Tentangmu


Perasaan yang paling hangat itu…

Ketika seorang laki-laki yang kau cintai tak pernah lupa mengucapkan selamat pagi ketika kau baru saja membuka mata. Tak pernah lupa mengucapkan selamat tidur saat matamu telah terpejam dan kau telah terjatuh dalam dalamnya mimpimu. Ketika ia selalu memelukmu, meski dari jauh. Dan selalu bertanya apa yang akan kau lakukan hari itu, semata-mata karena ia berharap dapat segera menggabungkan hidupnya dengan hidupmu, karena ia mencintaimu.

Perasaan yang paling hangat itu…

Ketika ia bercerita bahwa hari-harinya menjadi semalas beruang di musim dingin, karena yang ingin dilakukannya hanya bergelung di kasur sepanjang hari sambil mengingatmu dan merindukanmu. Ketika ia bilang tak sabar ingin berada di sampingmu, bukan hanya sebentar, tapi selamanya.

Perasaan yang paling hangat itu…

Ketika kau sedih, dan ia melemparkan lelucon, meski kadang tak lucu. Lalu kau akhirnya tak tahan untuk tergelak dan dengan lembut ia berkata senang melihatmu tertawa..

Ketika kau cemburu pada masa lalunya, dan ia, alih-alih meyakinkanmu dengan kata-kata manis, malah membuka dirinya. Lalu ia mengaku dengan jujur bahwa terkadang juga cemburu pada masa lalumu, namun ia mengabaikannya. Karena yang penting baginya adalah sekarang, saat kalian saling memiliki dan mencintai.

Kehangatan mengalir perlahan di semua pembuluh darahmu, memompa jantungmu berdegup lebih cepat, menjentik ujung-ujung syarafmu sehingga kau merasa lebih peka dan dikuatkan, lalu memerahkan pipimu seperti apel masak. Keram ramah yang begumul didalam perutmu, yang membuatmu tergelitik lalu tergelak seperti anak-anak jika ia menyentuhkan tawanya di pipi, kening dan perutmu…

Perasaan yang paling hangat itu…

ketika ia mengatakan padamu, lagi dan lagi, bahwa ia mencintaimu saat ini dan nanti. Itu lebih dari cukup. Untuk selamanya.[]

I love you more than I loved anyone before. If you could ever know…
Posted in Cerita Cinta, Cerita Gw | Leave a comment

You Save Me


Funny how things change in time. Looking back I really should of listened to everyone’s advice of how time heals all wounds. It seemed easier to just be cynical and want to be left alone in my pain.

Imagine my surprise when one day that pain slowly started to go away. Like a wound fading into a scar, my sad self slowly started to fade and I became me again. I was finally letting myself be happy.

Than he happened.

This plain ordinary boy suddenly became extraordinary. He started to give me all those feelings I thought I’d never feel again and eventually my fragile heart fell in love with him.

He is honestly the best thing to ever happen to me. Being with him is like every amazing feeling I’ve ever felt rolled into one.

I’m happy, so freaking happy.

There is something else I am which is hard to admit though. I am so scared. Scared of hurting again. My broken heart fell in love and healed itself around him. I broke so easy last time I don’t know if I could survive losing this one.

I love you, mas pet. Infinite. So much more than anything else in this entire world. I just wanted you to know, you saved me.[]
Posted in Cerita Cinta | Leave a comment

Antara Energi dan Kegalauan


At some point, hidup seseorang harus berubah. Ada semacam BEP untuk itu. Dan yang memutuskan perubahannya adalah personally si orang itu sendiri (well, mungkin sedikit intervensi dari Yang Maha Kuasa juga).

Derasnya fluktuasi hidup menyebabkan kita terombang-ambing, terpental-pental, bahkan terjebak dalam pusaran aneka ragam mental state. Akan ada satu waktu dimana kita merasa sangat religious, atau sangat tidak religious; sangat kekanak-kanakan, atau sangat wise; sangat nakal, atau sangat penakut. Sangat pemberani, atau menjadi sangat peragu. Sangat ingin menunjukkan eksistensi, atau sangat merasa ingin menutup diri.

Bayangkan sebuah timbangan jungkat-jungkit yang biasa kita mainkan di TK atau taman-taman bermain lain. Kedua ujungnya memiliki dua jenis energi: positif dan negatif. Dan bayangkan juga kita yang sedang berjalan pada titiannya, berjalan ke kanan dan berjalan ke kiri. Ada gaya misterius yang menggerakkan kita ke kanan dan ke kiri, unconsciously.

Dua kutub energi yang berlawanan itu bagaimanapun juga pada akhirnya akan menyeimbangkan diri. Sebagai contoh: suatu saat kita tertarik ke arah kutub energi positif. Disatu titik positif tertentu, konsep balancing ini akan menarik kita balik ke arah kutub energi negatif. Nah, semakin lama berada pada titik negatif, jiwa kita akan merasa sakit, dan merasa kosong, because the energy is imbalance. Sehingga secara harafiah konsep energy-balancing ini akan menarik kita kembali ke titik positif. Demikian seterusnya.

And the big questions come up: why we can’t just being in the balance state, stop in the middle forever? Kenapa harus ada kelebihan atau kekurangan energi? Kenapa kita nggak simpan aja energy kita supaya balance?

Pertanyaan ini dari dulu menghantui gw. Ada banyak faktor lain diluar semesta-pribadi-kita yang bisa menambah ataupun mengurangi keseimbangan energi diri. Dunia ini secara kasat mata penuh oleh perebutan energi.

Energi secara konsep adalah entity yang terus mengalir. Energi is hard to be in a static condition. Even the most balanced-person in this world have some energy-stream. Well, kenyataannya energi yang statik hanya dimiliki oleh Sang Source: The almighty God himself.

Makanya, literally, secara agama kita diwajibkan sembahyang. Sekelompok orang ditempat lain menyebutnya sebagai ritual semedi atau tapabrata. Maksutnya sama, mendekatkan diri kepada Gusti Allah, meminta petunjuk, meminta jalan, meminta kebenaran, meminta cahaya. It’s kind of doing some private conversation or whatever called it so. And this making-a-secret-and-sacred-ritual thing, in personal, is some way or some idea for craving energy from the source.

Kita kehilangan energi pada banyak situasi, bisa di kantor atau di rumah, bisa saat sepi atau ramai, bisa saat senang atau sedih.

Sebagai contoh dalam sebuah diskusi atau dialog sehari-hari, saat kita mendengarkan lawan bicara dengan seksama, kita mengalirkan energi untuk orang itu. Pembicaraaan yang dilakukan secara bergantian dan sehat akan menimbulkan kesan hangat didalam hati, karena aliran energi berputar secara baik. Contoh lain, saat kita sedang mencoba berkomunikasi dengan orang yang tidak kita suka, kita akan melakukannya dengan cara yang tidak intens: sambil acuh, mungkin sesekali tak mendengarkan, atau bahkan tak mendengarkan sama sekali, akibatnya si lawan bicara nggak mendapatkan energi apapun dari kita dan ketidakberhasilan aliran pengambilan energi itu akan menimbulkan kemarahan, kekesalan, peningkatan temperature tubuh, adrenalin, dan tekanan darah.

Begitu juga saat kita jatuh cinta dan merasakan patah hati.

Saat suatu pasangan yang sedang jatuh cinta atau membuat suatu special relationship, akan saling memberikan dan mendapatkan energi dari satu sama lain secara intens. Mereka akan terbiasa melakukan itu. Energi mereka bahkan begitu terhubung dan so connected sampai-sampai jika ada hal yang terjadi pada pasangannya, satu diantara yang lain akan merasakan ada yang salah, karena aliran energi mereka terhambat, ibaratnya pake bahasa engineering, energi mereka akan mengalami flicker (terputus-putus/tidak smooth).

Dan jika salah satu dari pasangan itu memiliki sumber energi baru, bisa orang lain atau hobby atau pekerjaan, aliran energi itu juga menjadi tidak stabil, dan believe me, karena ketidakseimbangan itu, hal yang sama akan terjadi: menimbulkan rasa lemas, lelah, lesu, bahkan kemarahan, kekesalan, peningkatan temperature tubuh, adrenalin, dan tekanan darah.

Dan parahnya, jika keduanya putus, dan salah satu dari mereka tidak mampu mengalihkan sumber energinya ke sumber lain, sementara sang sumber (mantan pasangannya) sudah memblok aliran energi dia, maka akan fatal akibatnya. Si lemah akan mengalami Psikosomasis phase (sakit pada fisik yang disebabkan karena sakit pada kejiwaan). Dan jika terjadi terus menerus, hebatnya bisa menyebabkan kematian.

Makanya gw nggak heran kalao Annelis Mellman nggak kuat dan akhirnya sakit-sakitan karena ditinggal Minke selama seminggu (Bumi manusia – Pramoedya). Atau contoh lain, for real, ada seorang istri yang akhirnya sakit dan menyusul suaminya yang baru meninggal karena merasa begitu mencintai suaminya dan tidak merasa kuat ditinggal oleh suaminya. I’ve been a witness for this kind of real stuff, several time.

Special relation seperti ini bisa juga terjadi pada hubungan anak dan orang tua, manusia dan binatang, ataupun manusia dan tumbuhan.

Ada beberapa tempat yang memiliki energi besar. Ciri-ciri tempat itu biasanya berada di dataran tinggi, udaranya lebih bersih, banyak pohon, dan pemandangannya terasa bening, jernih dan indah. Makanya nggak heran kalau kebanyakan tempat yang betul-betul sacred dan berpetuah berada di dataran tinggi. Atau sedikit contoh by experience, kalo abis ke puncak atau dataran tinggi yang indah, abis itu pasti kita ngerasa seger dan fully charged. Nah, makanya orang-orang cina seneeeeng banget bikin taman yang indah-indah, miara ikan mas koi, bikin gazebo ditengah taman, karena energinya melimpah. Energi yang melimpah bikin orang lebih jernih pikirannya, lebih tenang, lebih cermat membuat keputusan, dan lebih awet muda.

Nah balik lagi ke masalah gw. Gw merasa seumur hidup gw ini, gw ngga pernah punya energi source yang tetap, gw ini semacam nomaden (mungkin karena gw anak satu-satunya dan biasa hidup jauh dari orang tua juga). Untungnya buat gw, sebagai seseorang yang punya source energi banyak, adalah gw merasa cukup energi dalam kondisi apapun. Kalo sedih cepet bangkit, kalo patah hati cepet lupa, dan kalo dikecewain cepet pulih. Tapi entahlah saat ini gw merasa kosong, merasa sakit. Mungkin karena komunikasi gw sama Gusti Allah agak kurang smooth. Bukan karena gw jarang sholat. Barangkali lebih ke kualitas komunikasi gw yang agak kurang baik. Ada sedikit mosi tidak percaya dari gw kepada Gusti Allah karena sepertinya ada beberapa pertanyaan gw yang cuma dikasih tanda smile sebagai jawaban. And it just like annoys me a lot, because I cannot interpret that kind of answer.

Huff, well, I feel very angry by that time, but suddenly just yesterday, I felt that I have to change my life. I have to make an extreme turn-over from what I do now. But I don’t know how.

Apakah jawaban tanda smiley dari Gusti allah ingkang Dumadi? Make some extreme turn-over? Apakah artinya selama ini gw nggak cukup berani (baca: cukup energi) untuk melakukannya? Apa mungkin gw cuma minta tapi nggak menseriusi permintaan gw, sehingga Gusti allah Cuma kasih smiley?

Saat gw lagi bengong disamping kebon albesia dan kandang sapi om gw pas lebaran kemarin, gw menemukan ide gila untuk extreme turn-over itu. Gw tulis beberapa list gw itu satu per satu di hape canggih gw yang harganya ngalahin harga motor mio (belinya juga dipaksa sebenernya). Sebenernya listnya semuanya impossible, tapi gw meneriakkannya pada diri gw: HARUS DIWUJUDKAN, well minimal berusaha DILAKUKAN!!

Lalu timbul energi baru didalam dada gw, I have to do this, and right now, I have to do this with intention, dengan niat yang kuat. Gw harus meneriakkan keinginan gw ini semesta raya. I’ll let them know, I want to change my life into something. And better universe give me what I want, because I will do very hard on it.

——————————————————-

PS: Gw akan share di blog gw ini waktu demi waktu saat list itu satu-satu terkabul. Well mungkin akan ada yang meleset (God knows the best), but at least I have some goals. ^^ Ceumungud qaqa!
These are the wishes
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Farewell Pai Lian Bang


Per akhir Januari ini, gw positif pindah ke Jakarta tercinta kembali dan meninggalkan Palembang beserta es kacang merah, kueh 8 jam, sarikaya dan mpek-mpek lenggang kesayangan gw. Biasa deh, gw pindah karena (lagi-lagi) urusan kerjaan.

Gw, pada akhirnya, secara sadar, memutuskan untuk stop dari project ini. Kali ini, urusan menjaga kestabilan jiwa dan kewarasan otak betul-betul udah mengalahkan urusan slip gaji.

Masalahnya ngga sekompleks atau sesimple yang dibayangkan. Misalnya aja simple seperti cuma sekedar masalah, “ah projectnya ribet, males ah”. Oh believe me, I won’t quit because of that. Karena gw hobby banget ngelurusin benang kusut.

Atau alasan gw berhenti bukan juga karena problem yang demikian kompleksnya, seperti contoh adanya beberapa task force besar dengan target deadline sama dan semua dilakukan sekarang juga tanpa trial error atau exercise dulu. Itu tantangan buat gw, dan gw suka tantangan. Jadi ngga mungkin gw berhenti karena itu.

Dan di project gw sekarang, boss gw lose communication dengan gw, dalam artian, kami berjalan pada misi dan visi yang berbeda. Dia pada misinya mendelivery project dengan lempeng dot kom, dimana tanpa dia sadari di kanan dan kirinya, semua orang teamnya bergelimpangan, gugur di medan perang. Walaupun pada akhirnya misal, dia masuk dalam target delivery yang telah ditetapkan, but at that final victory line: he’s alone, coz all his men are dead already.

Bukan berarti gw ngga berorientasi pada delivery project. Itu tujuan utama gw. Tapi, believe me, manage orang itu ngga kayak sepotong kueh (piece a cake). Disatu sisi lo harus deeply understand about technical, maintain quality delivery lo, while disisi lain, lo juga harus mikirin kesejahteraan anak-anak buah lo. They can be paid less than us, but they don’t deserve being happy and comfortable with the war zone LESS than us.

Well, bertahun-tahun gw kerja, gw amati, ternyata gw selalu betah alias stay long term di suatu perusahaan cuma karena urusan komunikasi yang lancar sama atasan. Dan disini, gw nggak dapet trust itu dari boss gw sendiri. Lo bayangin, setiap kali lo mencoba berkomunikasi sama dia, hasilnya selalu: failed.

Kalimat-kalimat negatif itu selalu dilontarkan ke gw, as I always reviewing what the hell happened with myself that he hated me so much, I began to wondering, it is he who had problem with how to communicate with people. Yah memang garis merahnya adalah, adalah sangat menantang saat lo mencoba berkomunikasi sama orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi.

Gw ngga bermaksut rasis, boss gw ini Indiahe. Totally ass-licker and seperti kata senior kampus gw yang juga kerja di project yang sama (tapi beda region) “your boss, that guy, should go home to Mumbai and play some movie. He’s not suitable here.” Ya itulah, everybody can be a boss, but hell yeah, not everybody can be a leader.

Dulu gw punya boss namanya Ricky, galak dan judesnya minta ampun, tapi baiknya juga minta ampun. Dia bisa bilang “I will kill you!!” Ke gw, tanpa gw merasa terintimidasi. Instruction dari dia jelas, dan otomatis delivery gw juga jelas. Komunikasi kami terjalin harmonis dua arah. He listened to my problem, and also I listened to his instructions very well as feedback. Seperti kata dia waktu itu: “In a rush and competitive match, if you want to know how to play a good ball, you have to know how to get the ball, and pass it to your team.” Ya of course kalo nggak, kita bakal kalah.

Banyak kata-kata mutiara Ricky yang gw jadiin panduan gw untuk nge-lead beberapa project gw belakangan ini. Well, as far as I know, the target always been achieved. Semua user gw satisfied ama gw. Gw pun masih suka skype-an sama si Ricky Kwok ini.

Setelah itu, gw juga punya boss yang lain. Namanya mas Klentheng. Well, gw manggil dia mas ya emang dia udah kayak kakak gw sendiri. Dia senior di kampus, temen maen juga, temen diskusi, eh tak dienyana (halah) tau-tau gw ngikut kerja ama dia.

Mas Klentheng ini orangnya stright forward. Dibahasakan kembali sama dia: sharp-tongue. Walaupun sumpah dah dia ini ya, udah galak, judes, suka teriak-teriak dan kadang suka ngga jelas (abis marah trus nyanyi-nyanyi), dia itu leader sejati. Visi misinya jelas, konsepnya padat. Dan orangnya sangat simple. Kalimat dari dia yang paling gw inget adalah: “Gw tau banyak orang yang nggak suka ama gw, tapi kan gw nggak bisa entertain semua orang. Jadi ya gw deliver apa yang bisa gw deliver.” Hm, kalimat itu menohok gw yang sejatinya ingin memuaskan semua orang.

Mas Klentheng ini juga open (e dibaca seperti pada kata jahe, open ini bahasa jawa, artinya kurang lebih: care) sama anak buah. Karena dibalik apatisme dia sama tekanan kerjaan, dia itu orangnya nggak tegaan. Dia selalu punya jalan keluar yang “win win solution”-lah intinya. Sampe sekarang, walaupun udah nggak satu perusahaan, gw masih suka BBMan nanya nana nini sama dia.

All project is tough, and it is our obligation and our challange to finish it. But we have to be supported by our superordinate. Our boss. Kalo nggak ya kayak gw, mati gaya, mati kutu, mati skak (skak mat – halah). Oleh karenanya, if you wanna be a good leader, you must have high capability to communicate with your subordinate. Other ways, you’ll loose, either loose the project, or loosing your good man. Sayang kalo suatu project kehilangan orang-orang talented cuma karena bossnya begok. Semoga gw nggak setolol itu waktu gw jadi leader. Well, people, please, just try your best for being a good leader, not only a good boss. Pahalanya Insya Allah gede.[]

Posted in Cerita Gw, Telco Industry | Leave a comment

Flying Bayu


Kehilangan keluarga yang sangat kita sayangi ternyata rasanya perih sekali. Gw pernah kehilangan kakek, nenek, om, pakde, ponakan, dll. Tapi rasanya ngga seperih kehilangan Bayu.

Gw kehilangan Bayu, sepupu gw yang paling gw sayangi, beberapa bulan lalu. Bayu dipanggil keharibaan Tuhan Yang Maha Welas Asih karena penyakit kronisnya yang baru diketahui 6 bulan sebelum hari kematiannya.

Rasanya saat inipun gw masih merasa dia baik-baik aja. Karena otak gw masih memvisualisasikan kondisi Bayu seperti kondisi terakhir kali gw ngeliat dia: Sehat, ceria, penuh tawa dan keriangan. Gw masih inget kok, terakhir kali kami chat adalah sewaktu dia nanya kabar gw yang lagi sakit. Waktu itu gw masuk UGD gara-gara masalah perut, lambung dan sekitarnya.

“Gw ngga puasa kok sebulan ini, rum. Gw masih konsumsi obat juga kan. Jadi soal itung-itungan puasa, lo ngga perlu ngerasa defeated. Paling nggak, lo masih ada puasanya dikit lah, walau cuma 6 hari..”

Itu kalimat terakhir Bayu di chat. Sampe akhirnya dia harus masuk RS untuk yang terakhir kalinya dan nggak ketemu gw lagi. Ngga chattingan sama gw lagi untuk selamanya.

Saat dikabari kondisinya yang semakin kritis, gw seperti hampa. Ada mosi tidak percaya yang pingin gw ungkapkan secara keras kepada orang-orang pembawa berita itu. Gw jadi sangat emosional saat gw tau semua orang tampak udah hilang harapan ke Bayu. Gw benci sikap semua orang yang kayak gitu. Betul-betul benci!

“Bayu is fine! He’s going to be allright!!” Kata gw setengah teriak pada gagang ponsel. Diujung sana adalah mbak Dian, kakak kandung Bayu, yang juga punya hubungan yang dekat dengan gw (Well, kami bertiga mostly dari SD sampai SMP menghabiskan tiap weekend bersama, never aparted).

“….”. Gw nggak denger jawaban apa-apa kecuali isakan tangis mbak Dian. Gw berusaha menajamkan pendengaran gw sekali lagi. “Rum, ikhlasin Bayu ya, rum.. Dia manggil-manggil lo terus. Gw harap lo bisa ikhlas.. Tolong jangan bebanin Bayu.. Kasian..”

Seketika itu gw lunglai. Begitu banyak mimpi gw dan Bayu yang belum direalisasikan. Awalnya gw memaksa. Sungguh dalam hati, gw memaksa agar Bayu mampu kuat bertahan sampai gw pulang. Tapi takdir berkehendak lain. He’s gone before I can stare his bold and black eyes. Alive.

Di rumah duka, gw benci tatapan orang-orang itu, yang memandangi gw dengan tatapan iba. Gw yakin saat itu wajah gw sekaku manekin toko. Dingin, palsu dan kaku.

Gw nggak percaya. Bayu is like my own sibling. He’s my little brother that I never had. Gw masih nggak percaya. Gw kunyah geraham gw sendiri. Gw genggam jemari gw rapat-rapat.

“I have to face this!” Bathin gw.

Sampe akhirnya tepat sebelum gw sampai di ruang tamu tempat Bayu telah terbujur kaku dan terbalut kain kafan putih, mata gw terbentur oleh sosok mirip Bayu, dia menghalangi jalan gw, berperawakan lebih gendut, beruban, serta memandangi gw lembut lewat tatapan teduhnya.

Gw memandangi pakde gw itu tanpa ekspresi, beliau ayahnya Bayu. Pakde gw tau seberapa dekat gw sama Bayu, serta seberapa gila mimpi-mimpi yang ingin gw dan Bayu wujudkan sama-sama. Langkah gw terhenti. Mata gw panas. Dada gw terasa sempit dan sakit.

Saat itu gw pengen bilang sama Pakde gw, “Semua ini mimpi kan, Pakde? Aku cuma dikerjain aja kan sama kalian??”. Tapi ngga ada satupun kata keluar.

Diujung sana, Pakde gw tersenyum, ngga ada air mata dipipinya. Pakde gw tau semua galau yang berkecamuk di dada gw. Marah, perih, sesak, penat, dan hampir pecah. At the contrary, wajah pakde gw bersih dan tenang sekali. Beliau berjalan pelan ke arah gw. Dan seketika itupun tanpa sadar gw histeris dipelukan Pakde gw.

————————-

Selalu ada yang nyeri saat gw memandangi jingga langit diatas pesawat. Entahlah, semenjak kepergian bayu, gw selalu memilih terbang saat langit berwarna jingga: sebelum maghrib, ataupun setelah subuh.

Bayu menjelma jingga buat gw. Diatas ketinggian ini, gw merasa lebih dekat sama Bayu. Hampir 3 bulan sejak kematian Bayu, gw belum bisa mengontrol emosi dan air mata gw saat bertemu jingga. Ah, rasa kehilangan tak pernah berubah. Warnanya masih sama. Jingga.

Beberapa tahun belakangan, gw n Bayu punya hobi sama, fotografi. Kami kemana-mana nggak pernah lupa bawa kamera. He’s on his Nikon, and I’m on my Canon. Once, Bayu pernah meminta gw ganti pakai Nikon, alasannya sederhana, supaya gw bisa ngajarin dia. Gw berjanji, tapi janji itu belum kesampaian.

I miss him lately. I always remembered him on every click that I made on my camera. Every shutter that shreded. Every clutch that I step. Every dawn, every twillight, every golden hours that I see. It reminds me of him. Gw merasakan nyeri yang amat sangat setiap kali gw menyentuh kamera gw.

God, I miss him.

But I know, Allah sayang sama gw, Keabsenan gw disaat terakhir Bayu mungkin dimaksutkan agar gw mengingat Bayu seperti kondisi terakhir yang gw lihat: ceria, sehat dan nggak sakit. Allah tau, mungkin hati gw terlalu fragile untuk ngeliat perjuangan terakhir Bayu.

Gw tau persis, Allah sayaaaaang juga sama Bayu. Makanya semua penderitaan dia ini dihentikan lewat cara seperti ini. Ini memang jalan paling baik buat semua. Dan Insya Allah, gw ikhlas.[]

Lord, plese keep him safe in your brace. Please tell him, that I’m sorry that I can’t be there by the time he needed me and called my name. Please tell him, that I love him and I miss him.
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Kota 3 Warna


Saat ini gw tinggal di kota Palembang. Kota dengan jumlah penduduk terpadat dan tingkat kriminalitas paling tinggi se-NKRI. Well a bit scary awalnya, tapi ternyata tawaran angka pada slip gaji memang sakti dan bisa mengalahkan ketakutan jenis apapun. Hahahaha.

Untungnya (sebagai orang jawa emang selalu adaaaa aja kata: untungnya), di kota ini gw ketemu temen SMA gw, panggil aja Flo. Dan satu orang lagi kawan Flo, namanya Dinda, perempuan lucu ini sering kami panggil “adeknya” karena emang Dinda paling kecil diantara kami bertiga.

Demi misi: nyari temen atau minta ditemenin, gw memutuskan untuk pindah kost ke tempat kost Flo dan Dinda. Dan memang betul, kesempatan untuk menggila bersama-sama terpampang lebar.

Kami bertiga termasuk wanita-wanita pekerja keras teladan. Flo ngurusin pembangunan tower, Dinda kerja sebagai marketing di perusahaan Jepang, dan gw? Kerjaan gw apa ya? Hahaha.. Kerjaan gw ya merhatiin gerak-gerik Flo dan Dinda.

Kalo soal kerjaan, peringkat nomor 1 dipegang oleh Flo, gw nyebut dia: maniak lembur. Karena at weekdays, Flo mirip bencong taman lawang, berangkat pagi, pulang juga pagi. Setiap hari tanpa absent. Menurut keterangan Flo, dia ngejar lemburan karena dia suka banget belanja. Jadi kalo kerja ngga pake lembur, hobi dia itu bakal nggak tersalurkan. Karenanya lah, gw kesulitan cari temen main badminton saat weekend (sabtu pagi mulai jam 05:00 sampai 13:00 adalah jadwal Flo molor tanpa gangguan).

Peringkat nomor 2 dipegang Dinda. Jam pulang kerja Dinda agak lumayan sore. Yah antara jam 7 malem sampe jam 9 malem lah. Itu pun gw selalu tau kalo dia pulang karena dia pasti mampir ke kamar gw yang mirip-mirip pelabuhan transit sangking strategisnya. Setiap kali gw buka pintu, selalu ada hal baru yang dibawa Dinda, kadang bikin gw terkaget-kaget, kadang bikin gw malah ngakak kegirangan. “Mbak, tadi mobil gw nolongin orang kecelakaan! Berdarah-darah!”. “Mbak, tadi gw berantem ama orang Palembang!”. “Mbak, tadi ada penjarahan!”. “Mbak, gimana kabar mas Bimo? Cieee..”. “Mbak, kayaknya gw mau gila deh!”. “Mbaaak, kerjaan gw mbaaak!!!!”. Dan masih banyak lagi cerita-cerita Dinda. Sama aja kayak Flo, karena hari Sabtu Dinda kerja setengah hari, gw kesulitan ngajak dia main badminton saat weekend.

Peringkat ke 3, ya jelas gw, siapa lagi? Kerjaan gw cuma dua: eksperimen sama bales imel boss gw. Gw pegang area satu sumbagselbabel untuk maintain sinyal 2G-3G salah satu operator baru nekat Indonesia. Gw nyebut gitu karena emang project ini disebut The Titan Project alias project para dewa. Kerusuhan terus setiap hari, karena area gw pegang 40% total revenue dari si Operator dengan logo angka 3 ini. Hahahaha. Tapi lha ya kok aneh, setiap hari gw masih bisa pulang jam 5 sore, trus sabtu minggu gw libur total. Kalaupun gw dicaci maki, difak-fakin boss, ya gw masih bisa ketawa ketiwi bahagia. Konsep kebahagian gw cuma satu, kalau sedih dan merasa duka lara, lihatlah slip gaji. Dijamin gw semangat 45 lagi. Hahahaha.

Gw, Flo dan Lola sering menggila menghabiskan waktu dikala wiken dengan cara berbeda. Jarang kami menghabiskan waktu bertiga. Kadang cuma gw sama Flo, kadang cuma gw dan Dinda. Kalaupun kami menghabiskan waktu bertiga, gw rasa Palembang bisa kerusuhan, karena we can talk about so many things in hours and the only thing can stop is: Flo atau Dinda kehabisan rokok.

Kami bertiga sering banget punya ide gila tanpa terkendali. Misalnya aja, tiba-tiba pada suatu sabtu siang, Dinda gedor-gedor kamar gw sambil bilang: “mbakkk!!! Gw streeeessss!! Gw mau liburan, ni kunci mobil, terserah elu deh mau bawa gw kemana, yang pasti gw harus keluar Palembang!!!!”. Setelah secara spontan melempar kunci mobil ke arah gw (lebih tepatnya: ke muka gw), Dinda melemparkan dirinya ke tempat tidur gw yang serapih tempat tidur hotel.

Gw cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala ngeliat Dinda menangkubkan mukanya ke bantal-bantal itu lalu berakting pura-pura mati. Dinda udah kayak adek gw sendiri. Setelah itu seperti ritual umumnya, gw telpon dan mengajak serta Flo dan tau-tau kami bertiga sudah sampai Lampung, kadang Bengkulu, Lahat, Muara enim, atau cuma sampai Prabumulih.

Kadang kalo Dinda sibuk, gw muter-muter berdua sama Flo ke Mall. Flo hobby banget ke Mall, dan gw dipaksa untuk nemenin dia. Karena gw tau, kalaupun Dinda idle, Flo ngga akan mampu maksa Dinda turut serta, karena Dinda antipati sama Mall. Sedangkan gw, gw ngga pernah antipati sama siapapun kecuali boss gw si Ankit, dan semua cowok bajingan yang suka nipu dan nyepikin cewek-cewek lugu kayak gw. Hehehehe.

Biasanya kalo jalan-jalan sama Flo itu endingnya pasti setak di cafe atau restoran nggak jelas, lalu diskusi hal-hal yang sifatnya ngulik sejarah dan budaya. Lalu diskusinya agak mirip demo didepan kantor lurah dengan skala kecil, soalnya Flo kalo cerita suka agak-agak sambil gebrak meja dan teriak-teriak karena ngga setuju sama beberapa policy pemerintah. Kadang diskusi kami juga agak mirip rapat PKI akibat kebul asap rokok Flo yang tanpa henti.

Beda lagi kalau gw ngobrol sama Dinda. Obrolan Dinda lebih ringan dan bebas kerutan (pada dahi). Yang Dinda bahas lebih ke kondisi real pada lapangan untuk daerah Palembang dan sekitarnya. Karakter orang native Palembang emang kadang suka bikin kami terpingkal-pingkal geli ataupun bikin kami marah bukan main terutama untuk hal berlalu-lintas dijalan raya. Sampai si Bimo kalo pengen nyetir serabutan, sering banget bilang: “Kela kela.. Di-Palembang-keun we lah..” (Bentar, kita pake cara Palembang aja..). Hahahaha.

Mereka-lah keluarga gw di Palembang. Dan mereka adalah satu dari dua hal yang bikin gw betah tinggal di Palembang (yang pertama pasti hahahaha slip gaji tadi. Hahahaha.)

Well, ternyata tinggal di Palembang nggak selamanya madesu dan miserable seperti kata orang-orang. Malah gw ngerasa hidup gw berwarna banget disini. Yah semoga aja gw betah terus deh ya.[]

Ditulis pada ketinggian 3500 kaki diatas permukaan laut.
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Pria dan Puisi


“Jane, where are you?”

Membaca message dari lelaki itu di ponsel gw, detak di dada ini spontan terasa dialiri aliran listrik 15 juta Kilovolt. Suddenly stop beating, I feel very light and loose and I felt that there’s million sparkles around.

This man, sebut saja Bimo, has been so delicate, sympathetic, loyal, caring, untutored, gentle, and I am.. in love with him.

He’s the man I am looking for. Totally, head to toe.

Senyum-senyum girang, gw mereply message dari dia: “Gw lagi di kosan bim, biasa lagi ngitung kancing, buat siapa yang bakal traktir gw dinner malem ini”

Ngga lama ponsel gw kembali berbunyi: “kalo gitu gw aja yang traktir. Mau gw jemput atau.. Lo jemput gw?”

OMG. Another heart attack! He’s in town!

Gw berasa heng selama 10 menitan. Sambil berusaha mengumpulkan segenap jiwa raga gw yang tersisa, gw senam pernafasan sebentar, huffffttt. “Errrttt, Earth is calling Jane, errrtttt.. Please get back to earth.. Errrt, where the hell are you, Jane?!”. Gw pikir gw udah gilak. But it did happen. Gw beneran Heng!

I run crazily inside kostan gw sendiri! Padahal sempit lho kamar gw. Chaotic banget lah pokoknya. Bingung mau mandi apa nggak, mau pake minyak wangi yang kebuah-buahan atau yang keseksi-seksian, make warna alis coklat atau item, make kebaya kartini atau jeans+kaos aja, Ah I am too.. HAPPY!!

——————————

Sambil mengetuk-ngetukan jemari gw ke setir mobil, gw nunggu Bimo dideket tempat dia nginep. Rasanya resah. Kayak balon yang hampir pecah.

Gw bolak-balik nelen ludah sambil ngeliat kaca spion. Damn, it feels like forever for waiting him like this. Where is he? Is he okay? Does he know the road for getting to this parking lot? Is he really here? Is he still remember my car?

I can’t control my self. I’m too falling for this guy. It’s been a while for I never met this kind of guy anymore, after Bilven, after I lost my Bilven.

Dan gw akhirnya melihat siluetnya dari jauh. Still the same. Same old Bimo. Tinggi, Kurus, Ceking, dengan bahunya yang panjang dan lebar. Just wearing simple T-shirt and jeans. Of course, masih sama, megang rokok ditangan kiri. Yep, dia kidal.

Bimo mengetuk kaca jendela gw, “tuk-tuk”. Gw melirik sekilas. Pura-pura acuh. Kacamata Rayban Bimo, yang juga jadi kesayangan gw, tepat menempel dikaca dari sisi lainnya. Gw tersenyum sambil membuka kaca perlahan, “Lama nian, Tuan?”.

Bimo cuma tersenyum, menghisap rokoknya sekali, lalu membuangnya entah kemana. Dia memberi isyarat agar gw pindah dari posisi gw duduk. He’s taking the wheels.

——————————

Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya adalah seni. Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang keramat, yang luhur, well.. segala yang indah dalam hidup ini buat gw adalah puisi.

Persis seperti Bimo. Bagi gw, dia adalah puisi. Dia seperti kata indah yang mendebarkan jiwa. Dia bak rima kalimat yang mampu melangutkan rasa.

Dia indah. Dia penjarah. Penjarah hati gua.

—————————–

Gw ketemu Bimo secara nggak sengaja di kota yang berbeda. Bimo tinggal di kota berbeda itu, sedangkan gw tinggal di kota lain yang jaraknya kurang lebih 8 jam via nyetir jalan darat. Biasalah, gw kenal Bimo karena ternyata dia adalah temennya temen gw. Setelah kenal lumayan akrab, kami kerap saling mengunjugi satu sama lain.

At first, I’m not paying so much attention to him. He’s just like ordinary guys with no special sparkle. Even Bimo betul-betul jadi makhluk extrateresterial (ET) buat gw. Until that day. The day that I have to be in his car for hours, stuck with him, only him. And we both did everything to kill the boredom.

We’re talking about politics, jokes, interests, hobby, routine activity, work, about shores and mountains. Listening U2 together for hours. Ugh, Gw menemukan orang yang betul-betul mampu berdialog dengan gw. Both way. Perfectly.

There are lots of ways to appreciate something. Can be appearance, can be substance. Bagi gw isi dibalik krempengisme si Bimo adalah poetic. I fall for his substance. As we drifted to another place in time, this feeling of mine was so heady and sublime, I lost my heart to him.

Hari itu, Bimo juga cerita soal love lifenya dia. He is enggaged with a girl. And he loves her very much. They will get married next year. Pertamanya gw merasa kecewa. Tapi gw pikir, toh selama ini gw emang selalu jatuh cinta sama orang yang salah kok, makanya gw nggak ambil pusing. Gw nggak mengharapkan Bimo ngawinin gw jugak kan? Lagian, Siapa gw? Hahaha..

Bagi gw, kebersamaan gw dengan dia, udah lebih dari cukup. Now I know it ain’t easy, I know it’s damn near impossible to find a good man as he is. He, who ain’t gonna leave his fiance for me, or looking at a lifetime of being alone.

I never wanted to have walked blindly into a situation that I did not anticipate. So I am anticipating the things. I promise my self to manage my own heart well. Gw nggak mungkin ngerebut Bimo dari si Fiance tadi. I have to make it bold to myself that good people wont steal things belong to others.

Bimo bagi gw adalah laki-laki bebas. Dia bisa menentukan langkah dan tujuan hidupnya dan dia konsisten dan persistent terhadap hal yang dia pilih. Ketabahannya itu yang bikin gw jatuh cinta sama dia.

Dia bisa saklek sekaligus fleksibel dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa basah dan kering dalam waktu yang bersamaan. Dia bisa jadi santa sekaligus jadi pit hitam berbarengan. Dia mampu menjadi tiada dalam suatu keadaan. Dualisme yang dia miliki bukan merupakan suatu ke’plin-plan’an buat gw, melainkan suatu hal yang sangat extra-ordinary dan poetic.

—————————–

“Jane, U2 mau manggung di Bali..” katanya singkat.

“O really?” Jawab gw surprised.

Gw tatap matanya lekat-lekat. Ada ketenangan yang gw temukan disana. Bimo tertawa. Ada emosi yang tertanam juga disana.

“Jane, will you come to my wedding..?” katanya singkat.

“If only you’ve requested it..” Jawab gw tenang.

Bimo mungkin tau tentang segala rasa yang berkibar di dada gua. Rasa itu terasa transparant sekali. But we both know, it’s impossible to continue our relationship to futher step. We both know it’s forbidden.

Malam itu, safely, gw anter dia ke tempat dia nginep. He say take care and good bye like usual. And I just.. Just too falling for him that I want to hug and keep him for real, forever in my heart.

Diiringi Electrical Storm-nya U2, gw balik ke kosan. Rasanya lega sekali. It’s been a while gw nggak merasa jatuh cinta seperti ini.

Have you ever thought that you love a man so much that you will not be at peace until you see him? On the contrary, your sanity and sober mind take place. They keep telling you that actually it’s possible for you to make he loves you and no other can do that or should do that.

Ya ampun, it feels so complicated. Comme il fault, as it should be. Complicated.

“Innallaha ma ‘ashshabirin, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Bathin gw sambil mengurut dada. Ya Allah, ada dua orang nggak ya, yang kayak Bimo? Kalau bisa yang idle ya? Aku mohon, ya Allah. Dan gw tertidur sambil tersenyum setelahnya.[]

If you want to ease the pain, you can lean from me, my love will still remain..

Posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta, Cerita Gw | Leave a comment

Tentang Ketenangan Hati


Baru aja, gw ngga sengaja donlot pilm bagus. Judulnya Five Minarets in New York (2010). Film besutan sutradara asal Turki, Mahsun Kirmizigül, yang juga penulis naskah beserta ikut juga jadi pemain inti (waw, sok eksis banget yaaaa ikut semua-mua..). Film ini berhasil bikin gw termehek-mehek berurai air mata. (Gw semakin yakin bahwa Tuhan betul-betul punya cara mengajar dan selera humor yang luar biasa tinggi.)

Di film ini, ada salah satu pemeran imigran asal Turki bernama Hadji Gumus yang dituduh teroris. laki-laki ini digambarkan sebagai seorang muslim yang taat. Takut akan aturan Allah, pasrah dan ikhlas akan segala keadaan yang menimpa dirinya. Dia juga bijak, sekaligus mampu memenuhi misi dari Rasulullah untuk nggak hanya sekedar menghafal-hafal Islam dan mengagung-agungkannya dalam balutan simbol religiusitas semata, melainkan menggunakannya dan mengaplikasikannya dalam seluruh kehidupan dia, dalam upayanya menyempurnakan akhlak sebagai manusia.

Selain digambarkan sebagai seorang muslim yang taat, Hadji Gumus yang dituduh teroris ini, memiliki Istri yang bukan muslim. Dileher istrinya tergantung kalung berliontin simbol salib. Sang Istripun selalu membawa rosario kemanapun dia pergi.

Salah satu dialog menarik saat Hadji Gumus ditanya oleh salah satu detektif tentang Istrinya yang seorang penganut Christian. Katanya: “Tuhan itu satu. Dan betapapun kita berbeda satu sama lain, kita selalu punya kecenderungan untuk mencari dan mendekatkan diri kepada-Nya.”

Ada adegan lain juga yang menarik. Adegan dimana pada akhirnya si Hadji Gumus ini dibebaskan karena teroris yang sesungguhnya ketangkep. Nah di hadji gumus sama nih om-om teroris ada di sel, tapi terpisah sebelah-sebelahan. Si Hadji Gumus ini ngasih salam duluan ke terorisnya, “Assalamualaikum” katanya.

Nggak lama boss polisinya masuk ke sel, marah-marah sama si terorisnya, ini gw kasih dialognya deh ya, biar gampang:

Boss polisi: “You cold-blooded bastard! Tell me who you’re working for. Who’s giving you orders?!”

Teroris: “I take my orders from Allah. I’m waging holy war on the path of Allah.”

Boss polisi: “What part of holy war is for kidnapping and robbing Muslims, burying them alive, also cutting off their heads, you piece of shit!!”

(soalnya ada seorang polisi yang disembeleh sama si teroris ini, trus videonya dikirim ke kantor polisi Turki gitu deh diplot ceritanya. Asusmsi gw, polisi yang digorok tadi juga muslim, makanya boss polisinya ngomong gitu.)

Teroris: “Qur’an instructs us to do battle until everyone is a muslim. The prophet Muhammad fought the enemies of Allah until his dying breath. And we’ll do the same.”

(tiba-tiba Hadji Gumus motong pembicaraan mereka secara halus. Lembuuut banget ngomongnya, pelan, nggak teriak-teriak and keliatan angkuh kaya si mbah teroris.)

Hadji Gumus: Allah instructed the Prophet to use persuasion and wisdom to spread God’s word. Jihad is simply an invitation to tread the path of God while seeking the truth. When attacked by enemies, our prophet defended his life, his property, and his honor. In his 23 years as prophet, he fought only for two months. May God forgive our sins.”

(Trus boss polisi dan anak buahnya merasa bersalah gitu udah nuduh Hadji Gumus)

Boss Polisi: “I’m so sorry, Hadji. I apologize personally and on behalf of the police force. We made a terrible mistake.”

Hadji Gumus: “It’s God’s will.”

Gila ya, beneran deh, keliatan sekali orang yang Akhlaknya mulia, selalu sabar, penuh kasih dan kelembutan. Kapan ya gw bisa kaya gitu. Subhanallah.

Agama itu, bagi sebagian orang, ada yang diaplikasikan ada yang cuma dihafalkan. Islam itu simple sebenarnya. Rukun iman, rukun islam, cukup. Lalu kita kembali ke nurani kita. Kita akan menjadi Muslim sejati jika moralnya bagus, dan akhlaknya juga bagus.

Kata bokap gw: “Janganlah kamu sholat dalam keadaan mabuk. Sehingga kamu mengetahui apa yang kamu ucapkan. Makanya nduk, sholat itu harus KHUSU’. Khusyu’ itu berarti kamu betul-betul menyadari apa yang kamu ucapkan dan apa yang kamu lakukan. Sehingga kamu meyakini, takut, dan mentaati peraturan Allah SWT. Jadi, walaupun ritual sholat sudah selesai, kamu senantiasa tetap akan ‘sholat’ dimanapun. Karena sejatinya, kamu akan tetap mengingat Allah, bagaimanapun, dan kapanpun kamu berjalan dan tersebar dipermukaan bumi.”

kembali kepada film Turki tadi. Hadji Gumus dan segala akhlak yang dimilikinya. Begitu penuh kesabaran, cinta kasih, dan sangat menghormati perbedaan-perbedaan. Jadi memang sebenarnya kita perlu hening untuk mengetahui maslah yang sebenarnya. Andai aja semua orang kaya dia, gw jamin ngga mungkin ada perang. Mau perang salib, mau perang badar, mau perang di Libya atau Iraq. Nggak mungkin ada.

Saat ini, para Ulama menjebak kita dalam urusan-urusan seputar pahala dan dosa. Itu yang sudah menjadi ‘tuhan’ baru kita. Dan rupanya nggak hanya sekedar dosa dan pahala yang dipikirkan orang-orang. Tapi juga sibuk ngurusin pahala dan dosa orang lain. Jadi, kalo ada yang beda dikit, masjidnya dibakar. Ada yang nggak sama persis, dianggap darahnya halal untuk ditumpahkan. menyedihkan!

Itu sih namanya ya, pelajaran akhlak sama kontrol nafsu jelas kalah total. Yang punya neraka dijamin seneng banget, visitornya nambah.

Ilmu itu bagaikan seorang perempuan : lembut, menyenangkan, dan mencukupi hidup kita. Jadi sifatnya ilmu itu lembut, seperti sifatnya Allah: Maha Lembut. Makanya kita disuruh ‘IQRAA’, membaca, mengamati, niteni kalau dalam bahasa jawa. Ilmu titen atau ilmu ‘iqraa’ itu memang luar biasa. Kalo ngga percaya, ngga tau gimana caranya, 
pasti akan kita temukan patterns of God’s behavior dalam hidup kita. Misalnya aja gini: “Oh, gw ini dapet rejeki biasanya karena gini, dan karena gitu.” dll, dsb, dkk, etc.

Nah! Membaca atau mengamati hal-hal yang terjadi disekitar kita itu tadi lah yang nomor satu, bukan membaca secara literal, melainkan membaca fakta-fakta yang ada di alam. Inilah intisari dari perintah ‘Iqraa’.

Orang yang mengenal dirinya, secara otomatis ia akan tahu bagaimana memperlakukan diri sendiri dan bagaimana harus bersikap terhadap hal-hal yang ada disekitarnya dengan cara memaksimalkan potensi dan keunikan yang ia miliki sebagai anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan.

Dan di dunia, orang seperti ini akan merasa tentram, sebab ia intim dengan alam, juga dengan Tuhannya. Meskipun sedang dirundung kebingungan dan kesedihan atau penderitaan, seperti si hadji yang dituduh teroris tadi, orang itu harus tetap tenang, sebab yang disukai Tuhan adalah jiwa yang tenang (nafsun muthmainah). Ingat, Allah telah berkali-kali menagihmu untuk berpikir, karena akalmu adalah wakil otoritasmu dalam menjalani hidup. Afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun.

Islam itu letaknya di dapur, yang disuguhkan di meja makan adalah output-nya, kebaikannya. Seperti kata pak ustadz dipengajian: Orang yang belum mendalam butuh MULUT untuk memuji Allah, sedangkan yang sudah mendalam, detak jantungnya pun sudah memuji Allah. Masya Allah. yuk ah sekarang kita mulai memperbaiki akhlak kita sedikit-sedikit. Sayangi sesama, dan bantu orang yang kesulitan tanpa membedakan jurang perbedaan yang terbentang ataupun yang tidak terbentang. Mari hidup menebar benih kebaikan dan cinta kasih untuk sesama. Dan rasakan bedanya.[]

Posted in Cerita Gw, Nasihat Bokap | Leave a comment

REFRESH!


Huff.. finally gw mengumpulkan semua energi gw untuk nulis lagi. Well, selama ini gw nggak berhenti nulis sih. Masih twitteran, masih fesbukan, masih suka nyoret-nyoret kertas kosong, masih melakukan rutinitas kayak biasa.

Bedanya mungkin sekarang gw lagi suka main cityville. Dan problemnya, kalo udah ngegame Cityville ini, suka lupa. Perasaan baru kedip sebentar, tau tau udah 3 hari. Demikian seterusnya.

Kerjaan juga nambah sih. Skup kerja makin banyak, area yang di handle makin luas. Persoalan tentunya makin berlipat ganda juga. Pada nebak gw jadi boss ya? Nggak, biasa aja. Masih sama konteksnya seperti dulu-dulu: berangkat gelap, pulang gelap, nggak kaya-kaya. Atau kata temen gw yang orang batak, kami ini adalah PNS golongan P12. PNS untuk Pegawai Ngeri Sekali karena kerja dengan pangkat jabatan: P12 (Pergi Pagi Pagi, Pulang Petang Petang, Penghasilan Pas Pasan, Potong Pinjaman… Pingsan).

But I am happy, finally have the courage to write again after this past whole years.

Semoga bisa share hal-hal baru dan aneh lagi kedepannya. SEMANGAAAAAAT!.[]

Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Ujian Tentang Kesombongan

Pada suatu hari, di sebuah antrian di Bandara Internasional, gw menemukan seorang ibu ibu pengusaha kaya (sepertinya begitu coz gw pernah liat jaketnya, berharga sekitar 2500 USD!! Beruntunglah gw suka windows shopping di mall-mall mahal, jadi ngerti, tapi nggak beli :p hahaha).

Ibu-ibu tadi mencak-mencak nggak karu-karuan gara-gara antriannya diselak oleh salah seorang buruh migran asal negara kita tercinta.

“Heh! Pada tau aturan nggak sih? Nggak di Negara sendiri nggak di Negara orang, kelakuan masih pada sama aja, kampungan! Antri dong!”

Buruh migran yang diteriaki sempat kaget tapi malah sehabis itu cekikikan nggak jelas bersama kawan-kawan se-gank mereka. Otomatis ibu-ibu kaya tadi tambah naik darah karena teriakannya nggak digubris. Hingga akhirnya ibu-ibu itu melaporkannya pada petugas bandara.

Gw nggak mau nerusin cerita tadi akhirnya gimana, yang jelas gw sebenernya ikut sebel ama kelakuan mbak-mbak pahlawan devisa kita itu. Memang pada hakekatnya, gw nggak suka orang yang nggak stick to the rules. Tapi disisi lain bathin gw, gw kok ngerasa kasihan, dan sepertinya ada yang ngganjel, ada yang nggak bener.

But I don’t know why.

Beberapa waktu kemudian, kejadian yang mirip terjadi kembali saat gw ngantri beli karcis kereta di salah satu stasiun elit di daerah Sudirman. Bedanya, kali ini penyelaknya adalah seorang pekerja kantoran yang tampaknya sangat-sangat terpelajar dan tau aturan-aturan dasar tentang bagaimana MENGANTRI TIKETyang baik. But what the hell, dia tetap nyelak antrian dengan cuek, walaupun orang-orang meneriaki dia:

“weeeh antri dong, mas!!! Ngga aturan banget sih?!?!?!”.

Tetapi tetap, rasanya ada yang mengganjal. But I really don’t know why. And this time, gw mencoba bertanya dalam hati:

“Ya Allah, sebenarnya ada apa sih?”

Bulan demi bulan berlalu, sampai pada akhirnya gw melupakan kejadian itu.

Sampai beberapa hari kemarin. Hari dimana gw ketemu kawan lama gw, sebut saja Mia, disalah satu stasiun paling buluk se Jakarta, Stasiun Palmerah.

Mia bekerja pada salah satu Bank BUMN terbesar di Indonesia. Dari setelan baju, jelas gw kalah jauh. Mia memakai blazer yang sangat kaku, begitu rapihnya hingga walaupun ada tsunami sekalipun, gw yakin itu blazer akan tetep kaku dan rapih seperti sedia kala. Sedangkan gw? Seperti biasa, kaos panjang cotton biasa (walaupun sebenernya agak mahal :p) dan jeans, dengan warna jilbab yang tabrakan dengan warna kaos gw.

Rupanya karena apes, kami berdua ketinggalan kereta, tepatnya ketinggalankereta ekonomi AC. Yups kereta AC yang berarti juga kereta dengan gerbong terisi angin dingin tanpa asep rokok.

Akhirnya, demi mengejar waktu, gw dan Mia menaiki kereta KRL ekonomi biasa.Tanpa AC.

Didalam gerbong yang amat penuh, ada seorang lelaki, umurnya sekitar 45 tahunan. Merokok nggak karu-karuan. Asapnya kemana-mana. Ya ke muka gw, juga ke muka Mia. Mengalami nasip sial seperti itu, gw cuma pasrah menggeser-geser posisi duduk gw ke dekat jendela terbuka (well, jendelanya kebuka semua sih :p).

Mia ngedumel setengah mati, “susah ya emang, orang kampung!! nggak berpendidikan!! nggak pada tau aturan, ngerokok di gerbong penuh begitu!! Goblok!”

Well, gw emang sebel juga ama bapak tadi, tapi kok ya tumben gw nggakmarah-marah. Malah ada sedikit yang ngeganjel.

Padahal, for your information, gw itu biasanya selalu protes dan marah-marah, gw inget kok kalo gw pernahnunjuk-nunjuk muka orang sambil teriak-teriak dan ngatain orang itukampungan gara-gara gw nggak boleh moto di deket-deket situ :p.

Hehehe, tapi kok sekarang kayaknya tumben aja gw nggak senewen. Apa karena faktor umur? Jiah gw makin wise gitu maksutnya? Halah.. nggak juga sih.. hahahaha!

Sampai di stasiun tujuan, bau gw udah nggak jelas. Gw dapati bokap gw di ujung peron satunya lagi setia menjemput gw seperti biasa. Bokap gw lagi ngopi disitu. Biasanya kopi jahe. Gw memutuskan untuk bergabung dan memesan segelas kopi hitam, tanpa jahe, hanya dengan sedikit gula.

Seruputan kopi pertama membuat gw memberanikan diri bertanya babmengganjal tadi ke bokap gw. Jawaban-jawaban yang terlontar dari bokap gw membuat gw tercengang.

Waktu gw nonton Passion of the Christ sama bokap gw, gw inget ada penggalan adegan dimana Yesus berkata “Ampuni mereka Bapa, karena mereka tidaktahu..” padahal saat itu Yesus lagi disiksa, disalib, wah pokoknya adegannyafull blooded gitu lah, gw sampe ikut nangis.

Nah disitulah bokap memberikan sedikit gambaran ke gw, jika ketidaktahuankita akan membuat buta sekaligus membahayakan hidup kita.

Jadi untuk kasus TKW dan mas mas ganteng yang nggak mau ngantri, atau untuk bapak yang ngerokok di kereta api, sebenarnya sangat simple. Mereka begitu karena mereka nggak tau. Nggak tau berarti nggak paham.

Nggak tau juga berarti maqam mereka terhadap sebuah pengetahuan tertentu tersebut,terbatas.

Dari situ, kata bokap gw, masalahnya bukan pada mereka, tetapi pada diri kita, bahwasanya Allah sedang menguji seberapa jauh tingkat kesombongan kita terhadap segala ilmu yang telah Allah berikan kepada kita.

Astagfirullah. Bathin gw bergejolak. Gw istigfar berkali-kali. Rupanya ini ujian.

Gw lantas teringat kisah. Ceritanya ada seseorang saudagar sedang melaksanakan ibadah umrah. Pas lagi sholat di Masjidil Haram, didepan sang saudagar tersebut ada seseorang yang gembelnya minta ampun. Sehinggasang saudagar tersebut tergerak hatinya untuk berdoa: “Ya Allah, berilah kemuliaan kepada orang ini…”.

Selepas berdoa, sang saudagar tersebut melakukan sholat sunnah. Dan sewaktu sujud, ternyata gembel tadi menduduki kepala sang saudagar. Dari situlah sang saudagar tersentak. Beginilah cara Allah memuliakan gembel tadi.Beliau merasa ditegur Allah secara langsung.

Sang saudagar tersebut sadar, jika sebenarnya kita nggak boleh sombong dengan merasa lebih mulia dari gembel tadi. Apalagi dengan gilanya menambah request mengezutkan: meminta Allah untuk memuliakan gembel tadi sebagaimana Allah telah memuliakan kita. Sotoy! Karena sesungguhnya kita nggak pernah tau perihal siapa yang lebih mulia, apakah kita?

Apakah gembel itu? Cuma Allah yang tau.

Karena itu seburuk apapun tampilan, sifat serta kelakuan seseorang, Allah tetap memberikan kemuliaan kepadanya. Sehingga sang saudagar tersebutmengubah doanya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk dan pengajaran yang cukup, sehingga aku mampu mendapatkan kemuliaan yang juga engkau turunkan kepada orang ini..”

Masya Allah.

Less knowledge will kill you. Intinya begitu.

Tanpa dibekali pengetahuan, kita betul-betul mirip ternak, yang tiap hari musti digiring kesana sini tanpa mengetahui sebab musabab kenapa harus digirang giring begitu.

Coba kalo semua ternak itu pintar, mestinya nggak akan perlu ada gembala ataupun dog shepperd dimana-mana. Para ternak tadi akan punya inisiatipsendiri-sendiri untuk mensinergiskan posisi mereka demi mengikutikeseimbangan perputaran jagad alam semesta raya ini.

Subhanallah.

Dan kata emak gw, menuntut ilmu itu nggak cukup hanya sekedar sekolah disekolah mahal tanpa subsidi pemerintah, tapi juga harus kita cari di selipantempat

yang lain.

Kita cari di tempat orang bertumpuk berjejal bahkan berkeleweren di jalan-jalan. Di tempat ibu-ibu bakul, bapak-bapak, anak-anak, orang-orang perkasa bekerja amat keras dan punya nyali besar untuk menghadapi kesengsaraan hidup.

Karena segala ikhwal kebaikan dan keluhuran budi pekerti tidak diterjemahkan ke dalam buku-buku pelajaran. Bukan juga datang dari gedung-gedung sekolah yang memang dibangun untuk menyediakan prasarana elit, mahal, nomor satu, dan menginternasional. Bukan lagi juga datang dari jajaran laboratorium canggih yang diperuntukan agar kita menjadi orang pandai (dan TIDAK terutama agar kita menjadi orang yang baik).

Adapun hal-hal yang menyangkut nasib orang lain, tenggang hati terhadap sesama, kesadaran untuk meruwat keadilan dan kemuliaan, tidak merupakanurusan utama di dalam butir-butir pelajaran dan baris-baris pengetahuan yang diajarkan di sekolah.

Sehingga kita selalu diajari untuk tidak mengerti apa-apa kecuali kepentingandiri sendiri. Tangan dan kaki kita dilatih tidak untuk berbuat apa-apa kecuali untuk beringas memompa perut dan gengsi pribadi . Kita menjadi terdidik untuktak paham kebersamaan. Dididik untuk menjadi segumpal keasingan, tidak untuk menjadi seseorang di tengah berbagai macam orang. Kita tidak diajarkan bisa kaya tanpa harta. Bisa makan tanpa sega. Puasa tanpa puasa. Dan beramal tanpa amal.

Dan gw sudah menemukan banyak sekali bukti, bahwa ternyata tingginya tingkat pendidikan dan luasnya ilmu seseorang, tidak membuat kasih sayang sosialnya meningkat. Karena pada hakikatnya tak ada orang terpelajar, dimanapun dia bertempat, akan melanggar hak-hak perseorangan.

Sehingga gw menyimpulkan, jika TERPELAJAR itu bukan berarti HANYA memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan memiliki perluasan ilmu yang cukup.

TERPELAJAR juga berarti memiliki tingkat pengertian dan pemahaman khususuntuk mengejawantahkan jejak kehidupan. Sehingga memaksa kita untuk tunduk kepada kesombongan-kesombongan diri akibat ketidaktahuan dan kebutaan kita tentang bagaimana nothing-nya ilmu kita dimata Allah.

TERPELAJAR juga berarti mampu IQRA (membaca) kalamullah—ilmu-ilmu dari kitab Allah, yang terbentang minal masyriki ilal maghribi. Sehingga mampu membuat kita semakin paham dan mengerti lalu bersujud dan kembali merendahkan hati.[]

It’s not who you are underneath, it’s what you do that defines you.
Posted in Catatan Perempuan, Cerita Gw | Leave a comment

The Conversation – 7

Ibu Kost: Aduh mbak aruuum, kok kaya siluman nggak pernah keliatan?
Gw: *bengong*

===========================================================================================

Andrea: Assalamualaikum *sambil naik ke motor*
Gw: Walaikum salam *sambil bingung*
Andrea: eh maksut gw tadi Bismillahirohmanirrohim..

===========================================================================================

Diqi: Bandung aman, nyun?
Gw: 8-6.. aman terkendali.. Malingshit aman bray???
Diqi: ancuuurrrrr, kusut..!!! berkeping-keping!! Lobby-in boss dong biar gw bisa balik..
Gw: tergantung saweran.. *pura-pura buang muka* :p

===========================================================================================

Sujay: Wah lo suka moto, rum?
Gw: iya nih..
Sujay: Bagus banget yang di FB… btw, Lo paling suka moto apa?
Gw: Moto Azhar…
Sujay: what?

===========================================================================================

Mas Eko: elu emang sibuk?
Gw: nggak sih, cuma waktu itu, jam ketemuan anak Masjur bersilangan dengan kegiatan lain. Gw udah jelaskan tetep aja disepelein, ya gw sih maklum aja, baru sampai segitu aja penilaian mereka terhadap gw, gw nggak maksa juga..
Mas Eko: elu anak tunggal sih, jadi waktu elu bisa habis-habisan untuk ke temen… gue sih ngerti
Gw: ah elo, ngerti juga, masih nyindir-nyindir..

===========================================================================================

Hergun: Satria udah bisa ngoceh “aw aw” gitu beratnya 6,5kg skarang
Gw: waduh! bapakne biyanget
Hergun: Iyo e… Yg seumuran dia masih 5,5 – 6 kg byuh byuh.. susu kaleng 400 gram habis cuma dalam waktu 4 hari, pdhal sudah sm ASI
Gw: Sehat bener! Bapakne iso rak uman hahaha…
Hergun: Nyusu mbok seng liyo :p
Gw: Bwahahahaha… nggilane tak kandakke bojomu ahhhh…

===========================================================================================

Desoy: Rum, emang beda yak HK ma cina?
Gw: Beda dong..
Desoy: Maklum, gw kaga doyan IPS
Gw: IPS?
Desoy: Ilmu Pengetahuan Sosial, gw kan gak paham peta bow
Gw: Geografi kaleee…
Desoy: Hehehe oh iya.. tapi kan kalo SD, IPS namanya *ngeles*

===========================================================================================

Sumin: mbaa aruumm
Gw: opoooo..
Sumin: tadii imii liat video aborsii gituuu, o em jiii…
Gw: (sambil baca koran) makanya jangan begituan sebelum nikah
Sumin: imii cumaa liat awalnyaa doang, tangannya masuk ke vaginaa.. banyaak daraaah… guntingnyaa keluar masuk gituu.. o may gatttt….
Gw: Iya emang (sambil santai).. bayinya kan digunting-gunting sebelum dikeluarin. Trus belum sakitnya, 6 bulan belum tentu sembuh lukanya, trus resiko kangker rahim dan kemungkinan bisa nggak punya anak lagi itu gede banget…
Sumin: *melongo ketakutan*

===========================================================================================

Sophie: Kenapa laki-laki suka manja??? Menyebalkan!!!
Gw: weleh..
Sophie: Ini nih, ABG yg naksir gw (hmmm hampir seumur elo, 26, ABG buat gw). Manja banget. ngeluuuuh mulu soal kerja. Dpt tawaran kerja baru di perusahaan bonafide, gak mau. Padahal lebih bagus. Alesannya ini-itu, gak make sense. Rewel! Manja! Habis dia gw marahin abis-abisan: ‘Kalo sadar, jangan rewel! Apapun kerjaan itu, kalo lebih baik dr yg sekarang, ya ambil! Idealis boleh, kalo memang layak! Kalo idealis gak jelas, itu namanya gak sadar diri!’ A hard slap!
Gw: Aaaah.. itu sih dia cuma mau disayang-sayang aja kali.. biasa bukan kalo lelaki ABG begitu? (padahal seumuran gw)
Sophie: Gak pake! Yg ada gw marahin!! emang sapa dia, minta disayang ama gw..??
Gw: *ngelap muka* yah anggep aja resiko jadi tante-tante cantik emang gitu..

===========================================================================================

Gw: gek ngopo njenengan mas?
Mas Dewe: Lagi maktah
Gw: maktah? makan tahu?
Mas Dewe: serrrrrrrrrrratuuuuuuusssssssss, cerdhas tenan cah siji iki.. wis ayu…koyo krisdayanti…..pinter pulak… pantesan denmas Haryo kepincut cut cut cuuuuuuuuuuut….
Gw: (-_-)’ timbangane mangan tahu thok yo aku reti mass….

===========================================================================================

Jiddie: Aluuum
Gw: Idy…
Jiddie: Jadi ntu calon ayah dari anak-anak lu?
Gw: Amin, hahahaha iya itu pacar gw yang sekarang..
Jiddie: Oke juga, btw ustadz yah? Jenggotnya makkkkkk
Gw: gw suruh manjangin biar ngga ketuker.. :p

===========================================================================================

Angel: Dimana lo?
Gw: Gw dirumah. Lo dimane, njel?
Angel: Nunggu mau poto, lagi di studio darwis, buat iklan bu..
Gw: wuihhhhhh.. Iklan apaan? kaos kaki?
Angel: Bij*, yang ini beneran tauuuukkk… Hahaha.. Iklan telkomsel. Kemaren Marlboro, Besok baru nih, Iklan obat panu
Gw: Bwahahahaha cocok!

===========================================================================================

Mlejit: Asalamualaikum
Gw: walaikum salam, anak muda
Mlejit: lagi apa, anak tua?
Gw: lagi kerja nih
Mlejit: owh
===========================================================================================
Heru: mbak…
Gw: hoooy, heru d’handsome boy, nape?
Heru: Mau curhat. Gw lagi kalut karena cinta nih, mbak..
Gw: *heleh*
===========================================================================================
Tania: Gue lg sedih neeh… di kerjaan gue lg ga perform, Baru bubar jg sm pacar.. Segala sektor terhantam..
Gw: bwaaahaaha…
Tania: Sedih neeek… oughhh…. Pengen nangis rasanya..
Gw: gw kok malah pengen ngakak yak???? Ahahahaha… =))

===========================================================================================

Jaja: Lo nggak terpukul liat si anu nikah? lo kan cinta mati ama dia dulu..
Gw: Ah biasa aja, masa lalu itu mah. Udah kaga berasa. Gw akrap kok ama bininya, dia add fb gw..
Jaja: gila lo, bermain api..!!
Gw: maksut lo.. gw lesbi????
Jaja: *bengong*

===========================================================================================

Souljah: Mbak, gw mau nikah, eh kawin..
Gw: Sama siape? Ama kambing?
Souljah: Sama elu..
Gw: well, good news itu.. tapi, masalahnya.. gw kaga demen brondong.. apalagi kalo brondongnya elu..

===========================================================================================

Danu: Kapan kamu kawin?
Gw: Kapan-kapan…
Danu: Kok jawabnya gitu?
Gw: Trus musti jawab apa?
Danu: Ya yang optimis gitu lho..
Gw: emang keliatannya aku nggak optimis ya?
Danu: begitulah.. Mau aku carikan?
Gw: Enggak makasih, udah dapet kandidat..
Danu: tapi pasti dia nggak mau sama kamu..
Gw: hehehehehe…. *nyengir*
Danu: Sudah kuduga. []
Posted in Cerita Cinta | Leave a comment

Tentang Mendengarkan

Dari kecil, bokap gw suka ngajak gw jalan-jalan untuk sekedar ngobrol dan ngajak bersama membaca dan memahami sekecil apapun tanda-tanda yang diturunkan oleh Tuhan. Gw masih inget banget, bokap gw dulu bilang: “Ilmu Allah itu maha tak terhingga, maka semua ilmu itu nggak mungkin diturunkan hanya di kepala satu orang saja. Di setiap kepala manusia itu ada ilmu, sama seperti halnya di buku ada ilmu, di bulir cahaya matahari ada ilmu, di rintik hujan pagi ada ilmu, di batang pohon pisang juga ada ilmu, di butiran pasir pantai juga ada ilmu. Begitu luas ilmu Allah..”

Waktu itu gw cuma berusaha keras memahami dalam diam. Soalnya bokap gw itu suka kentang alias nanggung, jadi gw waktu itu ainul yaqin, kalo cerita tadi masih to be continued. Tapi entah continuednya kapan.

Dan kemarin, setelah beberapa tahun lamanya, gw mengalami sambungan cerita itu (akhirnya)
*sigh*.

Jadi begini, cerita itu berawal ketika gw memiliki seorang kawan yang punya hati awh.. kerasnya minta ampun. Dia selalu mengkritik, tapi sama sekali nggak mau mendengar. Jadi satu arah aja. Dan dia selalu menggunakan kalimat menyepelekan, sekaligus menyakitkan.

Kalo gw bilang: “Dari dulu gw selalu diem, selalu diem dan nerima kalo lo kritik, sekarang gw mau lo dengerin gw.” Dia pasti nanti jawab: “Kagak, gw KAGAK mau dengerin lo! Lo yang seharusnya belajar untuk menerima perbedaan”.

Lantas gw terkaget-kaget dalam hati: WHAT THE H….?!?!?! Sebenernya yang nggak bisa nerima perbedaan itu siapa?

Kawan gw ini selalu mengajak semua orang untuk ngikutin semua maunya dia. Dia memang bossy, suka ngatur-ngatur hidup orang yang bahkan bukan keluarganya. Tapi yang namanya sudah berkawan lama, gw pasti sayang sekaligus perduli dan mau dia sadar, jika dengan menjadi keras begitu terus, dia akan semakin menyakiti orang-orang yang menyayangi dia.

Dan saat dia sadar kelak, semua orang yang sayang sama dia sudah demikian tersakiti, hingga pergi ninggalin dia.

Dan bagi gw, menyakiti orang-orang terdekat lo itu bikin hidup lo kaga berkah. Rejeki jadi kaga lancar, urusan banyak yang kaga beres, yah pokoknya madesu lah.

Hari itu, sebut saja Danie, sudah melampaui batas. Telah sebegitu sangatnya dia menggores dan menyakiti gw. Dan gw memutuskan untuk menyerah. Gw akhiri pembicaraan kami. Lalu seperti layaknya species wanita lain disetiap akhir pertengkaran: gw nangis. Akhirnya gw mengadukan nasip ke Allah: “Allah yang maha lembut, kenapa kau tidak bagi kelembutan sedikit saja ke dada manusia ini..!”

Masya Allah.

Sedang manyun-manyun berduka lara, gw dipanggil bokap, disuruh mbetulin komputernya yang hang. Bokap sepertinya terlihat nggak perduli ngeliat muka gw yang kusut plus bendul bendul pada kedua mata gw karena nangis, tapi ternyata bokap agak khawatir.

Ketika computer bokap udah nyala lagi, bokap gw nyapa gw dengan pertanyaan aneh, “Kamu masih inget nggak dulu papa cerita soal ilmu Allah yang Maha melimpah?”. Gw mengangguk sekedarnya. “Sini sini cobak duduk dulu..” lanjutnya ragu.

“Papa dulu bilang kan, kalau ilmu Allah itu maha melimpah, makanya nggak cukup ditaruh di satu kepala manusia.” Gw tertunduk, memuntir-muntir kaos oblong butut gw. “Nah nduk, kalau kamu bersitegang dengan seseorang, ojo gegabah. Dipikirkanlah lagi pelan-pelan nek siapa tau memang kamu yang salah.”

“Heh?”Gw melirik judes, setengah kaga terima.

“Lhooo… dikandani malah mendelik.” Gw tambah manyun. “Ngene lho cah ayu, seburuk-buruknya kelakuan orang itu pasti ada kebaikan yang dia beri ke kamu. Hanya saja kamu belum pandai menangkap ilmu itu. Yang kamu tangkap malah esensi keburukannya saja.”

“…” Bibir gw semakin monyong, walaupun gw sebenarnya mendengarkan.

“Kamu itu harus lebih banyak belajar lagi, belajar untuk mendengar hal-hal yang tak bisa didengar, dan belajar untuk melihat hal yang tak bisa dilihat.”

“Udah diliat dan udah didengerin dari dulu..!!” Sela gw judes. Masih sambil termanyun (halah kosakatanya).

“Lha iki, blaik namanya.” Bokap gw menghisap rokoknya. Bara api berjatuhan menjadi abu yang mengapung ringan. “Kan sudah papa bilang, kamu harus selalu mampu untuk mengembalikan semua kedirimu sendiri, selalu berani untuk mengatakan: ‘lha iyo, jangan-jangan aku yang salah’. Nah, itu otomatis akan membuat kamu merendah. Kita mampu menjangkau yang Maha Tinggi saat kita sedang rendah hati, nduk.”

“Iyeeee..” Jawab gw males-malesan.

“Cobak itu kamu liat, orang di bukit sama orang di dataran biasa, kalau ngebor pompa air, siapa dulu yang dapet air? Lha yang posisinya lebih dibawah dekat air tanah to? Makanya selalu rendah hati, jangan sombong nanti malah ndak dapet air..”

“….” Dalam hati gw membenarkan.

“Setiap orang, walaupun dia 99% jahat, dia tetap punya 1% kebaikan. 1% kebaikan tadi itu merupakan ilmu yang sudah lebih dari cukup. oke?”

“…” Gw mengangguk.

Ah, gw berharap sekali jika Danie mau belajar mendengarkan, karena dia nggak pernah tau, rahmat (Ilmu) apa yang akan Tuhan sampaikan dari waktu ke waktu buat dia lewat kata-kata orang lain.

Bukit tempat Danie tinggal masih terlalu tinggi, Danie memilih untuk mencari ketinggian dalam kesendirian dia untuk mencapai mata air suci, dimana air air suci itu sendiri sebenarnya mengalir deras dibawah kaki tempatnya menengadahkan wajah.

Andai dia tau.

Memahami orang lain adalah kearifan, sedang memahami diri kita sendiri adalah pencerahan, kata Lao Tzu, ribuan tahun lalu. Dari sini gw sadar, sampe lebaran monyet sekalipun, gw memang nggak akan bisa ngerubah sifat kerasnya Danie. Gw nyerah, itu semua sudah gw serahkan sama Allah.

Dari sini gw Alhamdulillah bisa belajar tentang satu hal, bahwa siapapun orang itu, mau dia rampok, mau dia kyai, mau dia orang jahat, atau orang baik, well pokoknya siapapun itu, tetap bisa menjadi pengantar pesan dari Tuhan, apapun jenis pesannya. Maka belajarlah kembali untuk mendengarkan. Belajarlah untuk merendahkan hati, mengkoreksi diri: “ah, jangan-jangan aku yang salah…”[]
Posted in Nasihat Bokap | Leave a comment

Tabrak Lari


Gw baru aja mengalami (almost) deadly experience: tabrak lari by mobil Yaris item. Selain sakit secara fisik, ternyata perasaan bingungnya lumayan bikin gw sempet bengong lamaaa banget. Mungkin ini yang namanya shock! Well I’m not pretty sure about that, but rasanya kaget, plain, blank, lemas, sesak, gemetar, geli, nyeri dan bingung yang tercampur baur.

Kejadiannya nggak kayak sinetron sih. Soalnya kalo di sinetron, yang nabrak pasti ganteng trus ntar endingnya si penabrak tadi bakal jadi pacar gw. Lha, dunia nyata ternyata emang nggak semanis begituh. Yang ada, abis gw sukses njungkel, si penabrak ya sukses juga melakukan gerakan tancap gas alias “capcus.. yuk dadah bye bye”. Asem. The real world is really not that nice.

Dulu gw juga pernah mengalami kejadian nyaris mati, waktu masih jadi anak pesantren di jaman kuliah. Tapi, saat itu gw ngalaminnya nggak sendiri alias berdua sama mbak Otik, temen kosan gw. Waktu itu kami, kalo nggak salah, hampir ketiban truk fuso yang isinya full tanah merah galian.

Nah kan pas tuh! Kalaupun seandainya kami mati saat itu, orang-orang nggak perlu repot-repot ngubur lagi. Makanya, setelah tahu truknya normal alias nggak jadi jatuh ke arah kami, perut ini rasanya geliiiiiii banget, kayak naek jet coaster, sehingga malah memaksa kami untuk tertawa nggak ada habisnya.

Tapi saat dimana gw ditabrak si Yaris item itu, rasanya kok beda yah? Apa karena saat itu malam hari dan sedang hujan? Ah, I don’t know. I have noooo idea about that.

Gw ngebayangin, apa jadinya kalo gw mati disitu. Siapa yang nolongin gw? Siapa yang nelpon emak gw? Siapa yang nungguin gw di kamar mayat? Siapa yang nyolatin gw? Siapa aja yang ngelayat? Siapa yang gali kubur gw? Siapa yang paling sedih gw tinggalin? Siapa yang bakal jagain bokap nyokap gw saat gw nggak ada?

Terbayang juga pendaran wajah lelaki itu, ia tertawa dengan giginya yang gemerlapan, sangat mendebarkan dada. Tangan gw menggapai-gapai. Sempatkah gw berucap maaf untuk yang terakhir kalinya buat dia? Sempatkah gw sentuh mata hitamnya yang tiada terlupakan? Sempatkah gw ungkap segala cinta yang selama ini gw redam? Sempatkah gw burucap: “aku sayang kamu, selalu dan selamanya”?.

Semua pertanyaan itu terbungkus dalam satu flash yang melintas dan menjepit syaraf-syaraf di otak gw hanya dalam hitungan, well mungkin, millisecond. Hanya pertanyaan yang tanpa jawaban.

Ternyata begini rasanya nyaris mati.

Sebenarnya, mana yang lebih kita takuti dari kematian: kehilangan apa-apa yang kita miliki sekarang, atau ketidaktahuan kita pada apa yang akan kita hadapi setelahnya? tidak, gw nggak mau bertanya ataupun menjawab, gw telah menerimanya. Menerima untuk merasa tak memiliki siapa-siapa dan tak dimiliki siapa-siapa, berwujud pasrah, sebuah perasaan dengan titik terendah.

“Ya Rab-ku, cabut nyawaku sekarang jika memang Engkau menghendaki begitu, aku telah terpasang pasrah..”. Gw merasakan badan gw ringan dan basah.

“Neng?!!” Tersadarlah gw. Entah bagaimana, gw telah terkapar di trotoar yang basah dan licin, dengan payung yang entah terbang kemana, terguyur hujan, basah kuyup plus dikerumuni beberapa orang yang mengulangi frase kalimat asing yang tampak nggak begitu asing: “teu nanaon, neng?!”.

Doa-doa yang didaraskan oleh semua orang yang menyayangi gw membaluri seluruh jiwa dan raga gw. Masih utuh dan tak tersentuh. Betul adanya, Gusti Allah mboten sare. Begitu nyata gw rasakan mukzizat langit hari ini, badan gw lengkap, normal, nggak ada yang lecet, retak apalagi patah, gw masih bisa berdiri walaupun nyer-nyeran dan sempoyongan, semoga saja tak ada luka dalam.

Alhamdulillah, gw masih diberikan kesempatan untuk bertemu orang-orang yang gw sayangi, walaupun gw tau, kesempatan inipun terbatas. []
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Tentang Lelaki Dibawah Hujan

Kota Kembang, Januari 2010.

Gerimis enggan berhenti sedari pagi. Nona menatap gundukan makam itu dalam hening. Dingin yang mencekik paru-paru tak membuatnya beranjak lalu. Matanya basah tapi bahunya tak bersedu sedan. Kaku yang merindu. Merindukan sesuatu yang tidak bisa ia jangkau kembali.

“Ri, maaf jika aku tak pernah bisa memenuhi janjiku..”

Nona bermonolog di depan makam itu. Dipejamkan paksa matanya yang panas untuk meretaskan air mata terakhir yang bisa ia hempaskan. Gerimis masih meretas, membasahi serat-serat kerudung Nona, menembus masuk ke kepala, ke otak, lalu ke jantungnya. Di dada, terasa pahit, namun melegakan. Setidaknya Nona merasa punya alasan untuk datang kembali ke tempat ini.

Sepenggalan waktu berlalu. Nona akhirnya beranjak pergi memunggungi gundukan tanah basah yang kembali sepi.

Fachri, satu nama yang nyaris Nona lupakan.

Dari laki-laki ini Nona belajar arti berbagi. Sebelumnya Nona tidak pernah mengerti bagaimana harus ‘berbagi’, baginya ‘memberi’ itu lebih penting. Namun Fachri mampu meyakinkan Nona bahwa, berbagi lebih memiliki arti.

Nona bersahabat baik dengan Fachri. Fachri tak banyak bicara, tak punya banyak koleksi kata mesra, tapi mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sekedar memandangi senja dari atap gedung kampus, ataupun turun ke sungai untuk melihat kilauan sinar matahari mengambang di atas air.

Jika hari hujan, Fachri tanpa diketahui siapapun akan meletakkan payungnya disebelah tas Nona. Fachri tau persis, betapa ceroboh, pelupa dan malasnya Nona. Sebaliknya, kadang Nona menemani Fachri berjam-jam di depan layar monitor, tanpa dialog. Nona tau persis, Fachri senang ditemani, padahal Nona mengantuk minta ampun.

Mereka bersama-sama tahun demi tahun. Sampai pada akhirnya Nona suddenly berpikir jika she’s not worthy at all for him. Bagi Nona, Fachri.. ways too perfect, Fachri tak kuasa ia jangkau. Fachri seperti imajinasi, utopia yang tak mungkin ada.

Dan pertikaianpun mulai terjadi. Nona berpikir perpisahan yang dia rencanakan ini adalah yang terbaik dan akan membuat Fachri bahagia, sedangkan Fachri berpikir jika Nona sok tau, “Kamu ngga tau persis apa yang bisa membuat aku bahagia..!” Kata Fachri.

Namun Nona sekeras batu. She still feels the same. She’s not worthy at all for him. Nona berpikir dia hanya wanita biasa yang tidak akan membuat Fachri bahagia.

Fachri marah dan kecewa.

Sepatu kanvas basah, tubuh yang menggigil, langkah yang tak kunjung terhenti, dan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Nona still can feel him here, there, and everywhere. Lamat-lamat ditundukkan kembali wajahnya ke tanah basah. “If only..”, hanya kata itu saja yang terlintas.

Nona tak kuasa mengingat kembali semuanya, saat beberapa tahun lalu, laki-laki ini, dibawah hujan, menatapnya untuk yang terakhir kali, lalu bertanya dan memaksanya untuk berjanji.

“You can go… but just don’t give up on me.. promise?”

Tak ada jawaban. Hanya rintik hujan.

“promise me!! Promise me you would!!”

Nona terdiam. Lalu Laki-laki inipun tertunduk dan pergi, pergi meninggalkan Nona dengan sekotak coklat basah di tangan. []
Posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta | Leave a comment

The Conversation – 6

Gw: Taka, aku beliin oleh2 kerupuk ceker dong
Taka: kerupuk ceker?
Gw: Iya, di Solo pasti ada yang jual, itu enak banget loh!
Taka: Waduh yum, kamu tau kan, kalo ayam nggak pernah pake sandal?
Gw: Ha?
===========================
Riki: Hey don’t forget, I’ll get back to you in about one week, then we can continue our work
Gw: gyaa.. I’m dead…….!!
Riki: not so soon
===========================
*confrens YM*
Cacha: Jiiieeee yg dibelain ama suaminyaaa..!!!
Gw: Ngiri aja loh *pasang icon monyet ngupil*
Reza: btw, suami, selingkuhan atau majikan?
Cokor: Lebih Tepatnya Lover.. hehehe
Reza: Kayak pizza yak? *meatlovers*
Risma: Ditunggu undangannya mbak yum.. resepsinya di indonesia kan???
Gw: *kumur-kumur pake jus pare*
===========================
Gw: Coks, “love you teu eureun eureun” paan sih?
Cokor: Oh, itu, cinta mati gitu lah..
Gw: ASEM! *Ngambil gergaji mesin, nyari Cacha*
===========================
Status YM:
Hey moron, you are not a man, not even a piece shit of it!
Bu Dian: ngapa neng? putus cinta sama Ricky?
Gw: gyahahaha, nggak bu, temenku diputusin cowoknya, cowoknya selingkuh ama anak bayi, umur 17 taon
Bu Dian: kirain kamu PMS
Gw: padahal tak kira nih cowok baik, ternyata…
Bu Dian: hadooooh 17 taun itu bukan bayi … tapi suegeeeeer, fresh flesh.
Gw: minta digorok banget kan?
Bu Dian: cowo tuh sama aja semua … bajingan, so … tinggal kamu pilih, bajingan mana yang mau kau nikahin
Gw: Gyaaaaaaa…..
===========================
Gw: *Nyanyi*
Chaca: brisiikkkk…….!!
Gw: perasaan dah pelan dah, lebay luh
Chaca: suara lu tuh yeh..!!
Gw: kalo merdu beneran… ntar lu nyawer lagih *kedip-kedip*
Chaca: Hoeeekkk…!
===========================
Buyung Upik: will you believe me if i tell you that a woman’s BEAUTY & BODY affecting people than BRAIN & BEHAVIOUR?
Gw: then….. YES! absolutely YES! *mengalami marginalisasi gara2 kasus serupa* ihiks…
Buyung Upik: see …. proof of life is, in this community if you are a pretty woman, people will talk to you nicely (except for some sane persons), but for my case (as a proud ugly and old woman), they don’t even need to stare at you while you were talking to them …. needless to say answering it nicely, sanity takes place for such behaviour
Gw: Sama kayak aku ama Icha yak? beda jauhhh…
Buyung Upik: heleh …. loe ama icha sama aja … modis dan stylish, cuman loe lebih galak … kekekekekek
Gw: iyak, mau tiru2 sampeyan, kayaknya keren gitu, Ricky juga galak, makanya suka tiru2 juga..
===========================
Chaca: cun..
gw: ??
Chaca: cun… racun
gw: lo keong racun!
Chaca: lu maknya keong
gw: tapi gak beracun
Chaca: ga beracun tapi keriput
gw: emang gw mbah2
===========================
Gw: Still… menurutku sih, you are goddess to me
Bu Boss: hiks … ntar gw traktir baso deh loe roem … hiks terharu gw, for once in my life …. hiks. Thanks for talking to the woman in the middle of midlife crisis and madness
Gw: Hm…. basonya yang gede yak?
Bu Boss: =)) hahaha
Gw: Tenang aja.. menurutku, being smart-ass can makes you look more than whatsoever people called it charming, coz… beauty without charming kind of: makan bakso tanpa bakso, ya nggak?
===========================
Ai: trus kl u kapan meriednya nih??
Gw: weleh, gw aja masih maen ama kirun, masih cekakak cekikik ama imi
Ai: hehehe, jd kgen mo maen sama mereka lg, tp kpn ya? Gw kerjaannya keluar kota mulu nih, sibuk.
Gw: ah gw biasa aja, tetep kerja, tetep maen, tgantung orang itu mah
Ai: Kok gt
Gw: your environment, your daily routine, might be changed, but whatever you have inside you, still, cannot be changed
===========================
Mas duta: blm pulang ?
gw: ini mau pulang. Mau itut?
Mas duta: mauuu
gw: heleh
===========================
*status YM: dicari: seorang pria yang mau saya pacari*
Mae: woyyy….
Gw: napa may?
Mae: status lo ga kontRol dahh….
===========================
gw: Reza, gw jadi pengen cari pacar kayak Dwi Sasono, ganteng! lelaki sekali dirinyah!
Reza: hahaha…
===========================
Lia: arum, cokor knp??????
gw: dia kirim surat resign hari ini
Lia: ah serius loh, knp? yah, gw kok jd sedih gini ya…
gw: iyak, gw juga sedih kali, temen sebangku gw
===========================
Sarwiyanto: ngerjain orang yok, gatel nih!
gw: hayuk, piye?
Sarwiyanto: sapa dulu korbannya, baru metodenya. Hm.. kira2 siapa ya?
Gw: Jangan lupa taktik dan strategi konspirasinya
Sarwiyanto: nah itu dia, …target, motif, dan metodenya, kita tentukan strateginya juga, termasuk siapa2 aja bisa diajak terlibat kerjasama… Dan alokasi personilnya
===========================
fai: Mana yang akan kau pilih?? mencari cinta orang yang belum tentu mencintaimu atau menerima cinta dari orang yang belum tentu bisa kau cintai???
gw: jawabannya, menikah adalah kombinasi cinta dan rasionalitas, no other comment, and also no “why”
fai: lah kalo lo ada di posisi gw, gemanah????
===========================
Jacky: iyom, km ngabisin m&m taka ya?
gw: hehehe begitulah.. taka ngadu2 yak?
Jacky: ho’oh, katanya serem
gw: iyak, aku makan semua, orang-orang pada ngambil sebiji, aku sih tak raup, masuk mulut semua..
Jacky: waduuu….
===========================
adry aditya: pagi..
gw: eh pagi dit
adry aditya: udah sembuh mba?
gw: masih kelelep ingus
===========================
Taka: mumet..
gw: koyoke mumetmu kuwi, kaitan-e, mengenai kejiwaanmu, le
Taka: ya, aku takut begitu, bu…
gw: cobak beli molto sama baygon
Taka: diapain?
gw: dicampur, diminum, bagaikan jamu godog
Taka: rasane piye? enak ga? kalo pahit kan ntar kecewa
gw: koyok temu ireng, nek klewat, rak mambu, wangi koyok molto
Taka: haduuh
gw: nek baygon thok, koen mambu koyok coro, mulakne dicampur sithik karo molto..[]
Posted in Conversation | Leave a comment

Patah Hati


Di gerbong kereta Ekonomi AC.

“Mbak, novelnya sedih banget ya? Sampe sembab begitu?”

Novel ber-genre fiction-horror itupun dia benamkan diwajahnya. Bagi Nona, mengalihkan konsentrasi ke media manapun nggak akan membantu banyak, segala aliran rasa dan air matanya tetap tak bisa dia hentikan.

———————-

Di kantor.

“Udahlah mbak, muka lo itu emang udah maksimal, nasip lo cuma dua, kalo nggak ditolak, ya diputusin…”

Pulpen murah meriah itupun akhirnya mendarat di kepala adik kelas, dan sahabat, sekarang teman satu kantor Nona yang memang sedari dulu hobi nyela tanpa pandang bulu.

———————-

Di chat ym.

“Non, lo jangan terlalu mendewakan si dul, kasian dianya…”

Jemari Nona mengambang kaku diatas keyboard. Mendewakan? Dahinya berkerut. Nona bahkan tak mengerti maksut dan artinya. Pikirannya terlalu kosong saat itu.

———————-

Di chat ym yang lain.

“Ah cemen, cuma segitu doang lo…???”

Nona memejamkan mata, menghela nafas yang terasa amat berat, kemudian me-reply chat tadi dengan lambat: “Iya….. gw emang cuma segini doang”.

———————-

Di chat fb.

“Lo jangan sampe deh ngadu ama dia kalo gw cerita-cerita semua ini. Lo nggak mau gw berantem sama dia kan, non? Gw sayang sama dia, buat gw.. selain jadi sahabat, dia itu laki-laki yang sangat baik..”

Nona membuyarkan pandangannya, berharap semua cerita ini tidak nyata dan nggak pernah terjadi.

———————-

Di telpon.

“Kenyataan itu memang pahit, tapi harus diterima. Gw sengaja nggak mau nutupin apapun dari lo, non. Gw pun udah beberapa hari ini pusing.. bingung mau bilang ama lo-nya gimana. Tapi gw udah janji sama nyokap bakal ngomong ke elo. Gw harap penjelasan gw tentang adek gw cukup diplomatis..”

Nona tiba-tiba saja merasa pusing, limbung, berkunang-kunang, mual, dan seperti tiba-tiba menciut ditarik meluncur kedalam gravitasi pusat bumi. Dunia tiba-tiba jadi tempat yang teramat asing buatnya. Setengah mati diaturnya nafas yang tanpa arah itu. Lalu dia katupkan seluruh wajah kedalam tangkuban jemarinya yang basah.

———————-

Di sms.

“Hah kerokan lagi…? Lo penyakitan amat semenjak diputusin adek gw… hahaha…”

Nona tertawa keras, menertawai dirinya sendiri. Ternyata, sudah sebegitu parahnya psikosomasis phase yang dia alami. Mungkin sebentar lagi nona betul-betul akan memasuki fase skizofrenik . Nona nggak akan pernah tau.

———————-

Semua kenangan Nona bersama dul bersifat transendental, yaitu berkaitan dengan sesuatu yang berada diluar jangkauan pengalaman biasa dan ilmiah.

Bagi Nona, Dul adalah pelabuhan terakhirnya.

Namun, takdir telah merampasnya, merampok semua kebersamaan yang selama ini dia pikir nyata dan ada. Bagaimanapun pedih, Nona sadar, giving all her love is never put a guarantee that he will love her back.

“Allah… ampuni aku…” sajak Nona terbata-bata sambil meremas hatinya yang mendesak sesak. Matanya mulai berkaca-kaca.

Malam itu sedikit temaram walaupun sepotong bulan tergantung agak terang. Nona ingin sekali sembunyi di tetes air di ujung daun talas agar meretas, dan melupakan jejak Dul di sisa sisa hujan sore itu.

Tapi sungguh, disaat lupapun Nona tak dapat melupakan Dul. Retorika ini mungkin berarti beda bagi si Dul. Tapi bagi Nona, keduanya sama saja. Sama-sama rentan, sama-sama merasakan kehilangan.

Dalam langkahnya yang diseret lambat-lambat, Nona berlari dari semua rasa yang dia batasi. Dia seka untuk yang kesekian kali tetes airmata itu menggunakan bahu tangannya. Nona tak pernah tahu berapa lama Dul singgah dihatinya, tapi irama Dul serupa iringan detak jam dinding yang dia hapal.

“Ampun Allah.. Ampun… belas kasihanilah aku…”

bisiknya lirih lalu bersimpuh terisak ditanah basah.[]
Posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta | Leave a comment

Keinginan yang Membutakan


Dari cinta timbul kesedihan, dari cinta timbul ketakutan, bagi mereka yang bebas dari ikatan cinta, tiada lagi kesedihan dan ketakutan.

Gw pandangi tulisan pada foto yang ter-tag di facebook gw. Seorang sahabat memberikannya dengan maksut tertentu. Sayang saat foto itu ditag, gw belum sepenuhnya sadar untuk memahami wawasan yang terkandung pada tulisan tersebut.

Gw mulai paham wawasan tadi setelah rasa ANEH itu datang. Rasa aneh yang lama kelamaan gw sadari sebagai penanda bahwa gw mulai bisa jatuh cinta lagi.

Gw tipikal orang yang GAMPANG tertarik dan kagum dengan orang lain, BUT on the contrary, gw sangat SULIT untuk jatuh cinta (bahkan saat pria itu sudah gw pacari belum tentu juga gw bisa merasakan yang namanya jatuh cinta sama dia).

Gw nggak bisa yakin bahwa seorang lelaki akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahi gw. Gimana kita bisa tahu kalau lelaki itu ternyata suami yang payah? Yang suka memukuli, mencaci maki, Menghina, pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat??

That’s why I never beg for somebody elses’s love. Gw benci kekalahan. Gw nggak mau merebahkan ego gw. Gw sebel kalo dikiritik. Gw ogah untuk mengikuti cara pandang orang lain yang nggak sesuai sama kata hati gw. Gw gampang banget ILFIL bahkan untuk hal remeh yang gw nggak suka. Pokoknya, I just…. DON’T easily fall for someone.

But now, I really fall, I fall deeply. Both deeply happy and deeply wounded.

Deeply happy when I satisfy my ego by having him as mine. Deeply happy is when I can silently catch the wind and whisper his name on it. Deeply happy is for seeing his mudlle face while he sleeps. Deeply happy is even when we eat together and he took half of my rice because of.. I’m on a diet. Deeply happy is even when I can’t found any word for a simple poem that I want to write because of him. Deeply happy is when I can hold him tight with my tears go down into his jacket for he never know it.

But I deeply wounded to know that he doesn’t even care for me a bit. Deeply wounded when I have to stay away as much as I can. Deeply wounded when I saw him happy without my presence. Deeply wounded when I can’t see him in days. Deeply wounded when I can’t let him go, imagining he belongs to someone else. Deeply wounded when I dreamed that I can’t find him in everywhere. And deeply wounded whenever I see him wounded for any kind of wounds.

Sampai pada suatu ketika, sahabat gw, sebut aja Jay, seorang dukun kenamaan (hahaha of course not the REAL one) menumpahkan resah dan kegundahannya ke gw.

 


“Kamu iku loh selalu saja menderita karena cinta. Serius loh iki! Menurutku bakatmu ancen ngono. Dengan cara pandangmu rasanya dunia ini… menyedihkan.”

Pandangan gw lurus, dingin tanpa ekspresi.

“Dia merasa kamu yang butuh dia… bukan saling membutuhkan. Dan hubungan gak bisa dibina dengan cara seperti itu…”

Gw mendengus lirih. He’s not like that. Like I need him, he also needs me.

“C’mon buanglah sikap… ugh.. sorry pedes… janganlah bersikap mengemis!”

Gw masih terdiam, tanpa ekspresi. Hm, bersikap mengemis..? Am I??

“Ngene Rum… ikuti aja air mengalir.. jangan ngoyo. Kalo memang jodo, ya biar jadi. Kalo gak jodo ya wis ghak popo. Jadi jangan berusaha dengan segala macam cara untuk mempertahankan, tapi bersikaplah tegas dan jelas. Tegas rela bila harus kehilangan!”

Nope, I CAN’T. For now, I DON’T WANT to let him go. I have deeply fallen for him.

“Kalau arah hatimu sudah jelas, raga ini gak perlu diperintah wis jalan sendiri. Rak perlu kakehan mikir.. ning aku rung yakin awakmu sanggup.”

Fiuh. Gw menghembuskan angin parau dari dalam dada gw.

“Kalo kamu gak MERASA TAKUT kehilangan, sudah pasti itu yang akan kamu lakukan! Ah, bagian yang paling terpenting sekarang hanya: BUANG rasa takutmu tadi. Semenjak jatuh cinta, aku pikir kamu jadi semakin bodoh.”

(Heavy sigh). Betul juga sih, selama ini berarti.. gw setengah mati ketakutan kali ya?

“Sebenernya awakmu sudah tahu bab kuwi… ning dibutakan oleh keinginan.”

Gw terdiam sangat lama.

Dibutakan oleh keinginan. Gw menarik nafas sambil memejamkan mata. Hufff..

Pikiran gw terbawa ke masa kurang lebih setahun lalu, disebuah Wihara yang suasananya sangat gw suka. Tenang. Cuma ada gw dan desiran angin. Disitulah pertama kali gw ketemu Jay.

Mata gw tertuju pada ukiran batu di lantai keras itu. Lingkaran yang menggambarkan sebuah daur infinite: Ayam, Ular, Babi lalu kembali lagi ke Ayam. Terus berputar disitu: Loba-Dosa-Moha. Ayam melambangkan ketakutan/kebencian. Babi melambangkan kebodohan. Dan Ular melambangkan kerakusan.

Ditengah kebingungan gw, Jay datang dan menjelaskan makna dibalik ukiran itu. “Keinginan akan menimbulkan ketakutan/kebencian. Kebencian akan menimbulkan kebodohan. Dan kebodohan akan membuat kita makin rakus.”

Kita harus mampu membebaskan diri dari KEINGINAN- KEINGINAN agar tidak merasa takut. Well, pada hakekatnya manusia SULIT lepas dari keinginan. Tapi kita yang sadar, hendaknya berusaha sekuat tenaga mengendalikannya.

Mengapa begitu banyak manusia ditakdirkan terikat oleh keinginan? karena sejak lahir kita sudah dikudang-kudang supaya jadi wong gede, wong bagus, wong ayu. Diajarkan bersaing, agar mampu hidup layak menurut mata umum.

“That is why… aku lebih bercita-cita jadi gelandangan. At the lowest class, I’ve nothing to lose, I’ve nothing to fear..” Kata Jay saat itu.

Hm, gw pikir benar memang. Toh apapun keputusannya, jodoh atau tidak, kita TIDAK PERLU merasa takut. Dan jika kita sudah mampu untuk TIDAK MERASA TAKUT pasti kita memiliki semacam kepercayaan. Dengan begitu kita bisa ikhlas atau berpasrah diri apapun ketentuannya, karena kita nggak takut untuk kehilangan lagi. Well, kuncinya: hanya TIDAK merasa takut. Adalah diri kita sendiri sebagai makhluk, hanya sebatas makhluk, yang menciptakan ketakutan itu sendiri.

Rasa takut itu keterpurukan. Keterpurukan yang letaknya didasar paling bawah. Hina. Dina. Nista. Namun, sesuatu dikatakan naik jika sebelumnya ia berada dibawah. Dan titik terendah dibutuhkan setiap orang agar dia mampu melihat dirinya sendiri lalu memaksanya untuk naik menjadi sesuatu yang lebih tinggi (mulia). Kita musti ingat, bahwa pasang surut seseorang, naik turun kehidupan, terkadang bisa melenakan dan membuatnya berhenti mencari sesuatu yang sejatinya lebih baik.

Disitulah titik terendah diperlukan. Sebuah titik kehidupan yang akan memaksa seseorang untuk memperbaiki diri, dan tak akan pernah berhenti untuk memperbaikinya.

Hidup adalah soal KEBERANIAN menghadapi tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar. Dan keberanian hanya bisa dimiliki oleh mereka yang PERNAH PUNYA rasa takut.

Kata bokap gw, menyelami kisah cinta itu memang njlimet. Karena cinta memang sesuatu hal yang buram dan menyiksa, sehingga tak semua lembarannya dapat dibaca dan dipahami. Tapi kita tak perlu kecil hati. Apa yang kurang jelas pada pembacaan pertama, akan mulai menerawang pada pembacaan kedua, dan pada pembacaan ketiga atau keempat kalinya lembaran buram itu akan mulai terpahami. Kuncinya (kata bokap): Niat dan telaten.

“Makanya jangan BERANI jatuh cinta kalo nggak siap disakiti..” lanjut bokap sabar setiap kali menemukan gw lagi ngerungkel dikamar sambil nangis-nangis.

You could be MAD as a mad dog with the way things went. You can swear and cursed fate. But when it comes to the end, you have to let go. But this is not my end, not yet. I still have to encourage and deliberated my own self. I still and do believe that there’s always room for improovement.

Bersyukurlah bagi mereka yang pernah dihinggapi rasa ragu. Keraguan adalah pertanda bahwa hati dan pikiran masih berpihak pada kita. Dan bagi orang-orang yang kuat imannya, keraguan adalah sebuah titik awal dari tumbuhnya sebuah keyakinan.

Well anyway, gw itu agak sedikit idealis (baca: ndhiablegh bin ngeyel), so gw yakin juga jika segala idealisme gw untuk mempertahankan semua cinta yang gw punya, butuh keyakinan nurani, kelapangan dada dan kebesaran hati.[]
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Surat Cinta yang Terhapus


Gw memandangi laki-laki sendu disebelah gw. Kebisuan diantara kami cukup lama terjalin. Lebih terasakan suasana prihatin, lebih kepada percakapan bathin. Dia sibuk mengusap-usap wajahnya dengan gemas. Rasa cemas yang sedari tadi merantas dipikiran gw, nggak gw perlihatkan. Gw berusaha untuk tetap tenang. Karena, kalau boleh jujur, nggak biasanya aja, gw merasakan aura dia yang sekelam ini.

“Kamu yang sabar ya, sayang?”. Dia membuka percakapan. Mencoba lebih tegar untuk menguatkan gw. Gw cuma tersenyum. Gw pandangi laki-laki ini dengan perasaan penuh sesak. Antara bingung, senang, haru, ragu, entahlah.. gw nggak sepasti itu untuk tau.

“Ya, namanya kan juga cobaan..” Gw tersenyum, berusaha menahan semua simpul getar dibalik senyuman gw itu. Menahan supaya air mata gw nggak berloncatan dan berhamburan keluar.

—————————–

Kasih sayang adalah juga benda, sekalipun mujarab dan abstrak, setiap benda harus tunduk kepada manusia, terserah pada manusia itu bagaimana hendak menggunakannya. Begitu juga dengan kasih sayang yang dimiliki, lelaki gw ini. Terserah pada dia bagaimana ingin menggunakannya. Dan terserah juga pada gw untuk menginterpretasikannya.

Well, so far, semua orang menganggap ada yang salah dengan kami dan segala komitmen yang telah kami tetapkan dan kami jalin selama ini-meminjam bahasa mbah gw, hubungan ini merupakan hubungan yang: mrojol selaning garu (diluar dari kebiasaan).

Walaupun sebenarnya, rasa bathin yg bernama cinta tak bisa dinilai dengan cara kerja pikiran dan atau perhitungan. Yah, itulah kenormalan hidup manusia beserta segala tuntutan yang makin membebani juga makin memboboti. Makin diterima satu tuntutan, makin berduyun yang lain datang.

Gosh! why do people like to complaints? Hm, maybe because it’s easy to complaint.

Gw selalu berpikir, tidakkah mereka bisa bersikap wajar dan biasa-biasa saja? Mereka selalu saja bertengkar dan berdebat ramai tentang gw dalam bahasa yang bagi gw sama asingnya dengan bahasa nasib manusia.

Ataukah semua ini hanya sebuah alibi untuk memaafkan kelemahan diri, keterbatasan, dan kekurangan mereka dalam melakukan sesuatu yang selama ini tidak mampu mereka wujudkan namun secara mengagetkan mampu gw lakukan dan wujudkan bersama lelaki ini? Ah entah, gw nggak mengerti.

——————–

kemaren gw liat lo lagi berdua sama cowo lo, trus gw cemburu, Aneh ya? Hm.. tapi kok dia masih bisa nana nini ke cewek lain sih? Gw pengen banget bilang ke dia, minta tolong untuk ngejaga and bikin lo bahagia, yum”.

Gw cuma terdiam. Rahang gw terkatup, enggan berkata dan menjelaskan apa-apa.

——————–

“Berangkat ngga lo ke kondangan?”
“Iyak, berangkat kok gw”
“Karo sopo?”
“Sama tetangga gw”
“Mas har-nya kmana? Bareng Angie ya? Hahaha”
“Iya, kok lo tau?”
“Jie elah, Ngambeeeeek..”
Gw cuma terdiam, memandangi cursor di LCD gw yang berkedap-kedip centil.

——————–

“Yum, cowok lo itu harus bisa jaga perasaan lo dong. Gimanapun kalian itu berkomitmen, ada koridor-koridor kesepakatan yang harus dipatuhi bersama. Nggak bisa bebas terus. Terlalu bebas bisa anarkis tauk!”.

Gw cuma terdiam. Sedan ungu matic berplat N itu terus melaju di sekitaran jalan Thamrin yang lumayan padat merayap.

——————–

“Yah itu resiko lo lah, lo kan udah milih dia..!”

Gw cuma terdiam. Berharap punya parasut, sehingga bisa kabur dan terjun bebas dari sini.

——————–

Parkiran Patra Simprug. Saat sebuah mobil Jeep mini melintasi gw dan lelaki ini, yang berjalan cepat didepan gw, tidak menjajari gw. Beberapa orang didalam mobil yang melintas itu ternyata teman-teman gw, mereka membuka jendela mobil yang masih melaju sambil berteriak: “MASIH BEGITU AJA HIDUP LO?!?! HAHAHAHAHA..!!! KASIAN DEEEEH”.

Gw cuma menghela nafas panjang lalu terdiam.

——————–

Lapangan Blok S, jumat siang: “Yakin dia ngga maen-maen ama elo? Dia ngga pernah mikirin perasaan lo.. Terlalu bebas, ati-ati kerebut orang, cong..”

Gw cuma terdiam. Es blewah yang wangi dan manis terasa totally plain di genggaman gw.

——————–

Gw buka aplikasi notepad dikomputer gw. Menghela nafas sebentar, lalu menyentuhkan ke sepuluh jemari gw diatas keypad yang berwarna kelam.

My Dul Sayangku,

Kebenaran kadang memang sukar dipahami dan hanya bisa kita rasakan. Seperti halnya rasa yang tanpa kita sadari bertumbuh, ketika kita mencoba meraba dan tergagap dalam usaha mendefinisikan keburaman cinta yang bersemayam didalam dada kita dahulu.

Awalnya aku meragu. Ternyata pria sesederhana kamulah yang mampu meruntuhkan tembok itu. Sehingga pada akhirnya aku menyerah, dan menerima bahwa mencintai pada akhirnya bukanlah menjadi satu pilihan melainkan menjadi sebuah keputusan.

Tapi, semua nggak berjalan sebagaimana yang aku duga. Walaupun kita satu, kita masih bicara dalam bahasa dan berada pada ruang dimensi yang berbeda. Tapi aku bahagia kok, paling tidak, seperti halnya Columbus, aku bisa melakukan ekspedisi baru untuk menjelajah duniamu.

Untuk memulainya, aku buang semua standar bahasa dan dimensi duniaku, dan aku rela melakukannya demi kamu sehingga kamu tidak perlu susah payah datang untuk menjelajahi rumitnya duniaku.

Untuk memulainya, aku juga mulai membuang semua impianku tentang pria-pria yang selalu kuinginkan selama ini. Imajinasi tentang pria penuh kesabaran ala John Rolfe-nya Pocahontas, atau pria penuh mimpi seperti Parang Djati di novel fiksi Bilangan Fu-nya Ayu Utami, atau pria sekeren John Frusciante-nya Red Hot Chili Peppers saat bermelody dengan gitar patah di lagu Scar Tissue, atau pria dengan keberanian bak Anakin Skywalker yang akhirnya jadi penjahat gara-gara cinta yang begitu besar ke Padme Amidala.

Tapi Sayangku, semakin menjelajah, aku yang sensitif dan mellow ini semakin merasa terluka karena aku merasa berpeluang lemah untuk lolos kualifikasi standar imajinasimu.

Penderitaan itu datang dan se-enaknya merambat nyeri disela dada kiriku. Awalnya aku hanya bisa menangis pilu. Tapi saat itu kau bilang, kau membenci tangis. Aku terdiam, mungkin aku harus belajar untuk tidak menangisi perbedaan kita, walaupun sebenarnya aku takut hatiku akan membatu tanpa air mata yang melegakan dadaku.

Sayangku, penderitaan disini adalah suatu ragangan, tulang belulang kehidupan. Memang aku tidak bisa merasakannya bila sedari awal aku memutuskan untuk berhenti menjelajahi duniamu. Tapi aku ingin kamu tau, aku begini karena besarnya rasa cintaku untuk kamu, sayang.

Walaupun, akhirnya aku menderita lagi karena aku nggak bisa berbuat sesuatu untuk memenuhi mimpi-mimpimu itu. Tapi, sekali lagi, atas nama cinta, aku mengabaikannya demi kamu. Aku masih merasa bisa untuk terus menggandeng tanganmu dan melalui semua badai itu bersama kamu.

Mengasihi dan dikasihi, dikasihi dan mengasihi, itu semua adalah bentuk pergulatan. Untuk membetulkan kasih sayangpun dibutuhkan pergulatan, keberanian dan ketepatan bertindak. Akupun mencoba untuk terus maju, tapi aku kecewa, karena kamu sepertinya nggak berbuat apapun untuk perubahan itu.

Aku ingat, aku tersenyum seperti bocah belasan tahun saat kamu bilang: “Aku tau kok kalo kamu sayang sama aku, tapi kamu tau nggak kalo aku sayang banget sama kamu?”.

Walaupun sebenarnya ada yang kurang bagiku, karena kamu nyaris tidak pernah melakukannya sambil menatap dan menelusuri gelap bola mataku.

Aku juga ingat, aku merasakan sakit didadaku karena terlalu bahagia setiap kamu menggengam tanganku dengan penuh perlindungan.

Walaupun sebenarnya aku sedih, karena kamu hanya mampu melakukannya disaat kamu ingin, bukan disaat aku juga ingin.

Aku juga ingat, aku merasakan seluruh kebahagiaan umat manusia jatuh mengambruki diriku saat kamu memandangiku dengan tatapan sayang seolah cuma aku bintang yang bersinar di kelamnya duniamu.

Walaupun entah mengapa, aku selalu merasa kamu bersikap acuh, dingin dan malu untuk berada/duduk didekatku saat kita berada di tengah keramaian dunia nyata, didekat teman-temanmu.

Aku juga ingat, aku merasakan jantungku sempat berhenti berdetak saat kamu meraih bahuku dan berkata: “Mungkin banyak wanita disekeliling aku yang perduli dan juga sayang sama aku, tapi kayaknya ngga ada deh, dari wanita-wanita itu yang mampu sayang sama aku sebesar rasa sayang kamu ke aku..”.

Walaupun aku sebenarnya sangat cemburu lalu diam-diam suka menangis karena tau kamu lebih suka menghabiskan waktumu dengan teman-teman wanitamu. Walaupun pada akhirnya aku tau, bahwa itu duniamu, dan aku nggak punya daya apa-apa untuk bisa merubahnya.

Kamu masih ingat juga nggak? aku pun nyaris berteriak waktu aku bilang: “kenalin om, ini pacar aku…” sehabis upacara pemakaman Pakdheku sepekan lalu. Mungkin kamu nggak tau, aku jarang sepamer itu untuk urusan pacar.

aku mau kamu tau. Mulai sekarang, semua bait “walaupun” tadi akan menjadi tanggunganku, Sayang. Dan dengan semua ketentuan Allah bagi kita, dan juga demi rasa sayang dan cintaku untuk kamu, aku akan mencoba untuk ikhlas menerima kondisi itu.

Seperti yang pernah dikatakan seseorang padaku dahulu, bahwa manusia beradab adalah juga yang tahu membalas budi. Dan aku selalu berusaha memenuhi kebaikan itu, walaupun untuk kamu, agak sedikit berbeda. Aku nggak tau sama sekali bagaimana aku harus membalas semua kebaikan kamu yang telah menyentuh lubuk terdalamku.

Bersama kamu, aku merasa jadi manusia yang lebih baik, yang ikhlas, yang percaya bahwa cinta itu memaafkan, yang mampu untuk mengakui kekalahan, yang mampu menerima keadaan, yang mampu menolong siapapun yang membutuhkan, yang mengajarkan aku untuk tetap berdzikir dan mengingat bahwa diatas langit masih ada langit.

My dul, bantulah aku untuk meyakinkan kamu jika kebebasan kita ini adalah sebuah pergulatan bathin dan juga suatu usaha memerdekakan cinta dalam hidup kita, sehingga kita harus dapat mengusahakannya bersama.

Jangan bingung, aku memang sadar dan serius untuk menempatkan kata bersama disitu. Karena bersama berarti ada aku.. dan juga ada kamu.

Dengan begitu, aku yakin, aku akan merasa aman berjalan disisimu. Dan kuharap kali ini, kamu juga mau berjalan bersamaku.

-ditulis di kamarku – di malam sehabis hujan itu-

——————–

Jemari gw berhenti untuk menekan tuts keypad. Pria sederhana ini mampu membuat gw terus mengingat senyumnya yang terisyaratkan dan menentramkan. Dengan Sigap, gw klik tombol cross di sisi kanan atas. ‘Do you want to save changes?’. Gw klik ‘No’. Notepad itu hilang seketika. Nafas yang gw hela terasa lama dan tak berjeda.

Suddenly, pop-up Yahoo messenger di layar monitor gw muncul. Lelaki itu.

“Dul, kamu lagi ngapain?”. Tanya dia ke gw.

“aku lagi nulis surat cinta buat kamu.”

Surprisingly, dia langsung sign out.

Gw tersenyum. Gw tau dia nggak terlalu pandai berkata-kata. Atau dia nggak seromantis para pria di film India. Tapi gw lebih lega. Setidaknya yang penting, untuk saat ini, meskipun dengan cara yang tidak biasa, gw tau, dia selalu mengingat gw dalam setiap langkahnya.

Hm, gw raih cangkir kopi gw, mengirup aroma yang membuat gw kembali menitikkan airmata. Ah, spending a day with someone you love, no matter how difficult life gets, is more meaningful than spending the most of your life with someone you do not love.[]
Posted in Catatan Perempuan, Cerita Cinta | Leave a comment

Manusia dan Kemuliaan Status


Gw punya sahabat baik, let’s call her Manda. She’s perfect as a friend. Menyenangkan, cantik, pintar (sekaligus polos), dan luar biasa baik hati. Manda sangat gw sayangi, dan gw rasa semua orangpun begitu.

Tapi Manda punya satu masalah: Nyokapnya.

Nyokapnya Manda adalah tipikal seorang ibu-ibu pejabat golongan elit yang pernah tinggal lumayan lama diluar negeri. Well, masalahnya, setiap pembesar memang punya beberapa kecenderungan tertentu.

Misalnya saja merasa berbobot kalau sudah ngomong, lebih berbobot lagi kalau tak mendengarkan orang lain. Yang paling parah, asal menilai lalu memberi pembedaan perlakuan pada orang lain hanya berdasarkan atribut (baca kasta) yang melekat pada diri orang lain tersebut (contoh: bagaimana status keluarga, baca: lo datang dari keluarga tajir atau melarat.)

Untungnya, gw dateng dari keluarga melarat. Bokap gw nggak pernah jadi pejabat, apalagi pergi keluar negeri. Bokap gw nggak punya Villa di puncak-puncak bukit. Bokap gw nggak ngerokok cerutu import.

Karena bagi bokap gw, laki-laki nggak harus dinilai dari harta dan tahta, nilai dan tata krama yang sangat penting adalah bahwa laki-laki itu harus bertanggung jawab, laki-laki harus menghidupi. Itu saja.

Gw jadi merasa terlempar jauh ke masa lalu, saat hidup dan kebebasan masih terpasung, terkotak-kotak, dan paham feodalisme masih bercokol disetiap proses perjalanan hidup manusia. Dimana harta, tahta, status dan kebangsawanan darah itu sangat berarti, sedangkan tiada tempat lagi bagi kebangsawanan jiwa dan budi pekerti.

Gw kenal nyokapnya Manda, gara-gara suatu hari, beliau pernah telpon gw. Simple aja, cuma nanya gw lagi sama Manda apa nggak. Kebetulan waktu itu, gw pulang cepet dari tongkrongan, jadi gw nggak tau si Manda pergi kemana. Gw pikir that’s it, setelah gw bilang gw nggak tau Manda dimana, telpon bakal ditutup, dan pembicaraan bakal selese.

Ternyata gw salah, selain melakukan “underground-stalking” menanyakan Manda dan segala aktivitas Manda di luar rumah, nyokapnya Manda juga menanyakan secara mendetail tentang hal ikhwal siapa gw, tentang what I do for living, tentang pekerjaan orang tua gw, tentang kuliah gw dimana dan ngambil jurusan apa, dimana gw tinggal, gw punya pacar atau nggak, dsb dsb.

Semua pertanyaan itu, gw jawab dengan jujur. Dan dari situ lah Nyokapnya Manda tau latar belakang keluarga gw (yang ternyata bukan keluarga darah biru. Orang darah gw merah kok).

Well, mulanya gw agak risih dan bingung, Karena gw pikir, emang penting ya nanya bokap gw siapa dan pekerjaannya apa? tapi buru-buru gw tepis semua kekhawatiran dan prasangka jelek gw tentang itu. Yah namanya baru kenal, wajar jika ingin tahu lebih banyak.

Setiap nelpon gw, nyokapnya Manda selalu menekankan (atau lebih tepatnya mengancam) agar gw nggak ngasih tau Manda jika selama ini nyokapnya suka telpon gw. Karena, Manda bakal marah ke nyokapnya kalau aja nyokapnya ketauan mata-matain Manda dari belakang. Gw pun menurut, “Sendhiko Dawuh, Tante, aku janji nggak bilang Manda”.

However, mentang-mentang gw bukan berdarah pepsi blue, semakin lama, nyokapnya Manda semakin bersikap seenaknya dan tidak bisa mengontrol kata-kata dan intonasi bicaranya saat nelpon gw. Beliau selalu bicara dengan nada tinggi, membentak dan memberi perintah selayaknya bendoro ke babunya.

Well, sebenernya kan ya, seperti kata Pramoedya, seorang terpelajar itu harus bisa adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Makanya gw (yang merasa terpelajar) memaklumi dan gw berusaha TETAP bersikap sesopan mungkin. Gimanapun Nyokapnya Manda itu orang tua yang harus gw hormati.

Namun, gw kok rasanya semakin yakin jika memang BETUL gw diperlakukan berbeda sama nyokapnya Manda. Karena secara nggak sengaja, kawan setongkrongan yang lain (sebut saja Lila) cerita bahwa dia juga ditelpon nyokapnya Manda, Sependapat, temen-temen tongkrongan gw yang lain juga begitu, ikut ditelpon sama nyokapnya Manda.

Bedanya, ke temen-temen gw yang lain Nyokapnya Manda begitu halus, lembut, baik, dan sangat sopan. Nah Lo. Bahkan pake kata-kata panggilan ‘Sayang’ segala.

Tadinya gara-gara itu, gw sempat berprasangka mungkin setiap nelpon gw, sampe pake otot dan marah-marah karena beliau lagi PMS atau senewen sama hal lain aja, trus kebawa ke gw. Yah, lagi apesnya gw aja.

Seminggu, dua minggu berlalu, sebulan pun lewat. Nyokapnya Manda udah jarang banget nelpon gw.

Nah, di suatu malam, gw nongkrong lagi sama temen-temen gw, Manda juga ikut. Kami ketawa-ketawa, Karaoke, cela-celaan sampai kelaperan. Setelah itu kami memutuskan untuk cari angkringan, makan dipinggiran jalan. Tanpa diduga, HP gw bunyi. Caller: Nyokapnya Manda.

Gw excited (campur panik). Gw pikir saat itu adalah kesempatan baik buat gw untuk ngerubah imej gw supaya akhirnya nyokapnya Manda bisa baik sama gw. At least worth to try. Nggak ada salahnya dicoba.

Namun hasilnya.. diluar ekspektasi gw.

“Udah deh!! Tante nggak bisa tahan lagi!!! Kamu dan teman-temanmu itu sudah keterlaluan dan semakin liar!!! Nggak bisa kontrol waktu dan nggak terkendali!!! Pokoknya..!! Tante mau Manda pulang sekarang!!!”.

Cuma itu kata terakhir yang gw inget dari nyokapnya Manda sebelum Beliau nutup telpon. Entahlah, saat itu, rasanya ada yang retak dihati gw. One simpel question: WHY ME??? Apa karena gw miskin trus dia boleh bersikap begitu sama gw?

Lalu dalam tangis kemarahan gw yang tertahan, gw inget temen gw, Isro. Dia pernah memberi nasehat ke gw bahwa Tuhan mempunyai maksut tertentu dengan memberikan kita dua buah mata. Mata yang kanan untuk melihat kebaikan, yang kiri untuk melihat keburukan. Mata kanan untuk melihat Kebaikan pada orang lain dan Mata kiri untuk melihat Keburukan pada diri kita sendiri.

Amarah gw pun mereda. Karena ‘mata’ ini harus bisa melihat dengan benar secara fungsi yang dijelaskan diatas tadi. Ada hikmah yang harus diurai dibalik semua kejadian ini. Dan ada pelajaran yang Tuhan mau berikan ke gw.

Kata guru ngaji gw, manusia bukanlah makhluk mulia, namun manusia diberikan potensi kemuliaan. Manusia menjadi mulia ketika potensi kemuliaannya difungsikan, sebaliknya, manusia dapat menjadi hina ketika potensi kemuliaannya diabaikan.

Seseorang tidak menjadi terhormat karena ia seorang pejabat atau direktur, serta tidak menjadi rendah karena ia seorang sopir, satpam atau kuli bangunan. Kehormatan seseorang terletak pada bagaimana ia menyikapi posisinya, bagaimana ia berperilaku pada fungsinya.

Manusia yang paling beruntung adalah kalau ia punya jabatan tinggi sekaligus memiliki kesantunan dan kearifan kepada bawah-bawahannya. Dan manusia yang paling sial adalah kalau sebagai seorang kuli ia masih saja suka tidak jujur dalam pekerjaannya.

Ah, jika saja Nyokapnya Manda mampu mengingat bahwa dibalik semua kehormatan, mengintip kebinasaan, dibalik hidup adalah maut, dibalik kebesaran adalah kehancuran, dibalik persatuan adalah perpecahan, dibalik sembah adalah umpat, pasti beliau akan memperlakukan gw lebih baik lagi.

Semenjak itu, gw jadi autis menjelang tidur, lama terjaga dikegelapan kamar. Dan gw jadi merasa tenang saat menikmati indahnya cahaya lampu teras rumah yang masuk dan jatuh melewati kisi-kisi blindfolded jendela.

Semburat cahaya akan membentuk garis gelap-terang teratur ditembok kamar. Gelap lalu terang. Kemudian gelap dan terang kembali. Begitu sederhana, seperti halnya hidup. Karena memang tidak ada yang lebih sederhana dari hidup: lahir, makan, minum, tumbuh, beranak-pinak, dan berbuat kebajikan.

Ya, berbuat kebajikan. []
Posted in Cerita Gw | Leave a comment

Kebaikan dan Kebenaran


Minggu pagi. Sekeluarga besar gw (besar dari Hong Kong! :p orang cuman bertiga!) sedang asik di teras rumah.

Bokap gw lagi asyik nguras kolam ikan. Disebelah, arah berlawanan, ada nyokap gw yang duduk pake dingklik sambil nyemangatin bokap. Dan di depan pintu ruang tamu, gw lagi asyik ungkang-ungkang kaki sambil megang buku lama yang menceritakan tentang Roofstaat (kerja paksa) yang merompak Jawa hingga 800juta gulden.

Lalu Emak gw nyuruh bokap mindahin ikan Sepat yang masih kecil-kecil, karena takut dimakan ikan-ikan Lele yang nggragasnya bukan main. Tapi bokap gw bilang “Nasipnya si ikan lah kalo sampe dimakan sama para Lele” sambil ketawa-ketawa jail. Gw cuman ngelirik sambil ngrepus krupuk bawang dari toples kaleng biskuit.

Nggak beberapa lama, ada suara kegaduhan. Ributnya bukan main. Gw sampe setengah loncat.

Wah ada orang berantem!!!!

Rupanya ada dua tetangga gw yang berantem, sebut saja Bu Tarigan dan Pak Joko. Pak Joko marah-marah karena ada bau bangkai disekitar rumahnya, ternyata bau bangkai itu disebabkan oleh ayam sang Bu Tarigan yang sudah mati berhari-hari di got depan rumah Pak Joko. Karena posisi matinya si ayam nlisep (halah bahasanya, nlisep means nyempil dan unreachable), maka keberadaan sang bangkai ayam tiada diketahui.

Sangat sulit melerai pertikaian ini, Pak Joko mengaku benar, Bu Tarigan juga mengaku benar.

“Ayam ibu ini mati mendadak, bisa jadi flu burung kan..!!! Ini sangat meresahkan saya! Harusnya punya piaraan itu diopeni, bu!!” Sahut Pak Joko ketus.

“Lah, mana saya tau lah, ayam saya mati kenapa pak. Memangnya ayam saya harus saya pasangi GPS satu per satu???!” Teriak Bu Tarigan nggak kalah jengkel.

Gw pikir dua orang ini ada benarnya, dua-duanya sama-sama punya kebenaran.

Malamnya, setelah akhirnya ‘jenazah’ ayam itu dibakar, gw lalu tergelitik dan ngajak diskusi bokap tentang menyingkapi sebuah kebenaran. Kalau disederhanakan ada tiga model kebenaran yang berlaku dan dialami manusia. Pertama, benere dhewe (benarnya sendiri). Kedua, benere wong akeh (benarnya orang banyak). Dan, ketiga bener kang sejati (kebenaran hakiki).

Jika kebenaran itu berjalur banyak begitu, maka gw menyimpulkan bahwa kebenaran itu tidak satu. Lho piye to? Kebenaran itu harus satu definisinya, yaitu B-E-N-A-R yang BENAR. Jika memang semisal ada banyak ‘benar’, ada kemungkinan kebenaran yang satu bisa kres (cross) dengan kebenaran yang lain.

Sambil memeluk kaleng bekas biskuit yang berisikan kerupuk bawang made in pasar Ciputat, gw mencoba berfikir lebih tajam. Gw menahan laju nafas dan menyipitkan kedua mata gw, alih-alih berharap semoga pencerahan itu segera tiba (padahal seret).

Sambil nyumet rokok, bokap gw masih asik mikir. Gw pun masih asik dengan krupuk ditangan. Mata gw terus menatap, mengajak bercakap. Bokap gw mengelempuskan asap rokok ke udara, beliau paham, namun diam.

“Iyh dina shirotol mustaqim..” Bokap gw kembali menghisap rokoknya.

Jidat gw bekerut. “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus?” Balas gw dengan intonasi bingung.

Bokap gw melanjutkan, “iya, lalu, kenapa bukan Tunjukkanlah kami jalan yang benar?, hayoooo.. ?”.

Gw menggeleng tolol.

Bokap lalu bercerita soal kejadian tadi pagi. Beliau menjelaskan jika kebenaran itu HANYA ada satu, dan kebenaran yang satu itu milik Tuhan. Jadi, tidak ada yang namanya bener-nya manusia a, benarnya manusia b, benarnya manusia c, dst.

“Lalu bagaimana kita mencari kebenaran yang satu itu, pops?” tanya gw semrawut.

“Dalam kehidupan ini, manusia selalu menemukan keruwetan hidup, kesulitan hidup, karena mencari kebenaran atas satu sama lain.”

Jidat gw tambah berkerut nggak karu-karuan.

Bokap melanjutkan: “ya gini deh, kamu misalnya, bersengketa sama orang lain. Sebaiknya yang kamu cari ya jangan kebenaran”.

“heuu??? lah kok gitu???” gw memotong ngeyel tanpa ‘sendhiko dawuh’.

“Lho iyo, nek kamu cari kebenaran, bakal njlimet. Kamu punya sebuah kebenaran, orang lainpun punya kebenaran. Padahal kebenaran itu cuma ada satu.”

Bokap gw menunjuk langit-langit rumah tepat saat menyebutkan kata SATU. Tanpa sadar mata gw mengikuti.

“Dalam bermasyarakat, sebaiknya yang kamu cari itu BUKAN kebenaran, nduk.. melainkan kebaikan.”

“Maksutnya?” akhirnya gw meggeser tempat duduk dan menaruh toples krupuk di meja. Supaya lebih konsentrasi.

“Nek kowe, nggolek benere dhewe, yo rak bakal ketemu. Lah wong maksute wis bedho, garise jugak wis bedho. Mulakno, tadi aku bilang, jika bersengketa, yang dicari itu KEBAIKAN, bukan kebenaran..”

Cengiran gw semakin lebar.

“Nah, seperti yang tadi kubilang, setiap kamu sholat kan kamu sebut itu ‘iyh dina sirothol mustaqim – tunjukkanlah kami jalan yang lurus’, ya to? Kenapa bukan tunjukkan kepada jalan yang benar? Hayo? Weeee ojo main-main mbek ayat kuwi, nduk. Jika kamu, melakukan sesuatu apapun dengan lurus, itu berarti kamu sudah baik. Dan kebenaran itu akan datang sendiri, seiring sejalan, jika kamu dan hidupmu sudah berada pada lingkaran kebaikan.”

Gw mendapatkan sebuah pelajaran berharga lagi. Pelajaran yang tidak lahir dari perpustakaan, referensi atau buku-buku, melainkan bersumber dari pengalaman otentik, dari keringat dan airmata realitas, dari nurani yang jujur dan pikiran yang jernih. Kalo kata guru ngaji gw, itu ilmu sejati. Mutu dan pahalanya sepuluh kali lipat dibanding dosen yang mentransfer kalimat-kalimat dari buku ke diktat para mahasiswanya.

Well, hidup bukanlah impian, melainkan kenyataan-kenyataan yang dingin dan telanjang, tapi kenyataan itu pun tak perlu buruk jika orang tiada menghendakinya. Dia tidak buruk, dia indah, selama ada keindahan di dalam bathin kita.

Begitu juga dengan pemaknaan dari sebuah kebenaran itu sendiri. Malam itu gw tidur pulas, diiringi senyum puas atas semua jawaban bokap yang terasa sangat pas.[]

——–

Answer less. Question more.
Comply less. Question more.
Believe less. Question more.
Posted in Nasihat Bokap | Leave a comment