “Oh, gw ini dapet rejeki biasanya karena gini, dan karena gitu.” dll, dsb, dkk, etc.

Nah! Membaca atau mengamati hal-hal yang terjadi disekitar kita itu tadi lah yang nomor satu, bukan membaca secara literal, melainkan membaca fakta-fakta yang ada di alam. Inilah intisari dari perintah ‘Iqraa’.

Orang yang mengenal dirinya, secara otomatis ia akan tahu bagaimana memperlakukan diri sendiri dan bagaimana harus bersikap terhadap hal-hal yang ada disekitarnya dengan cara memaksimalkan potensi dan keunikan yang ia miliki sebagai anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan.

Dan di dunia, orang seperti ini akan merasa tentram, sebab ia intim dengan alam, juga dengan Tuhannya. Meskipun sedang dirundung kebingungan dan kesedihan atau penderitaan, seperti si hadji yang dituduh teroris tadi, orang itu harus tetap tenang, sebab yang disukai Tuhan adalah jiwa yang tenang (nafsun muthmainah). Ingat, Allah telah berkali-kali menagihmu untuk berpikir, karena akalmu adalah wakil otoritasmu dalam menjalani hidup. Afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun.

Islam itu letaknya di dapur, yang disuguhkan di meja makan adalah output-nya, kebaikannya. Seperti kata pak ustadz dipengajian: Orang yang belum mendalam butuh MULUT untuk memuji Allah, sedangkan yang sudah mendalam, detak jantungnya pun sudah memuji Allah. Masya Allah. yuk ah sekarang kita mulai memperbaiki akhlak kita sedikit-sedikit. Sayangi sesama, dan bantu orang yang kesulitan tanpa membedakan jurang perbedaan yang terbentang ataupun yang tidak terbentang. Mari hidup menebar benih kebaikan dan cinta kasih untuk sesama. Dan rasakan bedanya.[]

Posted in Cerita Gw, Nasihat Bokap | Leave a comment

Ujian Tentang Kesombongan

Pada suatu hari, di sebuah antrian di Bandara Internasional, gw menemukan seorang ibu ibu pengusaha kaya (sepertinya begitu coz gw pernah liat jaketnya, berharga sekitar 2500 USD!! Beruntunglah gw suka windows shopping di mall-mall mahal, jadi ngerti, tapi nggak beli hahaha).

Ibu-ibu tadi mencak-mencak nggak karu-karuan gara-gara antriannya diselak oleh salah seorang TKW buruh migran asal negara kita tercinta.

“Heh! Pada tau aturan nggak sih? Nggak di Negara sendiri, nggak di Negara orang, kelakuan masih pada sama aja, kampungan! Antri dong!”

Para TKW yang diteriaki sempat kaget tapi setelahnya malah cekikikan bersama kawan-kawan se-gank mereka. Otomatis ibu-ibu kaya tadi tambah naik darah karena teriakannya nggak digubris. Hingga akhirnya ibu-ibu itu melaporkannya pada petugas bandara.

Gw nggak mau nerusin cerita tadi akhirnya kaya apa, yang jelas, some part of myself ngerasa ikut sebel ama kelakuan mbak-mbak TKW tadi. Karena pada hakekatnya, gw nggak gitu suka sama orang yang nggak menaati aturan umum. But anehnya, some other part of myself kok ngerasa kasihan ama mbak TKWnya, dibentak-bentak kaya gitu. Dan rasanya di gw kaya ada yang ngganjel, kaya ada yang nggak pas aja. 
But I don’t know what it is.

Beberapa waktu kemudian, ada kejadian yang mirip saat gw ngantri beli karcis commuter train di salah satu stasiun elit di daerah Sudirman. Bedanya, kali ini penyelaknya adalah seorang pekerja kantoran yang secara streotip: tampak terpelajar dan ngerti aturan-aturan dasar tentang bagaimana MENGANTRI TIKET secara baik. Tapi yo ngono, dia tetap aja nyelak antrian, walaupun dia diteriakin orang: 
“antri dong, mas! Ngga aturan banget sih?!”. Still for me, rasanya ada yang mengganjal. But I really don’t know why. Gw mencoba bertanya dalam hati: “Ya Allah, sebenarnya ada apa sikkk?”

Bulan demi bulan berlalu, sampai pada akhirnya gw melupakan kejadian itu.

Sampai beberapa hari kemarin. Hari dimana gw ketemu kawan lama gw, sebut saja Mia, disalah satu stasiun paling buluk se Jakarta, saat itu: Stasiun Palmerah.

Mia bekerja pada salah satu Bank BUMN terbesar di Indonesia. Dari setelan baju, jelas gw kalah jauh. Mia memakai blazer yang sangat kaku, begitu rapihnya hingga walaupun ada tsunami sekalipun, gw yakin itu blazer tetep akan jreng jreng kaku dan rapih seperti sedia kala.

Rupanya karena apes, kami berdua ketinggalan kereta, tepatnya ketinggalan kereta AC. Yups kereta AC yang berarti juga kereta dengan gerbong terisi angin dingin tanpa asep rokok.

Akhirnya, demi mengejar waktu, gw dan Mia menaiki kereta KRL ekonomi biasa. Tanpa AC. Dulu masih ada kereta macem gini. Banyak.

Didalam gerbong yang amat penuh, berdesakan, ada bapak-bapak, umurnya sekitar 45 tahunan. Merokok nggak karu-karuan. Asapnya ngebul kemana-mana. Ya ke muka gw, juga ke muka Mia. Mengalami nasip sial seperti itu, gw cuma pasrah menggeser-geser posisi duduk gw ke dekat jendela terbuka (well, tapi jendelanya emang kebuka semua sih hahahahahaha namanya juga kereta EKONOMI TANPA AC).

Mia ngedumel setengah mati, “susah ya emang, dasar orang kampung! nggak berpendidikan! nggak pada tau aturan, ngerokok di gerbong penuh begitu! Goblok!”

Kaget juga gw, ama omelannya si Mia. Ya gw emang sebel juga ama bapak-bapak tadi, tapi kok ya tumben gw nggak marah-marah. Malah gw ngebathin lagi, gw kenapa sik?

Padahal, for your information, gw itu biasanya selalu protes dan marah-marah, hobi ngomel deh pokoknya gw. T
api kok sekarang kayaknya tumben aja gw nggak senewen. Apa karena faktor umur? Jiah gw makin wise gitu maksutnya? Halah.. nggak juga sih.. 

Well, lanjut. Sampai di stasiun tujuan, bau gw udah nggak jelas. Turun kereta, gw nyari bokap gw. Biasa deh bokap, selalu ngejemput anak kesayangannya saben malem di Stasiun dekat rumah. Rutinitas abadi. Bokap gw sambil nunggu gw, rupanya sambil ngopi. Kopi fave dia: Kopi jahe. Gw memutuskan untuk bergabung dan memesan segelas kopi hitam, tanpa jahe, dan hanya dengan sedikit gula.

Seruputan kopi pertama, panas, melonyot, membuat gw komat-kamit sebentar lalu membuka obrolan dan diskusi sama bokap gw soal perihal tadi. And, jawaban-jawaban yang terlontar dari bokap gw membuat gw mangap, nganga dan tercengang: Bahwa ini adalah ujian tentang kesombongan.

Jadi dulu, waktu gw nonton pilem “Passion of the Christ” sama bokap gw, gw inget ada penggalan adegan dimana Yesus berkata “Ampuni mereka Bapa, karena mereka tidak tahu..”. Padahal saat itu Yesus lagi disiksa, disalib, wah pokoknya adegannya: full-blood gitu lah, gw sampe ikut nangis.

Nah disitulah akhirnya bokap memberikan sedikit gambaran ke gw, jika “ketidaktahuan” akan kita membuat buta sekaligus membahayakan hidup kita.

Jadi untuk kasus TKW dan mas-mas kantoran yang kaga mao antri, serta untuk case bapak-bapak yang ngerokok di kereta api, sebenarnya sangat SIMPLE.
Mereka begitu karena mereka NGGAK TAU. “Nggak tau” berarti: maqam mereka terhadap sebuah pengetahuan tertentu: terbatas.

Dari situ, kata bokap gw, masalahnya bukan pada mereka, tetapi pada diri kita. Bahwasanya Allah sedang menguji seberapa jauh tingkat kesombongan kita terhadap segala ilmu yang telah Allah berikan kepada kita. 
Astagfirullah. Ini dia jawabannya.
Gw istighfar berkali-kali. Sekali lagi: rupanya ini ujian tentang kesombongan.
Karena itu seburuk apapun tampilan, sifat serta kelakuan seseorang, Allah tetap memberikan kemuliaan kepadanya. Entah apa. Itu bukan kita yang tahu dan bisa menilainya. Masya Allah.
Tanpa dibekali pengetahuan, kita betul-betul mirip ternak, yang tiap hari musti digiring kesana kemari tanpa mengetahui sebab musabab kenapa harus digirang-giring begitu.

Coba kalo semua ternak itu pintar, mestinya nggak akan perlu ada gembala ataupun dog shepperd dimana-mana. Ternak tentunya akan punya inisiatip sendiri-sendiri untuk mensinergiskan posisi mereka demi mengikuti keseimbangan perputaran jagad alam semesta raya ini.

Subhanallah.

Dan benar kata orang dulu, menuntut ilmu itu nggak cukup hanya sekedar sekolah disekolah mahal tanpa subsidi pemerintah, tapi juga harus kita cari di selipan tempat 
yang lain.

Kita cari di tempat orang bertumpuk berjejal bahkan berkeleweren di jalan-jalan. Di pasar. Di Warteg. Di Kantin. Di Belakang Mall. Di Mushola Sempit. Di Gang Senggol. Di tempat ibu-ibu bakul, bapak-bapak, anak-anak, orang-orang perkasa bekerja amat keras dan punya nyali besar untuk menghadapi kesengsaraan hidup.

Karena segala ikhwal kebaikan dan keluhuran budi pekerti, tidak diterjemahkan ke dalam buku-buku pelajaran. Dan bukan juga datang dari gedung-gedung sekolah yang memang dibangun untuk menyediakan prasarana elit, mahal, nomor satu, dan menginternasional. Bukan lagi juga datang dari jajaran laboratorium canggih yang diperuntukan agar kita menjadi orang pandai (dan TIDAK terutama agar kita menjadi orang yang baik).

Adapun hal-hal yang menyangkut nasib orang lain, tenggang hati terhadap sesama, kesadaran untuk meruwat keadilan dan kemuliaan, tidak merupakan urusan utama di dalam butir-butir pelajaran dan baris-baris pengetahuan yang diajarkan di sekolah.

Sehingga kita selalu diajari untuk tidak mengerti apa-apa kecuali mengurusi kepentingan diri sendiri. Tangan dan kaki kita dilatih tidak untuk berbuat apa-apa kecuali untuk beringas memompa perut dan gengsi pribadi. Kita menjadi terdidik untuk tak paham kebersamaan. Dididik untuk menjadi segumpal keasingan, tidak untuk menjadi seseorang di tengah berbagai macam orang. Kita tidak diajarkan bisa kaya tanpa harta. Bisa makan tanpa sega. Puasa tanpa puasa. Dan beramal tanpa amal.

Dan gw sudah menemukan banyak sekali bukti, bahwa ternyata tingginya tingkat pendidikan dan luasnya ilmu seseorang, tidak membuat kasih sayang sosialnya meningkat. Karena pada hakikatnya, seperti kata Pramudya: tak ada orang terpelajar, dimanapun dia bertempat, akan melanggar hak-hak perseorangan.

dari pahitnya semua pengalaman itu, gw menyimpulkan, jika TERPELAJAR itu bukan berarti HANYA memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan memiliki perluasan ilmu yang cukup. 
TERPELAJAR juga berarti memiliki tingkat pengertian dan pemahaman khusus untuk mengejawantahkan jejak kehidupan. Sehingga hal itu memaksa kita untuk tunduk kepada kesombongan-kesombongan diri akibat ketidaktahuan dan kebutaan kita tentang bagaimana “tidak berdayanya” ilmu kita dimata Allah.

TERPELAJAR juga berarti mampu IQRA (membaca) kalamullah—ilmu-ilmu dari kitab Allah, yang terbentang minal masyriki ilal maghribi. Sehingga mampu membuat kita semakin paham dan mengerti lalu bersujud dan kembali merendahkan hati.[]

Posted in Catatan Perempuan, Cerita Gw | Leave a comment

Tentang Mendengarkan

Dari kecil, bokap gw suka ngajak gw jalan-jalan untuk sekedar ngobrol dan ngajak bersama membaca dan memahami sekecil apapun tanda-tanda yang diturunkan oleh Gusti Allah. Gw masih inget banget, bokap gw dulu bilang: “Ilmu Allah itu tak terhingga, maka semua ilmu itu nggak mungkin diturunkan hanya di kepala SATU orang saja. Sama seperti halnya di buku ada ilmu, di bulir cahaya matahari ada ilmu, di rintik hujan pagi ada ilmu, di batang pohon pisang juga ada ilmu, di butiran pasir pantai juga ada ilmu. Begitu luas ilmu Allah..”

Bertahun-tahun lalu itu, saat dituturi, gw cuma diam dan berusaha keras memahami, walaupun at the end sebenernya gw nggak paham-paham. Hahahahahaha. Nah, Bokap gw itu suka kentang alias nanggung, jadi waktu itu gw ainul yaqin, kalo cerita tadi, sebenernya masih to be continued. Tapi entah continuednya kapan.

Dan ternyata, kemarin, setelah beberapa tahun setelahnya, gw (akhirnya) mengalami sambungan cerita itu.

Jadi begini, cerita itu berawal ketika gw memiliki seorang kawan yang punya hati kerasnya minta ampun. Dia selalu mengkritik, tapi sama sekali nggak mau mendengar. Jadi satu arah aja. Dan dia selalu menggunakan kalimat menyepelekan, sekaligus menyakitkan. Hobinya Nyacat pokoknya.

Kalo ditengah argumentasi, gw ngasih tau dia: “Dari dulu gw selalu diem, selalu diem dan nerima kalo lo kritik, tapi sekarang, gw mau lo yang dengerin gw.” Nah tuh, Dia pasti nanti jawab: “Kagak, gw KAGAK mau dengerin lo! Lo yang seharusnya belajar untuk menerima perbedaan”.

Kederrrrrrr. Sebenernya yang nggak bisa nerima perbedaan itu siapa sik?

Kawan gw ini selalu mengajak semua orang untuk ngikutin semua maunya dia. Mood berubah-ubah. Suka ganti plan seenaknya. Well, dia memang bossy, suka ngatur-ngatur hidup orang yang bahkan BUKAN keluarganya. Tapi yang namanya sudah berkawan lama, gw perduli dan mau dia sadar, jika dengan menjadi keras begitu terus, dia akan semakin menyakiti orang-orang yang menyayangi dia.

Gw cuma nggak mau liat dia kebangetan, sampe-sampe saat dia sadar kelak, semua orang yang sayang sama dia sudah demikian tersakiti, hingga pergi ninggalin dia. Sendirian dah. Emang enak?

Lagian bagi gw, menyakiti hati orang itu bikin hidup lo kaga berkah. Rejeki jadi kaga lancar, urusan banyak yang kaga beres, yah pokoknya kusut lah.

Hari ini, si Puti, temen gw inih, sudah melampaui batas. Telah sebegitu sangatnya dia menggores dan menyakiti gw. Dan gw memutuskan untuk menyerah. Gw akhiri pembicaraan kami. Lalu seperti layaknya species wanita lain disetiap akhir pertengkaran: gw nangis. Akhirnya gw sambil tereak di bantal, mengadukan nasip gw ke Gusti Allah: “Allah yang maha lembut, kenapa sih Engkau tidak bagi kelembutan sedikit saja ke dada manusia ini..!”

KZL.

Sedang manyun-manyun berduka lara, gw dipanggil bokap, disuruh mbetulin komputernya yang hang. Bokap sepertinya terlihat nggak perduli ngeliat muka gw yang kusut plus bendul bendul pada kedua mata gw karena nangis, tapi ternyata bokap merhatiin.

Ketika computer bokap udah nyala lagi, bokap gw nyapa gw dengan pertanyaan aneh, “Kamu masih inget nggak dulu papa cerita soal ilmu Allah yang Maha melimpah?”. Gw mengangguk sekedarnya. “Sini sini cobak duduk dulu..” lanjutnya ragu.

“Papa dulu bilang kan, kalau ilmu Allah itu maha melimpah, makanya nggak cukup ditaruh di satu kepala manusia saja. Inget nggak?” Gw tertunduk, memuntir-muntir kaos oblong butut gw. “Nah nduk, kalau kamu berantem sama orang, ojo gegabah. Dipikirkanlah lagi pelan-pelan, siapa tau memang kamu yang salah.”

“WHAT?!” Gw melirik judes, setengah kaga terima.

“Lhooo… dikandani malah mendelik.” Kata bokap. Gw tambah manyun. Bokap ngelanjut, “Ngene nduk, seburuk-buruknya kelakuan orang itu pasti ada kebaikan yang dia beri ke kamu. Hanya saja kamu belum pandai menangkap baiknya itu dimana. Yang sekarang bisa kamu tangkap malah esensi keburukannya saja.”

“yeile…” Bibir gw semakin monyong, walaupun gw sebenarnya mendengarkan.

“Kamu itu harus lebih banyak belajar lagi, belajar untuk mendengar hal-hal yang tak bisa didengar, dan belajar untuk melihat hal yang tak bisa dilihat.”

“Udah diliat dan udah didengerin dari dulu..!!” Sela gw judes. Masih sambil termanyun. KZL.

“Lha iki, blaik namanya.” Bokap gw menghisap rokoknya. Bara api berjatuhan menjadi abu yang mengapung ringan. “Kan sudah tak bilangin, kamu harus selalu mampu untuk mengembalikan semua ke dirimu sendiri, selalu berani untuk mengatakan: ‘lha iyo, jangan-jangan aku yang salah’. Karena itu otomatis akan membuat kamu merendah. Kita mampu menjangkau yang Maha Tinggi saat kita sedang rendah hati”

“…….” gw mendengar males-malesan. Padahal penasaran juga sama lanjutannya.

“Cobak itu kamu liat, orang di bukit sama orang di dataran biasa, kalau ngebor pompa air, siapa dulu yang dapet air? Lha yang posisinya lebih dibawah dekat air tanah to? Makanya selalu rendah hati, jangan sombong nanti malah ndak dapet air..”

“….” Dalam hati gw membenarkan.

“Setiap orang, walaupun dia 99% jahat, dia tetap punya 1% kebaikan. 1% kebaikan tadi itu merupakan ilmu yang sudah lebih dari cukup.”

“…” Gw mengangguk.

Ah, gw berharap sekali jika Puti mau belajar mendengarkan, karena dia nggak pernah tau, rahmat (Ilmu) apa yang akan Tuhan sampaikan dari waktu ke waktu buat dia lewat kata-kata orang lain.

Bukit tempat si Puti tinggal masih terlalu tinggi, Puti memilih untuk mencari ketinggian dalam kesendirian dia untuk mencapai mata air suci, dimana air air suci itu sendiri sebenarnya mengalir deras dibawah kaki tempatnya menengadahkan wajah.

Andai dia tau.

Memahami orang lain adalah kearifan, sedangkan memahami diri kita sendiri adalah pencerahan, kata Lao Tzu, ribuan tahun lalu. Dari sini gw sadar, sampe lebaran monyet sekalipun, gw memang nggak akan bisa ngerubah sifat kerasnya Puti. Gw nyerah. Gw milih nggak temenan lagi ama dia lagi. Selamanya.

Dari sini walaupun keilangan temen atu, gw Alhamdulillah bisa belajar tentang satu hal, bahwa siapapun orang itu, mau dia rampok, mau dia kyai, mau dia orang jahat, atau orang baik, well pokoknya siapapun itu, tetap bisa menjadi pengantar pesan dari Tuhan, apapun jenis pesannya. Maka belajarlah kembali untuk mendengarkan. Belajarlah untuk merendahkan hati, mengkoreksi diri: “ah, jangan-jangan aku yang salah…”[]
Posted in Nasihat Bokap | Leave a comment

Tabrak Lari


Gw baru aja mengalami (almost) deadly experience: tabrak lari by mobil Yaris item. Selain sakit secara fisik, ternyata perasaan bingungnya lumayan bikin gw sempet bengong lamaaa banget. Mungkin ini yang namanya shock! Well I’m not pretty sure about that, but rasanya kaget, plain, blank, lemas, sesak, gemetar, geli, nyeri dan bingung yang tercampur baur.

Kejadiannya nggak kayak sinetron sih. Soalnya kalo di sinetron, yang nabrak pasti ganteng trus ntar endingnya si penabrak tadi bakal jadi pacar gw. Kepret, yang ada, abis gw sukses njungkel, si penabrak ya melakukan gerakan tancap gas alias kabur.

Dulu gw juga pernah mengalami kejadian nyaris mati, waktu masih jadi anak pesantren di jaman kuliah. Tapi, saat itu gw ngalaminnya nggak sendiri alias berdua sama mbak Otik, temen kosan gw. Waktu itu kami, kalo nggak salah, hampir ketiban truk fuso yang isinya full tanah merah galian.

Nah kan pas tuh! Kalaupun seandainya kami mati saat itu, orang-orang nggak perlu repot-repot ngubur lagi. Makanya, setelah tahu truknya normal alias nggak jadi jatuh ke arah kami, perut ini rasanya geliiiiiii banget, kayak naek jet coaster, sehingga malah memaksa kami untuk tertawa nggak ada habisnya.

Tapi saat dimana gw ditabrak si Yaris item itu, rasanya kok beda yah? Apa karena saat itu malam hari dan sedang hujan? Ah, I don’t know. I have noooo idea about that.

Gw ngebayangin, apa jadinya kalo gw mati disitu. Siapa yang nolongin gw? Siapa yang nelpon emak gw? Siapa yang nungguin gw di kamar mayat? Siapa yang nyolatin gw? Siapa aja yang ngelayat? Siapa yang gali kubur gw? Siapa yang paling sedih gw tinggalin? Siapa yang bakal jagain bokap nyokap gw saat gw nggak ada?

Terbayang juga pendaran wajah lelaki itu, ia tertawa dengan giginya yang gemerlapan, sangat mendebarkan dada. Tangan gw menggapai-gapai. Sempatkah gw berucap maaf untuk yang terakhir kalinya buat dia?

Semua pertanyaan itu terbungkus dalam satu flash yang melintas dan menjepit syaraf-syaraf di otak gw hanya dalam hitungan, well mungkin, millisecond. Hanya pertanyaan yang tanpa jawaban.

Ternyata begini rasanya nyaris mati.

Sebenarnya, mana yang lebih kita takuti dari kematian: kehilangan apa-apa yang kita miliki sekarang, atau ketidaktahuan kita pada apa yang akan kita hadapi setelahnya? tidak, gw nggak mau bertanya ataupun menjawab, gw telah menerimanya. Menerima untuk merasa tak memiliki siapa-siapa dan tak dimiliki siapa-siapa, berwujud pasrah, sebuah perasaan dengan titik terendah.

“Ya Rab-ku, cabut nyawaku sekarang jika memang Engkau menghendaki begitu, aku telah terpasang pasrah..”. Gw merasakan badan gw ringan dan basah.

“Neng?!!” Tersadarlah gw. Entah bagaimana, gw telah terkapar di trotoar yang basah dan licin, dengan payung yang entah terbang kemana, terguyur hujan, basah kuyup plus dikerumuni beberapa orang yang mengulangi frase kalimat asing yang tampak nggak begitu asing: “teu nanaon, neng?!”.

Doa-doa yang didaraskan oleh semua orang yang menyayangi gw membaluri seluruh jiwa dan raga gw. Masih utuh dan tak tersentuh. Betul adanya, dungone uwong tuwo iki mandhi. Doa orang tua itu manjurs. Begitu nyata gw rasakan mukzizat langit hari ini, badan gw lengkap, normal, nggak ada yang lecet, retak apalagi patah, gw masih bisa berdiri walaupun nyer-nyeran dan sempoyongan, semoga saja tak ada luka dalam.

Alhamdulillah, gw masih diberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang yang gw sayangi, walaupun gw tau, kesempatan ini pun terbatas. []
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Tentang Lelaki Dibawah Hujan

Kota Kembang, Januari 2010.

Gerimis enggan berhenti sedari pagi. Dingin yang mencekik paru-paru tak membuatnya beranjak lalu. Matanya basah tapi bahunya bersedu sedan. Kaku yang merindu. Merindukan sesuatu yang tidak bisa ia jangkau kembali.

“Maaf jika aku tak pernah bisa memenuhi janjiku..”

Nona bermonolog. Dipejamkan paksa matanya yang panas untuk meretaskan air mata terakhir yang bisa ia hempaskan. Gerimis masih meretas, membasahi serat-serat kerudung Nona, menembus masuk ke kepala, ke otak, lalu ke jantungnya. Di dada, terasa pahit, namun melegakan. Setidaknya Nona merasa punya alasan untuk datang kembali ke tempat ini.

Fachri, satu nama yang nyaris Nona lupakan.

Dari laki-laki ini Nona belajar arti berbagi. Sebelumnya Nona tidak pernah mengerti bagaimana harus ‘berbagi’, baginya ‘memberi’ itu lebih penting. Namun Fachri mampu meyakinkan Nona bahwa, berbagi lebih memiliki arti.

Nona bersahabat baik dengan Fachri. Fachri tak banyak bicara, tak punya banyak koleksi kata mesra, tapi mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sekedar memandangi senja dari atap gedung kampus, ataupun turun ke sungai untuk melihat kilauan sinar matahari mengambang di atas air.

Jika hari hujan, Fachri tanpa diketahui siapapun akan meletakkan payungnya disebelah tas Nona. Fachri tau persis, betapa ceroboh, pelupa dan malasnya Nona. Sebaliknya, kadang Nona menemani Fachri berjam-jam di depan layar monitor, tanpa dialog. Nona tau persis, Fachri senang ditemani, padahal Nona mengantuk minta ampun.

Mereka bersama-sama tahun demi tahun. Kenyamanan dan kebersamaan telah terjalin begitu mesra tanpa ada kata. Sampai pada akhirnya Nona berpikir, Fachri tak kuasa ia jangkau. Fachri seperti imajinasi, utopia yang tak mungkin ada. Sehingga walaupun hadir, Fachri seperti tak terjangkau olehnya.

Dan pertikaianpun mulai terjadi. Nona berpikir perpisahan yang dia rencanakan ini adalah yang terbaik dan akan membuat Fachri bahagia, sedangkan Fachri berpikir jika Nona sok tau, “Kamu gak tau, hal apa yang terbaik buatku dan perihal siapa yang bisa membuat aku bahagia” Kata Fachri.

Namun Nona sekeras batu. She thought she’s not worthy at all for him. Perbedaan yang membentang terlalu jauh. Perbedaan Suku. Perbedaan Fisik. Nona berpikir dia hanya wanita biasa yang tidak akan membuat Fachri, Mahasiswa paling tampan dikampus ini bahagia.

Hal ini membuat Fachri marah dan kecewa. Jembatan kemesraan mereka pun retak.

Sepatu kanvas basah, tubuh yang menggigil, langkah yang tak kunjung terhenti, dan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Nona still can feel him here, there, and everywhere. Lamat-lamat ditundukkan kembali wajahnya ke bawah. “I want you back and forever be mine..”. Hanya kata itu saja yang terlintas.

Nona tak kuasa mengingat kembali semuanya, saat beberapa tahun lalu, laki-laki ini, dibawah hujan, menatapnya untuk yang terakhir kali, lalu bertanya dan memaksanya untuk berjanji.

“Don’t give up on me.. and on us. Jangan Pergi.”

Tak ada jawaban dari Nona. Hanya rintik hujan.

“Please..” Fachri mengambil genggaman tangan Nona.

Nona masih terdiam. Menahan getaran hebat dibibirnya. Dan Laki-laki inipun menyerah. Tertunduk dan pergi. Pergi meninggalkan Nona dengan sekotak coklat basah di tangan. []
Posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta | Leave a comment

Rasa Patah Hati


Di gerbong kereta Commuter Line.

“Mbak, novelnya sedih banget ya? Sampe sembab begitu?”

Novel ber-genre fiction-horror itupun dia benamkan diwajahnya. Bagi Nona, mengalihkan konsentrasi ke media manapun nggak akan membantu banyak, segala aliran rasa dan air matanya tetap tak bisa dia hentikan.

———————-

Di kantor.

“Udahlah mbak, muka lo itu emang udah maksimal, nasip lo cuma dua, kalo nggak ditolak, ya diputusin…”

Pulpen murah meriah itupun akhirnya mendarat di kepala adik kelas, dan sahabat, sekarang teman satu kantor Nona yang memang sedari dulu hobi nyela tanpa pandang bulu.

———————-
Di sms.

“Hah kerokan lagi…? Lo penyakitan amat semenjak diputusin adek gw… hahaha…”

Nona tertawa keras, menertawai dirinya sendiri. Ternyata, sudah sebegitu parahnya psikosomasis phase yang dia alami. Mungkin sebentar lagi nona betul-betul akan memasuki fase skizofrenik . Nona nggak akan pernah tau.

———————-

Semua kenangan Nona bersama Dia bersifat transendental, yaitu berkaitan dengan sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman biasa dan ilmiah.

Malam itu sedikit temaram walaupun sepotong bulan tergantung agak terang. Nona ingin sekali sembunyi di tetes air di ujung daun talas agar meretas, dan melupakan jejak Dia yang meninggalkannya di sisa sisa hujan sore itu.

Tapi sungguh, disaat lupapun Nona tak dapat melupakannya. Retorika ini mungkin berarti beda. Tapi bagi Nona, keduanya sama saja. Sama-sama rentan, sama-sama kehilangan.

Dalam langkahnya yang diseret lambat-lambat, Nona berlari dari semua rasa yang dia batasi. Dia seka untuk yang kesekian kali tetes airmata itu menggunakan bahu tangannya. Nona tak pernah tahu berapa lama Dia singgah dihatinya, tapi irama Dia serupa iringan detak jam dinding yang dia hapal.

“Ampun Allah.. belas kasihanilah aku…”

bisiknya lirih lalu bersimpuh terisak ditanah basah.[]
Posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta | Leave a comment

Manusia dan Kemuliaan Status


Gw punya sahabat baik, let’s call her Manda. She’s perfect as a friend. Menyenangkan, cantik, pintar (sekaligus polos), dan luar biasa baik hati. Manda sangat gw sayangi, dan gw rasa semua orangpun begitu.

Tapi Manda punya satu masalah: Nyokapnya.

Nyokapnya Manda adalah tipikal seorang ibu-ibu pejabat golongan elit yang pernah tinggal lumayan lama diluar negeri. Well, masalahnya, setiap pembesar memang punya beberapa kecenderungan tertentu.

Misalnya saja merasa berbobot kalau sudah ngomong, lebih berbobot lagi kalau tak mendengarkan orang lain. Yang paling parah, asal menilai lalu memberi pembedaan perlakuan pada orang lain hanya berdasarkan atribut (baca kasta) yang melekat pada diri orang lain tersebut (contoh: bagaimana status keluarga, baca: lo datang dari keluarga tajir atau melarat.)

Untungnya, gw dateng dari keluarga Menengah. Kadang Tajir Kadang Melarat. Bokap gw nggak pernah jadi pejabat. Bokap gw nggak punya Villa di puncak-puncak bukit. Bokap gw nggak ngerokok cerutu import.

Karena bagi bokap gw, laki-laki nggak harus dinilai dari harta dan tahta, nilai dan tata krama yang sangat penting adalah bahwa laki-laki itu harus bertanggung jawab, laki-laki harus menghidupi. Itu saja.

Gw jadi merasa terlempar jauh ke masa lalu, saat hidup dan kebebasan masih terpasung, terkotak-kotak, dan paham feodalisme masih bercokol disetiap proses perjalanan hidup manusia. Dimana harta, tahta, status dan kebangsawanan darah itu sangat berarti, sedangkan tiada tempat lagi bagi kebangsawanan jiwa dan budi pekerti.

Gw kenal nyokapnya Manda, gara-gara suatu hari, beliau pernah telpon gw. Simple aja, cuma nanya gw lagi sama Manda apa nggak. Kebetulan waktu itu, gw pulang cepet dari tongkrongan, jadi gw nggak tau si Manda pergi kemana. Gw pikir that’s it, setelah gw bilang gw nggak tau Manda dimana, telpon bakal ditutup, dan pembicaraan bakal selese.

Ternyata gw salah, selain melakukan “underground-stalking” menanyakan Manda dan segala aktivitas Manda di luar rumah, nyokapnya Manda juga menanyakan secara mendetail tentang hal ikhwal siapa gw, tentang what I do for living, tentang pekerjaan orang tua gw, tentang kuliah gw dimana dan ngambil jurusan apa, dimana gw tinggal, gw punya pacar atau nggak, dsb dsb.

Semua pertanyaan itu, gw jawab dengan jujur. Dan dari situ lah Nyokapnya Manda tau latar belakang keluarga gw (yang ternyata bukan keluarga darah biru. Lha wong darah gw merah kok).

Well, mulanya gw agak risih dan bingung, Karena gw pikir, emang penting ya nanya bokap gw siapa dan pekerjaannya apa? tapi buru-buru gw tepis semua kekhawatiran dan prasangka jelek gw tentang itu. Yah namanya baru kenal, wajar jika ingin tahu lebih banyak.

Setiap nelpon gw, nyokapnya Manda selalu menekankan (atau lebih tepatnya mengancam) agar gw nggak ngasih tau Manda jika selama ini nyokapnya suka telpon gw. Karena, Manda bakal marah ke nyokapnya kalau aja nyokapnya ketauan mata-matain Manda dari belakang. Gw pun menurut, “Sendhiko Dawuh, Tante, aku janji nggak bilang Manda”.

However, mentang-mentang gw bukan berdarah pepsi blue, semakin lama, nyokapnya Manda semakin bersikap seenaknya dan tidak bisa mengontrol kata-kata dan intonasi bicaranya saat nelpon gw. Beliau selalu bicara dengan nada tinggi, membentak dan memberi perintah selayaknya bendoro ke babunya.

Namun, gw kok rasanya semakin yakin jika memang BETUL gw diperlakukan berbeda sama nyokapnya Manda. Karena secara nggak sengaja, kawan setongkrongan yang lain (sebut saja Lila) cerita bahwa dia juga ditelpon nyokapnya Manda, Sependapat, temen-temen tongkrongan gw yang lain juga begitu, ikut ditelpon sama nyokapnya Manda.

Bedanya, ke temen-temen gw yang lain Nyokapnya Manda begitu halus, lembut, baik, dan sangat sopan. Nah Lo. Bahkan pake kata-kata panggilan ‘Sayang’ segala.

Tadinya gara-gara itu, gw sempat berprasangka mungkin setiap nelpon gw, sampe pake otot dan marah-marah karena beliau lagi PMS atau senewen sama hal lain aja, trus kebawa ke gw. Yah, lagi apesnya gw aja.

Seminggu, dua minggu berlalu, sebulan pun lewat. Nyokapnya Manda udah jarang banget nelpon gw.

Nah, di suatu malam, gw nongkrong lagi sama temen-temen gw, Manda juga ikut. Kami ketawa-ketawa, Karaoke, cela-celaan sampai kelaperan. Setelah itu kami memutuskan untuk cari angkringan, makan dipinggiran jalan. Tanpa diduga, HP gw bunyi. Caller: Nyokapnya Manda.

Gw excited (campur panik). Gw pikir saat itu adalah kesempatan baik buat gw untuk ngerubah imej gw supaya akhirnya nyokapnya Manda bisa baik sama gw. At least worth to try. Nggak ada salahnya dicoba.

Namun hasilnya.. diluar ekspektasi gw.

“Udah deh!! Tante nggak bisa tahan lagi!!! Kamu dan teman-temanmu itu sudah keterlaluan dan semakin liar!!! Nggak bisa kontrol waktu dan nggak terkendali!!! Pokoknya..!! Tante mau Manda pulang sekarang!!!”.

Cuma itu kata terakhir yang gw inget dari nyokapnya Manda sebelum Beliau nutup telpon. Entahlah, saat itu, rasanya ada yang retak dihati gw. One simpel question: WHY ME??? Apa karena gw miskin trus dia boleh bersikap begitu sama gw?

Berusaha sabar, Gw inget-inget kata-kata temen gw, si Misro. Dia pernah memberi nasehat ke gw bahwa Tuhan mempunyai maksut tertentu dengan memberikan kita dua buah mata. Mata yang kanan untuk melihat kebaikan, yang kiri untuk melihat keburukan. Mata kanan untuk melihat Kebaikan pada orang lain dan Mata kiri untuk melihat Keburukan pada diri kita sendiri.

Amarah gw pun mereda. Karena ‘mata’ ini harus bisa melihat dengan benar secara fungsi yang dijelaskan diatas tadi. Ada hikmah yang harus diurai dibalik semua kejadian ini. Dan ada pelajaran yang Tuhan mau berikan ke gw.

Kata guru ngaji gw, manusia bukanlah makhluk mulia, namun manusia diberikan potensi kemuliaan. Manusia menjadi mulia ketika potensi kemuliaannya difungsikan, sebaliknya, manusia dapat menjadi hina ketika potensi kemuliaannya diabaikan.

Seseorang tidak menjadi terhormat karena ia seorang pejabat atau direktur, serta tidak menjadi rendah karena ia seorang sopir, satpam atau kuli bangunan. Kehormatan seseorang terletak pada bagaimana ia menyikapi posisinya, bagaimana ia berperilaku pada fungsinya.

Manusia yang paling beruntung adalah kalau ia punya jabatan tinggi sekaligus memiliki kesantunan dan kearifan kepada bawah-bawahannya. Dan manusia yang paling sial adalah kalau sebagai seorang kuli ia masih saja suka tidak jujur dalam pekerjaannya.

Ah, jika saja Nyokapnya Manda mampu mengingat bahwa dibalik semua kehormatan, mengintip kebinasaan, dibalik hidup adalah maut, dibalik kebesaran adalah kehancuran, dibalik persatuan adalah perpecahan, dibalik sembah adalah umpat, pasti beliau akan memperlakukan gw lebih baik lagi.

Semenjak itu, gw jadi autis menjelang tidur, lama terjaga dikegelapan kamar. Dan gw jadi merasa tenang saat menikmati indahnya cahaya lampu teras rumah yang masuk dan jatuh melewati kisi-kisi blindfolded jendela.

Semburat cahaya akan membentuk garis gelap-terang teratur ditembok kamar. Gelap lalu terang. Kemudian gelap dan terang kembali. Begitu sederhana, seperti halnya hidup. Karena memang tidak ada yang lebih sederhana dari hidup: lahir, makan, minum, tumbuh, beranak-pinak, dan berbuat kebajikan.

Ya, berbuat kebajikan. []
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Kebaikan dan Kebenaran


Minggu pagi. Sekeluarga besar gw (besar dari Hong Kong! :p orang cuman bertiga!) sedang asik di teras rumah.

Bokap gw lagi asyik nguras kolam ikan. Disebelah, arah berlawanan, ada nyokap gw yang duduk pake dingklik sambil nyemangatin bokap. Dan di depan pintu ruang tamu, gw lagi asyik ungkang-ungkang kaki sambil megang buku lama yang menceritakan tentang Roofstaat (kerja paksa) yang merompak Jawa hingga 800juta gulden.

Lalu Emak gw nyuruh bokap mindahin ikan Sepat yang masih kecil-kecil, karena takut dimakan ikan-ikan Lele yang nggragasnya bukan main. Tapi bokap gw bilang “Nasipnya si ikan lah kalo sampe dimakan sama para Lele” sambil ketawa-ketawa jail. Gw cuman ngelirik sambil ngrepus krupuk bawang dari toples kaleng biskuit.

Nggak beberapa lama, ada suara kegaduhan. Ributnya bukan main. Gw sampe setengah loncat.

Wah ada orang berantem!!!!

Rupanya ada dua tetangga gw yang berantem, sebut saja Bu Tarigan dan Pak Joko. Pak Joko marah-marah karena ada bau bangkai disekitar rumahnya, ternyata bau bangkai itu disebabkan oleh ayam sang Bu Tarigan yang sudah mati berhari-hari di got depan rumah Pak Joko. Karena posisi matinya si ayam nlisep (halah bahasanya, nlisep means nyempil dan unreachable), maka keberadaan sang bangkai ayam tiada diketahui.

Sangat sulit melerai pertikaian ini, Pak Joko mengaku benar, Bu Tarigan juga mengaku benar.

“Ayam ibu ini mati mendadak, bisa jadi flu burung kan..!!! Ini sangat meresahkan saya! Harusnya punya piaraan itu diopeni, bu!!” Sahut Pak Joko ketus.

“Lah, mana saya tau lah, ayam saya mati kenapa pak. Memangnya ayam saya harus saya pasangi GPS satu per satu???!” Teriak Bu Tarigan nggak kalah jengkel.

Gw pikir dua orang ini ada benarnya, dua-duanya sama-sama punya kebenaran.

Malamnya, setelah akhirnya ‘jenazah’ ayam itu dibakar, gw lalu tergelitik dan ngajak diskusi bokap tentang menyingkapi sebuah kebenaran. Kalau disederhanakan ada tiga model kebenaran yang berlaku dan dialami manusia. Pertama, benere dhewe (benarnya sendiri). Kedua, benere wong akeh (benarnya orang banyak). Dan, ketiga bener kang sejati (kebenaran hakiki).

Jika kebenaran itu berjalur banyak begitu, maka gw menyimpulkan bahwa kebenaran itu tidak satu. Lho piye to? Kebenaran itu harus satu definisinya, yaitu B-E-N-A-R yang BENAR. Jika memang semisal ada banyak ‘benar’, ada kemungkinan kebenaran yang satu bisa kres (cross) dengan kebenaran yang lain.

Sambil memeluk kaleng bekas biskuit yang berisikan kerupuk bawang made in pasar Ciputat, gw mencoba berfikir lebih tajam. Gw menahan laju nafas dan menyipitkan kedua mata gw, alih-alih berharap semoga pencerahan itu segera tiba (padahal seret).

Sambil nyumet rokok, bokap gw masih asik mikir. Gw pun masih asik dengan krupuk ditangan. Mata gw terus menatap, mengajak bercakap. Bokap gw mengelempuskan asap rokok ke udara, beliau paham, namun diam.

“Iyh dina shirotol mustaqim..” Bokap gw kembali menghisap rokoknya.

Jidat gw bekerut. “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus?” Balas gw dengan intonasi bingung.

Bokap gw melanjutkan, “iya, lalu, kenapa bukan Tunjukkanlah kami jalan yang benar?, hayoooo.. ?”.

Gw menggeleng tolol.

Bokap lalu bercerita soal kejadian tadi pagi. Beliau menjelaskan jika kebenaran itu HANYA ada satu, dan kebenaran yang satu itu milik Tuhan. Jadi, tidak ada yang namanya bener-nya manusia a, benarnya manusia b, benarnya manusia c, dst.

“Lalu bagaimana kita mencari kebenaran yang satu itu, pops?” tanya gw semrawut.

“Dalam kehidupan ini, manusia selalu menemukan keruwetan hidup, kesulitan hidup, karena mencari kebenaran atas satu sama lain.”

Jidat gw tambah berkerut nggak karu-karuan.

Bokap melanjutkan: “ya gini deh, kamu misalnya, bersengketa sama orang lain. Sebaiknya yang kamu cari ya jangan kebenaran”.

“heuu??? lah kok gitu???” gw memotong ngeyel tanpa ‘sendhiko dawuh’.

“Lho iyo, nek kamu cari kebenaran, bakal njlimet. Kamu punya sebuah kebenaran, orang lainpun punya kebenaran. Padahal kebenaran itu cuma ada satu.”

Bokap gw menunjuk langit-langit rumah tepat saat menyebutkan kata SATU. Tanpa sadar mata gw mengikuti.

“Dalam bermasyarakat, sebaiknya yang kamu cari itu BUKAN kebenaran, nduk.. melainkan kebaikan.”

“Maksutnya?” akhirnya gw meggeser tempat duduk dan menaruh toples krupuk di meja. Supaya lebih konsentrasi.

“Nek kowe, nggolek benere dhewe, yo rak bakal ketemu. Lah wong maksute wis bedho, garise jugak wis bedho. Mulakno, tadi aku bilang, jika bersengketa, yang dicari itu KEBAIKAN, bukan kebenaran..”

Cengiran gw semakin lebar.

“Nah, seperti yang tadi kubilang, setiap kamu sholat kan kamu sebut itu ‘iyh dina sirothol mustaqim – tunjukkanlah kami jalan yang lurus’, ya to? Kenapa bukan tunjukkan kepada jalan yang benar? Hayo? Weeee ojo main-main mbek ayat kuwi, nduk. Jika kamu, melakukan sesuatu apapun dengan lurus, itu berarti kamu sudah baik. Dan kebenaran itu akan datang sendiri, seiring sejalan, jika kamu dan hidupmu sudah berada pada lingkaran kebaikan.”

Gw mendapatkan sebuah pelajaran berharga lagi. Pelajaran yang tidak lahir dari perpustakaan, referensi atau buku-buku, melainkan bersumber dari pengalaman otentik, dari keringat dan airmata realitas, dari nurani yang jujur dan pikiran yang jernih. Kalo kata guru ngaji gw, itu ilmu sejati. Mutu dan pahalanya sepuluh kali lipat dibanding dosen yang mentransfer kalimat-kalimat dari buku ke diktat para mahasiswanya.

Well, hidup bukanlah impian, melainkan kenyataan-kenyataan yang dingin dan telanjang, tapi kenyataan itu pun tak perlu buruk jika orang tiada menghendakinya. Dia tidak buruk, dia indah, selama ada keindahan di dalam bathin kita.

Begitu juga dengan pemaknaan dari sebuah kebenaran itu sendiri. Malam itu gw tidur pulas, diiringi senyum puas atas semua jawaban bokap yang terasa sangat pas.[]

——–

Answer less. Question more.
Comply less. Question more.
Believe less. Question more.
Posted in Nasihat Bokap | Leave a comment

Perempuan dan Attitude


Kawan gw, seorang gadis cantik (sungguh, ini bukan lebay), sesekali mengulangi pernyataan yang sama (dan selalu sama) semenjak pacar barunya yang duda beranak tiga, membelikan smartphone (lets called it so) yang katanya canggih itu. “Lo harusnya beli kaya ginian, yum. Lo harusnya malu ama slip gaji, masa nggak mampu sih beli? Ginian doang gitu lo”.

Ditawari begitu gw cuma nyengir dan mengangkat Sherry glass gw (yang isinya sekilas mirip spirtus), “Cheers for your super life.” lanjut gw.
Malamnya, di sebuah cafe express lokal dalam kota. Mata gw nggak bisa kedip saat ada cewek cakep (banget) ini, duduk didepan gw persis, memainkan rambut brunet bucheri-nya (bucheri: bule cet sendiri) sambil bertelpon ria, entah dengan siapa.

Cewek ini mirip sekali dengan Victoria, si vampire ganas dalam buku Twilight (sebuah seri novel karya Stephenie Meyer). Berbalutkan Trench coat (sejenis rain coat) yang gw rasa nggak beli di Indonesia. Belum lagi tasnya, hm.. Quintessential woman’s handbag by Coco Chanel. Pokoknya pasukan elit wanita james bond bangeeet, keren abis deh, gw pengen banget bisa kaya gini.

Nggak beberapa lama, ni cewek nutup telpon. Cewek model gini pasti nggak bisa deh kalo nggak tacap dong, so diambilnya kaca kecil dari tas mahalnya. Otomatis secepat kilat dia merogoh tissue lalu secepat mungkin mendempul ketidak-sempurnaan tadi. Dan saat itulah, saat dimana semua yang ada dibenak gw tiba-tiba aja blur, tiba-tiba gelap.

Itu cewek buang tissuenya sembarangan. Iya!! buang sampah sembarangan. Bukan dibuang pada apapun yang notabene tempatnya sampah.

She may not know that beauty with no attitude is a totally BIG dissaster!

Satu lagi kejadian, saat gw terkenang pada suatu malam, belum lama berselang, sebut saja Sophie, temen gw yang lain, MARAH-MARAH sama segerombol cewe satu kantornya tapi lain divisi: “Sempet ya kalian ke Salon pas Lunch disaat GENTING kaya gini?!! Dasar gak professional..!!! pake acara korupsi jam makan siang and ngeberantakin RENCANA kerja gw pulak!!! Apa sih mau loe-loe pada?!”

Sophie, sambil menunjuk muka innocent para Barbie itu, melanjutkan dengan intonasi pelan namun menghujam: “Boleh gak kalo gw anjurkan kalian untuk bisa lebih BALANCE sebagai manusia!! kalian kok kayaknya gampang banget ya ngeluarin uang ratusan ribu buat ke Salon?!!! Apa susahnya sih beli buku seharga 35rebu cuma buat ngencengin ISI OTAK KALIAN??!!”

What a lovely statement! Ingin rasanya gw melakukan pengalungan bunga kepada Sophie saat itu.

Sementara itu, baik gw ataupun yang dimarahi cuma bisa mingkem. Suara Sophie bener-bener kenceng dan waow.

Satu lagi kasus lain. Ada teman, of course perempuan, yang menyembunyikan umur sesungguhnya. Approaching 30 ngakunya early 20. Some place at cafe, kalo para cewek seumuran gw sedang kumpul bareng lalu didatangi cowok-cowok lucu, jempol kaki gw selalu jadi korban, diinjek sama temen saat gw polos njawab: “gw 26″ ke cowok-cowok lucu itu. Setelah diinjek, gw cuma meringis dan berbisik: “what did I do?!?”.

Di lain kesempatan, kadang mereka bertanya: “kenapa sih yum, lo cuek aja proclaim bahwa umur lo sudah nyaris 30?”.

“Helloooo, I am 26 and will be 30 anyway, so what?? It’s God’s gift to reach that age, why denying it?”. Dan as usual, kalimat itu cuma ada dalem hati aja, diluaran gw cuma bisa nyengir lebar sambil mengangkat bahu: “kaga tau dah..”.

Sambil taking a deep sigh lalu disambi nyruput kopi, gw mbatin: a women, so ugly on the inside that she couldn’t bare on the living if she couldn’t be beautiful on the outside?

“Ayolah nona muda, jangan nampak begitu sedih, matahari secuil itu tiada akan pernah ubah warna kulitmu jadi semacam kuli pribumi. dan apa pula gunanya payung kecil genit yang kau bawa-bawa itu?” – Kartini
[]
Posted in Catatan Perempuan | Leave a comment

Tentang Sakit Hati


Belakangan, gw menemukan teori bahwa besar kecilnya sakit hati kepada seseorang dapat secara tepat ditakar dari seberapa berarti seseorang bagi hidup kita.

Dan menurut gw, sakit hati itu bukan dendam, bukan irony, bukan juga rasa kecewa akibat suatu sebab yang endingnya nggak sesuai terhadap apa yang kita harapkan. Atau, sakit hati, bukanlah suatu hal keji yang mampu merubah seseorang biasa menjadi kriminal.

Sakit hati, bagi gw hanyalah seupil efek yang timbul disaat kita berusaha melepas apa yang kita anggap sebagai milik kita (padahal pada kenyataannya: BUKAN). Agak sarkastik, gw perjelas artinya sebagai greedy atau tamak.

Tamak untuk tidak berbesar hati mengakui bahwa Tuhan sesungguhnya maha adil, sehingga jika kita merasa hidup ini tidak adil, lantas kita sakit hati.

Atau, tamak untuk tidak berbesar hati mengakui bahwa kita hidup untuk saling berbagi kasih, sehingga jika kita hanya berbagi tanpa menerima bagian, akhirnya ada acara sakit hati.

Atau, tamak untuk tidak berbesar hati mengakui bahwa kita terlahir untuk mencintai, sehingga jika toh tidak dicintai, ujungnya sakit hati.

Gw pernah merasa mencintai seseorang. Gw menyelipkan kata ‘merasa’, karena belakangan gw tahu, bahwa orang ini sama sekali nggak merasa dicintai dengan cara gw mencintainya.

Saat ini gw berusaha berbesar hati untuk menyadari bahwa sebetulnya nggak ada cinta dibalik semua perhatian, kasih, janji, kata indah, dan sejuta rayuan dari lelaki ini. Tapi entahlah, untuk membesarkan hati ternyata sakitnya bukan main.

Dalam keadaan jatuh cinta kita menangkap senyuman sebagai perhatian, kita menemukan realitas lain bahwa sebait kata janji sebagai sesuatu yang istimewa. Mereka yang jatuh cinta sebenarnya sedang mendustai, mengubah realitas yang ada. Dusta tak lain dan tak bukan adalah bentuk lain dari cinta.

Jadi tersadar sejenak (dan tersenyum lagi tentunya) saat mendengar dialog dari sebuah film komedi lokal:

Pria 1 : Lepasin gw! Biarkan gw pergi! Lo tau, ketika kata sudah ngga bermakna, biarkan golok gw yang bicara..!!!

Pria 2 : Tenang bung!! Tahan diri!! senjata tajam tak hanya membunuh manusia, tapi juga bisa membunuh reputasi!!

Hahaha, gw jadi malu, gw nggak ada bedanya dengan pria di film itu. Membawa ‘golok’ untuk menyelesaikan masalah. Bukannya selesai, bisa-bisa malah gw yang ‘terbunuh’ karena gw memegang ‘golok’ tadi tanpa kesadaran penuh akan fungsi dan efek yang akan diakibatkan si ‘golok’.

Gw tau, saat ini, gw mengalami kegagalan. Kegagalan untuk sebuah penantian berumur 10 tahun, kegagalan untuk membuat diri gw percaya bahwa gulungan cinta dan waktu itu saling terkait satu sama lain. Lewat kegagalan itu, gw menerima jika cinta ya cinta, tak ada kaitannya sama sekali dengan ‘waktu’ yang ditarik, demi timbulnya benih bernama cinta.

Gw jadi ngikik sendiri, menertawakan kebodohan gw, teringat emak gw yang sering menghibur pada saat gw bad mood: ‘tenang ndut, kegagalan adalah sukses yang menghindar’. Hahaha..

Setidaknya sakit hati itu mulai hilang, hati gw mulai membesar sekarang. Sometimes, the person that we love the most, is the hardest to be loved, demikianlah aturan mainnya, kita harus sepenuhnya sadar akan hal itu, supaya nggak tamak, supaya nggak sakit hati. []
Posted in Cerita Cinta | Leave a comment

Menggali Keimanan di Negeri Terbuang

Plaza Senayan. 19:30. Gw clingak clinguk sendirian. Entah sudah berapa ratus kali jus berwarna merah centil didepan gw, gw aduk-aduk nggak karu-karuan. Pun setiap orang lewat, sepertinya, memandang haru ke gw. Well of course, that’s because I’m the one who’s sitting alone there. Tapi gw nggak resah, justru gw biasa aja. Gembira malah.

Sudah beberapa minggu ini gw hadir dan eksis kembali di Jakarta tercinta, yang sumpek, uyel-uyelan dan nggak kalah semrawut bin macet bak neraka, walaupun sebenernya gw belum pernah mampir kesana. Bukannya belagu, after all, gw ngerasa kehilangan sesuatu aja.

Gw mulai kangen temen-temen gw di negeri nun jauh disana. Juga kangen sama para BMI (Buruh Migran Indonesia) yang tiap minggu ngumpul di Victoria park. Ah, BMI, yang jumlahnya ribuan. Ribuan rakyat kecil yang pergi merantau menjual tenaga kasarnya, diusir oleh kemelaratannya sebagai warga dari suatu negara yang sebetulnya sangat kaya raya. Inilah gw, kelamaan kerja di Luar Negeri, alhasil gw jetlag dong di negara gw sendiri.
Kemaren, sumpah loh, gw kaya orang bego dipinggir jalan, gara-gara bingung, mau nyebrang, tapi nggak ada zebra cross, nggak ada traffic light buat pejalan kaki/pedesterian.

Jadi selama kurang lebih 15 menit gw diem aja dipojokan, gw asli nggak merasa aman, mobil disitu kenceng-kenceng semua, dan gw nggak tau, apakah nyebrang disini, pada dasarnya, boleh apa nggak. Sampe suatu ketika, ada anak SMA nyebrang aja dengan santai sambil SMS-an. My God! Puyeng gw liatnya.

Belum lagi rasa kangen gw sama burung-burung gereja yang imut-imut lagi nurut, yang nemplok seenaknya dimana-mana. Plus para burung dara yang bebas centil bermain ditaman-taman kota, tanpa harus takut disiksa, ditembak, digoreng, ataupun dibumbu kecap.

Tapi itu belum ada apa-apanya dibanding cerita gw yang berikut. Hahaha, beneran bikin gw geli sekaligus kesel soalnya.

Tiap hari, gw ngantor naik kereta. Kereta yang gw naiki cukup aman, ber-AC, tempat duduk empuk, yang naik wangi-wangi. Tapi meski wangi, mereka itu ya masih ada aja yang ndak beli tiket. Karena mekanisme/manajemen baik jadwal ataupun pentiketan di perkereta-apian kita masih jauh dari standar pemenuhan kata: “layak”.

Suatu Sore menjelang malam, disebuah kereta yang walaupun padat namun tak kunjung merayap, seorang Mbak berdandan Menor yang duduk disebelah gw colek-colek lalu bertanya: “eh, ini tiket keretanya berapa ya?”.

Gw jawab “lima ribu, mbak”. Kami diam kembali.

Beberapa saat kemudian, Mbak berdandan Menor itu tiba-tiba tanya lagi: “Kalo nanti kondekturnya lewat, kasih berapa ya biasanya? Saya lupa BELI karcis nih, tadi buru-buru.” (padahal gw juga buru-buru, tapi gw bela-belain beli tiket).

Ditanya begitu, gw gelagepan, tapi gimanapun, gw nggak mau bikin Mbak berdandan Menor itu panik, gw tetap berusaha adep silokromo, “ya kasih aja seikhlasnya, mbak. Biasanya sih sama, barangkali 5000 rupiah.” lalu gw tersenyum.

Eh tau-tau, si Mbak berdandan Menor tadi nyinyis, memandang gw dengan tatapan nanar, “Ih, saya sih jujur aja ya mbak, sudah biasa ikut prosedur (beli karcis), warga negara yang baik loh saya, jadi ngga biasa yang main-main belakang gitu, ini kan karena tadi buru-buru aja, makanya nggak beli karcis, lupa”, Mbak berdandan Menor itu membuang muka, seolah walaupun dia yang salah kaga beli karcis, tapi tetep ajeh gw yang jadi hinaaaaa banget (walaupun beli karcis), karena mengerti sisi gelap praktek kolusi ticketing terselubung diperkereta-apian Indonesia.

“Lah..! Slompret yak!”.

Meringis maksa, KZL. Well, as I recall, gw cuma bisa ngamuk didalam hati aja, walaupun sebenernya gw pingin banget nyeteples karcis kereta gw, dibulu mata palsu si Mbak berdandan Menor yang terpasang amburadul itu.

“Enak aja, Asal lo tau!! gw kaga pernah absen beli karcis!!”. Tapi ndilalah, cuma dalem hati doang. Susah memang kalo punya watak sumbadra kayak gw, ditindas terus! Hahaha.

Hm, jadinya kerasa bener banget kata-kata pak motivator di tipi: “bergaullah dengan orang-orang baik, agar kita mudah berperilaku dengan baik”. Mungkin Mbak berdandan Menor itu mainnya tau deh sama orang apa. Orang-orangan sawah kali, makanya sawan. Hehehe.

Well, life is just like taking picture, exposes for shadow and develop for highlight. Jadi karena kejadian-kejadian tadi, gw nggak lantas serta merta benci sama Jakarta, lalu mau ikut pindah ke negara yang jauh lebih civilized dari Jakarta (tanpa bermaksut menghina Jakarta tercinta).

Bagaimanapun beratnya, manusia tetap memiliki rahasia kemampuan dalam mengatasi alam. Apabila batasan rahasia itu terbuka, maka manusia bukan saja menjadi transendental atau bebas dari kungkungan alam, tapi juga sekaligus berarti ia menapak ke level yang lebih tinggi, yang semestinya memang ia tempuh.

Masih banyak yang bisa dijadikan pelajaran hidup disini, banyak orang-orang mulia yang hidup sederhana. Yang memulai hidup dan menggali keimanan mereka melalu titik terendah yang pernah mereka alami.
Makanya, gimanapun, gw tetap cinta Indonesia. Cintaaa banget..!

Dari sini gw bisa belajar arti sabar menunggu macet, syukur bisa disambi membuka dialog dengan Tuhan, ngobrol sendiri ngalor ngidul, dari hati ke hati yang bersifat pribadi.

Disini gw bisa belajar arti kewaspadaan dan keberanian untuk nyebrang jalan tanpa rambu/tanda apapun, syukur bisa disambi komat kamit menyebut (mengingat) nama Tuhan memohon keselamatan setiap kali melangkah nyebrang.

Disini gw juga bisa belajar mengkondisikan amarah sebagai inversi suatu joke kiriman Tuhan, syukur bisa disambi berpikir bahwa jika Tuhan maha humoris, kenapa kita tidak turut tertawa dan menerima rahmat tersebut dengan tangan terbuka yang selebar-lebarnya?

Tuh gimana negara kita tercinta Indonesia nggak ngangeni?

“drrrrrttt.. Drrrttttt..” Ponsel gw bergetar.

Jus merah centil didepan gw mulai mencair. Gw hentikan perputaran konstan sedotan ditangan yang sedari tadi seperti mengaduk-aduk segala angan.

“hallo?”
“hey, aku udah didepan McD, kamu dimana?”
“aku didepan tamani express”
“Coba kamu berdiri deh”

Gw pun dengan sigap berdiri. Melihat seorang laki-laki biasa dengan bola mata yang cahayanya mampu menenggelamkan dunia gua. Yang tiap tatapannya mampu menyusuri tiap mimpi-mimpi gw selama ini. Dia melambai dengan ceria.

Yang bikin kangen, udah dateng![]
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

The Breaking Windows

Zikhry, temen gw, dari tadi ketawa-ketawa aja disebelah. Trus dia cerita, dia lagi bikin rusuh disuatu milis, katanya, milis lagi seru ngebahas disahkan atau nggaknya si-RUU Pornografi. Dimilis itu ada seseorang yang nanggapi serius komentarnya Zik yang anti RUU. Ya walaupun gw juga anti RUU, tapi gw suka males ngebahas hal-hal nggak jelas lagi nggak berujung pangkal kayak gitu.

Entahlah, gw berasa makin judeg, makin masa bodo. Gimana nggak masa bodo, pusing guah, ngeliat orang yang lebih seneng berantem daripada adem ayem, ngeliat orang yang lebih memilih jadi apatis daripada mikir gimana mengeliminasi jurang perbedaan SARA secara lebih efektif dengan optimis.

Udah lumayan jamuran juga gw tinggal dinegara yang sumpah lo, bebas banget. Sangking bebasnya, lo boleh ngelakuin apa aja asal tidak merusak properti milik perseorangan ataupun pemerintah, dan tidak menyakiti orang lain (intinya nggak menyalahi aturan yang berlaku). Setidaknya gw sekarang mulai rada nggak perduli orang mau kayak gimana, mereka punya hak kok untuk itu, toh dia kagak nyenggol guah dalam merealisasikan hak-hak mereka itu.

Dulu, semisal gw punya temen sekantor yang udah tinggal bareng dan kasarnya berzina tiap hari, mungkin gw akan menjustifikasi secara negatif lalu pergi dari orang itu, walaupun pada kondisi sebenernya, nih orang innernya baik. 
Tapi sekarang gw udah mulai belagu, mulai sok barat. Hehehe.

Yang pasti, selama temen gw tadi masih bersikap baik sama gw, gw bakalan tetep baik juga sama dia. Perihal dia mo ngapain kek, itu urusan dia sama Tuhan.

Tapi lantas, gw tergugah, gw berpikir kalau masalah ini, ternyata nggak sesimple dan seliberal itu. Gw inget obrolan gw sama Zikhry tentang kasus “the breaking windows”. Intinya, moral cerita “the breaking windows” adalah ingin memberitahukan kita, jika sebuah kejahatan itu, minimal, selalu bermula dari ignorance (ketidakpedulian).

Cerita “the breaking windows” itu lengkapnya begini: jika ada seseorang, sebut saja Mastur. Mastur tiap hari lewat disebuah rumah. Rumah itu dilihatnya selalu kosong. Lalu karena tampak tak berpenghuni, timbul rasa iseng si Mastur. Ditimpuklah salah satu jendela rumah pake batu bata, PRANG!!! satu kaca pecah.

Keesokan harinya Mastur lewat lagi. Jendela yang bolong itu masih disana. Rasa iseng si Mastur muncul kembali. Didekatinya rumah kosong itu, lalu dipecahkan kembali kaca yang lain. Begitu seterusnya, sehingga rumah itu akhirnya dibakar oleh si Mastur.

Lalu, apa kaitannya dengan ketidakpedulian?

Hm, seandainya ada orang yang perduli saat itu, lalu mengganti kaca yang ditimpuk si Mastur, tentu Mastur akan berpikir lagi untuk melakukan aksi timpuk-menimpuk yang kedua. Pastinya Mastur mikir dong: Oh, rumah itu ada orangnya loh!

Toh, walaupun Mastur pecahkan lagi, dan seseorang yang perduli tadi kembali mengganti kaca yang pecah. Lama-kelamaan, percaya deh, Mastur capek dan nggak akan melakukan aksi anarkis itu lagi.

Hal ini juga kejadian di Amrik (apa dimana gitu, gw lupa). Jadi waktu itu tingkat kejahatan di stasiun kereta bawah tanah sangat tinggi. Sepele banget sebabnya, cuma gara-gara coret-coretan ditembok stasiun (wall-grafiti).

Kalo nggak salah, waktu itu dimulailah aksi anti-ignorance tadi. Para polisi kota itu, setiap hari (iya EVERYDAY) melakukan pengecatan tembok yang digambari grafiti. Walaupun malamnya akan timbul grafiti baru, tapi siang harinya, polisi akan mulai mengecat ulang lagi. Demikian seterusnya. Sehingga tingkat kejahatan di stasiun kereta bawah tanah kota itu betul-betul menurun drastis.

See? hanya dengan cara yang sangat sederhana (namun butuh kesabaran, animo tinggi, serta mental yang betul-betul sober and sane), kita akan betul-betul mampu menekan tingkat kriminalitas. Amazing!

Tapi yang terjadi sekarang apa? Masyarakat kita sudah betul-betul cuek bukan kepalang. Bagi gw, semua tindak diam (atau pura-pura nggak ngerti/nggak liat) terhadap semua kejahatan, baik yang mengatasnamakan Agama atau nggak, itu ibarat kecanduan ngerokok.

Lo bisa jadi sangat paham jika merokok itu berakibat buruk untuk kesehatan. Tapi semua efek samping buruk itu tetap nggak cukup untuk membuat lo berenti ngerokok. Karena secara nggak sadar, lo mulai menikmati ritualnya: the slender shape of cigarette, the way the tobacco smolders, the fragrant smoke curling around your fingers. ya kan?

Gw jadi inget, gw dulu suka banget sama satu film judulnya: se7en. Suka bukan gara-gara aktor yang maen ganteng (Brad Pitt), tapi gw demen banget ama penjahatnya, si serial killer: John Doe.

John Doe ini melakukan konsep pembunuhan berantai sesuai sama 7 list dosa besar yang harus dihindari: gluttony (kerakusan), greed (ketamakan), sloth (kemalasan), envy (iri), wrath (angkara murka), pride (kebanggaan), dan yang terakhir lust (nafsu birahi).

Suatu hari, John Doe ini menyerahkan diri begitu aja ke kantor polisi. Setelah diinterogasi, banyak kata-katanya yang kerasa mak njuss di bathin gw, dan itu membuat gw berpikir, bisa jadi si John Doe ini, walaupun pembunuh sadis, sebenarnya dia malaikat utusan Tuhan.

John Doe bilang: “We see a deadly sinner in the corner of the street, at home, and we tolerate it. We tolerate it because it’s common. It’s true (that) we tolerate it morning, noon, and night. Well, not anymore. I am shitting the example. And what I’ve done is gonna be puzzled over, and studied, and followed, forever.”

Gw pikir si John Doe ini benar. Kita terlalu biasa mentolerir segala dosa yang lewat depan mata kita demi sebuah kata: toleransi dan pengertian.

Yah walaupun gw juga ngerti, pada dasarnya kita juga nggak boleh memaksa penghapusan ketidakperdulian tadi melalui kekerasan!

Kalau kata orang intelejen: percuma menyiksa orang untuk mendapatkan keterangan penting, karena nantinya, melalui siksaan itu, orang tadi akan mengaku. Tapi mengaku dalam rangka untuk mengurangi rasa sakit akibat siksaan yang dia derita, bukan karena kebenaran yang ingin dia ungkap. Jadinya malah kebohongan kan yang didapat? Percuma dan sia-sia aja kalau gitu kan?

Gw tipikal orang yang sangat-sangat asertif (ya untuk ya, dan nggak untuk nggak). Tapi jujur, gw bingung. Gw sendiri belum menemukan titik penyeimbang antara harus jadi manusia yang memiliki sikap toleransi tinggi, atau jadi manusia yang sepenuhnya peduli dalam rangka menumpas kejahatan dimuka bumi (alakh..).

Kata pepatah kuno: Life without risk is a life unlived. So, sebenere gw nggak harus milih. Justru gw harus menyeimbangkan kadar dari keduanya: Manusia dengan toleransi tinggi namun peka dan peduli terhadap kondisi masyarakat tempat dimana dia bernaung. Nggak realistis memang, tapi gw akan berusaha kesana.

Yin dan Yang, harus ada keseimbangan. Itu yang paling penting.[]
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Cara Mengkritik

Masih jam kantor. Gw usap-usap ujung jejari tangan gw. Jari gw pada lecet-lecet dan nyut-nyutan gara-gara motongin (setengah meteran) satu rol kabel CAT-5, trus di krempling satu-satu ke RJ45. Kalo satu rol ada sekitar 50 meter, gw ngerjain 100 kabel LAN berarti, duh.

Well, sebenernya asyik juga sih, secara gw terkadang suka mendadak autis. Sekalian lah dalam rangka nostalgia juga, ngerjain tugas prakarya kayak jaman SD.

Gw usap lagi pelan-pelan. Yah ujung jari gw jadi.. kasar. Hm, gw berpikir gila sejenak, amatlah sungguh malang laki-laki yang nanti seumur hidup menggandeng tangan gw, yang gw raba wajahnya saat dia lagi demam atau meriang, yang gw sentuh bahunya perlahan dengan maksut menguatkan untuk bangkit lalu menjalani hidup.

Ya tentu karena apa yang dia harapkan dari kecil (believe me, men always do), dapet seorang putri jelita yang tangannya halus putih gemulai bak sutra, eh ini malah dapet tangan gw: kasar-kasar dan rada gelap lagi. Hahaha.

Lagi asik-asik becanda ama pikiran gw sendiri, eh ponsel gw jumpalitan. Satu message di inbox. Hm, gw senyum senyum aja bacanya. Dari seorang teman, teman menggila gw (sebut saja mas Alang). Oh, rupanya mas Alang rada protes soal penilaian gw terhadap foto beliau di salah satu situs fotografi tanah air.

Sambil nyengir, gw taro lagi ponsel gw disamping tumpukan configurasi file yang sudah selesai gw kerjakan. .

Hidup ini tercermin dalam lingkaran dualisme, baik secara kebendaan ataupun secara sifat. Namun, manusia cenderung hanya mau menerima separuh dari lingkaran tersebut. Menerima kelahiran, tapi tidak kematian, menerima kemenangan tanpa menoleh pada kegagalan, meraih glamoritas dunia, bukan akhirat. Padahal the true liberation itself comes from appreciating the whole cycle (fully!). Dan bukan hanya sekedar berpegang pada separuh bagian, dimana kita merasa cocok dan nyaman disitu.

Jadi inget, sekitar hampir seminggu lalu, gw pernah bersitegang dengan seorang om-om, karena umurnya 44 tahun katanya. Gara-gara debat pada salah satu forum diskusi. Dia marah sekali dengan kritikan gw. Sampai dia perlu repot-repot mengirim mail dan menjelaskan panjang lebar tentang dirinya. Berasa HRD aja gw, pakek nerima CV segala. Hehehe.

Beliau menjelaskan nama, asal-usul, umur, profesi, tempat bekerja, jabatan, banyak anak buah yang dimiliki untuk saat ini, keadaan keluarga, anak, istri, serta nana dan nini yang lain. Gw cuma mengelus dada. Sambil nyengir tentunya.

Heran aja gw. Ternyata selama ini seorang manusia belum boleh dinilai dari cara berpikirnya tanpa melibatkan atribut yang melekat didirinya, dihargai dari ketenangan dan kebijaksanaan jiwanya bukan dari jabatan serta banyak anak buat yang dia miliki. Well, it¡¦s so much oldies sekali man! (bukan konservatif, karena ada kalanya konservatif itu baik).

Emosi timbul ketika seseorang mengkritik kita, mengacuhkan kita, menyepelekan kita atas sesuatu hal yang kita peroleh, dan diluar itu, sebenarnya kita nggak setuju, kita malah dengan angkuhnya beranggapan jika kita berhak mendapatkan lebih dari itu. Dan parahnya, orang kadang suke ketlisep (misuderstand) tentang pengertian mengkritik dan menghujat. Mengkritik itu walaupun pahit tapi tetap berbuah solusi. Tapi kalau menghujat, ya hanya berkoar-koar tanpa solusi, bahkan tanpa mengikuti norma-norma serta etika yang jelas.

Dari semula, kita memang bermasyarakat namun kurang memperhatikan estetika, karena kita tak pernah dididik untuk memiliki taste yang baik dalam bergaul, tidak dididik untuk beradab, tidak dididik untuk memperhatikan martabat, derajat, serta kemuliaan sebagai manusia.

Memang sih, gw akui, within each emotion there is always an element of judgement. Selalu tetap ada yang dinilai. Misalnya ada seseorang yang berpendapat: “gw kan temen lo, maka lo nggak boleh ngeritik gw”. Nggak gitu brur.

Suatu hari, gw juga pernah berantem sama Zikhry di subway. Gara-gara menurut Zik, gw selalu berkelakuan baik sama orang karena ada ekpektasi lebih. Maksutnya gini, gw baik sama orang, dan (gw berekspektasi) orang lain juga harus baik sama gw, tapi kalo pada kenyataannya orang itu nggak baik sama gw, ya gw bakal kecewa, dan itu menurut Zik nggak worthed aja, mending cuek, orang mau ngapain juga terserah.

Trus pada end line kalimatnya, klise, kata-kata yang sangat typical keluar dari seorag Zikhry, sebuah iklan: “kalo gw sih..”. I don’t care kalo elu. This is me, this is who I am.

Akhirnya saat itu dengan marah gw tereak “Lo sinis banget ya jadi orang?!”. Walaupun padahal tadinya gw hampir menerima kritikan Zik. Kalo aja dia nggak iklan.

Ah, mungkin Tuhan nggak (atu belum) mengizinkan gw untuk jadi orang cuek kayak Zik. Kami berdua sama-sama Aries, mungkin karena itu kerasnya sama. Yah tapi walaupun besoknya tetep biasa lagi, gosip-gosip lagi. Namanya kawan. Yasyuddu ba’dhuhum ba’dho, saling memperkuat satu sama lain. Kalau kata Recto Verso-nya Dee, ada keindahan di balik penderitaan, ada kegembiraan di balik penderitaan, semuanya ada dua sisi. Secara cuman Zik juga temen gw disini ya akhirnya ujung-ujungnya, walau manyun-manyun gw tetep baekan sama dia.

Balik lagi ke urusan emosi dan kritik tadi. Intinya, adalah diri kita sendiri sebagai makhluk, hanya sebatas makhluk, yang menciptakan ketakutan itu sendiri. Ketakutan terhadap neraka, surga, kekalahan, umur, kekecewaan, sakit hati, kebenaran, kejujuran. Seperti yang pernah gw diskusikan kepada seorang guru yang gw anggap ayah, bahwa jujur itu sulit, tapi menerima sebuah kejujuran itu jauh lebih sulit.

Apapun yang terjadi, kalau kita menciptakan destruksi, artinya jika kita melakukan perbuatan yang kita yakini benar, tapi dengan toriqoh, kafiyah, siasah, atau cara, yang ternyata menciptakan destruksi, itu tetap tidak lulus dalam teori kesalehan sosial. Menimbang definisi dari DR.H.Mohammad Sobary, kesalehan sosial adalah ketika perbuatan baik didalam ide dan gagasan kita itu baik serta diaplikasikan secara tidak menimbulkan masalah sosial.

Jadi jika kita baik, tapi dalam penerapannya menimbulkan satu masalah, ada orang yang menderita karena kebaikan kita, menjadi tidak sholeh. Sholeh adalah kita kebaikan kita lulus menjadi kemaslahatan sosial, rahmatan lil alamin untuk orang banyak.

Semoga lain kali kita semua dianugerahkan kesolehan serta kearifan budaya, sehingga kita mampu untuk mengkritik orang secara baik, lalu orang yang dikritik malah akan berterimakasih dan minta nambah (demi kebaikan dirinya sendiri). Amin.[]
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Lelaki dan Kedangkalan Pikiran

Beberapa waktu kemarin gw mulai berani untuk membuka diri perihal memulai sebuah relationship. Tapi berangsur-angsur (untuk sekarang) keterbukaan itu kok rasanya pengen gw tutup lagi. Gw jadi parno ajeh gara-gara si Zikhry.

Kemarin di subway, Zikhry cerita, katanya kalo mau nikah itu, kita harus cek kesehatan. Gw cuma diem aja, gw yakin pasti cerita si Zikhry ini kelanjutannya aneh-aneh. Akhirnya bener dugaan gw, Zik cerita kalo temennya dia (sebut saja Bang Udel) nyaranin, kalo misalnya elo mau nikah, supaya nggak ada rasa was-was, penyesalan, penasaran, atau apa lah sebelum nikah, harus diadakan dialog terbuka untuk saling jujur.

Paling nggak alur dialognya ya seputar si cewek masih perawan atau nggak, si cowok udah pernah begituan belum, punya sejarah penyakit apa aja. Ya intinya, demi masa depan cemerlang gitu loh. Gw menganggap semua itu merupakan hal yang wajar, secara emang hidup gw lurus dan normal-normal aja, ya dialog kayak gini nggak jadi masalah buat gw. Ya ngga?

Tapi yang jadi concern mendasar gw (bahasa simple: bikin gw senewen) adalah sewaktu Bang Udel berstatement:

“Semisal dialog itu nggak berhasil, dan you masih belum percaya apakah tu calon bini lo jujur apa kaga, ya lo harus cek langsung, kalo perlu (ekstrimnya) lo suruh dia bugil (tuing tuing tuing). Supaya lo kagak kaya beli kucing dalem karung. Siapa tau bini lo toketnya gede sebelah atau bulu ketekan. Wajarlah, hanya sebatas cek up ala militer gitu. Ibaratnya kan, lo mau beli barang buat dipake seumur hidup, kalo tau-tau lo dapet barang apkiran hayo?! ntar bakal nyesel dah lu.”

Anjrit. Gw beneran tersinggung kali ini. For God’s sake, apa maksutnya barang apkiran? Barang second grade? Barang kw-2? Apa kabarnya kalo cewek itu juga manusia? Punya perasaan, nalar, naluri dan juga emosi. Edan cowok-cowok jaman sekarang!

“Tapi lo pikir lagi deh rum, bener juga kan? Loe realistis aja deh, kalo misalnya calon lo itu nggak perfect, gimana?” Kalimat terakhir dari Zikhry itu bener-bener nampol. Weh, dunia kayanya kejam banget terhadap kaum perempuan. Kenapa jadi kami yang musti telanjang? Kenapa juga jadi kami yang harus dites dan dibuktikan?

Kalo misalnya abis disuruh bugil ternyata nggak cocok? Tetep direject? Atau nggak jadi beli? Muke gile. Serius dah, sakit tau nggak mendengar kenyataan kalo ternyata jenis cowok kayak Bang Udel masih berkeliaran dimana-mana. Nyali gw jadi ciut lagi. Secara gw emang kagak percayaan ama cowok anaknya. Hilang deh semua khayalan gila gw about how we still can fall in love, but in a free way, even without any fear of being rejected.

Trus gw tanya ke Zikhry, kalo misalnya pacarnya dia sekarang memang apkir, alias kaga perawan, gimana? Zikhry njawab sambil cengar-cengir: “ya kan dia udah berani jujur. Mending jujur kayak gitu, setidaknya ya gw masih bisa terima, gw anggap itu karma gw ajah.”

Gw potong: “Kok gitu?”

“Ya iyalah, daripada gw menemukan ketidaksempurnaan itu sendiri? Hayoh, lebih sakit ati lah gw. Kalo udah gitu mah, paling ekstrimnya, gw.. kawin lagi..”

Hm, jadi kangen Zuber, laki-laki ini dulu selalu mensemangati gw kalo gw lagi mellow, dan selalu protes kalo gw selalu ngedumel soal kelakuan cowok yang nana dan nini. Kalo udah mentok, si zuber biasanya bilang: “kalo mau diterima apa adanya, ya harus bisa menerima apa adanya”. Dalem banget tuh kalimat.

Hm, hari dimana Zikhry ketawa-ketawa menceritakan semua hal tadi emang dah lama lewat. Tapi masih ada berasa pilu aja gw. Daripada manyun puasa-puasa, gw memutuskan untuk jalan-jalan sendiri pas wiken. Eh pas banget baru berapa meter dari kosan, hujan, mana gw nggak bawa payung, yah nasip.

Udah hampir seperempat jam gw berdiri mandangin hujan. Hujan kali ini terlalu basah untuk ditambah air mata. Yet for a serious seeker seperti gw, inspiration is everything. Jadi, mau bagaimanapun berasa gundah hati ini, tetap harus ada hikmah yang diambil.

Well, reality is not necessarily lethal, tetapi (at least) kudu mampu membuat kita berpikir satu dua kali untuk lebih waspada terhadap hidup dan tetep kembali pada jalur shirotol mustaqim (jalan yang lurus). Toh sekalipun misalnya jalan kita nggak lurus, Tuhan yang Maha Baik pasti akan tetap mengizinkan kita untuk berputar.

Kesempurnaan itu sendiri merupakan suatu identitas. Dan identitas tidak boleh dibentuk, identitas harus selalu terbentuk dari dalam. Karena ketika identitas hanya merupakan susunan orisinalitas yang notabenenya dibentuk maka kesempurnaan hanya akan menjadi kosmetik.

Lain halnya jika kesempurnaan itu terbentuk dari dalam, hal itu akan menjadi identitas yang matang. Dan identitas yang matang adalah identitas yang berguna bagi penyandangnya.

Like Buddha ever said once: Do not mingle (bercampur, bergaul), because you have different intentions, therefore your views are different and your actions will of course be different. Walah, mbuh lah. Ila allahi marji’ukum – Kepada Allah kembalimu semuanya.

Well, thinking that someone is beautiful is only a concept. But have you ever thought: what is beauty? We may say that it is in the eye of the beholder. Nah makanya didalam geraian rintik hujan, gw sedikitnya mulai dapet pencerahan, jika mungkin, someday, somehow, gw bakal nemu cowok yang cinta dan nerima apa adanya gw, tanpa harus nyuruh gw bugil. Jadi gw semestinya nggak boleh jiper cuman gara-gara Zikhry cerita hal konyol beginian.

These kind of problems are just like the sky, which has no end in space. Bisa jadi ini Cuma sekedar perihal yang ingin disampaikan Tuhan melalui bala tentara langitnya ke gw, bahwa sesungguhnya the real source of fear is ‘not knowing’. Kalo kata bokap gw: “Wes nrimo ae nduk, jo keakehan mikir, uwong ki wes ono dalane masing-masing”.[]
Posted in Catatan Perempuan, Cerita Gw, Nasihat Bokap | Leave a comment

Tentang Sedekah

Semenjak puasa, gw jadi Narkoleptik (suka ngantuk berlebih kalo siang), dan percayalah, saat itu gw pengen bet bales dendam, jadi nanti abis teraweh gw bertekad mau langsung molor. Tapi pas udah jam abis teraweh, ngantuknya malah ilang. Asem. Ngajak berantem banget kan??

Tapi memang kalau malam, gw jadi jarang ngantuk. Mungkin karena pikiran gw suka mengambang kemana-mana, terlalu liar..! (Jangan mesum loh).

Coba deh lo bayangin, gimana gw kaga mikir? Ternyata masih aja ada orang macem gini. Orang yang dengan sangat entengnya mampu ngasih tips 50 dollar ke doorman untuk ngebukain pintu, sementara diwaktu yang lain orang ini masih maksa nawar kaos dipedagang kaki lima sampe abis-abisan, padahal kaos itu harganya cuma 15 dollar. Gila man! Itu seorang pedagang kaki lima yang ibaratnya banting tulang siang malem buat ngasih makan anak dan keluarganya gitu loh.

Well, gw tau, semua orang itu nggak sama. Tapi mbok ya’o.

Gw tanya sama temen sekantor gw, dengan harapan, mungkin cuma orang tadi aja yang begitu, “elo kalo ada orang minta-minta, lo kasih duit nggak dul”. Temen gw njawab “ya nggak lah, kebiasaan, duit tuh nyarinya pake keringet, pake kerja keras, enak aje”.

Lalu beberapa hari selanjutnya, gw tanya lagi, “kalo misalnya dia nggak ada kerjaan lain selain ngemis, lo masih nggak mau ngasih juga?”. Bisa ditebak, temen gw jawab “nggak lah!”.

Lalu beberapa hari setelah hari yang tadi, gw tanya lagi, “kalo misalnya dia bener-bener butuh, lo masih nggak mau ngasih juga?”. Temen gw jawab “nggak”.

Jika kita ingin pintu rezeki atas kita terbuka, maka kita harus membuka pintu rezeki dahulu bagi orang lain. Itu pepatah paling kuno yang selalu gw pegang. Bagaimana kamu mau memuliakan dirimu sendiri, jika kamu belum mampu untuk ikhlas bersedekah demi memuliakan orang lain?

Waktu kapan hari, di suatu ceramah, ustad gw cerita, sebut saja ada dua orang bernama Joni dan Paino. Dua orang ini ketemu sama pengamen jalanan, masih anak-anak. Karena kasihan, Joni merogoh sakunya, tapi Paino menahan tangan Joni.

Paino: “Aduh Jon, Plis deh, jangan daaah dikasih duit anak kecil itu. Nggak mendidik tauk!”

Joni: ” (menghela nafas sebel) Saya ndak bisa mendidik, bisanya ngasih!” Joni lantas memberikan uang kepada pengemis tadi, sembari melirik Paino, “Daripada ngasih enggak, mendidik juga enggak….”. Horotoyokono![]
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Kesamaan Sosial

Weekend minggu lalu, seperti biasa, gw menjelajahi kota saat pagi menjelang siang. Ini nggak sekali-dua kali gw mampir ke bioskop paling rame di Mongkok (bukan Mangkok lho ya?). Tapi ya, waduw, baru sekali ini gw kedapetan apes. Haha A-P-E-S.

Pas lagi antri masuk ke bioskop (disini beli tiket diluar, nanti baru masuk ke dalem untuk nyari studionya). Tiba tiba aja gituh, ada pria tua, mungkin umurnya sekitar 45-50 taun lah. Ngeliatin gw, sinis banged (pake ‘d’ biar mantebh), dari ujung jempol kaki sampe ujung jidat. Trus tiba-tiba aja, dia marah-marah.

Karena marah-marahnya pake bahasa alien, ya gw lempeng dot kom. Mana gw tau artinya apa. Rupanya, semakin gw lempeng, dia makin marah. Lama-lama do’i sadar, gw kagak ngaruh kalo dimarahin pake bahasa die, lah emang gw ngga ngerti siy. So, akhirnya, dia marah-marah pake bahasa Inggris.

“Look people, look at her (nunjuk ke gw), is she not feeling hot? This summer! What a moron!”. MORON. Gw cuman diem bin mingkem. Ngeliat respon gw yang datar, dia makin heboh dong.

“Get cat over your tongue, kun yant? You are not supposed to scare people with your clothing style!”. KUN YANT = PEMBOKAT. Gw baru sadar, dia nggak suka liat gw panas-panas gini (summer) pake jilbab. Gw mah tetep cuek. Ndablegh aja.

Nah puncaknya pas mau masuk kedalem ruangan bioskop, dia (sengaja) nabrak pundak kanan gw dari belakang, kenceng banget sambil bilang: “Get move on!! You’re fvcking freak!!”. FVCKING FREAK. Masya Alloh. Mulai gerah juga gw.

Gw menghentikan langkah gw. Entahlah, yang bisa gw lakukan cuma istighfar. Berasa pasrah aja.

Gw sempet nangis pas udah duduk di korsi bioskop. Well, belakangan ini beban dipundak gw lagi banyak emang sih. Temen-temen gw lagi pada menjauh, disini gw sendiri, dan nggak ada satu orangpun yang tanya kabar gw. Yah jadi tambah mellow gituh. Saat itu gw sempet mbatin: “Apa dosa gw dah?”.

Tapi trus gw berasa di TAMPAR lagi. Gw keingetan ama nasehat temen gw, Isro: “Kalau sedang diuji, janganlah menguji”. Gw ini lagi diuji, ngapain juga gw nantangin Tuhan balik: “Apa dosa gw ya, Tuhan”.

Lah, dosa gw kan emang udah banyak. Ngapain pake nanya? Sungguh Dodol. Makanya begitu inget lagi diuji, sedikit demi sedikit, gw mulai terhibur dan nggak nangis lagi.

(Iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’in – Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan).

Trus nggak lama, mungkin 1-2 hari setelah kejadian itu, gw dapet pesen dari teman, sebut aja Mas’ud. Mas’ud curhat: “Yum, gw baru dapet treatment gak enak dari temen seruangan, ini orang yg sama yang memperlakukan gw sebagai second grade creature, just because I am ugly..”

Hm..Terserah lo mau percaya apa nggak, tapi bagi gw, Mas’ud ini nggak jelek. He’s a very special and unique human being. So special that I always admire how he’s speaking, they way he’s thinking. Well, his ideas is always been amazed me!

Why most people that have a different way of style, have different way of how they see, listen and understand about something were always considered as a freak?. We are so running out the appreciation of others for being special.

Lo liat deh, liat semua orang. Semua orang sekarang berusaha keras untuk sama. Labeled by Kenzo, LV, Gucci, Armani.

Kalo tetangga punya sejumlah x benda, lo harus punya, al least, x+1 benda seperti mereka.

Kalo temen lu berkata A, at least lo harus punya tendensi 75% setuju akan A (or else lo akan di marginalisasi, dikacangin, dianggep aneh, nggak ditegor lagi, baik langsung ataupun lewat YM).

Kalo sekarang summer and semua orang pake baju kurang bahan, lo juga harus pake bikini?? Atau? Lo akan dibilang Moron a.k.a Fvcking freak kaya gw.

Kalo lo nggak rapih, necis, bergaya borjuis kaya komunitas lo, lo bakal dibilang secondary creature, dibilang ugly. Kaya si Mas’ud.

Plis people, Lo melakukan sesuatu hal, bukan karena hal tersebut menyenangkan buat Lo, ataupun bukan karena secara politis memang lo harus gitu. Apa sih? Cuma demi sebait kata: S-A-M-A? Lalu lo nggak boleh being unique, dan lo nggak boleh look special.

WTF?

Ini semua simbol kesombongan. Dignity yang gw rasa nggak perlu ditonjolkan.

Kenapa sih orang nggak boleh berbeda? Kenapa kita harus meributkan perbedaan? Kenapa orang selalu gatel kalo ngeliat sesuatu yang beda? Kenapa orang jadi emosi kalo ada golongan yang lain yang nggak sama ama dia? Kenapa semua harus sama?

KENAPA?

Gw rasa bloody-crusade war which costing thousands of lives, juga terjadi karena adanya enforcing for the different visions of morality. Nah tetepkan? Gara-gara PERBEDAAN.

(sigh)

May God have mercy on us.

Gw pernah dengerin ceramah pendeta Buddha, pendeta itu punya cerita sederhana tentang teh. Katanya: Bagi kita, Tea is only leaves in a hot water. Tapi bagi pecinta teh yang betul-betul fanatik, ada teh yang dibuat dengan komposisi campuran khusus dan diolah dengan sangat special. Campuran special itu dikasih label: Iron Dragon. Trus dijual dengan harga menggila untuk sebungkus kecil saja. So, bagi para fanatik teh Iron Dragon, tea is not about a leaves in a hot water.

Kesimpulan: It is not the appearance that binds you, it’s the attachment to the appearance that binds you.

Jadi, janganlah menilai seseorang sebelah mata hanya karena dia berbeda. Pahamilah, mungkin dia punya alasan untuk berbeda. Bukan lantas kita menjadi apatis dengan nggak perduli atau lantas nggak protes akan perbedaan dia, bukan. Tapi justru karena kita menghargai perbedaan itu.

Pendeta itu juga bilang: When the self is full of pride, it manifests in countless ways: a narrow-mindedness, racism, fragility, fear of rejection, fear of getting hurt, insensitivity, etc. Semua keburukan itu bersumber dari ketidakpedulian.

Dan dengan diam dan berusaha mengerti, bukan berarti tak perduli. Karena ignorance is simply about not knowing the real facts, having the facts wrong or having incomplete knowledge.

Pendeta ini bijak banget. Gw ampe nggak perduli gw diliatin orang-orang karena gw satu-satunya muslim disitu.

Gw suka duduk aja sendirian di taman, memikirkan banyak hal. Ada kalanya gw berpikir, secara fundamental, people really like to have freedom only for theirselves but not for others. Padahal teorinya, as we liberate from our own fear, our presence will automatically liberate others. Yah namun, bagaimanapun, halah, namanya juga manusia.

Sebagai contoh, kita bisa aja marah, sangat marah, hanya karena: kita marah sedangkan orang lain nggak. Dan lo berpikir, orang lain itu harusnya marah juga.

Atau contoh lain, ada yang berpikir: “Arum tuh susah banget sih dibilangin, dasar kepala batu”. Sementara disisi lain, sebenernya gw bukan susah dibilangin, tapi gw lagi benar-benar berpikir, apakah dengan mengikuti pendapat lo, gw akan menyenangkan hati lo, padahal gw sendiri berbohong tentang apa yang sebenernya gw rasain.

Gw nggak mau lah jadi pembohong hanya demi kata: SAMA, Se-ide, nurut, dll. Called me: EXTREMELY impatient, selfish, short fuse, egotistical or whatever! (kata ramalan zodiak sih, gw gituh :p)

See? Orang lebih mau nerima kebohongan (atau hal yang SAMA ama pikiran dia) dibanding menerima kenyataan yang sebenarnya.

I am laughing so hard. Bukan menertawakan orang lain itu. Tapi I found that it’s really true, that emotions sometimes can be very childish. (I give another example: you might be upset one day because your partner is too possesive and the next day because he¡¦s not possesive enough. See? It just damn confusing, right?)

Gw berusaha keras menemukan integritas pribadi gw, karena melalui penelusuran karakter asli kita (lets called it integritas pribadi), kita bakal mampu untuk hidup sesuai dengan apa yang kita ketahui, apa yang kita nyatakan, dan apa yang kita lakukan.

Berkata benar, menepati janji, memberi teladan tentang apa yang kita yakini, dan memperlakukan orang lain dengan adil dan murah hati adalah beberapa langkah kongkritnya. Mungkin gw belum bisa sesempurna itu, setidaknya gw berusaha (sedang berusaha).

Mengambil kutipan Jack Welch: “Rasa percaya diri, berterus terang, dan kemauan sungguh-sungguh untuk menghadapi kenyataan, meskipun hal tersebut sangat menyakitkan adalah inti dari hidup dengan sadar”.[]
Posted in Cerita Gw | Leave a comment